/ Romansa / Jerat Manis Istri Siri / 5. Sabotase Mikroskopis

공유

5. Sabotase Mikroskopis

last update 게시일: 2026-03-09 17:32:14

Lana melangkah mendekat, memangkas jarak hingga aroma parfumnya yang lembut mulai mengusik Rey. Ia merapikan kerah jaket kulit suaminya dengan gerakan perlahan yang disengaja.

"Temani aku makan malam ini saja, Rey. Aku sudah membeli bahan makanan. Jika masakanku tidak enak, kau boleh pergi dan aku tidak akan melarangmu lagi menemui siapa pun malam ini," bisiknya dengan tatapan amber yang mengunci netra Rey.

Rey tertegun, merasakan desiran aneh saat jemari Lana menyentuh dadanya. "Hanya makan malam, setelah itu jangan harap aku akan tetap tinggal di sini."

"Lebih dari sekadar makan malam juga boleh, Kenapa tidak? kita sudah sah sebagai suami istri. Kau bisa memakai benda itu agar aku tidak hamil," goda Lana sambil menunjuk karet pengaman di atas meja marmer dengan kerlingan nakal.

Suasana di dapur yang tadinya tegang mendadak berubah panas. Lana sengaja memancing Rey, namun Ia tidak menggunakan kemarahan, melainkan pesona dewasanya yang sulit diabaikan.

Rey menarik pinggang Lana hingga tubuh mereka bertabrakan, napasnya menderu di depan wajah istrinya. "Kau sedang menantang api, Lana. Jangan menyesal jika malam ini berakhir tanpa celah untukmu bernapas."

"Aku tidak akan menyesal karena kau suamiku." Lana perlahan melucuti jaket kulit Rey, menyisakan kaus hitam ketat yang membungkus tubuh atletis dengan otot-otot liat.

Jemari Lana mengusap lembut bahu lebar itu, lalu turun ke dada bidang Rey yang kokoh layaknya mahakarya patung dewa Yunani. Tatapan ambernya semakin dalam, sementara pikiran nakal mulai menyeruak di kepalanya. Rey benar-benar berbeda dari Elroy, mantan kekasihnya. Pria di hadapannya ini jauh lebih tampan, tinggi, dan memiliki daya tarik magis yang membuat Lana tak henti berdecak kagum dalam hati.

Rey menyeringai tipis, mencengkeram tengkuk Lana dan membisikkan kata-kata yang memburu di telinganya. "Baiklah, sebaiknya kita jangan membuang waktu, sayang."

"Mana ponselmu? Matikan. Aku tidak mau ada gangguan saat kau menyetubuhiku," pinta Lana.

Tanpa kata, Rey menyeringai dan menuruti permintaan Lana. Ia menyambar karet pengaman itu, membuat Lana tersenyum puas. Lana kemudian melangkah mundur, memberikan umpan provokatif dengan membuka kemeja bermotif Hawai yang dikenakannya hingga menyisakan seamless bra berwarna nude dan rok selutut.

Mata Rey menggelap, menatap lapar lekuk tubuh di depannya yang tersaji tanpa cela. Hasratnya meledak seketika; ia menyambar pinggang Lana, mengangkatnya ke atas meja marmer, dan mencium leher istrinya dengan kasar namun penuh damba. "Kau benar-benar tahu cara memancing iblis dalam diriku, Lana."

Lana mencengkeram rambut crew top hair style rey dan desahan lolosan ketika Rey memberikan gigitan kecil disertai jilatan.

Tak butuh waktu lama, Rey langsung mengangkat tubuh ramping Lana yang sudah setengah telanjang dengan gaya bridal style. Terkejut dengan gerakan yang begitu tiba-tiba, Lana memekik kecil, refleks mengalungkan tangannya ke leher kokoh Rey saat pria itu membawanya dengan langkah lebar menuju kamar.

Rey menendang pintu kamar hingga terbuka, lalu merebahkan Lana ke atas kasur tanpa melepaskan kontak mata yang membara. "Jangan pernah coba-coba menghentikanku setelah ini."

Rey melepas kaus dan celananya, menyisakan boxer hitam yang membungkus bagian pribadinya. Lana menelan ludah dengan susah payah. Ia ingat betul bagaimana ukuran itu mengoyak selaput daranya tempo hari; rasa perih seolah tubuhnya terbelah masih terekam jelas dalam ingatannya.

"Jangan terlalu keras, milikku masih sakit," pinta Lana cemas, menatap Rey dengan pandangan memohon pengertian di tengah badai gairah yang menyelimuti pria itu.

Rey membuka pengait bra Lana dengan satu tangan, lalu mengecup keningnya lembut. "Aku akan pelan, Lan. Percayalah, aku tidak akan menyakitimu lagi."

Rey menarik napas dalam, membiarkan jemarinya menelusuri lekuk pinggang Lana dengan posesif. Suasana kamar yang remang menciptakan bayangan eksotis pada kulit mereka yang bertemu. Lana meraih kotak kecil di nakas, jemarinya sedikit gemetar saat mengeluarkan isinya.

"Sini, biar aku yang pasangkan," bisik Lana.

Sambil memberikan tatapan menggoda yang mengunci fokus Rey, Lana pura-pura kesulitan merobek kemasannya dengan gigi, namun sebenarnya ia menggunakan kuku tajamnya untuk memberikan torehan mikroskopis di ujung karet tersebut yaitu sebuah sabotase halus yang tak akan disadari oleh pria yang sedang dikuasai nafsu itu. Setelah memastikan lubang kecil itu ada, ia memasangkannya pada milik Rey dengan gerakan lambat yang justru menyulut api gairah suaminya semakin membara.

Rey mengerang rendah, tak lagi mampu menahan diri. Ia menindih tubuh Lana, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang menuntut sekaligus memabukkan. Setiap sentuhannya kini terasa lebih lembut namun intens, seolah ingin membuktikan janjinya untuk tidak menyakiti.

Lana melenguh, merasaka sensasi panas yang menjalar di seluruh sarafnya saat Rey mulai memasuki dirinya dengan perlahan, menciptakan ritme emosional yang menyatukan raga dan ego mereka dalam satu malam yang panjang.

Rey membenamkan wajahnya di ceruk leher Lana, deru napasnya memburu selaras dengan gerakan pinggulnya yang semakin dalam. "Kau milikku malam ini, Sayang.. seutuhnya."

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (1)
goodnovel comment avatar
Razi Maulidi
wahhh malam pertama ya............
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Jerat Manis Istri Siri   146. Open Next Chapter (The End)

    Di sela-sela makan siang yang intim di sofa ruang kerja, Lana menyandarkan kepalanya di bahu tegap Reyner. Sumpit di tangan mereka sudah diletakkan, menyisakan dua mangkuk yang hampir kosong dan rasa kenyang yang menenangkan. Kehangatan setelah penyatuan mereka tadi masih terasa tertinggal di kulit, namun yang jauh lebih melegakan adalah hilangnya beban tak kasatmata yang beberapa hari ini menghimpit dada. "Mas," panggil Lana pelan, jemarinya memainkan kancing kemeja Reyner yang kini sudah kembali rapi, walau sedikit kusut di beberapa bagian. "Tadi... tepat sebelum aku membuka surel hasil tes DNA, Papa mengirim pesan." Reyner menurunkan pandangannya, mengusap lengan Lana dengan gerakan naik-turun yang teratur. "Pesan apa? Sesuatu yang mendesak?" Lana mengangguk pelan, ada kilat kesedihan yang melintas di matanya, namun segera digantikan oleh ketegasan. "Papa memutuskan untuk menceraikan Tante Dinda. Papa bilang... dia menyesal

  • Jerat Manis Istri Siri   145. Klimaks

    Reyner semakin gila mengendalikan permainan. Ia menarik kedua tangan Lana ke belakang punggung, menyatukannya dalam satu cengkeraman tangannya yang besar dan kuat, mengunci pergerakan istrinya hingga Lana benar-benar tak berdaya di bawah kuasanya.Dengan posisi Lana yang terkunci, Reyner merapatkan tubuhnya dari belakang. Sembari menahan kedua tangan Lana, lengan kokohnya merengkuh bahu sang istri, memeluknya erat seolah enggan memberi jarak satu inci pun. Sementara itu, tangan Reyner yang lain bergerak merayap naik ke leher depan Lana, melingkarkan jemarinya di sana dengan remasan yang semi-mencekik—tidak sampai menyakiti, namun cukup kuat untuk memberikan tekanan dominan yang mendebarkan dan menuntut kepatuhan total."Mas... ahh," Lana melenguh pasrah, kepalanya sedikit terdongak akibat tekanan di lehernya, menciptakan sensasi sesak yang berbaur dengan gairah yang kian memuncak."Kamu hanya milikku, Lana. Ingat itu," bisik Reyner parau tepat di teli

  • Jerat Manis Istri Siri   144. Slowburn

    Reyner menyentak kemejanya hingga beberapa kancing terlepas dan mencampakkannya sembarang tempat. Gerakannya tergesa, didorong oleh gairah yang sudah di ujung tanduk. Melalui tatapan sayunya, ia bisa melihat Lana benar-benar menikmati setiap sentuhannya—jauh berbeda dengan semalam saat sang istri menyambutnya dengan beban pikiran yang tertahan. Reyner menarik thong Lana ke bawah, melewati lekuk kakinya yang masih terbungkus pump heels. Bukannya langsung melakukan penetrasi, Reyner justru berlutut di lantai. Ia menumpu tubuhnya, lalu dengan perlahan mulai mengecup dan menjilati jemari kaki Lana yang bersih dan terawat. "Ughhh.... hmmmm,," desah Lana tertahan, kepalanya mendongak dengan mata terpejam erat sementara jemarinya mencengkeram pinggiran meja kerja demi menyalurkan sensasi menggelitik yang aneh sekaligus nikmat. Reyner mendongak, menikmati ekspresi pasrah istrinya sebelum kembali bangkit. Ia tidak ingin terburu-buru mer

  • Jerat Manis Istri Siri   143. Hukuman Untuk Lana

    "Maafkan aku, Mas. Aku sempat meragukanmu," bisik Lana di tengah tangisnya yang pecah, menenggelamkan wajahnya di dada bidang Reyner. Cengkeramannya pada kemeja sang suami mengerat, menyalurkan rasa bersalah yang sempat mengendap di hatinya. Reyner tidak langsung menjawab. Ia justru semakin mendekap tubuh Lana, membiarkan istrinya menumpahkan seluruh sisa sesak yang mengganjal. Tangannya yang besar bergerak lembut, mengusap punggung dan sesekali mengecup puncak kepala Lana dengan penuh kasih. Setelah beberapa saat, Reyner melonggarkan pelukannya sedikit. Ia menangkup wajah Lana dengan kedua tangan, lalu menghapus sisa air mata di pipi istrinya menggunakan ibu jari. "Hei, lihat aku," pinta Reyner lembut, memaksa mata amber yang sedang sayu Lana untuk menatapnya. Reyner tersenyum tipis, tatapannya begitu hangat dan penuh pengertian. "Jangan minta maaf. Kamu sama sekali enggak salah, Sayang. Wajar kalau kamu ragu se

  • Jerat Manis Istri Siri   142. 45 Menit Kemudian

    Lana melirik jam di sudut layar laptopnya. Pukul sepuluh pagi. Biasanya, pada jam seperti ini Reyner sedang sibuk-sibuknya memimpin rapat atau memeriksa berkas di kantor. Namun, Lana tahu ia tidak akan bisa fokus bekerja seharian jika tidak membagikan kabar ini sekarang juga.Dengan jantung yang masih bertalu karena rasa lega, ia mencari kontak suaminya dan menekan tombol panggil.Ponsel di seberang sana berdering. Satu kali, dua kali, tiga kali... Lana menggigit bibir bawahnya cemas, cengkeramannya pada ponsel mengerat. Tepat pada deringan keempat, panggilan itu tersambung."Ya, Sayang? Ada apa?" Suara berat dan serak khas milik Reyner terdengar di speaker. Ada latar belakang suara riuh rendah khas suasana kantor, namun nada bicara pria itu langsung melunak begitu menyapa istrinya.Mendengar suara itu, tenggorokan Lana mendadak tercekat. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini mendesak keluar."Mas..." panggil Lana lirih, suaranya agak berge

  • Jerat Manis Istri Siri   141. Dan Hasilnya

    Pagi itu di galeri perhiasannya, sebuah notifikasi surel masuk ke laptop Lana. Ia menatap layar dengan binar cemas."Duh, jadi deg-degan. Dibuka sekarang enggak, ya? Atau tunggu nanti saja pas bareng Mas Rey?" gumamnya lirih pada diri sendiri.Pikirannya mendadak kalut. Badai gairah yang ia lewati semalam bersama suaminya ternyata tetap tidak mampu meredam kegelisahan yang membayangi sejak kemarin. Rasa penasaran dan ketakutan kini berebut tempat di dadanya, membuat jemarinya yang menggantung di atas mouse pad mendadak terasa dingin.Lana menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan debar jantungnya yang kian berpacu. Setelah menimbang beberapa saat, ia akhirnya memutuskan untuk mengklik surel tersebut. Setidaknya, ia harus tahu isinya terlebih dahulu daripada tersiksa oleh asumsi yang berputar-putar di kepalanya sendiri.Dengan tangan yang sedikit gemetar, Lana mengarahkan kursor dan membuka pesan itu. Begitu deretan kalimat di layar terbaca ol

  • Jerat Manis Istri Siri   4. Penawaran Menarik

    Rey menatap Lana yang kembali ke tampilan aslinya tanpa hijab; rambut caramel brown yang berkilau serta mata besar amber yang memohon dengan mode puppy eyes. Hal itu sempat membuatnya tertarik akhir-akhir ini, terutama setelah pengakuan Lana tentang darah Lebanon yang mengalir di tubuhnya saat kegi

  • Jerat Manis Istri Siri   3. Mata Amber Lana

    Lana menyentuh lengan ayahnya lembut, mencoba menutupi kecanggungan suaminya dengan senyum tipis. "Terima kasih, Papa. Hadiah ini sangat berarti bagi awal pernikahan kami ini." Setelah berpamitan, Lana menarik kopernya dengan susah payah. Ia yang mengenakan gamis pengantin panjang berwarna putih i

  • Jerat Manis Istri Siri   2. Menolak Bulan Madu

    "Tapi bagaimana jika Lana hamil duluan daripada aku yang sudah menjadi istrimu satu tahun, Mas?"Roy tertegun, rahangnya mengeras sesaat sebelum ia menggenggam tangan Intan. "Itu takkan terjadi. Fokuslah pada kita, jangan biarkan obsesi Lana merusak kebahagiaan yang baru kita bangun."****Saat Lan

  • Jerat Manis Istri Siri   1. Sah

    Ruang tengah kediaman Leon Prasetya di Kota Bogor terasa sesak, seolah oksigen di sana ikut menipis karena ketegangan yang memuncak. Di dunia bursa, Lana Asteria (27) seorang pialang terbiasa menghadapi grafik yang naik turun secara ekstrem. Namun kali ini, di hadapannya, Reyner Alaric (25) adik k

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status