ログイン
“Mmpphh—”
Jasmine terkejut ketika pria itu tiba-tiba menyambar bibirnya, menekan dengan kasar seperti ingin merampas napasnya. Ia berusaha mendorong dada pria itu, jantungnya berdebar liar. Namun pria itu tak mau berhenti. Bahkan tangannya mulai meraba naik ke dada Jasmine dan meremas keras. Hingga di detik berikutnya— Deg. Gerakannya terhenti. Sorot matanya berubah, dari gelap menjadi bingung. Ia menatap jemarinya yang basah, cairan putih kekuningan yang terasa hangat itu berkilau di telapak tangannya. Tatapannya berpindah ke dada Jasmine, lalu kembali ke tangannya. Dan untuk pertama kalinya, ekspresinya retak. “Apa ini?” . . Sore itu, langit jingga menyala. Angin menerbangkan helai rambut coklat chestnut Jasmine yang berdiri di taman mawar kesayangannya. “Wah... indah sekali ya, Bi,” ucapnya pelan, menatap hamparan mawar seperti menatap dunia luar yang selama ini tak pernah ia rasakan. “Mawar-mawar itu tumbuh subur dan indah karena Anda yang merawatnya, Nona,” balas Martha, lembut. Wanita paruh baya itu sudah setia menemani Jasmine sejak kecil. Hanya dialah yang tahu betul bahwa merawat mawar adalah satu-satunya hal yang membuat Jasmine merasa hidup. Bahkan, Jasmine sudah begitu menyatu dengan mawar hingga aroma tubuhnya pun menyerupai harum bunga itu. Jasmine membentangkan tangan, merasakan kebebasan kecil yang hanya bisa ia temukan di halaman belakang mansion Vancrosso. Ia selalu menyukai mawar, bunga cantik yang berduri. Berbeda dengan melati, bunga lembut dan jinak yang menjadi citra yang keluarganya paksakan padanya sejak kecil, sama seperti namanya. Tapi mawar? Mawar bisa terluka, tapi juga mampu melukai balik. Mungkin itu sebabnya Jasmine menyayanginya. Karena jauh di dalam dirinya, ia ingin menjadi seperti bunga itu. Bukan gadis yang dikurung di balik tembok sepuluh meter dan diawasi tanpa henti. Jasmine melangkah pelan mendekati mawar merah darah yang merekah sempurna. Jemarinya yang lentik dengan hati-hati memotong tangkai mawar yang berduri. “Hati-hati durinya, Nona,” peringat Martha sambil membawa keranjang rotan. Wanita tua itu berdiri sigap, menatap Jasmine dengan sorot mata keibuan yang hangat. Jasmine tersenyum lembut. “Tenang saja, Bi. Aku sudah hafal mana yang tajam.” Di usia 20 tahun, kecantikan Jasmine mekar seperti bunga-bunga di hadapannya. Polos dan murni, juga terjaga terlalu rapat, seolah dunia luar tak pernah diperkenankan menyentuhnya. Saat Jasmine meraih bunga berikutnya, gerakannya tiba-tiba terhenti. Martha mengerutkan keningnya pelan ketika melihat wajah Jasmine yang berubah pucat dalam sekejap. “Nona? Ada apa?” Gunting taman jatuh dari tangan Jasmine. Jari-jarinya refleks mencengkeram dada kirinya. “Sakit…” desisnya lirih, bibirnya menegang. “Bi, dadaku rasanya… panas dan kencang sekali. Seperti ditarik dari dalam.” Martha panik. “Mungkin Nona masuk angin? Atau korset gaunnya terlalu ketat?” “Bukan, Bi,” suara Jasmine pecah. Napasnya memburu. Tubuhnya mulai gemetar. Rasa itu datang begitu tiba-tiba, seperti tarikan dari dalam tubuhnya sendiri. Nyeri itu bukan seperti tusukan jarum, melainkan seperti sengatan listrik halus yang menjalar dari belakang matanya, turun ke leher, lalu menghantam dadanya dengan sensasi penuh yang menyakitkan. “Bi... ini—ini ada yang aneh,” bisik Jasmine ketakutan. Dan di detik itulah gadis itu merasakannya. Sensasi basah yang hangat dan asing. Mata Jasmine seketika membelalak saat menunduk. Gaun sutra berwarna cream yang ia kenakan tampak basah. Tepat di bagian dadanya. Noda bulat itu semakin melebar dalam hitungan detik, membuat kain mahal itu menempel pada kulitnya. “Bi...” Suaranya bergetar hebat, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Apa ini? “Kenapa aku… basah? Apa yang terjadi padaku?” Martha ternganga. Wajah wanita tua itu memucat lebih parah dari Jasmine. Ia tahu Nona mudanya gadis yang suci, bahkan terlalu suci. Tidak pernah disentuh laki-laki, tidak pernah bersentuhan erat dengan siapa pun. Namun yang keluar dari dada Jasmine sekarang, menghancurkan logika akal sehatnya. Cairan putih kekuningan merembes deras, tak terbendung. “Ya Tuhan...” Martha langsung menjatuhkan keranjangnya, segera melepas syal lebarnya untuk menutupi dada Jasmine. “Nona, cepat! Kita masuk ke kamar!” bisiknya panik sambil memapah Jasmine. “Jangan sampai para penjaga melihat ini!” Jasmine nyaris tersandung, tubuhnya lemah karena nyeri dan kebingungan. “Bi… apa yang salah denganku? Kenapa tubuhku seperti ini?” Martha menelan ludah. Ada ketakutan lain di matanya, yang tidak Jasmine pahami. “Saya juga tidak tahu, Nona. Tapi sekarang... kita harus segera masuk. Ini—ini tidak boleh ada yang tahu.” *****Zein masih menatap telapak tangannya yang basah beberapa detik, seolah berusaha memastikan apa yang baru saja dilihatnya saat ini.“Bukankah ini A—” gumamnya terhenti, sulit mempercayai.Matanya lalu terangkat menatap Jasmine lagi.Wajah Jasmine meringis, bahunya bergetar, napasnya pendek-pendek. Satu tangan menekan dadanya, menahan nyeri yang tampak tak tertahankan.“Ada apa denganmu? Kenapa kau seperti itu?” tanya Zein pelan.Jasmine memalingkan wajah, rambut coklat chestnut-nya jatuh menutupi pipi yang mulai memerah seperti tomat.“Tidak ada,” gumamnya cepat. “Jangan tanya.”Zein tak percaya. Ia meraih dagu Jasmine, memaksa mata biru itu menatapnya.“Matamu berkata lain. Kau kesakitan. Di mana? Katakan,” ucapnya tenang namun penuh tekanan.Jasmine menggigit bibir bawahnya, jari-jarinya mencengkeram gaunnya.“Aku… tidak apa-apa,” bisiknya, jelas tak meyakinkan.Zein menghela napas pendek. “Jasmine.”Nada itu membuat tubuh gadis itu menegang.“Kalau kau tidak mau bicara, jangan salah
Malam turun perlahan di balik jendela besar kamar. Lampu-lampu mansion berkilau di kejauhan, dingin dan jauh, seperti dunia lain yang tak bisa dijangkau Jasmine. Ia terbangun dengan tubuh yang terasa tidak nyaman. Perutnya melilit hebat, kosong dan perih. Setiap tarikan napas terasa lebih berat dari seharusnya. Namun, rasa itu kalah oleh sesuatu yang lain. Dadanya penuh, sesak, kencang, dan panas. Berdenyut pelan tapi terus-menerus, seolah ditekan dari dalam tanpa ampun. “Akhh…” Jasmine mengerang lirih, tangannya mencengkeram kain gaunnya di bagian dada. Rasa nyeri itu membuat tenggorokannya tercekat, matanya berkaca-kaca. “Sakit…” bisiknya hampir tak terdengar. Ia mencoba bertahan. Menunggu. Meyakinkan dirinya bahwa rasa itu akan mereda. Namun, menit demi menit berlalu, justru yang datang rasa sakit yang semakin menekan. Akhirnya, Jasmine turun dari ranjang. Langkahnya goyah saat berjalan menuju pintu. Tok. Tok. Tok. Ketukannya pelan dan ragu di daun pintu itu. “Permisi…” Su
Ia mengangkat kepala, dan dunia seolah berhenti. Zein berdiri tepat di depannya. Wajah pria itu dingin. Mata coklat gelapnya seperti menelan cahaya. Jasmine menelan ludah. “Ka… kau?” Ia menoleh ke sekeliling, lalu matanya membulat melihat ruangan itu adalah ruang makan. “Kenapa aku balik ke sini lagi?!” Tangannya mengepal frustrasi. “Aish! Sia-sia semua usaha kaburku…” Zein menatapnya tanpa ekspresi. Sementara Jasmine? Dia tampak seperti mangsa yang benar-benar terpojok. Langkah kaki Zein mendekat, tidak terburu-buru, tidak panik, tapi berat dan terkendali. Ia berhenti tepat di depan Jasmine. Wajahnya datar, tatapannya dingin. Jasmine mundur setapak. “A-aku cuma… mau lihat-lihat pemandangan,” katanya gugup. Zein maju satu langkah. Jasmine langsung berbalik dan lari. “Berhenti, Jasmine.” Suara Zein rendah, tidak keras, tapi cukup membuat udara seolah membeku. Jasmine tidak berhenti. Ia berlari sampai ujung lorong. Buntu. Ia menoleh ke kanan dan kiri, hanya ada dinding da
Pintu kamar itu akhirnya terbuka kembali. Beberapa pelayan masuk dengan langkah hati-hati. “Nona… mari. Kami akan membantu Anda bersiap,” ucap salah satu dari mereka pelan. Jasmine hanya diam, lalu berbalik dan duduk di tepi ranjang. Matanya merah, rahangnya mengeras. Para pelayan saling berpandangan. Tak ada yang berani menyentuhnya lebih dulu. Beberapa detik berlalu, sampai akhirnya kelelahan mengalahkan perlawanan. Dengan gerakan kaku, Jasmine membiarkan mereka membantu. Air hangat disiapkan di kamar mandi. Pakaian bersih, handuk, dan perlengkapan lain tersusun rapi seperti ritual sebelum hukuman. Tak lama kemudian, Jasmine sudah berdiri di bawah shower. Air mengalir di kulitnya, tapi ekspresinya tetap kosong. Beberapa saat setelah itu, ia sudah siap dan dibawa keluar kamar. Lorong-lorong marmer membentang panjang dan sunyi. Lukisan-lukisan mahal serta lampu kristal menggantung, menjadi saksi bisu langkah seorang gadis yang sedang ditawan. Ruang makan keluarga Ravelli te
Pagi itu, kesadaran Jasmine muncul perlahan, seperti seseorang yang ditarik paksa keluar dari laut yang dalam. Kelopak matanya bergetar pelan sebelum akhirnya terbuka. Langit-langit putih dengan ukiran asing menyambut pandangannya. Aroma yang sama sekali bukan bau rumahnya memenuhi penciumannya. Dadanya langsung mengencang. Jasmine tersentak duduk, napasnya terputus-putus saat matanya menyapu ruangan. Beberapa wanita berdiri di depan ranjang. Seragam hitam-putih membalut tubuh mereka dengan rapi. Wajah mereka datar, tapi mata mereka tajam dan waspada, seolah satu gerakan salah darinya bisa berakhir buruk. “Syukurlah Nona sudah bangun,” ucap salah satu dari mereka pelan. “Kami di sini untuk membantu Nona membersihkan diri dan bersiap.” Jasmine refleks menarik selimut lebih erat menutupi tubuhnya. “Tidak.” Suaranya serak, tapi ada sesuatu yang keras di dalamnya. “Aku mau pulang.” Para pelayan saling berpandangan cepat. “Nona—” “Aku bilang tidak!” Jasmine menyela tegas. Ia bangk
Pintu mobil pengawal depan terbuka keras bahkan sebelum mesin benar-benar mati. Bayangan-bayangan tinggi bergerak cepat dari balik gelap, mengenakan setelan hitam, wajah tertutup topeng. Gerak mereka presisi dan terlatih.“Formasi!” teriak salah satu anak buah Michael.Namun terlambat.DOR! DOR!Suara tembakan meletup, memecah keheningan malam.“Sial—!” geram Michael.BUG! BUG!Baku hantam pecah tanpa aba-aba. Tubuh-tubuh beradu, tinju menghantam, senjata tajam berkilat di bawah lampu jalan yang berkedip. Anak buah Michael berusaha bertahan, tapi jumlah dan kecepatan lawan terlalu brutal.“Jaga Jasmine!” bentak Michael keras. “Jangan biarkan mereka mendekatinya!”Ia gegas turun dari mobil.Aspal dingin menyentuh sepatunya. Jas mahalnya langsung ternoda debu dan cipratan darah. Michael menghantam salah satu penyerang tepat di rahang.“Pergi ke neraka,” desisnya.Pria itu terhuyung, tapi dari sisi lain tinjuan keras menghantam pelipis Michael.“BUGH!”Pandangan Michael berkunang. Ia jat







