LOGINPagi itu di Jakarta."Pa, beritahu mantu kesayanganmu itu agar tidak berdrama bunuh diri dengan menyalahkan Lana. Jelas-jelas yang salah itu Roy, anakmu," peringat Dian pada Julian, suaminya yang sedang membaca koran di meja makan sebelum sarapan."Jangan menyalahkan Lana sepihak, Papa harus objektif kalau memang Roy yang menyelinap ke toilet," pungkas Dian sekali lagi, setelah tahu duduk perkara mengapa Intan nekat menyilet nadinya.Bukan tanpa sebab Dian berkata demikian, karena Julian cenderung pilih kasih antara Lana dan Intan.Julian melipat korannya dengan kasar, lalu meletakkannya di meja hingga menimbulkan suara dentuman pelan. Ia melepas kacamata bacanya dengan wajah yang mengeras."Cukup, Dian! Intan itu sedang bertaruh nyawa di rumah sakit. Apa pun alasannya, Lana tidak seharusnya memprovokasi keadaan sampai kakak iparnya nekat begitu!""Lana tidak pernah memprovokasi! Roy yang lebih dulu menggoda Lana sampai bera
Di kontrakan kecil itu, lampu utama telah padam, digantikan temaram lampu tidur."Ternyata punya istri sepertimu menyenangkan begini. Kenapa dulu aku sempat marah saat kamu menjebakku, ya? Sekarang aku malah bersyukur karena jebakan gilamu itu." Rey terkekeh geli menertawakan kebodohannya dulu yang gengsi disertai oleh amarah."Tanya saja pada dirimu sendiri kenapa," jawab Lana terkikik, teringat awal pernikahan mereka yang penuh ketegangan."Aku... sebenarnya mulai menyukaimu sejak awal kamu masuk ke komunitas hiking. Hanya saja..." Rey menjedanya sejenak dengan berpikir."Hanya saja kenapa?""Aku masih waspada karena kamu mantan pacar Bang Roy. Rasanya aneh bagiku kalau mendekati mantan kakak sendiri.""Padahal aku berharap kamu mendekatiku, lho. Tapi karena kamu kelamaan, ya sudah aku jebak saja sekalian," ucap Lana terkekeh. "Eh, dianya malah mengamuk," lanjutnya sambil menunjuk Reyner dengan geli.Reyner menari
"Halo, Bang? Aku butuh bantuanmu sekarang," ucap Kimmy dengan suara bergetar karena emosi begitu sambungan telepon diangkat. "Kirimkan aku alamat lengkap kontrakan Reyner di Semarang. Aku tidak peduli apa risikonya, besok pagi aku harus sudah ada di depan pintu mereka!"Di seberang telepon, terdengar kekehan rendah dari Garry yang sedang menikmati kemenangannya. "Tenang, Kimmy sebentar lagi akan kukirim. Jangan lupa buat pertunjukan yang meriah untuk mereka."Setelah mandi dan berpakaian santai, Lana menyiapkan minuman dingin untuk menyegarkan suasana. Sementara itu, Reyner sudah berkutat kembali dengan laptopnya di meja kayu kecil. Sebagai arsitek, ia harus memeriksa setiap detail proyek hotelnya; tuntutan ketelitian dan akurasinya sangat tinggi.Lana melirik layar laptop suaminya yang penuh dengan kerumitan garis-garis blueprint di aplikasi AutoCAD. "Kamu tidak pusing setiap hari melihat garis-garis yang saling bertumpuk begitu?" tanya Lana heran s
Di atas ranjang kayu dalam kontrakan tiga petak itu, Lana dan Reyner melupakan sejenak segala kekacauan yang terjadi di Jakarta. Keduanya terjebak dalam badai gairah yang mereka ciptakan sendiri, membuat suasana kamar yang sempit itu terasa panas dan menyesakkan. Suara derit ranjang yang ritmis menjadi musik latar bagi penyatuan mereka."Rey, jangan terlalu bersemangat! Bisa-bisa ranjang ini roboh kalau kamu terlalu heboh begitu," bisik Lana dengan napas tersengal, jemarinya mencengkeram kuat bahu kokoh Reyner saat suaminya itu terus memacu tempo dengan beringas.Reyner tidak berhenti, justru semakin menunduk untuk mengunci tatapan Lana yang sayu karena gairah. Keringat bercucuran dari pelipisnya, menetes mengenai dada Lana yang naik-turun tak beraturan."Biar saja roboh, Sayang! Kalau sampai hancur, kita lanjut main di lantai sampai kau menyerah memohon ampun padaku malam ini!"Reyner mengerang tertahan, mengecap kenikmatan yang membuncah se
Di kos sederhana itu, Lana sibuk menata bahan-bahan segar ke dalam kulkas mini yang ada di pantry kecil. Ia berencana memasak ayam teriyaki menggunakan panci listrik yang baru saja dibelinya. Ada pula rice cooker mini, beberapa sendok-garpu, gelas dan piring melamin yang ia beli mendadak juga sudah tersusun rapi; maklum, selama ini Reyner lebih sering makan di luar saat bertugas di Semarang. Namun, karena kini ada Lana, tak ada salahnya ia memanjakan lidah suaminya yang memang selalu cocok dengan masakannya. Tiba-tiba, suara ketukan pintu memecah keheningan. "Paket...!" "Paket? Perasaan aku belum memesan apa-apa," gumam Lana heran. "Apa mungkin Reyner mengirim makanan dari lokasi proyek? Katanya sibuk, tapi kok masih sempat-sempatnya?" Lana menggelengkan kepala, tak habis pikir suaminya akan memesan makanan padahal ia sudah bilang akan memasak. Lana melangkah keluar dan mendapati seorang k
Roy terdiam sejenak, menghindari tatapan tajam Intan. Ia mengusap wajahnya kasar sebelum akhirnya menjawab dengan nada yang dipaksakan tenang."Aku hanya bertanya kenapa dia begitu membenciku sekarang, padahal dulu kami saling mencintai. Aku hanya bertanya, Intan! Tapi dia malah menyerangku secara fisik sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku."Mata Intan berkaca-kaca menahan amarah. "Bertanya? Setelah satu tahun menikah denganku, kau masih butuh pengakuan dari wanita yang jelas-jelas sudah menjadi milik adikmu sendiri?!""Dari mana kau mendapatkan video itu, Intan?" tanya Roy dengan nada menuduh.Intan melempar ponselnya ke meja. "Nomor tidak dikenal mengirimnya! Ternyata ada orang lain yang lebih peduli pada harga diriku daripada suamiku.""Sekarang katakan padaku, apa kau masih mencintai Lana sampai diam-diam menemuinya di kamar mandi tanpa sepengetahuanku?" Intan memicingkan mata, rasa ingin tahunya jauh lebih besar daripada







