Share

BAB. 3

last update Last Updated: 2026-01-15 12:13:45

Kamar itu langsung hening. Jasmine menatap ketiganya, matanya membesar penuh tanda tanya.

“Oh, sayang…”

Sofia bereaksi paling cepat. Ia mendekat dengan senyum lembut yang dibuat-buat, terasa terlalu sempurna. “Kau salah dengar.”

Jasmine mengerjap. “Tapi aku tadi jelas dengar—”

“Itu istilah medis, Nak,” potong Michael tenang. Suaranya rendah, terukur, dan penuh kontrol. “Dokter Elena sedang menjelaskan alat bantu perawatan untukmu. Tidak ada yang perlu kau pikirkan.”

Ia lalu menoleh ke Elena. Tatapannya memberi sinyal halus yang tak bisa dilihat oleh Jasmine. “Benar begitu, Dokter?”

Elena langsung mengangguk.

“Benar, Nona. Pump perawatan yang saya berikan kepada Anda tadi... memang sering disebut implan dalam istilah medis. Tidak ada yang aneh,” jelasnya berusaha meyakinkan, meski terdengar agak ganjil.

Jasmine menatap Elena, mencari kepastian. “Jadi… implan itu—”

“Tidak ada, Nona,” sela Elena lembut. “Tubuh Anda hanya bereaksi terhadap perubahan hormon. Itu sebabnya perlu penanganan tambahan.”

“Oh…” Jasmine menunduk pelan. Di hatinya masih ada sesuatu yang mengganjal, tapi dia tak mampu mengutarakannya.

Sofia duduk di tepi ranjang, mengusap punggung Jasmine perlahan, seperti ibu yang penuh kasih.

“Kau terlalu lelah, Sayang. Stres bisa membuat seseorang salah menangkap kata-kata.”

Michael menambahkan tanpa emosi, “Kau hanya perlu percaya pada kami.”

Jasmine mengangguk kecil. “Aku—maaf.”

“Tidak perlu minta maaf,” ujar Sofia cepat, memeluknya singkat. “Kami selalu tahu apa yang terbaik untukmu.”

Di samping mereka, Elena menunduk, menahan napas. Sementara di ranjang, Jasmine masih belum tahu apa-apa. Dia begitu polos, tak sadar menjadi boneka dalam skema besar keluarga Vancrosso.

Michael berdiri tegak. Tatapannya kembali tertuju pada Elena, dingin dan datar.

“Dokter Elena,” ucapnya perlahan, setiap kata terasa terukur. “Apa langkah berikutnya untuk memastikan kondisi putri kami terkendali?”

“Saya sarankan Nona muda dibawa ke fasilitas lab keluarga. Malam ini, Tuan,” jawab Elena.

“Seberapa mendesak?” tanya Sofia lembut, tapi mengandung tekanan.

“Lebih cepat lebih baik,” jawab Elena tanpa ragu.

Michael mengangguk pelan, ekspresinya sulit dibaca. “Baik. Kita berangkat malam ini.”

“Malam ini?” Jasmine menatapnya, cemas. “Dad, aku masih takut.”

Michael tersenyum tipis. “Ini hanya pemeriksaan. Kami tidak akan membiarkan sesuatu yang lebih buruk terjadi padamu.”

Sofia mengusap kepala Jasmine lembut. “Benar, Sayang. Kita lakukan ini supaya kau lebih nyaman dan tidak merasa nyeri lagi.”

Elena mengangguk, menambahkan, “Ini hanya pemeriksaan standar, Nona. Singkat saja. Saya akan mendampingi langsung.”

Jasmine terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk lemah. “Baik…”

Tak satu pun dari mereka mengungkapkan kebenaran. Dan Jasmine, masih percaya. Dia tak tahu bahwa semua wajah lembut di hadapannya sebenarnya menyimpan sesuatu yang jauh lebih gelap.

.

.

Malam merayap turun saat empat mobil keluarga Vancrosso meluncur keluar dari gerbang utama. Rombongan itu melaju di jalan pribadi menuju fasilitas laboratorium tersembunyi beberapa kilometer dari mansion.

Di mobil barisan kedua, suasana hening. Jasmine duduk di samping Martha, tubuhnya sedikit meringkuk memeluk wanita tua itu erat-erat. Dadanya masih terasa nyeri dan kencang.

“Bi…” suaranya lirih. “Setelah ini kita langsung pulang, kan?”

Martha mengusap lembut punggung Jasmine. “Tentu, Nona. Kita hanya sebentar.”

Sementara itu, di mobil barisan ketiga, Michael, Sofia, dan Elena duduk bersama.

Michael dan Sofia diam, ekspresi mereka terkunci. Bukan ketenangan orang tua, melainkan kewaspadaan dua orang yang menyadari sesuatu yang bernilai besar mungkin sedang berada di ambang kebocoran.

Elena di kursi depan tampak gelisah. Tatapannya berulang kali mencuri pantulan wajah Michael di kaca spion.

Michael bersandar, jemarinya terlipat rapi di pangkuan. Namun sorot matanya tetap menekan.

“Kau berhutang penjelasan, Elena,” ucapnya rendah. “Kenapa tubuh Jasmine menunjukkan reaksi seperti itu?”

Elena menelan ludah, keringat dingin merembes di pelipisnya. Ia sadar, menjadi dokter pribadi keluarga mantan mafia terkejam di kota ini berarti satu kesalahan diagnosa bisa berujung pada nyawa.

“Itu galaktorea, Tuan,” jawabnya akhirnya. “Laktasi spontan yang—”

“Bahasa manusia, Elena,” potong Sofia dingin.

“Tubuh Nona memproduksi ASI, Nyonya,” jelas Elena lagi, dalam bahasa yang lebih bisa dipahami.

Rahang Michael mengeras. “Bagaimana bisa? Dia tidak hamil.”

“Memang tidak, Tuan,” sahut Elena cepat. “Saya sudah melakukan tes instan dan USG portable. Rahimnya kosong. Hymen-nya utuh. Ini bukan soal moral… ini dampak teknologi.”

Michael menyipitkan mata.

Elena menarik napas dalam, menyiapkan penjelasan yang mungkin akan terdengar gila bagi orang awam, tapi sangat masuk akal bagi mereka yang tahu “rahasia” di balik tubuh Jasmine.

“Saya menduga ini efek jangka panjang dari implan di mata kanannya,” jelas Elena hati-hati. “Posisi implan itu berada terlalu dekat dengan pusat hormon di otak. Lebih tepatnya, berada di bawah jalur yang berdampingan dengan kelenjar hipofisis. Selama sepuluh tahun implan itu pasif, tapi sekarang—tubuh Nona sudah matang. Aktivitas mikronya mulai mengganggu sinyal otak.”

“Dan tubuhnya salah membaca itu,” simpul Michael datar.

“Ya, Tuan. Tubuhnya bereaksi seolah-olah ia sedang menyusui.”

Kabin mobil tenggelam dalam keheningan.

Sofia menutup mulutnya. “Bagaimana dengan kunci aset?”

Michael menatap mobil di depan, tempat Jasmine berada. Tatapannya dingin, penuh perhitungan.

“Itu satu-satunya yang penting,” katanya tajam. “Benda di matanya bernilai triliunan dolar. Itu akses ke seluruh aset keluarga. Mencabut implan bukan pilihan. Nilainya lebih besar dari hidupnya.”

“Secara fisik ini tidak mematikan, Tuan. Jadi kita tidak perlu mencabut implan itu,” imbuh Elena. “Tapi kondisi ini akan terus berulang dan menyiksa selama implan aktif.”

Michael merapikan jasnya. “Atasi gejalanya. Obat, suntikan, apa pun, berikan kepadanya. Pastikan akses aset keluarga tetap aman.”

Elena menunduk. “Baik, Tuan.”

Perjalanan menuju laboratorium itu berjalan mulus.

Di dalam mobil barisan kedua, Jasmine sedikit pun tak melepaskan lengan Martha. Dadanya masih terasa nyeri, tapi yang lebih mengganggu adalah rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul.

“Bi…” bisiknya pelan. “Aku kenapa, ya? Perasaanku jadi tidak enak begini.”

Martha mengusap lengan Jasmine lembut, meski jari-jarinya sendiri dingin. “Tenang, Nona. Semuanya pasti akan baik-baik saja.”

“Tapi, Bi—”

Sebelum kalimat itu selesai,

BRUAK!

Sebuah benturan keras menghantam mobil pengawal paling depan hingga berhenti mendadak. Sebelum Jasmine dan Martha sempat bereaksi,

BRAK!

Benturan kedua menyusul. Mobil mereka pun berguncang hebat karena tabrakan beruntun. Kaca jendela bergetar, suara logam beradu memekakkan telinga. Tubuh Jasmine terhempas ke depan, sabuk pengaman menahan dadanya dengan kasar.

“Ah—!” Jasmine menjerit pelan.

Martha refleks memeluk Jasmine erat.

“Ya Tuhan—Nona, pegang saya!” suaranya gemetar, jauh dari ketenangan biasanya.

Jasmine mencengkeram lengan Martha lebih kuat, napasnya terengah.

“Apa yang terjadi, Bi? Kita kenapa?!”

Sebelum Martha sempat menjawab, teriakan panik memenuhi radio komunikasi.

Sopir di mobil barisan pertama buru-buru menekan earpiece di telinganya, napasnya memburu.

“TUAN—KITA DISERANG!”

*****

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 9

    Zein masih menatap telapak tangannya yang basah beberapa detik, seolah berusaha memastikan apa yang baru saja dilihatnya saat ini.“Bukankah ini A—” gumamnya terhenti, sulit mempercayai.Matanya lalu terangkat menatap Jasmine lagi.Wajah Jasmine meringis, bahunya bergetar, napasnya pendek-pendek. Satu tangan menekan dadanya, menahan nyeri yang tampak tak tertahankan.“Ada apa denganmu? Kenapa kau seperti itu?” tanya Zein pelan.Jasmine memalingkan wajah, rambut coklat chestnut-nya jatuh menutupi pipi yang mulai memerah seperti tomat.“Tidak ada,” gumamnya cepat. “Jangan tanya.”Zein tak percaya. Ia meraih dagu Jasmine, memaksa mata biru itu menatapnya.“Matamu berkata lain. Kau kesakitan. Di mana? Katakan,” ucapnya tenang namun penuh tekanan.Jasmine menggigit bibir bawahnya, jari-jarinya mencengkeram gaunnya.“Aku… tidak apa-apa,” bisiknya, jelas tak meyakinkan.Zein menghela napas pendek. “Jasmine.”Nada itu membuat tubuh gadis itu menegang.“Kalau kau tidak mau bicara, jangan salah

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 8

    Malam turun perlahan di balik jendela besar kamar. Lampu-lampu mansion berkilau di kejauhan, dingin dan jauh, seperti dunia lain yang tak bisa dijangkau Jasmine. Ia terbangun dengan tubuh yang terasa tidak nyaman. Perutnya melilit hebat, kosong dan perih. Setiap tarikan napas terasa lebih berat dari seharusnya. Namun, rasa itu kalah oleh sesuatu yang lain. Dadanya penuh, sesak, kencang, dan panas. Berdenyut pelan tapi terus-menerus, seolah ditekan dari dalam tanpa ampun. “Akhh…” Jasmine mengerang lirih, tangannya mencengkeram kain gaunnya di bagian dada. Rasa nyeri itu membuat tenggorokannya tercekat, matanya berkaca-kaca. “Sakit…” bisiknya hampir tak terdengar. Ia mencoba bertahan. Menunggu. Meyakinkan dirinya bahwa rasa itu akan mereda. Namun, menit demi menit berlalu, justru yang datang rasa sakit yang semakin menekan. Akhirnya, Jasmine turun dari ranjang. Langkahnya goyah saat berjalan menuju pintu. Tok. Tok. Tok. Ketukannya pelan dan ragu di daun pintu itu. “Permisi…” Su

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 7

    Ia mengangkat kepala, dan dunia seolah berhenti. Zein berdiri tepat di depannya. Wajah pria itu dingin. Mata coklat gelapnya seperti menelan cahaya. Jasmine menelan ludah. “Ka… kau?” Ia menoleh ke sekeliling, lalu matanya membulat melihat ruangan itu adalah ruang makan. “Kenapa aku balik ke sini lagi?!” Tangannya mengepal frustrasi. “Aish! Sia-sia semua usaha kaburku…” Zein menatapnya tanpa ekspresi. Sementara Jasmine? Dia tampak seperti mangsa yang benar-benar terpojok. Langkah kaki Zein mendekat, tidak terburu-buru, tidak panik, tapi berat dan terkendali. Ia berhenti tepat di depan Jasmine. Wajahnya datar, tatapannya dingin. Jasmine mundur setapak. “A-aku cuma… mau lihat-lihat pemandangan,” katanya gugup. Zein maju satu langkah. Jasmine langsung berbalik dan lari. “Berhenti, Jasmine.” Suara Zein rendah, tidak keras, tapi cukup membuat udara seolah membeku. Jasmine tidak berhenti. Ia berlari sampai ujung lorong. Buntu. Ia menoleh ke kanan dan kiri, hanya ada dinding da

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 6

    Pintu kamar itu akhirnya terbuka kembali. Beberapa pelayan masuk dengan langkah hati-hati. “Nona… mari. Kami akan membantu Anda bersiap,” ucap salah satu dari mereka pelan. Jasmine hanya diam, lalu berbalik dan duduk di tepi ranjang. Matanya merah, rahangnya mengeras. Para pelayan saling berpandangan. Tak ada yang berani menyentuhnya lebih dulu. Beberapa detik berlalu, sampai akhirnya kelelahan mengalahkan perlawanan. Dengan gerakan kaku, Jasmine membiarkan mereka membantu. Air hangat disiapkan di kamar mandi. Pakaian bersih, handuk, dan perlengkapan lain tersusun rapi seperti ritual sebelum hukuman. Tak lama kemudian, Jasmine sudah berdiri di bawah shower. Air mengalir di kulitnya, tapi ekspresinya tetap kosong. Beberapa saat setelah itu, ia sudah siap dan dibawa keluar kamar. Lorong-lorong marmer membentang panjang dan sunyi. Lukisan-lukisan mahal serta lampu kristal menggantung, menjadi saksi bisu langkah seorang gadis yang sedang ditawan. Ruang makan keluarga Ravelli te

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 5

    Pagi itu, kesadaran Jasmine muncul perlahan, seperti seseorang yang ditarik paksa keluar dari laut yang dalam. Kelopak matanya bergetar pelan sebelum akhirnya terbuka. Langit-langit putih dengan ukiran asing menyambut pandangannya. Aroma yang sama sekali bukan bau rumahnya memenuhi penciumannya. Dadanya langsung mengencang. Jasmine tersentak duduk, napasnya terputus-putus saat matanya menyapu ruangan. Beberapa wanita berdiri di depan ranjang. Seragam hitam-putih membalut tubuh mereka dengan rapi. Wajah mereka datar, tapi mata mereka tajam dan waspada, seolah satu gerakan salah darinya bisa berakhir buruk. “Syukurlah Nona sudah bangun,” ucap salah satu dari mereka pelan. “Kami di sini untuk membantu Nona membersihkan diri dan bersiap.” Jasmine refleks menarik selimut lebih erat menutupi tubuhnya. “Tidak.” Suaranya serak, tapi ada sesuatu yang keras di dalamnya. “Aku mau pulang.” Para pelayan saling berpandangan cepat. “Nona—” “Aku bilang tidak!” Jasmine menyela tegas. Ia bangk

  • Jerat Obsesi Mafia Kejam   BAB. 4

    Pintu mobil pengawal depan terbuka keras bahkan sebelum mesin benar-benar mati. Bayangan-bayangan tinggi bergerak cepat dari balik gelap, mengenakan setelan hitam, wajah tertutup topeng. Gerak mereka presisi dan terlatih.“Formasi!” teriak salah satu anak buah Michael.Namun terlambat.DOR! DOR!Suara tembakan meletup, memecah keheningan malam.“Sial—!” geram Michael.BUG! BUG!Baku hantam pecah tanpa aba-aba. Tubuh-tubuh beradu, tinju menghantam, senjata tajam berkilat di bawah lampu jalan yang berkedip. Anak buah Michael berusaha bertahan, tapi jumlah dan kecepatan lawan terlalu brutal.“Jaga Jasmine!” bentak Michael keras. “Jangan biarkan mereka mendekatinya!”Ia gegas turun dari mobil.Aspal dingin menyentuh sepatunya. Jas mahalnya langsung ternoda debu dan cipratan darah. Michael menghantam salah satu penyerang tepat di rahang.“Pergi ke neraka,” desisnya.Pria itu terhuyung, tapi dari sisi lain tinjuan keras menghantam pelipis Michael.“BUGH!”Pandangan Michael berkunang. Ia jat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status