Mag-log in"Maafkan aku, Mas. Aku sempat meragukanmu," bisik Lana di tengah tangisnya yang pecah, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Reyner. Cengkeramannya pada kemeja sang suami mengerat, menyalurkan rasa bersalah yang sempat mengendap di hatinya. Reyner tidak langsung menjawab. Ia justru semakin mendekap tubuh Lana, membiarkan istrinya menumpahkan seluruh sisa sesak yang mengganjal. Tangannya yang besar bergerak lembut, mengusap punggung dan sesekali mengecup puncak kepala Lana dengan penuh kasih. Setelah beberapa saat, Reyner melonggarkan pelukannya sedikit. Ia menangkup wajah Lana dengan kedua tangan, lalu menghapus sisa air mata di pipi istrinya menggunakan ibu jari. "Hei, lihat aku," pinta Reyner lembut, memaksa mata amber yang sedang sayu Lana untuk menatapnya. Reyner tersenyum tipis, tatapannya begitu hangat dan penuh pengertian. "Jangan minta maaf. Kamu sama sekali enggak salah, Sayang. Wajar kalau kamu ragu se
Lana melirik jam di sudut layar laptopnya. Pukul sepuluh pagi. Biasanya, pada jam seperti ini Reyner sedang sibuk-sibuknya memimpin rapat atau memeriksa berkas di kantor. Namun, Lana tahu ia tidak akan bisa fokus bekerja seharian jika tidak membagikan kabar ini sekarang juga.Dengan jantung yang masih bertalu karena rasa lega, ia mencari kontak suaminya dan menekan tombol panggil.Ponsel di seberang sana berdering. Satu kali, dua kali, tiga kali... Lana menggigit bibir bawahnya cemas, cengkeramannya pada ponsel mengerat. Tepat pada deringan keempat, panggilan itu tersambung."Ya, Sayang? Ada apa?" Suara berat dan serak khas milik Reyner terdengar di speaker. Ada latar belakang suara riuh rendah khas suasana kantor, namun nada bicara pria itu langsung melunak begitu menyapa istrinya.Mendengar suara itu, tenggorokan Lana mendadak tercekat. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini mendesak keluar."Mas..." panggil Lana lirih, suaranya agak berge
Pagi itu di galeri perhiasannya, sebuah notifikasi surel masuk ke laptop Lana. Ia menatap layar dengan binar cemas."Duh, jadi deg-degan. Dibuka sekarang enggak, ya? Atau tunggu nanti saja pas bareng Mas Rey?" gumamnya lirih pada diri sendiri.Pikirannya mendadak kalut. Badai gairah yang ia lewati semalam bersama suaminya ternyata tetap tidak mampu meredam kegelisahan yang membayangi sejak kemarin. Rasa penasaran dan ketakutan kini berebut tempat di dadanya, membuat jemarinya yang menggantung di atas mouse pad mendadak terasa dingin.Lana menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian berpacu. Setelah menimbang beberapa saat, ia akhirnya memutuskan untuk mengklik surel tersebut. Setidaknya, ia harus tahu isinya terlebih dahulu daripada tersiksa oleh asumsi yang berputar-putar di kepalanya sendiri.Dengan tangan yang sedikit gemetar, Lana mengarahkan kursor dan membuka pesan itu. Begitu deretan kalimat di layar terbaca ol
Reyner menatap istrinya sesaat. Lengan yang mengalung di lehernya itu seolah menjadi lampu hijau dari Lana. Tanpa bicara, Reyner mulai mengecup leher jenjang istrinya, memberikan jejak godaan dengan kecupan dan gigitan kecil di sana.Tangan Reyner kemudian beralih menyentuh tali kimono tipis yang dikenakan Lana. "Boleh, kan?"Lana memejamkan mata, deru napasnya mulai tidak beraturan saat merasakan sentuhan Reyner di kulitnya. Ia menarik tengkuk suaminya agar semakin mendekat, lalu berbisik pelan tepat di telinga pria itu."Jangan bertanya lagi, Mas. Lakukan saja apa yang ingin kamu lakukan.""Nungging, Sayang. Aku ingin mengeksplorasi keindahan tubuhmu," bisik Reyner parau, menuntun Lana agar berbalik.Lana hanya menurut dengan napas yang masih memburu. Ia mengambil posisi merangkak di atas ranjang, membiarkan rambut panjangnya tergerai menutupi sebagian punggung. Dari posisi ini, ia bisa merasakan tatapan lapar Reyner yang menelusur
"Aku..." Lana menjeda kalimatnya sambil menghela napas panjang. Mata amber-nya mengerjap, mulai berkaca-kaca. "Jujur, Mas... aku sedang melakukan tes DNA untuk Eden. Aku memakai sampel rambut yang aku cabut malam itu, waktu aku memijatmu. Ada rasa penolakan dalam diriku, aku sangat berharap Eden bukan anakmu." Lana memutar badan membelakangi suaminya, lalu menggigit kukunya dengan cemas—sebuah kebiasaan lama yang muncul saat ia sangat tertekan. "Tidak bisa kubayangkan jika Eden ternyata benar anakmu. Dia ada di rumah ini, dan selama ini aku mengasuhnya murni karena kasihan dia akan berakhir di panti asuhan sementara ibunya bekerja di Kanada." Lana menepuk dadanya pelan, mencoba menghalau rasa sesak yang kian menghimpit. "Aku tidak tahu bagaimana harus menghadapi binar mata Eden dan panggilannya padaku sebagai 'Mama' jika besok hasilnya ternyata positif." Reyner mematung. Rokok yang baru saja ia nyalakan terabaikan begitu saja di asbak. Pernyataan Lana barusan seperti hantaman goda
Rey kembali mengenakan celana pendeknya, lalu melangkah keluar menuju teras samping yang menghadap langsung ke kolam renang minimalis mereka. Ia menyulut sebatang rokok, mengisapnya kuat-kuat hingga bara di ujungnya memerah terang di kegelapan malam. Asap mengepul, menutupi wajahnya yang tampak frustrasi. Rey benar-benar tidak habis pikir kenapa sikap Lana berubah drastis. Masalah Mitha sudah tuntas, dan ia jelas-jelas berada di pihak Lana.Baginya, Lana adalah prioritas utama—wanita yang telah memberinya seorang putra tampan dan menyempurnakan hidupnya.Keheningan malam itu hanya dipecah oleh suara gemericik air kolam. Rey menyandarkan punggungnya di pagar pembatas, menatap pantulan lampu taman yang bergoyang di permukaan air. Ia merasa ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar urusan keluarga Lana yang sedang disembunyikan istrinya.Lana perlahan menyusul ke teras, hanya mengenakan jubah tidur sutranya yang tipis. Ia berdiri di ambang pintu, menatap pung
Tak berapa lama, Lana keluar dengan pakaian berbeda. Sebuah tas selempang tersampir di bahunya, sementara tangannya menggenggam kunci mobil."Mau ke mana kamu, Lan? Kabur?""Kabur? Itu bukan gayaku untuk menyerahkanmu secara cuma-cuma pada Kimmy," ucapnya sambil tertaw
"Halo, pagi Mama," sapa Lana lembut. "Bagaimana kabarmu? Nyenyak tidurnya semalam?" "Nyenyak, Ma, Alhamdulillah." "Apa Rey masih ketus padamu?" Rey yang sedari tadi menyimak langsung memasang muka keruh di depan Lana. Lana melirik Rey sambil menahan tawa, lalu menjawab tenang, "Tidak kok,
Minggu pagi, Lana tampak segar setelah salat, mandi, dan berbelanja pada tukang sayur yang lewat. Dengan merogoh kocek sendiri karena Rey belum memberikan nafkah. "Ikan mas, timun, selada, cabai, serta bawang merah dan putih saja, Mang. Jadi berapa?" tanya Lana sambil tersenyum. Tukang sayur itu
"Serius kebutuhan biologis? Bukan karena ada ketertarikan?" selidik Kimmy. "Lihat, dia menamparku keras sekali hanya karena aku punya kunci rumahmu. Ini sakit sekali," ucap Kimmy dengan nada manja dan dramatis.Rey mengusap wajahnya kasar, lalu menarik dagu Kimmy untuk memeriksa bekas tamparan itu.







