LOGIN
Beberapa bulan berlalu dengan cepat. Sebuah aula galeri minimalis yang disulap menjadi ruang pameran eksklusif malam itu menjadi saksi lahirnya L’Aura by Lana. Suasananya jauh berbeda dari pesta korporat Reyner yang kaku; malam ini terasa lebih intim, mahal, dan penuh dengan wajah-paling berpengaruh di dunia finansial.Lana berdiri di tengah ruangan, mengenakan dress putih gading yang simpel namun berkelas, membiarkan kalung berlian rancangan pertamanya menjadi pusat perhatian. Di sampingnya, Leon dan Tiara tampak bangga mendampingi sang adik. Rezza, ayahnya, tak henti-hentinya tersenyum lebar, sementara Dinda mencoba tetap terlihat anggun meski hatinya mungkin terbakar melihat kesuksesan anak tirinya yang kini melampaui segala ekspektasi.Lana bergerak lincah di antara para tamu. Ia tertawa kecil saat berbincang dengan mantan klien kakapnya dulu di pasar saham—pria-pria yang kini menjadi pengusaha papan atas. Ia tampak begitu berkuasa, begitu hidup.
"Kita bicarakan nanti di rumah, Lan," ucap Reyner dengan nada menahan geram. Tangannya melingkar posesif di pinggang Lana, menariknya menjauh dari hadapan Dante tanpa menunggu jawaban lagi.Dante hanya berdiri di tempatnya, menatap punggung pasangan itu dengan senyum miring yang penuh kemenangan. Ia mengelus dagunya perlahan, matanya berkilat licik. "Reyner makan umpanku. Ah, Lana... wanita sepertimu memang seharusnya bersinar seperti kilau berlian, bukan meredup di balik bayangan suami," bisik Dante pada angin malam.Begitu pintu kamar tertutup rapat, Reyner langsung melepaskan jas tuksedonya dan melemparkannya ke kursi dengan kasar. Ia berbalik, menatap Lana yang sedang tenang melepas anting-antingnya di depan cermin."Maksudnya apa, Lan? Investor? Dante Verrell?" cecar Reyner, suaranya naik satu oktav. "Kenapa kamu sama sekali tidak bicara padaku sebelumnya? Aku ini suamimu! Kenapa malah orang asing—apalagi rivalku—yang pertama tahu ide ini?"
Reyner masih sibuk berbincang kaku dengan beberapa kolega yang baru saja diperkenalkan oleh ayahnya, Julian. Tatapannya sesekali mencari sosok Dante. Mitha, menyadari ketegangan Reyner, mencoba masuk ke dalam lingkaran percakapan itu, pura-pura menawarkan bantuan untuk menjelaskan detail teknis Pinnacle Tower.Lana, merasa sesak dengan kepura-puraan di dalam, melangkah keluar ke balkon untuk menghirup udara segar. Ia menyandarkan kedua tangannya di pagar pembatas, menatap pemandangan malam dengan tatapan sendu."Sudah kuduga, udara di sini jauh lebih jujur daripada di dalam sana," suara Dante Verrell kali ini lebih tenang, tanpa ada Reyner yang harus ia provokasi.Dante berdiri beberapa langkah di sampingnya, juga menatap lurus ke depan. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana tuksedonya.Lana tidak menoleh. "Kau suka menguntit, Dante?"Dante terkekeh pelan. "Aku tipe pria yang tahu kapan harus mendekat dan kapan harus memberi ruang
Lampu kristal di ballroom hotel berbintang itu berpendar mewah, memantul pada deretan gelas sampanye yang tertata rapi. Malam itu, peresmian Pinnacle Tower benar-benar menjadi ajang pamer kuasa. Reyner berdiri dengan gagah dalam setelan tuksedo gelapnya, namun perhatiannya terus tercurah pada sosok di sampingnya. Lana tampil luar biasa. Ia mengenakan gaun silk berwarna emerald yang memeluk tubuhnya dengan elegan, rambutnya disanggul modern, memamerkan leher jenjangnya. Ia tak lagi terlihat seperti ibu rumah tangga yang kelelahan; ia adalah Lana Asteria, menantu dari Julian. "Papa bangga melihat kalian berdua," ujar Julian, mertua Lana, yang berdiri didampingi Dian. Pasangan sepuh itu tampak semringah melihat putra dan menantu mereka menjadi pusat perhatian. "Lana, kamu cantik sekali malam ini. Mama senang kamu akhirnya mau keluar rumah lagi," tambah Dian sambil mengelus lengan Lana lembut. Tak jauh dari mereka, M
Reyner menghela napas, ia meraih tangan Lana dan menggenggamnya erat. "Aku ingin istriku yang hadir. Aku ingin kamu ada di sana sebagai pendampingku, bukan orang lain. Tolonglah, ini penting bagiku. Anggap saja ini cara kita untuk memulai kembali pembicaraan yang lebih baik." Lana menatap kedua anak batita itu yang mulai menguap, lalu beralih menatap suaminya. Ada kilatan tekad di matanya yang tidak Reyner sadari. Lana tidak hanya akan hadir sebagai pendamping, ia akan hadir sebagai dirinya yang dulu—Lana sang pialang ulung. "Baiklah. Aku akan datang." Lana tersenyum, batinnya berkata "Tapi jangan berharap banyak aku hanya akan berdiri diam dan tersenyum seperti pajangan, Rey." Reyner tersenyum lega, "Terima kasih, Lan. Aku akan siapkan gaun terbaik untukmu," bisik Reyner sambil mengecup punggung tangan istrinya. Lana hanya tersenyum samar. Gaun terbaik? Tidak, Mas. Aku sendiri yang akan memilih 'perisa
Di kubikel kerjanya, Mitha melirik ponsel yang menampilkan nama ayah tirinya, 'Papa Rezza'. Dengan malas ia mengangkatnya; jika bukan karena pria tua itu donatur tetapnya sekaligus suami ketiga ibunya, ia tak akan mau repot-repot menjawab."Siang, Pa. Ada apa? Pekerjaanku sedang banyak, nih.""Mitha, kamu baru saja bertemu kakakmu? Kenapa dia sampai marah? Apa kamu membuatnya marah lagi?" cecar Rezza.Mitha memutar bola matanya sembari memainkan ujung kukunya yang dipoles rapi."Dia saja yang sensitif, Pa. Aku cuma bekerja profesional, tapi Kak Lana sepertinya hobi mendramatisir.""Mitha, sensitif itu wajar. Dia hanya trauma. Kamu dulu pernah menggoda Elroy, mantan pacarnya yang juga kakak dari Reyner, bosmu sekarang. Tolong jangan diulangi lagi, ya," pinta Rezza halus, suaranya terdengar penuh permohonan. "Kakakmu sudah berkeluarga dan punya anak. Cari pria lain, siapa pun, asal jangan pria beristri, jangan genit." pungkasnya tegas.
Reyner menghampiri meja Vera dan menatapnya rendah. "Kau sekretaris, bukan jalang. Jika ingin tetap punya pekerjaan, gunakan otakmu untuk bekerja, bukan untuk menggoda pria beristri yang bahkan tidak akan pernah membelamu." Rey mencondongkan tubuh, "Sekali lagi kulihat k
Darah Reyner seolah berdesir dingin. Ia mematung di depan pintu dengan tangan yang mengepal kuat pada gagang pintu. Suara itu jelas bukan suara Intan, melainkan suara wanita lain yang terdengar begitu menikmati perlakuan cabul kakaknya di dalam sana. Imajinasi liar tentang apa yang sedang te
"Rey, bisakah kita bicara?""Tergantung.""Duduklah di sini," Kimmy menepuk kursi makan minimalisnya. Rey mulai tampak gelisah, namun ia akhirnya mendekat dengan wajah enggan."Ada apa?"Kimmy membuka bungkusan makanan itu dan menyodorkannya pada Rey, namu
"Gantian," bisik Lana dengan tatapan menantang yang belum pernah Reyner lihat sebelumnya. "Jangan pikir hanya kamu yang bisa membuatku gila malam ini."Reyner menaikkan sebelah alisnya, terkejut sekaligus sangat tertantang. "Oh ya? Kamu yakin bisa melakukannya, Sayang?"







