แชร์

4. Penawaran Menarik

ผู้เขียน: Vanilla Ice Creamm
last update ปรับปรุงล่าสุด: 2026-03-09 17:22:58

Rey menatap Lana yang kembali ke tampilan aslinya tanpa hijab; rambut caramel brown yang berkilau serta mata besar amber yang memohon dengan mode puppy eyes. Hal itu sempat membuatnya tertarik akhir-akhir ini, terutama setelah pengakuan Lana tentang darah Lebanon yang mengalir di tubuhnya saat kegiatan mendaki mereka. Namun, buru-buru Rey menggelengkan kepala, mengumpulkan kewarasan tentang bagaimana wanita ini memiliki segudang akal licik hingga menyeretnya ke depan penghulu.

"Tidak! oya, ingat jangan ikut campur urusanku." ucap Rey tegas sambil memundurkan langkah dan menyilangkan tangan sebagai tanda keputusan final.

"Jangan lupa kunci pintunya, aku bawa kunci cadangan."

Lana berdecak kesal sambil meninju udara. "Ah, sial! Dia mengabaikanku. Baiklah, aku akan naik taksi ke Jakarta dan membawa mobilku ke Bogor supaya bisa mandiri. Oke! Mandiri? Aku bisa kok," ucapnya sambil menyingsingkan lengan baju.

*****

Rey menyandarkan punggung di kursi fancy cafe dengan wajah keruh. Meski tampak suntuk, ketampanan pria setinggi 188 cm itu tetap memikat, membuat Kimmy yang duduk di hadapannya tak henti mencuri pandang.

"Jadi, sekarang kau benar-benar menjadi suami orang?" Kimmy menggeser duduknya, lalu mengusap punggung tangan Rey dengan lembut.

Rey refleks menarik tangannya, Ia berkali-kali membuang muka, tak nyaman melihat busana Kimmy yang terlalu terbuka untuk tempat umum. "Jangan membahasnya, Kim. Aku ke sini karena ingin menjernihkan pikiran, bukan untuk diinterogasi."

"Aku hanya cemas, Rey. Bagaimana jika wanita itu menjebakmu lagi?" Kimmy mencoba kembali menyentuh bahu Rey, namun pria itu justru sibuk memeriksa ponselnya.

"Dia sudah di rumah. Tugasku hanya memastikan kontrak ini selesai," jawab Rey, sembari membayangkan mata amber Lana yang tadi menatapnya memohon.

"Kita sambil makan, ya. Aku yakin di acaramu tadi kamu tidak makan sama sekali. Steak wagyu medium rare, kan?" Rey mengangguk, sementara Kimmy tersenyum puas karena hafal betul kesukaan pria itu.

Rey membuang napas berat. "Terima kasih, Kim. Setidaknya hanya kau yang tidak menambah beban pikiranku malam ini."

"Bagaimana kalau malam ini kita ke Rocket Bar? Tempat favorit kita biasa minum. Setelah itu, kita ke apartemenku saja, motormu biarkan terparkir di sana," tawar Kimmy dengan nada menggoda.

"Aku setuju, tapi aku harus pulang dulu untuk menaruh motor," jawab Rey datar.

Kimmy menatap Rey dengan dahi berkerut. "Kenapa? Kamu masih mau kembali ke rumah yang ada wanita itu?"

"Memang kenapa? Kami beda kamar, kami tidak akan bersinggungan sama sekali," balas Rey, mencoba menegaskan batas yang ia buat di rumahnya sendiri.

"Oke, kalau begitu nanti malam aku jemput." Kimmy tersenyum puas, merasa berhasil memenangkan waktu Rey lebih lama.

****

Di apartemennya, Lana mengambil beberapa perlengkapan pribadi, tak lupa alat salat dan Al-Qur'annya. Rencananya, setelah ini ia akan berbelanja kebutuhan dapur untuk mengisi kulkas Rey, mengingat isi kulkas suaminya sangat minimalis, tidak sebanding dengan ukurannya yang besar dengan empat pintu.

Saat berbelanja di minimarket, ia bertemu secara tidak sengaja dengan Intan dan Roy.

"Wah, pengantin baru belanja sendirian? Suaminya ke mana, Adik Ipar?" tanya Intan sambil tersenyum penuh arti, sementara Roy berusaha mencegahnya dengan gelengan samar.

Lana menatap Intan tenang sambil mengangkat belanjaannya. "Rey sedang sibuk dengan urusan penting. Tak perlu khawatir, kemandirian adalah keahlianku jauh sebelum kalian menikah." ucapnya santai sambil berlalu.

Lana pulang ke rumah dengan mobilnya sendiri. Ia segera membuka bagasi yang penuh dengan belanjaan. Motor sport Rey sudah terparkir di carport, dan pria itu tampak menunggunya sambil berdecak kesal.

"Lama sekali, kukira kau kabur."

"Kenapa kalau aku kabur? Itu yang kau harapkan, bukan? Tenang saja, aku akan mundur teratur jika memang tidak hamil."

"Bagus kalau begitu, aku tidak perlu menghadapi rengekan dramamu untuk meneruskan hubungan ini. Aku mau pergi malam ini."

"Oh, pergi? Kalau begitu... tolong angkat dua kantong belanja di bagasi ya, Rey. Aku tidak mau kelaparan selama sebulan di sini," sindir Lana halus karena Rey memang belum membicarakan soal nafkah.

Rey mendengus, Ia keluar lalu mengangkat belanjaan itu dengan kasae. "Berhenti menyindir soal nafkah, aku tidak akan membiarkanmu mati kelaparan di rumahku."

"Aku pulang besok pagi, jangan menungguku."

"Tidak pulang? Kau pergi dengan siapa malam Minggu ini, kekasihmu?"

"Bukan urusanmu. Kita sudah sepakat soal itu sampai kontrak ini selesai."

"Tapi aku wajib tahu, meski hanya istri sirimu. Baiklah, kalau begitu. Aku tadi beli ini, bawa untuk berjaga-jaga. Siapa tahu kau akan making out dengan gadis sembarang di luar sana."

Lana menyerahkan karet pengaman ke telapak tangan Rey dan memaksanya untuk menggenggam benda itu.

"Aku tidak mau ada gadis yang tiba-tiba meminta pertanggungjawabanmu. Jika nanti aku benar hamil, karena akulah yang berhak menyandang gelar istri sahmu."

Rey menatap benda itu dengan rahang mengeras, lalu melemparnya kasar ke meja dapur marmer. "Simpan kegilaanmu, Lan. Aku tidak serendah itu untuk merusak diriku sendiri."

Menghadapi suami yang keras kepala bukan dengan konfrontasi. Sebagai wanita yang lebih dewasa dan pialang cerdas, segala risiko harus dipikirkan matang-matang.

​"Aku punya penawaran untukmu. Apa yang harus kulakukan agar suamiku tetap di rumah malam ini? Katakan saja..."

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Jerat Manis Istri Siri   8. Kembali Denial

    Tepat tengah malam, taksi mengantarnya sampai di depan rumah. Rey membuka pintu dengan kunci yang dibawanya. Ruangan tampak tenang, lampu di ruang utama sudah mati, hanya menyisakan cahaya redup yang menciptakan suasana syahdu. Biasanya ia sendiri, namun kini ada seorang wanita di rumah ini.Sayup-sayup terdengar lantunan ayat suci Al-Qur'an dari kamar istrinya "Lana?" batinnya. Suara itu terdengar begitu merdu di telinganya.Rumi mendekat tanpa suara, lalu mendorong sedikit pintu kamar yang tidak tertutup rapat. Dari celah sempit itu, ia terpaku melihat Lana yang masih mengenakan mukena putih bersih, duduk bersimpuh menghadap kiblat dengan sebuah mushaf di pangkuannya.Ada kontras yang menghantam batin Rey; wanita yang beberapa jam lalu bergulat dengan gairah dan amarah bersamanya, kini tampak begitu tenang dan suci dalam balutan doa.Getaran suara Lana saat melantunkan ayat demi ayat membuat langkah Rey tertahan. Ia yang tadinya berniat masuk untuk bersikap dingin, justru terdiam di

  • Jerat Manis Istri Siri   7. Asam Folat

    "Serius kebutuhan biologis? Bukan karena ada ketertarikan?" selidik Kimmy. "Lihat, dia menamparku keras sekali hanya karena aku punya kunci rumahmu. Ini sakit sekali," ucap Kimmy dengan nada manja dan dramatis.Rey mengusap wajahnya kasar, lalu menarik dagu Kimmy untuk memeriksa bekas tamparan itu. "Berhenti merengek, Kim. Aku akan memberinya pelajaran nanti. Sekarang, biarkan aku tenang sejenak tanpa ocehanmu.""Memberi pelajaran pada Lana? Kau akan menghajarnya untukku?"Rey menatap Kimmy dengan tatapan dingin yang sulit diartikan. "Jangan konyol. Menghajar wanita bukan gayaku, tapi aku punya cara lain untuk mendisiplinkannya.""Lekas habiskan minummu, aku akan mengantarmu ke apartemen.""Kau jadi menginap, kan? Besok kan Minggu. Ayolah, Rey," harap Kimmy sekali.Rey meletakkan gelasnya dengan tegas, lalu berdiri tanpa keraguan. "Tidak bisa, Kim. Aku harus pulang sekarang sebelum keadaan di rumah semakin kacau.""Tapi kamu tidak bawa mobil mend—"Rey memotong cepat. "Aku bisa naik t

  • Jerat Manis Istri Siri   6. Pengganggu

    Keputusan Rey untuk lebih memilih santapan batin daripada sekadar ragawi terbukti tepat. Suasana kamar kian memanas saat ia terus mengganti posisi hingga ke side-lying dari belakang. Rey terus menghujamkan miliknya dengan ritme yang dalam, sementara kedua tangannya memeluk erat tubuh sang istri dari belakang, seolah tak ingin membiarkan ada celah sedikit pun di antara mereka.Satu tangan kokohnya menangkup dada Lana dengan posesif memberi remasan lembut dan memilin, sementara tangan lainnya turun memberikan rangsangan intens pada area intim Lana.Sentuhan yang ahli itu membuat Lana melengkungkan punggung, meremas sprei dengan napas yang terputus-putus. Sensasi gempuran dari belakang dan stimulasi di depan menciptakan gelombang kenikmatan yang nyaris tak tertahankan bagi Lana.Tak puas dengan posisi itu, Rey beralih ke gaya konvensional, misionaris. Ia memberikan stimulasi intens disertai ciuman panas dengan lidah yang saling membelit. Tatapan mata keduanya terkunci rapat, menciptakan

  • Jerat Manis Istri Siri   5. Sabotase Mikroskopis

    Lana melangkah mendekat, memangkas jarak hingga aroma parfumnya yang lembut mulai mengusik Rey. Ia merapikan kerah jaket kulit suaminya dengan gerakan perlahan yang disengaja."Temani aku makan malam ini saja, Rey. Aku sudah membeli bahan makanan. Jika masakanku tidak enak, kau boleh pergi dan aku tidak akan melarangmu lagi menemui siapa pun malam ini," bisiknya dengan tatapan amber yang mengunci netra Rey.Rey tertegun, merasakan desiran aneh saat jemari Lana menyentuh dadanya. "Hanya makan malam, setelah itu jangan harap aku akan tetap tinggal di sini.""Lebih dari sekadar makan malam juga boleh, Kenapa tidak? kita sudah sah sebagai suami istri. Kau bisa memakai benda itu agar aku tidak hamil," goda Lana sambil menunjuk karet pengaman di atas meja marmer dengan kerlingan nakal.Suasana di dapur yang tadinya tegang mendadak berubah panas. Lana sengaja memancing Rey, namun Ia tidak menggunakan kemarahan, melainkan pesona dewasanya yang sulit diabaikan.Rey menarik pinggang Lana hingga

  • Jerat Manis Istri Siri   4. Penawaran Menarik

    Rey menatap Lana yang kembali ke tampilan aslinya tanpa hijab; rambut caramel brown yang berkilau serta mata besar amber yang memohon dengan mode puppy eyes. Hal itu sempat membuatnya tertarik akhir-akhir ini, terutama setelah pengakuan Lana tentang darah Lebanon yang mengalir di tubuhnya saat kegiatan mendaki mereka. Namun, buru-buru Rey menggelengkan kepala, mengumpulkan kewarasan tentang bagaimana wanita ini memiliki segudang akal licik hingga menyeretnya ke depan penghulu."Tidak! oya, ingat jangan ikut campur urusanku." ucap Rey tegas sambil memundurkan langkah dan menyilangkan tangan sebagai tanda keputusan final."Jangan lupa kunci pintunya, aku bawa kunci cadangan."Lana berdecak kesal sambil meninju udara. "Ah, sial! Dia mengabaikanku. Baiklah, aku akan naik taksi ke Jakarta dan membawa mobilku ke Bogor supaya bisa mandiri. Oke! Mandiri? Aku bisa kok," ucapnya sambil menyingsingkan lengan baju.*****Rey menyandarkan punggung di kursi fancy cafe dengan wajah keruh. Meski tamp

  • Jerat Manis Istri Siri   3. Mata Amber Lana

    Lana menyentuh lengan ayahnya lembut, mencoba menutupi kecanggungan suaminya dengan senyum tipis. "Terima kasih, Papa. Hadiah ini sangat berarti bagi awal pernikahan kami ini."Setelah berpamitan, Lana menarik kopernya dengan susah payah. Ia yang mengenakan gamis pengantin panjang berwarna putih itu tampak sangat kesulitan melangkah.Leon yang peka langsung mengambil alih koper tersebut. "Dasar tidak peka! Jika kau tidak suka pada adikku, setidaknya bantulah dia sedikit. Bagaimana kalau Lana sekarang sedang hamil?""Mas Leon, sudahlah," bisik Tiara sambil menggendong putri kecilnya, Tracy, dan menepuk bahu sang suami agar lebih bisa menahan diri.Di dalam mobil, suasana terasa hening dan canggung. Lana hanya menatap ke luar jendela. Ia tidak bertanya ke mana Rey akan membawanya, yang ia tahu, Reyner sudah memiliki rumah sendiri di perbatasan Jakarta-Bogor.Tiba-tiba Lana ingin memastikan sesuatu. "Rey, kamu benar tidak membolehkan aku kerja?""Kau sudah tahu jawabannya.""Tapi, Rey...

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status