เข้าสู่ระบบLana menyentuh lengan ayahnya lembut, mencoba menutupi kecanggungan suaminya dengan senyum tipis. "Terima kasih, Papa. Hadiah ini sangat berarti bagi awal pernikahan kami ini."
Setelah berpamitan, Lana menarik kopernya dengan susah payah. Ia yang mengenakan gamis pengantin panjang berwarna putih itu tampak sangat kesulitan melangkah. Leon yang peka langsung mengambil alih koper tersebut. "Dasar tidak peka! Jika kau tidak suka pada adikku, setidaknya bantulah dia sedikit. Bagaimana kalau Lana sekarang sedang hamil?" "Mas Leon, sudahlah," bisik Tiara sambil menggendong putri kecilnya, Tracy, dan menepuk bahu sang suami agar lebih bisa menahan diri. Di dalam mobil, suasana terasa hening dan canggung. Lana hanya menatap ke luar jendela. Ia tidak bertanya ke mana Rey akan membawanya, yang ia tahu, Reyner sudah memiliki rumah sendiri di perbatasan Jakarta-Bogor. Tiba-tiba Lana ingin memastikan sesuatu. "Rey, kamu benar tidak membolehkan aku kerja?" "Kau sudah tahu jawabannya." "Tapi, Rey... pialang itu adalah hidupku. Aku mati-matian membangun karier selama lima tahun hingga sampai di posisi ini." "Kalau kau tahu perjuanganmu, kenapa tidak kau pikirkan sebelum berbuat segila ini padaku, Lan? Ingat, aku hanya ingin memastikan jika kau benar hamil, itu adalah anakku. Bukan benih dari pria lain karena kupastikan, kita tidak akan bercinta lagi setelah malam itu." Lana mengepalkan tangan, menelan pahitnya kenyataan bahwa ambisinya kini terbelenggu. "Aku tidak semurah itu, Rey. Kesalahan malam itu tidak memberimu hak untuk menghina kehormatanku." "Kalau begitu, turuti perintahku. Aku suamimu. Sekarang bersiaplah, kita hampir sampai. Dan ambil kopermu sendiri, jangan manja!" Reyner membuka bagasi mobil. Lana menurunkan kopernya dengan hati-hati sambil mengusap peluh, tampak masih sangat tidak terbiasa dengan busana gamis panjangnya yang menjuntai. Saat hendak menarik kopernya, kaki Lana terbelit ujung roknya yang panjang. Ia limbung dan hampir tersungkur ke aspal kasar, namun dengan sigap satu tangan kokoh Rey menangkap pinggangnya. Tubuh mereka merapat seketika, menciptakan keheningan yang menyesakkan di tengah deru angin sore. Rey terpaku saat tatapannya jatuh tepat pada sepasang bola mata amber milik Lana yang besar dan tampak berkaca-kaca. Detik itu, amarahnya seolah terdistraksi oleh kecantikan yang selama ini ia benci. Suasana mendadak canggung; Rey segera melepaskan dekapannya dan berdeham kaku, membuang muka demi memutus kontak mata yang sempat membuat jantungnya berdegup tak beraturan. "Akan kubawa koper ini, cepat masuk." Lana berjalan di belakang Rey sambil sedikit mengangkat gamisnya. "Ini kamarmu. Kita tidak sekamar. Jangan masuk ke kamarku, ingat itu." "Ya, aku tahu," jawab Lana malas berdebat. Ia kemudian masuk ke kamar minimalis tersebut. Tak banyak perabotan namun terasa nyaman dengan kamar mandi di dalamnya. Lana melepas baju serta hijab, lalu mengurai rambut ikal panjangnya yang mencapai punggung sebelum membersihkan riasan wajahnya yang semula tampak sempurna. "Ah, sudah bersih." Lana membuka koper dan mencari baju yang nyaman, namun tiba-tiba ia tersadar telah melupakan skincare dan peralatan salatnya yang masih tertinggal di apartemen Jakarta. "Aduh, bagaimana ini?" Tak lama, suara derap langkah tergesa terdengar dari lorong. Sebuah ide dadakan muncul di kepala Lana. Ia segera menyergap saat Rey melintas dengan penampilan yang sudah berubah; memakai jaket dan sarung tangan kulit. "Rey, tunggu! Mau ke mana?" Lana menahan lengan kokoh suaminya yang lebih muda dua tahun itu. "Keluar!" Dengan ragu, Lana membuka suara. "Aku mau menumpang." "Aku naik motor, kau tidak akan nyaman." "Siapa bilang? Justru itu seru. Aku ingin ke apartemen mengambil skincare dan beberapa baju," Lana mencoba bernegosiasi. Rey melepas pelan tangan Lana dari lengannya. "Kau bisa naik taksi. Lagi pula kau cuma sementara di sini sampai dinyatakan hamil. Buat apa bawa baju banyak?" Lana mendengus, melipat tangan di dada dengan tatapan menantang. "Taksi tidak praktis sore begini. Antarkan saja, atau aku akan terus mengganggumu."Tepat tengah malam, taksi mengantarnya sampai di depan rumah. Rey membuka pintu dengan kunci yang dibawanya. Ruangan tampak tenang, lampu di ruang utama sudah mati, hanya menyisakan cahaya redup yang menciptakan suasana syahdu. Biasanya ia sendiri, namun kini ada seorang wanita di rumah ini.Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci Al-Qur'an dari kamar istrinya "Lana?" batinnya. Suara itu terdengar begitu merdu di telinganya.Rumi mendekat tanpa suara, lalu mendorong sedikit pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Dari celah sempit itu, ia terpaku melihat Lana yang masih mengenakan mukena putih bersih, duduk bersimpuh menghadap kiblat dengan sebuah mushaf di pangkuannya.Ada kontras yang menghantam batin Rey; wanita yang beberapa jam lalu bergulat dengan gairah dan amarah bersamanya, kini tampak begitu tenang dan suci dalam balutan doa.Getaran suara Lana saat melantunkan ayat demi ayat membuat langkah Rey tertahan. Ia yang tadinya berniat masuk untuk bersikap dingin, justru terdiam di
"Serius kebutuhan biologis? Bukan karena ada ketertarikan?" selidik Kimmy. "Lihat, dia menamparku keras sekali hanya karena aku punya kunci rumahmu. Ini sakit sekali," ucap Kimmy dengan nada manja dan dramatis.Rey mengusap wajahnya kasar, lalu menarik dagu Kimmy untuk memeriksa bekas tamparan itu. "Berhenti merengek, Kim. Aku akan memberinya pelajaran nanti. Sekarang, biarkan aku tenang sejenak tanpa ocehanmu.""Memberi pelajaran pada Lana? Kau akan menghajarnya untukku?"Rey menatap Kimmy dengan tatapan dingin yang sulit diartikan. "Jangan konyol. Menghajar wanita bukan gayaku, tapi aku punya cara lain untuk mendisiplinkannya.""Lekas habiskan minummu, aku akan mengantarmu ke apartemen.""Kau jadi menginap, kan? Besok kan Minggu. Ayolah, Rey," harap Kimmy sekali.Rey meletakkan gelasnya dengan tegas, lalu berdiri tanpa keraguan. "Tidak bisa, Kim. Aku harus pulang sekarang sebelum keadaan di rumah semakin kacau.""Tapi kamu tidak bawa mobil mend—"Rey memotong cepat. "Aku bisa naik t
Keputusan Rey untuk lebih memilih santapan batin daripada sekadar ragawi terbukti tepat. Suasana kamar kian memanas saat ia terus mengganti posisi hingga ke side-lying dari belakang. Rey terus menghujamkan miliknya dengan ritme yang dalam, sementara kedua tangannya memeluk erat tubuh sang istri dari belakang, seolah tak ingin membiarkan ada celah sedikit pun di antara mereka.Satu tangan kokohnya menangkup dada Lana dengan posesif memberi remasan lembut dan memilin, sementara tangan lainnya turun memberikan rangsangan intens pada area intim Lana.Sentuhan yang ahli itu membuat Lana melengkungkan punggung, meremas sprei dengan napas yang terputus-putus. Sensasi gempuran dari belakang dan stimulasi di depan menciptakan gelombang kenikmatan yang nyaris tak tertahankan bagi Lana.Tak puas dengan posisi itu, Rey beralih ke gaya konvensional, misionaris. Ia memberikan stimulasi intens disertai ciuman panas dengan lidah yang saling membelit. Tatapan mata keduanya terkunci rapat, menciptakan
Lana melangkah mendekat, memangkas jarak hingga aroma parfumnya yang lembut mulai mengusik Rey. Ia merapikan kerah jaket kulit suaminya dengan gerakan perlahan yang disengaja."Temani aku makan malam ini saja, Rey. Aku sudah membeli bahan makanan. Jika masakanku tidak enak, kau boleh pergi dan aku tidak akan melarangmu lagi menemui siapa pun malam ini," bisiknya dengan tatapan amber yang mengunci netra Rey.Rey tertegun, merasakan desiran aneh saat jemari Lana menyentuh dadanya. "Hanya makan malam, setelah itu jangan harap aku akan tetap tinggal di sini.""Lebih dari sekadar makan malam juga boleh, Kenapa tidak? kita sudah sah sebagai suami istri. Kau bisa memakai benda itu agar aku tidak hamil," goda Lana sambil menunjuk karet pengaman di atas meja marmer dengan kerlingan nakal.Suasana di dapur yang tadinya tegang mendadak berubah panas. Lana sengaja memancing Rey, namun Ia tidak menggunakan kemarahan, melainkan pesona dewasanya yang sulit diabaikan.Rey menarik pinggang Lana hingga
Rey menatap Lana yang kembali ke tampilan aslinya tanpa hijab; rambut caramel brown yang berkilau serta mata besar amber yang memohon dengan mode puppy eyes. Hal itu sempat membuatnya tertarik akhir-akhir ini, terutama setelah pengakuan Lana tentang darah Lebanon yang mengalir di tubuhnya saat kegiatan mendaki mereka. Namun, buru-buru Rey menggelengkan kepala, mengumpulkan kewarasan tentang bagaimana wanita ini memiliki segudang akal licik hingga menyeretnya ke depan penghulu."Tidak! oya, ingat jangan ikut campur urusanku." ucap Rey tegas sambil memundurkan langkah dan menyilangkan tangan sebagai tanda keputusan final."Jangan lupa kunci pintunya, aku bawa kunci cadangan."Lana berdecak kesal sambil meninju udara. "Ah, sial! Dia mengabaikanku. Baiklah, aku akan naik taksi ke Jakarta dan membawa mobilku ke Bogor supaya bisa mandiri. Oke! Mandiri? Aku bisa kok," ucapnya sambil menyingsingkan lengan baju.*****Rey menyandarkan punggung di kursi fancy cafe dengan wajah keruh. Meski tamp
Lana menyentuh lengan ayahnya lembut, mencoba menutupi kecanggungan suaminya dengan senyum tipis. "Terima kasih, Papa. Hadiah ini sangat berarti bagi awal pernikahan kami ini."Setelah berpamitan, Lana menarik kopernya dengan susah payah. Ia yang mengenakan gamis pengantin panjang berwarna putih itu tampak sangat kesulitan melangkah.Leon yang peka langsung mengambil alih koper tersebut. "Dasar tidak peka! Jika kau tidak suka pada adikku, setidaknya bantulah dia sedikit. Bagaimana kalau Lana sekarang sedang hamil?""Mas Leon, sudahlah," bisik Tiara sambil menggendong putri kecilnya, Tracy, dan menepuk bahu sang suami agar lebih bisa menahan diri.Di dalam mobil, suasana terasa hening dan canggung. Lana hanya menatap ke luar jendela. Ia tidak bertanya ke mana Rey akan membawanya, yang ia tahu, Reyner sudah memiliki rumah sendiri di perbatasan Jakarta-Bogor.Tiba-tiba Lana ingin memastikan sesuatu. "Rey, kamu benar tidak membolehkan aku kerja?""Kau sudah tahu jawabannya.""Tapi, Rey...







