ログイン"Mas, kamu ini! Masih saja main perempuan. Aku ini sedang mengandung anakmu, lho!" protes Kimmy sengit. "Mati-matian aku di sini menghadapi Reyner agar dia tunduk, tapi dia malah makin patuh pada istrinya. Eh, kamu sebagai bapak biologisnya malah tidak ada pedulinya sama sekali pada adik angkat yang kamu hamili ini!"Garry terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar sangat meremehkan di telinga Kimmy. Ia menyandarkan punggungnya ke sofa tunggal dengan gestur tenang lalu berdiri.Garry mengembuskan asap cerutu ke udara, "Jangan berisik, Kim. Nikmati saja perannya. Kalau Reyner percaya itu anaknya, pundi-pundimu aman, kan? Aku tidak butuh drama rengekanmu sekarang.""Aku minta tambahan uang, Mas. Kirim malam ini juga sebagai kompensasi rasa kesalku karena Lana memaksaku pulang besok pagi."Garry mendengus pelan."Dasar mata duitan. Oke, aku kirim sekarang. Tapi pastikan besok kau benar-benar naik kereta itu, jangan sampai membuat Reyner curi
"Aku... aku memata-matai kalian, Rey," jawab Kimmy akhirnya dengan suara pelan. "Memata-matai? Bagaimana caranya?" cecar Reyner, tidak puas dengan jawaban menggantung. "Itu pun tak penting, mana mungkin aku membeberkan pada kalian? Aku tidak bisa tenang di Jakarta sementara tahu suamiku sedang asyik berdua di sini dengan perempuan lain," sahut Kimmy ketus, berusaha mengalihkan kecurigaan Reyner dengan nada cemburu yang dibuat-buat. Lana menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Kimmy dengan senyum tipis. "Memata-matai? Hebat sekali usahamu. Tapi sayang, detektif amatiran sepertimu tetap saja berakhir di kelas ekonomi besok pagi." "Kim, apa kau yakin itu anak Reyner?" tanya Lana tiba-tiba. Ini mungkin saat terbaik untuk berbicara dari hati ke hati agar Kimmy bisa berpikir lebih jernih. "Tentu saja. Kau ragu? Kami melakukannya sebelum kau menjebaknya di Vila Rancagiri," sahut Kimmy, kembali menekankan kelicikan Lana demi menghasut Reyner agar mengeliminasinya. "Jangan mela
"Sial!" batin Lana. Kalau saja perempuan ini bukan istri kedua Reyner, mungkin ia sudah menjambak rambutnya. Namun, ia hanya bisa menghela napas panjang untuk meredam emosinya."Rey, gandeng..." ucap Kimmy manja sambil bergelayut di lengan kokoh Reyner saat mereka turun dari mobil.Lana memalingkan wajah, menyilangkan tangan di dada sambil tersenyum sinis, menatap pemandangan murahan itu dengan sorot mata penuh penghinaan.Reyner langsung menarik lengannya dengan kasar hingga pegangan Kimmy terlepas. Ia menatap Kimmy dengan tajam dan penuh peringatan sebelum melangkah mendekat untuk merangkul pinggang Lana di depan Kimmy"Jangan berlebihan, Kimmy! Jaga jarakmu atau aku akan membatalkan makan malam ini dan membiarkanmu kelaparan di kos sekarang juga. Mengerti?"Kimmy mencebik kesal melihat kemesraan Reyner dan Lana, namun ia tak berdaya. Saat pelayan datang membawa menu, Lana dan Reyner memesan dengan tenang."Saya mau gado-g
Pukul 17.05, Reyner turun dari mobilnya. Kemeja kerjanya tampak kusut, sepadan dengan raut wajahnya yang menyiratkan kelelahan hebat. Tepat saat ia hendak melangkah, ponselnya berdering nyaring menampilkan nama Kimmy di layar."Halo, ada apa?" suaranya terdengar tanpa minat."Bisa tidak kamu mampir sebentar ke kos yang aku share location tadi? Sendiri saja, tanpa Lana," pinta Kimmy dengan nada manja."Bukannya tidak bisa, tapi aku tidak mau. Sudah ya, sampai nanti malam kujemput makan malam bersama Lana," tutup Reyner sepihak tanpa menunggu protes lebih lanjut.Ia melangkah masuk ke lorong kontrakan dengan tas kerja tersampir di bahu. Namun, tepat di belokan, Nana muncul seolah-olah mereka berpapasan tanpa sengaja padahal wanita itu sudah berjaga di sana sejak tadi."Aduh, Mas Reyner baru pulang ya? Jam segini kok baru kelihatan, pasti capek banget ya mas ngurus proyek panas-panasan begitu?""Iya, Mbak Nana. Mari, duluan ya,
"Darimana kau tahu alamat Reyner di sini? Perasaan tak satu pun keluarga Papa Julian tahu letak persisnya. Kau memata-matai kami, ya? Dan apa tujuanmu kemari? Kau lupa, ya, kalau tidak ada bonding apalagi hubungan fisik dengan Rey?" desak Lana telak.Kimmy menyesap es tehnya perlahan, lalu tersenyum miring dengan sorot mata licik. "Jangan terlalu percaya diri, Lana. Di dunia ini tidak ada rahasia yang tidak bisa dibeli, apalagi kalau sekadar alamat kontrakan kumuh seperti ini. Soal hubungan fisik? Kau saja yang terlalu naif menganggap suamimu itu malaikat yang bisa tahan iman setiap saat!""Rey sedang di proyek dan baru pulang sore nanti. Kontrakan itu memang kumuh karena begitulah cara Rey menghemat biaya sebagai pria lajang sebelum kami menikah. Jadi, kalau kau berniat menguras harta suamiku, pakai otakmu sedikit." Kedatangan pesanan seblak seketika menjeda ultimatum Lana."Satu lagi, aku tidak akan menyewakan hotel berbintang untukmu. Aku akan ca
Pagi itu di Jakarta."Pa, beritahu mantu kesayanganmu itu agar tidak berdrama bunuh diri dengan menyalahkan Lana. Jelas-jelas yang salah itu Roy, anakmu," peringat Dian pada Julian, suaminya yang sedang membaca koran di meja makan sebelum sarapan."Jangan menyalahkan Lana sepihak, Papa harus objektif kalau memang Roy yang menyelinap ke toilet," pungkas Dian sekali lagi, setelah tahu duduk perkara mengapa Intan nekat menyilet nadinya.Bukan tanpa sebab Dian berkata demikian, karena Julian cenderung pilih kasih antara Lana dan Intan.Julian melipat korannya dengan kasar, lalu meletakkannya di meja hingga menimbulkan suara dentuman pelan. Ia melepas kacamata bacanya dengan wajah yang mengeras."Cukup, Dian! Intan itu sedang bertaruh nyawa di rumah sakit. Apa pun alasannya, Lana tidak seharusnya memprovokasi keadaan sampai kakak iparnya nekat begitu!""Lana tidak pernah memprovokasi! Roy yang lebih dulu menggoda Lana sampai bera







