ログインSetelah telepon terputus, kegaduhan terjadi di rumah Rezza. Dinda meledak histreris, membuang apa pun yang ada di dekatnya ke lantai."Pokoknya Mitha harus keluar, Mas! Aku tidak mau tahu!" teriak Dinda dengan napas memburu. Ia menatap Rezza tajam, mulai melancarkan jurus manipulatifnya. "Kalau kamu memang mencintaiku seperti yang selalu kamu katakan, buktikan sekarang! Apa kamu tega melihat istrimu ini mati perlahan karena memikirkan anaknya di penjara?"Rezza terpaku di tempatnya. Hatinya berkecamuk hebat. Mengganti kerugian yang diperbuat Mitha bukanlah nominal yang kecil; jujur, angka itu sangat memberatkan finansialnya. Namun, melihat air mata Dinda, pertahanannya runtuh."Siapkan barang-barangmu. Kita berangkat ke Jakarta malam ini juga," perintah Rezza akhirnya.Ia memutuskan untuk menemui Lana secara langsung. Dari Surabaya ke Jakarta, Rezza rela menempuh perjalanan udara demi memohon pada putri kandungnya itu—meski ia tahu, menghadap
Mitha terpojok, ia mulai meracau panik. "Aku... aku hanya mengira itu dokumen rutin, Mas Rey! Aku tidak bermaksud—" "Cukup, Mith," potong Reyner. Ia meraih telepon di mejanya. "Keamanan, bawa Mitha ke ruang rapat kecil dan panggil tim hukum. Jangan biarkan dia menyentuh komputernya lagi." Mitha ditarik keluar oleh dua petugas keamanan sambil terisak histeris, memanggil nama Reyner yang sama sekali tidak menoleh. Setelah pintu tertutup, Lana melipat tangannya di dada, menatap Reyner yang nampak sangat terpukul sekaligus malu. "Dua kali aku memperingatkanmu tentangnya, Mas. Sekarang, urusan ini akan diselesaikan secara profesional oleh tim hukumku. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh bisnisku, bahkan adik tiriku sendiri," ucap Lana datar. Ia berbalik, melangkah keluar ruangan tanpa menunggu jawaban Reyner. Di lorong kantor, Lana mengeluarkan ponselnya dan mengirim pesan singkat pada Dante.
Suasana di ruang makan terasa hangat, Reyner menyesap kuah supnya perlahan, lalu terdiam sejenak seolah ada yang berbeda dengan ingatannya."Masakan Bibi tidak buruk," ujar Reyner, "tapi entah kenapa, aku mendadak rindu masakanmu, Lan. Rasanya beda."Lana yang sedang menyendok nasi hanya tersenyum tipis, menanggapi pujian terselubung itu dengan tenang. Sejak kepulangan mereka dari babymoon beberapa bulan lalu, Reyner memang bersikeras mempekerjakan ART tambahan agar Lana tidak terlalu lelah dan bisa fokus pada kehamilannya—atau setidaknya, itulah yang Reyner percayai."Padahal resep yang Bibi pakai itu persis seperti yang sering kubuat, Mas," sahut Lana.Reyner menggeleng, "Tetap saja beda. Mungkin setelah urusan kantor agak reda, bisakah sekali saja kamu masak menu andalanmu itu? Aku benar-benar merindukan rasa yang dulu."Lana mengangguk pelan, meski dalam hati ia sedang memikirkan hal lain. "Tentu, kalau memang Mas mau. Tapi janga
Sore itu, Lana duduk di ruang kerjanya yang berpenerangan redup, menatap layar monitor yang menampilkan real-time log activity dari sistem logistik perusahaan Reyner. Di sudut bibirnya, tersungging senyum tipis yang dingin saat melihat akun bernama "Mitha_Admin" baru saja melakukan perubahan status pada manifes pengiriman bernomor fiktif yang sengaja ia siapkan."Kena kau," bisik Lana sambil tersenyum miring.Ternyata, pengiriman bahan mentah dari Afrika besok pagi hanyalah umpan. Berlian-berlian asli itu sudah aman berada di gudang rahasia Lana sejak dua hari lalu melalui jalur logistik pribadi yang tidak diketahui siapa pun. Dokumen yang sengaja ia biarkan "terbuka" di meja Reyner tadi pagi adalah jebakan fiktif dengan nilai asuransi yang sengaja digelembungkan untuk memancing kerakusan dan kelicikan Mitha.Lana meraih ponselnya, lalu melakukan panggilan singkat. "Dante, umpan sudah dimakan. Siapkan tim hukum dan pastikan orang-orang di Bea Cukai
Di kantornya, Reyner mulai jengah saat Mitha terus memanggilnya "Mas" sejak identitas wanita itu sebagai adik tiri Lana terungkap. "Mitha, jaga profesionalisme kerja saat di kantor meski hanya ada kamu dan saya. Panggil Pak! Kamu paham tidak? Sudah berapa kali saya ingatkan?" Mitha mengerucutkan bibirnya, lalu mendekat ke meja Reyner dengan tatapan manja. "Galak sekali, Pak. Apa ini karena Kak Lana? Padahal dulu Bapak tidak keberatan." Reyner langsung berdiri, menciptakan jarak tegas saat Mitha mulai melangkah terlalu dekat. Ia merasa muak dengan gelagat wanita di depannya ini. "Segera verifikasi kiriman bahan mentah milik *L'Aura by Lana*. Kamu tahu, kan? Bisnis istriku adalah prioritas utama. Jangan sampai tertukar dengan dokumen manifes lainnya," perintah Reyner. Mitha tersenyum masam, tatapannya menyiratkan rasa tidak suka yang terpendam. "Tentu, Pak. Sudah diproses. Kalau begitu, saya permisi
Siang itu, setelah rapat selesai, Lana kembali ke ruangannya dan Dante telah menunggunya."Aku mengajakmu makan siang, apa kau keberatan? Maaf aku tidak mengabarimu, Lan."Lana tersenyum tipis sambil merapikan berkasnya. "Tentu, Dante. Kebetulan aku butuh suasana baru untuk membicarakan progres suplier Eropa. Mari, aku yang tahu tempat tenang di dekat sini."Di keheningan mobil Range Rover Dante, hanya terdengar sayup-sayup lagu dari platform musik. Lana sedang mengisi daya ponselnya saat sebuah pesan masuk muncul di fitur pop-up aplikasi hijau dari Kimmy."Lana, baru saja kukirim ya uang jajan untuk Eden. Btw makasih sebelumnya."Dante sempat membaca sekilas pesan itu. "Kimmy? Kimmy Cassandra?""Kamu kenal, Dante?" tanya Lana."Tidak terlalu. Dia dulu dekat dengan Reyner, kan? Mantan pacar Reyner?""Bukan, teman saja," jawab Lana singkat."Kau yakin? Mereka lengket sekali lho, seperti sepasang kek
"Halo, Lana. Belum tidur?" "Belum," sahut Lana singkat. "Apa yang sedang kamu kerjakan?" Suara Reyner terdengar lebih lembut, mengiringi sayup-sayup musik klasik yang mengalun dari kamar Lana. "Mengetik naskah untuk platform menulis. Selain bekerja sebagai pialang, aku punya alter ego sebagai
Sore itu, di sebuah warung makan sederhana setelah pulang dari proyek, Reyner membuka ponselnya. Ada beberapa pesan masuk terkait pekerjaan, foto Lana yang memamerkan menu masakan hari ini, dan satu pesan dari nomor tak dikenal. Pesan itu berisi lampiran foto: Lana tampak akrab dengan seorang pri
Pagi itu, Reyner bersiap berangkat ke Semarang. Lana tampak sibuk menyiapkan sarapan, sebuah pemandangan layaknya suami istri yang saling mencintai, namun sama-sama terhalang gengsi.Di meja makan tersaji bandeng goreng, sayur bayam, dan sambal terasi hasil ulekan cobek barunya.
"Tapi dia bebas menyentuhmu..." "Dia tidak bebas, Lana! Berhenti memutarbalikkan fakta." Rey mendengus kasar sembari kembali menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. "Statusmu sebagai istriku itu mutlak di mata hukum dan keluargaku. Jangan perna







