共有

BAB. 2

last update 最終更新日: 2026-01-15 12:09:59

Tak. Tak. Tak.

Langkah kaki tergesa menggema di koridor panjang mansion Vancrosso. Michael dan Sofia berjalan cepat, ekspresi mereka mengeras setelah mendengar laporan tentang Jasmine, putri mereka.

Keduanya menuju sayap kanan mansion, tempat kamar Jasmine berada. Begitu pintu kamar terbuka, aroma mawar vanilla langsung menyergap indra mereka.

Di dalam, Jasmine duduk meringkuk di tepi ranjang, memeluk lututnya sambil terisak. Tubuhnya gemetar. Gaun satin bersih yang baru ia kenakan kembali basah di bagian dada. Cairan putih kekuningan itu masih merembes dan menguarkan wangi yang tak wajar.

“Mom… Dad…” suara Jasmine pecah. “Aku takut. Sakit sekali… dan ini tidak mau berhenti.”

Michael dan Sofia mematung di ambang pintu. Tatapan mereka tidak pada putri mereka yang sedang ketakutan, melainkan fokus pada bagian dada gaun satin yang basah, di mana cairan putih kekuningan terus merembes perlahan dan mengeluarkan aroma Mawar Vanilla yang begitu kuat.

Ekspresi keduanya berubah drastis. Bukan cemas, bukan empati, melainkan kemarahan yang bercampur ketakutan karena merasa aset mereka rusak.

Rahang Michael menegang tajam. Tatapannya gelap, lebih seperti seorang pria yang menghitung kerugian, bukan seorang ayah yang melihat anaknya terluka.

Sofia maju setapak, menatap Jasmine sekejap, lalu mundur dengan wajah yang menegang dingin. Hampir seperti jijik, tetapi berusaha menyamarkannya.

“Ini… tidak mungkin,” ucapnya pelan, kaku. “Dia jelas tidak hamil.”

“Mom... Dad... aku tidak melakukan apa pun. Sumpah!” Jasmine menangis panik, tubuhnya berguncang, mengira mereka menuduhnya melakukan hal terlarang.

Namun mereka tak menghiraukan tangisan Jasmine. Wajah keduanya pucat, tapi kemarahan dan kecemasan saling bertabrakan di raut muka mereka.

“Martha!” Sofia menoleh cepat, matanya menatap tajam pelayan tua itu. “Telepon Dokter Elena. Katakan ini darurat level satu.”

“Dan Martha.” Michael menambahkan dengan suara rendah yang penuh ancaman, “jika ada satu kata saja yang bocor dari mulutmu tentang kejadian ini… kau tahu di mana kau akan berakhir besok pagi.”

Wajah Martha langsung berubah pucat pasi. Ia membungkuk cepat dan bergegas keluar kamar untuk menghubungi dokter.

Kini hanya tersisa Jasmine yang menangis terisak, bersama orangtuanya yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung namun justru menatapnya seperti barang berharga yang tiba-tiba rusak, padahal masih sangat mereka butuhkan.

Sedangkan Jasmine... gadis itu sama sekali tidak tahu apa pun tentang tubuhnya, tidak mengerti apa pun tentang sesuatu yang tertanam dalam dirinya sejak kecil.

.

.

Beberapa saat kemudian...

Dokter Elena melepas sarung tangannya perlahan. Wajahnya tampak pucat, tapi ia berusaha keras mempertahankan profesionalismenya. Jasmine duduk bersandar di kepala ranjang, matanya masih sembap, sementara Martha duduk di sampingnya, menggenggam tangan sang nona muda dengan lembut.

Elena membersihkan alat pemeriksaannya, lalu menatap Jasmine hati-hati. “Nona… kondisi Anda stabil. Tidak berbahaya. Tapi jika dibiarkan, rasa sakitnya bisa semakin parah.”

Jasmine menelan tangisnya. “Lalu… kenapa ini terus keluar? Apa yang salah denganku?”

Nada suaranya membuat Martha langsung menatap Elena tajam.

“Dokter,” ujar Martha, suaranya penuh peringatan, “tolong jelaskan dengan detail. Jangan membuat nona semakin ketakutan.”

Elena terdiam sejenak, berusaha memilih kata dengan sangat hati-hati.

“Nona Jasmine,” ucapnya lembut, “tubuh Anda sedang merespons sesuatu. Saya perlu pemeriksaan lanjutan untuk memastikan penyebab pastinya. Untuk sekarang… fokus kita adalah meredakan nyeri dan tekanan yang Anda rasakan.”

Itu saja yang dia katakan. Tidak lebih, tidak kurang. Tidak ada rahasia yang bocor. Seperti biasa, Elena menjaga mulutnya rapat untuk keluarga Vancrosso.

Ia membuka tas medisnya dan mengeluarkan pompa ASI elektrik. “Saya perlu mengurangi tekanan di area ini. Tubuh Nona memproduksi cairan berlebih, dan itu tidak akan berhenti tanpa bantuan.”

Jasmine menatap alat itu seolah benda asing yang menakutkan. “J-Jadi... aku harus memakai itu?”

“Untuk sementara, ya.” Elena menyalakan alat itu sebentar, memperdengarkan dengungan pelan. “Jika tidak digunakan, Anda akan terus merasakan nyeri. Bahkan bisa terjadi peradangan.”

Jasmine menunduk semakin dalam, rasa malunya menusuk hingga ke tulang. Martha menepuk punggungnya dengan lembut.

“Tidak apa-apa, Nona. Saya akan bantu. Anda tidak sendiri,” ujarnya mencoba menenangkan.

Elena mulai menunjukkan cara memasang alat itu, menekan, dan mengatur ritme. Setiap kali Elena menyebutkan detailnya, Jasmine hampir tak berani menatap, rasa malu membuatnya terdiam.

“Aku... harus melakukan ini setiap hari?” tanyanya lirih hampir tak terdengar.

Elena mengangguk. “Sampai produksi hormon menurun. Saya akan memantau perkembangannya.”

Tatapannya beralih ke Martha. “Pastikan alat ini digunakan dengan benar. Setelahnya, bersihkan dengan teliti. Jangan sampai ada iritasi.”

“Saya mengerti,” jawab Martha dengan mantap. “Saya akan urus semuanya.”

Jasmine memejamkan mata, air matanya mengalir tanpa bisa ditahan. Martha menggenggam tangannya lebih erat, satu-satunya kehangatan yang tersisa di dalam mansion itu.

Klek.

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka dari luar.

Langkah berat Michael dan Sofia memasuki ruangan, membuat suasana seketika berubah kaku. Jasmine buru-buru menghapus air matanya, sementara Martha berdiri tegak seperti penjaga setia.

“Bagaimana kondisinya?” suara Michael datar dan dingin.

Dokter Elena yang tadinya berusaha netral langsung pucat. Sorot matanya berubah horor saat menatap pasangan itu, seperti melihat malaikat maut datang untuk menagih penjelasan.

Sofia melangkah maju, tumit sepatunya bergema tajam di lantai marmer.

“Elena,” nada Sofia rendah dan menekan, “kami tidak punya waktu untuk menunggu. Jawab sekarang.”

Elena melirik ke arah Martha.

Gerakan kecil itu cukup bagi Michael untuk mengerti. Tatapannya yang tajam langsung tertuju pada wanita tua itu.

“Keluar.” Satu kata. Dingin, tajam, dan penuh perintah.

Martha menunduk. “Baik, Tuan.”

Ia melangkah pergi tanpa suara. Pintu tertutup pelan, namun tekanan di ruangan justru semakin menyesakkan.

Michael menatap Elena kembali. “Sekarang, bicara.”

Elena menghela napas pendek, berusaha menahan getaran di suaranya. “Tuan, Nyonya… implan itu—mulai bermasalah.”

Deg.

Michael membeku. “Apa yang baru saja kau kat—?” Suaranya terpotong, menahan ledakan amarah.

Sofia segera menutup mulut dengan telapak tangan yang bergetar, wajahnya berubah pucat.

“Im—implan? Implan apa maksud Anda, Dokter…?” Dari ranjang, suara Jasmine terdengar pelan, bingung, dan polos.

*****

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 9

    Zein masih menatap telapak tangannya yang basah beberapa detik, seolah berusaha memastikan apa yang baru saja dilihatnya saat ini.“Bukankah ini A—” gumamnya terhenti, sulit mempercayai.Matanya lalu terangkat menatap Jasmine lagi.Wajah Jasmine meringis, bahunya bergetar, napasnya pendek-pendek. Satu tangan menekan dadanya, menahan nyeri yang tampak tak tertahankan.“Ada apa denganmu? Kenapa kau seperti itu?” tanya Zein pelan.Jasmine memalingkan wajah, rambut coklat chestnut-nya jatuh menutupi pipi yang mulai memerah seperti tomat.“Tidak ada,” gumamnya cepat. “Jangan tanya.”Zein tak percaya. Ia meraih dagu Jasmine, memaksa mata biru itu menatapnya.“Matamu berkata lain. Kau kesakitan. Di mana? Katakan,” ucapnya tenang namun penuh tekanan.Jasmine menggigit bibir bawahnya, jari-jarinya mencengkeram gaunnya.“Aku… tidak apa-apa,” bisiknya, jelas tak meyakinkan.Zein menghela napas pendek. “Jasmine.”Nada itu membuat tubuh gadis itu menegang.“Kalau kau tidak mau bicara, jangan salah

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 8

    Malam turun perlahan di balik jendela besar kamar. Lampu-lampu mansion berkilau di kejauhan, dingin dan jauh, seperti dunia lain yang tak bisa dijangkau Jasmine. Ia terbangun dengan tubuh yang terasa tidak nyaman. Perutnya melilit hebat, kosong dan perih. Setiap tarikan napas terasa lebih berat dari seharusnya. Namun, rasa itu kalah oleh sesuatu yang lain. Dadanya penuh, sesak, kencang, dan panas. Berdenyut pelan tapi terus-menerus, seolah ditekan dari dalam tanpa ampun. “Akhh…” Jasmine mengerang lirih, tangannya mencengkeram kain gaunnya di bagian dada. Rasa nyeri itu membuat tenggorokannya tercekat, matanya berkaca-kaca. “Sakit…” bisiknya hampir tak terdengar. Ia mencoba bertahan. Menunggu. Meyakinkan dirinya bahwa rasa itu akan mereda. Namun, menit demi menit berlalu, justru yang datang rasa sakit yang semakin menekan. Akhirnya, Jasmine turun dari ranjang. Langkahnya goyah saat berjalan menuju pintu. Tok. Tok. Tok. Ketukannya pelan dan ragu di daun pintu itu. “Permisi…” Su

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 7

    Ia mengangkat kepala, dan dunia seolah berhenti. Zein berdiri tepat di depannya. Wajah pria itu dingin. Mata coklat gelapnya seperti menelan cahaya. Jasmine menelan ludah. “Ka… kau?” Ia menoleh ke sekeliling, lalu matanya membulat melihat ruangan itu adalah ruang makan. “Kenapa aku balik ke sini lagi?!” Tangannya mengepal frustrasi. “Aish! Sia-sia semua usaha kaburku…” Zein menatapnya tanpa ekspresi. Sementara Jasmine? Dia tampak seperti mangsa yang benar-benar terpojok. Langkah kaki Zein mendekat, tidak terburu-buru, tidak panik, tapi berat dan terkendali. Ia berhenti tepat di depan Jasmine. Wajahnya datar, tatapannya dingin. Jasmine mundur setapak. “A-aku cuma… mau lihat-lihat pemandangan,” katanya gugup. Zein maju satu langkah. Jasmine langsung berbalik dan lari. “Berhenti, Jasmine.” Suara Zein rendah, tidak keras, tapi cukup membuat udara seolah membeku. Jasmine tidak berhenti. Ia berlari sampai ujung lorong. Buntu. Ia menoleh ke kanan dan kiri, hanya ada dinding da

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 6

    Pintu kamar itu akhirnya terbuka kembali. Beberapa pelayan masuk dengan langkah hati-hati. “Nona… mari. Kami akan membantu Anda bersiap,” ucap salah satu dari mereka pelan. Jasmine hanya diam, lalu berbalik dan duduk di tepi ranjang. Matanya merah, rahangnya mengeras. Para pelayan saling berpandangan. Tak ada yang berani menyentuhnya lebih dulu. Beberapa detik berlalu, sampai akhirnya kelelahan mengalahkan perlawanan. Dengan gerakan kaku, Jasmine membiarkan mereka membantu. Air hangat disiapkan di kamar mandi. Pakaian bersih, handuk, dan perlengkapan lain tersusun rapi seperti ritual sebelum hukuman. Tak lama kemudian, Jasmine sudah berdiri di bawah shower. Air mengalir di kulitnya, tapi ekspresinya tetap kosong. Beberapa saat setelah itu, ia sudah siap dan dibawa keluar kamar. Lorong-lorong marmer membentang panjang dan sunyi. Lukisan-lukisan mahal serta lampu kristal menggantung, menjadi saksi bisu langkah seorang gadis yang sedang ditawan. Ruang makan keluarga Ravelli te

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 5

    Pagi itu, kesadaran Jasmine muncul perlahan, seperti seseorang yang ditarik paksa keluar dari laut yang dalam. Kelopak matanya bergetar pelan sebelum akhirnya terbuka. Langit-langit putih dengan ukiran asing menyambut pandangannya. Aroma yang sama sekali bukan bau rumahnya memenuhi penciumannya. Dadanya langsung mengencang. Jasmine tersentak duduk, napasnya terputus-putus saat matanya menyapu ruangan. Beberapa wanita berdiri di depan ranjang. Seragam hitam-putih membalut tubuh mereka dengan rapi. Wajah mereka datar, tapi mata mereka tajam dan waspada, seolah satu gerakan salah darinya bisa berakhir buruk. “Syukurlah Nona sudah bangun,” ucap salah satu dari mereka pelan. “Kami di sini untuk membantu Nona membersihkan diri dan bersiap.” Jasmine refleks menarik selimut lebih erat menutupi tubuhnya. “Tidak.” Suaranya serak, tapi ada sesuatu yang keras di dalamnya. “Aku mau pulang.” Para pelayan saling berpandangan cepat. “Nona—” “Aku bilang tidak!” Jasmine menyela tegas. Ia bangk

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 4

    Pintu mobil pengawal depan terbuka keras bahkan sebelum mesin benar-benar mati. Bayangan-bayangan tinggi bergerak cepat dari balik gelap, mengenakan setelan hitam, wajah tertutup topeng. Gerak mereka presisi dan terlatih.“Formasi!” teriak salah satu anak buah Michael.Namun terlambat.DOR! DOR!Suara tembakan meletup, memecah keheningan malam.“Sial—!” geram Michael.BUG! BUG!Baku hantam pecah tanpa aba-aba. Tubuh-tubuh beradu, tinju menghantam, senjata tajam berkilat di bawah lampu jalan yang berkedip. Anak buah Michael berusaha bertahan, tapi jumlah dan kecepatan lawan terlalu brutal.“Jaga Jasmine!” bentak Michael keras. “Jangan biarkan mereka mendekatinya!”Ia gegas turun dari mobil.Aspal dingin menyentuh sepatunya. Jas mahalnya langsung ternoda debu dan cipratan darah. Michael menghantam salah satu penyerang tepat di rahang.“Pergi ke neraka,” desisnya.Pria itu terhuyung, tapi dari sisi lain tinjuan keras menghantam pelipis Michael.“BUGH!”Pandangan Michael berkunang. Ia jat

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status