ANMELDENSetelah menyesap wine terakhirnya, Daisy meletakkan gelas di atas meja samping tempat tidur. Senyum tipis terukir di bibirnya sambil menatap Kyrran yang terbaring di kasur dengan mata terpejam. Dari napasnya yang terdengar berat, Kyrran tampak seperti sudah kehilangan kesadaran sepenuhnya. Perlahan Daisy melangkah mendekat. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ini adalah kesempatan yang selama ini ia tunggu. Daisy naik ke atas kasur dan merangkak mendekati Kyrran. Jemarinya terulur, hendak menyentuh pipi cowok itu. Namun sebelum kulit mereka bersentuhan, tangan Daisy tertahan. Kening gadis itu mengerut, menyusul matanya yang membelalak lantaran menemukan tangan Kyrran yang mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat. "K-Kyrran?" sahut Daisy, suaranya samar bergetar. Mata cowok itu terbuka pelan. Tidak ada tatapan kosong orang mabuk di sana. Yang ada hanyalah sorot mata tajam yang membuat bulu kuduk Daisy meremang. Belum sempat gadis itu bereaksi, Kyrran melepaskan cengkeramannya
Saat Kyrran dan Daisy pergi, Andrea sempat menoleh ke arah mereka, memandang beberapa detik sebelum akhirnya mengembuskan napas pelan dan memalingkan wajah.Di sebelah Andrea, Jasper melirik sekilas. Sorot matanya tajam, menatap Andrea lalu menoleh sebentar memandang punggung Kyrran yang menjauh."Ayo, Andrea," sahut cowok itu, membawa Andrea masuk ke dalam restoran.Mereka duduk berhadapan dengan hidangan yang datang secara bergantian. Mereka tidak bersuara sampai hidangan utama disajikan di depan mereka.Jasper memotong steaknya sebelum mengangkat pandangan, menatap Andrea yang juga memotong daging di piringnya."Kamu kelihatannya gak nyaman melihat mereka tadi," sahut Jasper.Andrea yang mengunyah, menaikkan pandangan, menatap Jasper balik sekilas, lalu kembali memotong steaknya."Aku biasa saja, Jasper," elak Andrea."Tapi mata kamu gak bisa bohong, Andrea."Mendengar ucapan Jasper itu, membuat Andr
Kyrran berdiri di depan cermin kamar apartemennya. Kemeja hitam berlapis blazer senada yang pas di badan cowok itu membuat bahunya terlihat semakin tegap.Tatapan tajam cowok itu tertuju pada bayangannya sendiri di cermin. Seperti biasa sejak hari pertemuan dengan Andrea, gadis cantik itu tidak pernah hilang dari benaknya.Sekarang Kyrran memikirkan jawaban Andrea siang tadi. Saat ia bertanya apakah Kyrran dan Andrea pernah punya hubungan sebelumnya. Namun Andrea menjawab tegas bahwa mereka baru pertama kali bertemu di pesta topeng tempo hari.Kyrran mengembuskan napas panjang, lalu meraih kunci mobilnya dan keluar.Sementara itu, di salah satu hotel mewah Kota Wellington, Daisy berdiri di depan cermin kamarnya. Gadis itu baru tiba sore tadi dan betapa bahagia Daisy saat ajakan makan malamnya diterima oleh Kyrran.Ia merapikan rambutnya untuk terakhir kali. Setelah itu, Daisy berdiri, memperlihatkan gaun berwarna krem lembut yang membungk
Pagi itu, Andrea sarapan sendirian di dapur unit asramanya. Di atas meja ada semangkuk oatmeal hangat, sebutir telur rebus dan segelas jus jeruk yang ia buat seadanya sebelum berangkat kuliah. Gadis itu menikmati beberapa suapan terakhir sebelum berdiri membawa mangkuk dan gelas kotornya ke wastafel, mulai mencuci piring. Setelah selesai mengelap tangannya, pintu unit terbuka. Andrea menoleh, mendapati Cassandra masuk dengan langkah pelan. Rambut sahabatny itu sedikit berantakan dan wajahnya terlihat pucat. Andrea mengernyit khawatir, lalu segera menghampiri Cassandra yang oleng. "Cassie..." Tangan Andrea refleks memegang bahu Cassandra dan merasakan tubuh sahabatnya itu begitu panas. "Cassie, badan kamu panas banget." "Aku nggak apa-apa, kok, Rea…" ucap Cassandra lesu. Andrea langsung memapahnya. "Gak apa-apa bagaimana, ini panas banget. Ayo ke kamar." Dengan susah payah Andrea membantu Cassandra menuju kamar mereka. Begitu sampai, Cassandra didudukkan di tepi kasur. Sementa
Malam itu, suasana di kamar asrama Andrea begitu sunyi.Dua teman sekamar Andrea yang lain sudah di kamar mereka, sementara Cassandra belum kembali sejak kemarin. Sahabatnya itu sudah menginap bersama adiknya lagi katanya.Andrea duduk di depan meja belajar dekat jendela. Lampu meja menyala hangat, menerangi laptop dan tumpukan catatan yang berserakan di sekelilingnya.Jemari lentik gadis itu bergerak lincah di atas keyboard.Sebagai anggota klub jurnalistik, hidupnya tidak pernah jauh dari tenggat waktu. Artikel kampus, laporan kegiatan mahasiswa, wawancara dan naskah berita. Semuanya menumpuk tanpa ampun.Namun Andrea menyukai kesibukan itu. Ketika menulis, pikirannya biasanya lebih tenang, fokus dan mudah melupakan hal-hal yang tidak ingin ia pikirkan. Termasuk Kyrran.Drrttt… Drrrttt…Ponselnya yang tergeletak di samping laptop bergetar. Andrea spontan berhenti mengetik.Matanya sekilas melirik layar, lalu membeku. Nama Daisy yang memanggil membuat jemarinya terhenti di atas keybo
Di kota Grandchester, dalam sebuah kamar apartemen, Daisy sedang berbaring santai di atas kasur. Wajahnya tertutup sheet mask beraroma lavender, sementara ponselnya berada di depan wajahnya. Jemarinya sibuk membuka berbagai aplikasi perjalanan.Matanya menyipit memperhatikan daftar penerbangan ke NY, Amric yang muncul di layar.Ia sudah bertekad untuk pergi ke sana, meski Kyrran melarangnya. Kali ini, Daisy harus ke sana. Toh, ia sudah mengumpulkan uang untuk beli tiket. Ia juga sudah melakukan berbagai macam perawatan. Karena tujuannya ingin memiliki Kyrran seutuhnya, membuat cowok itu terikat padanya.Gadis itu bahkan sudah meminta untuk cuti kuliah agar kembali dekat dengan Kyrran.Sejak mengaku sebagai pacar Kyrran, mereka tidak lama menghabiskan waktu bersama. Kyrran ke NY dan tidak ada niat membawa Daisy.Namun, sebelum menemukan tiket yang terjangkau dengan uang yang disiapkan, sebuah notifikasi masuk.Ting.Daisy awalnya tidak terlalu memperhatikan. Namun ketika melihat pesan
Lampu taman mulai menyala satu per satu dan para siswa Alveroz High mulai kembali ke asrama masing-masing. Di kamar mandi sebuah unit kamar 207 lantai dua di asrama putri, Andrea berendam dalam bathtub. Air di bathtub bergerak pelan saat gadis itu bersandar, bahunya tenggelam setengah dan rambut h
Siapa yang tidak kenal dengan Kyrran Diandra Yoseviano. Selain sebagai Ketua OSIS, cowok itu merupakan siswa jenius yang selalu dipandang sebagai panutan sempurna. Dia selalu mendapatkan A di semua mata pelajaran. Wajah cowok itu tampan dengan garis rahang tegas dan hidung lurus yang memberi kesan
"Andrea Ilsa Shimano dari kelas 11-D, silakan ke ruangan dewan kedisiplinan sekarang juga."Suara pengumuman dari interkom sekolah menggema di setiap sudut Alveroz International High School.Percakapan siswa pada deretan meja panjang kafetaria langsung mereda. Hampir semua kepala menoleh bersamaan
"Gak punya bukti, kan?" sahut Kyrran lagi. Tatapannya semakin menyeramkan. Cowok itu kemudian mempertegas. "Asal kalian tau, aku yang ada di lab bersama Andrea malam tadi."Andrea mendongak, memperhatikan Kyrran yang masih memeluknya erat. Tak pernah ia sangka akan dibela oleh







