Home / Romansa / Jerat Manis Istri Siri / 3. Mata Amber Lana

Share

3. Mata Amber Lana

last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-09 17:19:09

Lana menyentuh lengan ayahnya lembut, mencoba menutupi kecanggungan suaminya dengan senyum tipis. "Terima kasih, Papa. Hadiah ini sangat berarti bagi awal pernikahan kami ini."

Setelah berpamitan, Lana menarik kopernya dengan susah payah. Ia yang mengenakan gamis pengantin panjang berwarna putih itu tampak sangat kesulitan melangkah.

Leon yang peka langsung mengambil alih koper tersebut. "Dasar tidak peka! Jika kau tidak suka pada adikku, setidaknya bantulah dia sedikit. Bagaimana kalau Lana sekarang sedang hamil?"

"Mas Leon, sudahlah," bisik Tiara sambil menggendong putri kecilnya, Debby, dan menepuk bahu sang suami agar lebih bisa menahan diri.

Di dalam mobil, suasana terasa hening dan canggung. Lana hanya menatap ke luar jendela. Ia tidak bertanya ke mana Rey akan membawanya, yang ia tahu, Reyner sudah memiliki rumah sendiri di perbatasan Jakarta-Bogor.

Tiba-tiba Lana ingin memastikan sesuatu. "Rey, kamu benar tidak membolehkan aku kerja?"

"Kau sudah tahu jawabannya."

"Tapi, Rey... pialang itu adalah hidupku. Aku mati-matian membangun karier selama lima tahun hingga sampai di posisi ini."

"Kalau kau tahu perjuanganmu, kenapa tidak kau pikirkan sebelum berbuat segila ini padaku, Lan? Ingat, aku hanya ingin memastikan jika kau benar hamil, itu adalah anakku. Bukan benih dari pria lain karena kupastikan, kita tidak akan bercinta lagi setelah malam itu."

Lana mengepalkan tangan, menelan pahitnya kenyataan bahwa ambisinya kini terbelenggu. "Aku tidak semurah itu, Rey. Kesalahan malam itu tidak memberimu hak untuk menghina kehormatanku."

"Kalau begitu, turuti perintahku. Aku suamimu. Sekarang bersiaplah, kita hampir sampai. Dan ambil kopermu sendiri, jangan manja!"

Reyner membuka bagasi mobil. Lana menurunkan kopernya dengan hati-hati sambil mengusap peluh, tampak masih sangat tidak terbiasa dengan busana gamis panjangnya yang menjuntai.

Saat hendak menarik kopernya, kaki Lana terbelit ujung roknya yang panjang. Ia limbung dan hampir tersungkur ke aspal kasar, namun dengan sigap satu tangan kokoh Rey menangkap pinggangnya. Tubuh mereka merapat seketika, menciptakan keheningan yang menyesakkan di tengah deru angin sore.

Rey terpaku saat tatapannya jatuh tepat pada sepasang bola mata amber milik Lana yang besar dan tampak berkaca-kaca. Detik itu, amarahnya seolah terdistraksi oleh kecantikan yang selama ini ia benci. Suasana mendadak canggung; Rey segera melepaskan dekapannya dan berdeham kaku, membuang muka demi memutus kontak mata yang sempat membuat jantungnya berdegup tak beraturan.

"Akan kubawa koper ini, cepat masuk." Lana berjalan di belakang Rey sambil sedikit mengangkat gamisnya.

"Ini kamarmu. Kita tidak sekamar. Jangan masuk ke kamarku, ingat itu."

"Ya, aku tahu," jawab Lana malas berdebat.

Ia kemudian masuk ke kamar minimalis tersebut. Tak banyak perabotan namun terasa nyaman dengan kamar mandi di dalamnya. Lana melepas baju serta hijab, lalu mengurai rambut ikal panjangnya yang mencapai punggung sebelum membersihkan riasan wajahnya yang semula tampak sempurna.

"Ah, sudah bersih." Lana membuka koper dan mencari baju yang nyaman, namun tiba-tiba ia tersadar telah melupakan skincare dan peralatan salatnya yang masih tertinggal di apartemen Jakarta.

"Aduh, bagaimana ini?"

Tak lama, suara derap langkah tergesa terdengar dari lorong. Sebuah ide dadakan muncul di kepala Lana. Ia segera menyergap saat Rey melintas dengan penampilan yang sudah berubah; memakai jaket dan sarung tangan kulit.

"Rey, tunggu! Mau ke mana?" Lana menahan lengan kokoh suaminya yang lebih muda dua tahun itu.

"Keluar!"

Dengan ragu, Lana membuka suara. "Aku mau menumpang."

"Aku naik motor, kau tidak akan nyaman."

"Siapa bilang? Justru itu seru. Aku ingin ke apartemen mengambil skincare dan beberapa baju," Lana mencoba bernegosiasi.

Rey melepas pelan tangan Lana dari lengannya. "Kau bisa naik taksi. Lagi pula kau cuma sementara di sini sampai dinyatakan hamil. Buat apa bawa baju banyak?"

Lana mendengus, melipat tangan di dada dengan tatapan menantang. "Taksi tidak praktis sore begini. Antarkan saja, atau aku akan terus mengganggumu."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
kim elly
ajak aja ray apa susah nya sih
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Jerat Manis Istri Siri   140. SexyBack

    Reyner menatap istrinya sesaat. Lengan yang mengalung di lehernya itu seolah menjadi lampu hijau dari Lana. Tanpa bicara, Reyner mulai mengecup leher jenjang istrinya, memberikan jejak godaan dengan kecupan dan gigitan kecil di sana.Tangan Reyner kemudian beralih menyentuh tali kimono tipis yang dikenakan Lana. "Boleh, kan?"Lana memejamkan mata, deru napasnya mulai tidak beraturan saat merasakan sentuhan Reyner di kulitnya. Ia menarik tengkuk suaminya agar semakin mendekat, lalu berbisik pelan tepat di telinga pria itu."Jangan bertanya lagi, Mas. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan.""Nungging, Sayang. Aku ingin mengeksplorasi keindahan tubuhmu," bisik Reyner parau, menuntun Lana agar berbalik.Lana hanya menurut dengan napas yang masih memburu. Ia mengambil posisi merangkak di atas ranjang, membiarkan rambut panjangnya tergerai menutupi sebagian punggung. Dari posisi ini, ia bisa merasakan tatapan lapar Reyner yang menelusur

  • Jerat Manis Istri Siri   139. Boleh, Kan?

    "Aku..." Lana menjeda kalimatnya sambil menghela napas panjang. Mata amber-nya mengerjap, mulai berkaca-kaca. "Jujur, Mas... aku sedang melakukan tes DNA untuk Eden. Aku memakai sampel rambut yang aku cabut malam itu, waktu aku memijatmu. Ada rasa penolakan dalam diriku, aku sangat berharap Eden bukan anakmu." Lana memutar badan membelakangi suaminya, lalu menggigit kukunya dengan cemas—sebuah kebiasaan lama yang muncul saat ia sangat tertekan. "Tidak bisa kubayangkan jika Eden ternyata benar anakmu. Dia ada di rumah ini, dan selama ini aku mengasuhnya murni karena kasihan dia akan berakhir di panti asuhan sementara ibunya bekerja di Kanada." Lana menepuk dadanya pelan, mencoba menghalau rasa sesak yang kian menghimpit. "Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi binar mata Eden dan panggilannya padaku sebagai 'Mama' jika besok hasilnya ternyata positif." Reyner mematung. Rokok yang baru saja ia nyalakan terabaikan begitu saja di asbak. Pernyataan Lana barusan seperti hantaman goda

  • Jerat Manis Istri Siri   138. Masih Tentang Kimmy

    Rey kembali mengenakan celana pendeknya, lalu melangkah keluar menuju teras samping yang menghadap langsung ke kolam renang minimalis mereka. Ia menyulut sebatang rokok, mengisapnya kuat-kuat hingga bara di ujungnya memerah terang di kegelapan malam. Asap mengepul, menutupi wajahnya yang tampak frustrasi. Rey benar-benar tidak habis pikir kenapa sikap Lana berubah drastis. Masalah Mitha sudah tuntas, dan ia jelas-jelas berada di pihak Lana.Baginya, Lana adalah prioritas utama—wanita yang telah memberinya seorang putra tampan dan menyempurnakan hidupnya.Keheningan malam itu hanya dipecah oleh suara gemericik air kolam. Rey menyandarkan punggungnya di pagar pembatas, menatap pantulan lampu taman yang bergoyang di permukaan air. Ia merasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar urusan keluarga Lana yang sedang disembunyikan istrinya.Lana perlahan menyusul ke teras, hanya mengenakan jubah tidur sutranya yang tipis. Ia berdiri di ambang pintu, menatap pung

  • Jerat Manis Istri Siri   137. Gagal Bercinta

    Malam itu, setelah Rezza dan Dinda pulang ke Surabaya, Lana berbaring menatap langit-langit kamar. Ia menunggu esok, saat hasil tes DNA membuktikan apakah Eden benar-benar anak biologis Rey. Jujur, ia belum siap jika hasilnya positif. Memang hubungan Rey dan Kimmy terjadi sebelum Lana hadir, namun tetap saja rasanya perih.Rey keluar dengan bertelanjang dada dari kamar mandi, lalu mengambil kaus untuk tidur. "Apa yang kamu pikirkan, Lan? Sepertinya ada yang mengganggumu," tanya Rey. Ia menengok sekilas sebelum mengenakan kaus itu dan berbaring di sebelah istrinya. Ia tak tahu bahwa kini Lana sedang menjadikannya target dalam pertaruhan tes DNA.Lana tidak menoleh, matanya masih terpaku pada langit-langit. "Hanya memikirkan hari esok," jawabnya singkat dengan nada suara yang datar. Ia menarik napas panjang, mencoba meredam gemuruh di dadanya. "Besok akan menjadi penentu, Mas. Entah itu awal yang baru, atau justru akhir dari segalanya.""Maksudmu? Cerit

  • Jerat Manis Istri Siri   136. Membuka Topeng Dinda

    Suasana makan malam di ruang makan yang mewah itu terasa kaku di tengah keheningan yang menyesakkan. "Lana, Papa sudah dengar semuanya. Mitha memang salah, tapi penjara bukan tempat untuknya. Dia adikmu." Lana tidak mendongak, ia tetap tenang memotong daging di piringnya. "Dia bukan hanya salah, Pa. Dia menyabotase perusahaan. Kerugiannya tidak sedikit." "Papamu benar, Lana. Mitha masih muda, masa depannya hancur kalau punya catatan kriminal. Tolong, cabut laporannya. Tante mohon, sebagai sesama wanita." Lana lalu menatap ibu tirinya itu dengan datar. "Tante bicara soal masa depan? Mitha tidak memikirkan masa depan perusahaan saya saat dia merusak dokumen manifes itu." "Lana, cukup. Papa akan ganti semua kerugian materialnya. Berapa pun. Asalkan malam ini juga kamu hubungi polisi untuk memulangkan Mitha." Reyner, yang sejak tadi diam, akhirnya angkat bicara. "Maaf, Pa. Tapi ini bukan

  • Jerat Manis Istri Siri   135. Konfrontasi Gagal

    Ponsel Lana berdering di tengah rapat bersama tim kreatif. Layar menampilkan nama 'Papa'. Lana menghela napas sejenak, lalu menoleh ke arah stafnya."Sebentar ya, Indra. Lanjutkan dulu, Papaku menelepon.""Baik, Bu."Lana melangkah keluar ruangan, sudah bisa memprediksi ke mana arah pembicaraan ini."Halo, Pa. Ada apa?""Lana, Papa ke Jakarta hari ini. Ini soal Mitha, kamu jangan menghindar.""Oh, Papa menemuiku jauh-jauh hanya untuk Mitha?" Lana tersenyum getir. Untuk anak sambungnya, sang papa rela bersusah payah, sementara saat Lana pindah ke Jakarta dulu, ayahnya bahkan tidak pernah berbasa-basi menanyakan kabar. "Silakan datang ke Bogor, pintuku selalu terbuka untuk Papa. Sampai nanti, Pa. Aku sedang bekerja mengurus kekacauan yang dibuat Mitha karena ku rugi ratusan juta."Lana langsung mematikan sambungan telepon tanpa menunggu balasan.****Lana melangkah masuk ke ruangannya setelah rapat u

  • Jerat Manis Istri Siri   48. Memata-matai

    "Aku... aku memata-matai kalian, Rey," jawab Kimmy akhirnya dengan suara pelan. "Memata-matai? Bagaimana caranya?" cecar Reyner, tidak puas dengan jawaban menggantung. "Itu pun tak penting, mana mungkin aku membeberkan pada kalian? Aku tidak bisa tenang di Jakarta sementara tahu suamiku sedang a

  • Jerat Manis Istri Siri   45. Rencana Pindah

    ​"Darimana kau tahu alamat Reyner di sini? Perasaan tak satu pun keluarga Papa Julian tahu letak persisnya. Kau memata-matai kami, ya? Dan apa tujuanmu kemari? Kau lupa, ya, kalau tidak ada bonding apalagi hubungan fisik dengan Rey?" desak Lana telak.​Kimmy menyesap es tehnya perla

  • Jerat Manis Istri Siri   40. Akhirnya Mengaku

    Di kos sederhana itu, Lana sibuk menata bahan-bahan segar ke dalam kulkas mini yang ada di pantry kecil. Ia berencana memasak ayam teriyaki menggunakan panci listrik yang baru saja dibelinya. Ada pula rice cooker mini, beberapa sendok-garpu, gelas dan piring melamin yang ia

  • Jerat Manis Istri Siri   38. Di Semarang

    Reyner menepi sejenak di bahu jalan tol yang lengang, lalu menggenggam jemari Lana dengan erat. Tatapannya dalam, berusaha menghapus sisa-sisa kemarahan di wajah istrinya."Abaikan saja, Lan. Jangan biarkan mulut kotornya merusak perjalanan kita. Kita makan siang di rest area depan,

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status