MasukTak. Tak. Tak.
Langkah kaki tergesa menggema di koridor panjang mansion Vancrosso. Michael dan Sofia berjalan cepat, ekspresi mereka mengeras setelah mendengar laporan tentang Jasmine, putri mereka. Keduanya menuju sayap kanan mansion, tempat kamar Jasmine berada. Begitu pintu kamar terbuka, aroma mawar vanilla langsung menyergap indra mereka. Di dalam, Jasmine duduk meringkuk di tepi ranjang, memeluk lututnya sambil terisak. Tubuhnya gemetar. Gaun satin bersih yang baru ia kenakan kembali basah di bagian dada. Cairan putih kekuningan itu masih merembes dan menguarkan wangi yang tak wajar. “Mom… Dad…” suara Jasmine pecah. “Aku takut. Sakit sekali… dan ini tidak mau berhenti.” Michael dan Sofia mematung di ambang pintu. Tatapan mereka tidak pada putri mereka yang sedang ketakutan, melainkan fokus pada bagian dada gaun satin yang basah, di mana cairan putih kekuningan terus merembes perlahan dan mengeluarkan aroma Mawar Vanilla yang begitu kuat. Ekspresi keduanya berubah drastis. Bukan cemas, bukan empati, melainkan kemarahan yang bercampur ketakutan karena merasa aset mereka rusak. Rahang Michael menegang tajam. Tatapannya gelap, lebih seperti seorang pria yang menghitung kerugian, bukan seorang ayah yang melihat anaknya terluka. Sofia maju setapak, menatap Jasmine sekejap, lalu mundur dengan wajah yang menegang dingin. Hampir seperti jijik, tetapi berusaha menyamarkannya. “Ini… tidak mungkin,” ucapnya pelan, kaku. “Dia jelas tidak hamil.” “Mom... Dad... aku tidak melakukan apa pun. Sumpah!” Jasmine menangis panik, tubuhnya berguncang, mengira mereka menuduhnya melakukan hal terlarang. Namun mereka tak menghiraukan tangisan Jasmine. Wajah keduanya pucat, tapi kemarahan dan kecemasan saling bertabrakan di raut muka mereka. “Martha!” Sofia menoleh cepat, matanya menatap tajam pelayan tua itu. “Telepon Dokter Elena. Katakan ini darurat level satu.” “Dan Martha.” Michael menambahkan dengan suara rendah yang penuh ancaman, “jika ada satu kata saja yang bocor dari mulutmu tentang kejadian ini… kau tahu di mana kau akan berakhir besok pagi.” Wajah Martha langsung berubah pucat pasi. Ia membungkuk cepat dan bergegas keluar kamar untuk menghubungi dokter. Kini hanya tersisa Jasmine yang menangis terisak, bersama orangtuanya yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung namun justru menatapnya seperti barang berharga yang tiba-tiba rusak, padahal masih sangat mereka butuhkan. Sedangkan Jasmine... gadis itu sama sekali tidak tahu apa pun tentang tubuhnya, tidak mengerti apa pun tentang sesuatu yang tertanam dalam dirinya sejak kecil. . . Beberapa saat kemudian... Dokter Elena melepas sarung tangannya perlahan. Wajahnya tampak pucat, tapi ia berusaha keras mempertahankan profesionalismenya. Jasmine duduk bersandar di kepala ranjang, matanya masih sembap, sementara Martha duduk di sampingnya, menggenggam tangan sang nona muda dengan lembut. Elena membersihkan alat pemeriksaannya, lalu menatap Jasmine hati-hati. “Nona… kondisi Anda stabil. Tidak berbahaya. Tapi jika dibiarkan, rasa sakitnya bisa semakin parah.” Jasmine menelan tangisnya. “Lalu… kenapa ini terus keluar? Apa yang salah denganku?” Nada suaranya membuat Martha langsung menatap Elena tajam. “Dokter,” ujar Martha, suaranya penuh peringatan, “tolong jelaskan dengan detail. Jangan membuat nona semakin ketakutan.” Elena terdiam sejenak, berusaha memilih kata dengan sangat hati-hati. “Nona Jasmine,” ucapnya lembut, “tubuh Anda sedang merespons sesuatu. Saya perlu pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebab pastinya. Untuk sekarang… fokus kita adalah meredakan nyeri dan tekanan yang Anda rasakan.” Itu saja yang dia katakan. Tidak lebih, tidak kurang. Tidak ada rahasia yang bocor. Seperti biasa, Elena menjaga mulutnya rapat untuk keluarga Vancrosso. Ia membuka tas medisnya dan mengeluarkan pompa ASI elektrik. “Saya perlu mengurangi tekanan di area ini. Tubuh Nona memproduksi cairan berlebih, dan itu tidak akan berhenti tanpa bantuan.” Jasmine menatap alat itu seolah benda asing yang menakutkan. “J-Jadi... aku harus memakai itu?” “Untuk sementara, ya.” Elena menyalakan alat itu sebentar, memperdengarkan dengungan pelan. “Jika tidak digunakan, Anda akan terus merasakan nyeri. Bahkan bisa terjadi peradangan.” Jasmine menunduk semakin dalam, rasa malunya menusuk hingga ke tulang. Martha menepuk punggungnya dengan lembut. “Tidak apa-apa, Nona. Saya akan bantu. Anda tidak sendiri,” ujarnya mencoba menenangkan. Elena mulai menunjukkan cara memasang alat itu, menekan, dan mengatur ritme. Setiap kali Elena menyebutkan detailnya, Jasmine hampir tak berani menatap, rasa malu membuatnya terdiam. “Aku... harus melakukan ini setiap hari?” tanyanya lirih hampir tak terdengar. Elena mengangguk. “Sampai produksi hormon menurun. Saya akan memantau perkembangannya.” Tatapannya beralih ke Martha. “Pastikan alat ini digunakan dengan benar. Setelahnya, bersihkan dengan teliti. Jangan sampai ada iritasi.” “Saya mengerti,” jawab Martha dengan mantap. “Saya akan urus semuanya.” Jasmine memejamkan mata, air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Martha menggenggam tangannya lebih erat, satu-satunya kehangatan yang tersisa di dalam mansion itu. Klek. Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dari luar. Langkah berat Michael dan Sofia memasuki ruangan, membuat suasana seketika berubah kaku. Jasmine buru-buru menghapus air matanya, sementara Martha berdiri tegak seperti penjaga setia. “Bagaimana kondisinya?” suara Michael datar dan dingin. Dokter Elena yang tadinya berusaha netral langsung pucat. Sorot matanya berubah horor saat menatap pasangan itu, seperti melihat malaikat maut datang untuk menagih penjelasan. Sofia melangkah maju, tumit sepatunya bergema tajam di lantai marmer. “Elena,” nada Sofia rendah dan menekan, “kami tidak punya waktu untuk menunggu. Jawab sekarang.” Elena melirik ke arah Martha. Gerakan kecil itu cukup bagi Michael untuk mengerti. Tatapannya yang tajam langsung tertuju pada wanita tua itu. “Keluar.” Satu kata. Dingin, tajam, dan penuh perintah. Martha menunduk. “Baik, Tuan.” Ia melangkah pergi tanpa suara. Pintu tertutup pelan, namun tekanan di ruangan justru semakin menyesakkan. Michael menatap Elena kembali. “Sekarang, bicara.” Elena menghela napas pendek, berusaha menahan getaran di suaranya. “Tuan, Nyonya… implan itu—mulai bermasalah.” Deg. Michael membeku. “Apa yang baru saja kau kat—?” Suaranya terpotong, menahan ledakan amarah. Sofia segera menutup mulut dengan telapak tangan yang bergetar, wajahnya berubah pucat. “Im—implan? Implan apa maksud Anda, Dokter…?” Dari ranjang, suara Jasmine terdengar pelan, bingung, dan polos. *****Dengan gerakan pasti, Zein melepas celana piyamanya tanpa ragu dan melemparkannya begitu saja, tak sabar melanjutkan permainan panas di pagi itu.Tanpa aba-aba, tubuhnya membungkuk, tangannya menyentuh kaki Jasmine yang putih dan halus, hendak membukanya lebar-lebar. Ia sudah tak tahan lagi, ingin segera merasakan dan memanjakan lipatan tersembunyi milik sang gadis yang sudah cukup basah itu. “Ah, Zein... kamu mau apa di sana?” suara Jasmine bergetar, terkejut. Jemarinya refleks menahan tangan Zein sambil merapatkan pahanya.Zein mengangkat wajah, tatapannya nakal.“Aku mau memberimu pengalaman yang bikin kamu melayang dan lupa dunia, Sayang,” bisiknya pelan namun menggoda.Dengan gerakan lembut, Zein kembali membuka kaki Jasmine dan melipat lututnya. Detik itu juga, matanya terpaku pada lipatan tersembunyi milik Jasmine yang putih mulus tanpa satu pun bulu. Napasnya tertahan sesaat, jakunnya naik turun saat menelan ludah, tak mampu mengalihkan pandangan dari keindahan lipatan sempi
Jasmine seketika membuka matanya. Tatapannya segera bertemu dengan wajah Zein yang berada sangat dekat di depannya. Keduanya saling menatap, napas mereka masih saling bertabrakan, hangat, tersisa dari ciuman panjang barusan. Tak ada yang langsung bicara, hanya tatapan dan detak jantung yang sama-sama belum kembali normal. Tangan Zein yang semakin menjalar membuat Jasmine semakin menegang menahan setiap sentuhan itu, apalagi saat Zein menekan satu tonjolan di area sensitifnya di bawah sana.Udara di kamar itu semakin panas. “Boleh kan... aku sentuh ini?” tanya Zein dengan suara serak, sementara satu tangannya masih menyentuh lipatan yang kini sudah basah, seolah enggan melepaskan kehangatan yang terasa di telapak tangannya.Tatapan Jasmine meredup, campuran antara takut dan hasrat yang membuncah. Napasnya masih terengah, tapi akhirnya ia mengangguk pelan. Pagi ini Jasmine benar-benar tak ingin menghentikan semuanya. Ia mengizinkan Zein melakukan apa pun pada tubuhnya.Rencana yang s
Nama itu terucap pelan, hampir seperti napas yang tertahan. Mata Jasmine membulat sempurna, bukan hanya karena terkejut, tapi juga karena apa yang kini terpampang di hadapannya terasa sangat nyata. Tubuh atletis itu bukan lagi sekadar bayangan samar di balik pakaian yang selama ini dikenakan Zein. Garis ototnya tegas. Perut sixpack yang selama ini hanya ia lihat di layar televisi pada aktor-aktor drama romantis yang selalu tampak sempurna dan tak tersentuh, sekarang ada tepat di depan matanya. Dekat dan nyata.Jasmine menelan ludah, tanpa sadar tatapannya turun perlahan mengikuti kontur tubuh Zein dengan rasa takjub yang bahkan tidak ia sembunyikan.Zein mengikuti arah pandang Jasmine. Sudut bibirnya terangkat tipis. “Jangan tatap seperti itu,” gumamnya rendah.Jasmine tersentak, tapi tak benar-benar mengalihkan pandangannya. “Seperti apa?” tanyanya pelan, suara yang tadi tegas kini berubah lebih lembut. “Seperti kamu sedang menahan sesuatu.” Jantung Jasmine berdegup lebih cep
Bibir Zein masih menempel erat pada bibir Jasmine yang mulai melebur bersama desahan dan napas beratnya. Tangannya cekatan menyusup ke dalam kain penyangga, menyentuh bantalan kenyal itu—meremas dan memilin ujung-ujung merah jambu dengan perlahan. Sesekali ia menahan napas, tenggelam dalam kehangatan yang mereka ciptakan bersama. “Enghh... Zein...” suara Jasmine terdengar lemah, nyaris tertahan. Tubuhnya makin tertarik, seolah larut dalam gelombang kenikmatan. Setiap sentuhan Zein yang menyusuri lekuk lembut itu membuat bulu kuduk Jasmine berdiri, jantungnya berdegup cepat, seakan melayang tanpa arah. Bibir Zein perlahan beranjak dari bibir Jasmine, berkeliling menyusuri seluruh wajah gadis itu—dari pipi yang hangat, rahang yang tegang, pelipis yang halus, hingga kening yang berkerut tipis—sebelum kembali menumpuk ke bibir manis itu dengan kecupan dan lumatan penuh rasa. “Ah, Zein...” desah Jasmine bergetar, suaranya menahan segala gelombang perasaan yang membuncah di dadanya.
Jasmine mengerjap bingung. “Olahraga?” ulangnya pelan. “Pagi-pagi?” Zein hanya menatap gadis itu, sudut bibirnya terangkat samar. Tatapan itu membuat jantung Jasmine berdegup lebih cepat, bukan karena dia mengerti, tapi justru karena tidak mengerti sama sekali. “Iya,” jawab Zein santai. “Aktivitas yang bisa meningkatkan detak jantung. Melatih napas. Mengeluarkan keringat.” Jasmine langsung refleks melihat ke sekeliling kamar. “Kita tidak punya treadmill.” Zein terdiam sejenak, lalu tertawa rendah. Bukan tawa keras, tapi lebih seperti getaran hangat di dada yang masih sangat dekat dengan wajah Jasmine. “Kau pikir aku bicara soal alat?” “Ya memang olahraga pakai alat, kan? Atau lari pagi?” Jasmine tampak benar-benar berpikir keras. “Tapi... kamu tadi bilang sesuatu yang sudah jadi milikmu…” Ia berhenti sendiri. Pipi gadis itu mulai memerah perlahan. Zein menikmati setiap detik kebingungan itu. “Mine,” panggilnya lembut. Jasmine menoleh. “Detak jantungmu sudah naik
Jasmine bisa merasakan napas hangat Zein menyentuh kulitnya. Tatapan pria itu gelap dan dalam, tanpa sedikit pun godaan. Tak ada ruang untuk bercanda.Jasmine ingin mundur, tapi dirinya sudah terkurung di antara tubuh Zein dan kasur. Pelukan Zein tidak menyakitkan, tapi hanya memastikan.Zein mengangkat satu tangan perlahan. Ujung jarinya menyentuh rambut Jasmine yang terurai di pipinya. Dengan gerakan hati-hati, ia menyibakkannya lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Sentuhan itu lembut, seolah sedang merapikan sesuatu yang sangat berharga.“Kenapa kamu gemetar?” gumamnya pelan.Jasmine tidak menjawab, karena dirinya pun tak yakin apa yang membuat tubuhnya bergetar seperti itu. Bukan sepenuhnya takut, juga bukan sepenuhnya berani. Namun malam ini, Zein terasa berbeda—lebih tenang, lebih pasti. Dan itu jauh lebih mengguncang daripada sikap posesifnya sebelumnya.Perlahan, Zein menunduk. Bibirnya menyentuh pipi Jasmine, bukan sekadar kecupan ringan. Ia menahannya di sana sepersekian







