LOGINKamar itu langsung hening. Jasmine menatap ketiganya, matanya membesar penuh tanda tanya.
“Oh, sayang…” Sofia bereaksi paling cepat. Ia mendekat dengan senyum lembut yang dibuat-buat, terasa terlalu sempurna. “Kau salah dengar.” Jasmine mengerjap. “Tapi aku tadi jelas dengar—” “Itu istilah medis, Nak,” potong Michael tenang. Suaranya rendah, terukur, dan penuh kontrol. “Dokter Elena sedang menjelaskan alat bantu perawatan untukmu. Tidak ada yang perlu kau pikirkan.” Ia lalu menoleh ke Elena. Tatapannya memberi sinyal halus yang tak bisa dilihat oleh Jasmine. “Benar begitu, Dokter?” Elena langsung mengangguk. “Benar, Nona. Pump perawatan yang saya berikan kepada Anda tadi... memang sering disebut implan dalam istilah medis. Tidak ada yang aneh,” jelasnya berusaha meyakinkan, meski terdengar agak ganjil. Jasmine menatap Elena, mencari kepastian. “Jadi… implan itu—” “Tidak ada, Nona,” sela Elena lembut. “Tubuh Anda hanya bereaksi terhadap perubahan hormon. Itu sebabnya perlu penanganan tambahan.” “Oh…” Jasmine menunduk pelan. Di hatinya masih ada sesuatu yang mengganjal, tapi dia tak mampu mengutarakannya. Sofia duduk di tepi ranjang, mengusap punggung Jasmine perlahan, seperti ibu yang penuh kasih. “Kau terlalu lelah, Sayang. Stres bisa membuat seseorang salah menangkap kata-kata.” Michael menambahkan tanpa emosi, “Kau hanya perlu percaya pada kami.” Jasmine mengangguk kecil. “Aku—maaf.” “Tidak perlu minta maaf,” ujar Sofia cepat, memeluknya singkat. “Kami selalu tahu apa yang terbaik untukmu.” Di samping mereka, Elena menunduk, menahan napas. Sementara di ranjang, Jasmine masih belum tahu apa-apa. Dia begitu polos, tak sadar menjadi boneka dalam skema besar keluarga Vancrosso. Michael berdiri tegak. Tatapannya kembali tertuju pada Elena, dingin dan datar. “Dokter Elena,” ucapnya perlahan, setiap kata terasa terukur. “Apa langkah berikutnya untuk memastikan kondisi putri kami terkendali?” “Saya sarankan Nona muda dibawa ke fasilitas lab keluarga. Malam ini, Tuan,” jawab Elena. “Seberapa mendesak?” tanya Sofia lembut, tapi mengandung tekanan. “Lebih cepat lebih baik,” jawab Elena tanpa ragu. Michael mengangguk pelan, ekspresinya sulit dibaca. “Baik. Kita berangkat malam ini.” “Malam ini?” Jasmine menatapnya, cemas. “Dad, aku masih takut.” Michael tersenyum tipis. “Ini hanya pemeriksaan. Kami tidak akan membiarkan sesuatu yang lebih buruk terjadi padamu.” Sofia mengusap kepala Jasmine lembut. “Benar, Sayang. Kita lakukan ini supaya kau lebih nyaman dan tidak merasa nyeri lagi.” Elena mengangguk, menambahkan, “Ini hanya pemeriksaan standar, Nona. Singkat saja. Saya akan mendampingi langsung.” Jasmine terdiam sejenak, lalu akhirnya mengangguk lemah. “Baik…” Tak satu pun dari mereka mengungkapkan kebenaran. Dan Jasmine, masih percaya. Dia tak tahu bahwa semua wajah lembut di hadapannya sebenarnya menyimpan sesuatu yang jauh lebih gelap. . . Malam merayap turun saat empat mobil keluarga Vancrosso meluncur keluar dari gerbang utama. Rombongan itu melaju di jalan pribadi menuju fasilitas laboratorium tersembunyi beberapa kilometer dari mansion. Di mobil barisan kedua, suasana hening. Jasmine duduk di samping Martha, tubuhnya sedikit meringkuk memeluk wanita tua itu erat-erat. Dadanya masih terasa nyeri dan kencang. “Bi…” suaranya lirih. “Setelah ini kita langsung pulang, kan?” Martha mengusap lembut punggung Jasmine. “Tentu, Nona. Kita hanya sebentar.” Sementara itu, di mobil barisan ketiga, Michael, Sofia, dan Elena duduk bersama. Michael dan Sofia diam, ekspresi mereka terkunci. Bukan ketenangan orang tua, melainkan kewaspadaan dua orang yang menyadari sesuatu yang bernilai besar mungkin sedang berada di ambang kebocoran. Elena di kursi depan tampak gelisah. Tatapannya berulang kali mencuri pantulan wajah Michael di kaca spion. Michael bersandar, jemarinya terlipat rapi di pangkuan. Namun sorot matanya tetap menekan. “Kau berhutang penjelasan, Elena,” ucapnya rendah. “Kenapa tubuh Jasmine menunjukkan reaksi seperti itu?” Elena menelan ludah, keringat dingin merembes di pelipisnya. Ia sadar, menjadi dokter pribadi keluarga mantan mafia terkejam di kota ini berarti satu kesalahan diagnosa bisa berujung pada nyawa. “Itu galaktorea, Tuan,” jawabnya akhirnya. “Laktasi spontan yang—” “Bahasa manusia, Elena,” potong Sofia dingin. “Tubuh Nona memproduksi ASI, Nyonya,” jelas Elena lagi, dalam bahasa yang lebih bisa dipahami. Rahang Michael mengeras. “Bagaimana bisa? Dia tidak hamil.” “Memang tidak, Tuan,” sahut Elena cepat. “Saya sudah melakukan tes instan dan USG portable. Rahimnya kosong. Hymen-nya utuh. Ini bukan soal moral… ini dampak teknologi.” Michael menyipitkan mata. Elena menarik napas dalam, menyiapkan penjelasan yang mungkin akan terdengar gila bagi orang awam, tapi sangat masuk akal bagi mereka yang tahu “rahasia” di balik tubuh Jasmine. “Saya menduga ini efek jangka panjang dari implan di mata kanannya,” jelas Elena hati-hati. “Posisi implan itu berada terlalu dekat dengan pusat hormon di otak. Lebih tepatnya, berada di bawah jalur yang berdampingan dengan kelenjar hipofisis. Selama sepuluh tahun implan itu pasif, tapi sekarang—tubuh Nona sudah matang. Aktivitas mikronya mulai mengganggu sinyal otak.” “Dan tubuhnya salah membaca itu,” simpul Michael datar. “Ya, Tuan. Tubuhnya bereaksi seolah-olah ia sedang menyusui.” Kabin mobil tenggelam dalam keheningan. Sofia menutup mulutnya. “Bagaimana dengan kunci aset?” Michael menatap mobil di depan, tempat Jasmine berada. Tatapannya dingin, penuh perhitungan. “Itu satu-satunya yang penting,” katanya tajam. “Benda di matanya bernilai triliunan dolar. Itu akses ke seluruh aset keluarga. Mencabut implan bukan pilihan. Nilainya lebih besar dari hidupnya.” “Secara fisik ini tidak mematikan, Tuan. Jadi kita tidak perlu mencabut implan itu,” imbuh Elena. “Tapi kondisi ini akan terus berulang dan menyiksa selama implan aktif.” Michael merapikan jasnya. “Atasi gejalanya. Obat, suntikan, apa pun, berikan kepadanya. Pastikan akses aset keluarga tetap aman.” Elena menunduk. “Baik, Tuan.” Perjalanan menuju laboratorium itu berjalan mulus. Di dalam mobil barisan kedua, Jasmine sedikit pun tak melepaskan lengan Martha. Dadanya masih terasa nyeri, tapi yang lebih mengganggu adalah rasa tidak nyaman yang tiba-tiba muncul. “Bi…” bisiknya pelan. “Aku kenapa, ya? Perasaanku jadi tidak enak begini.” Martha mengusap lengan Jasmine lembut, meski jari-jarinya sendiri dingin. “Tenang, Nona. Semuanya pasti akan baik-baik saja.” “Tapi, Bi—” Sebelum kalimat itu selesai, BRUAK! Sebuah benturan keras menghantam mobil pengawal paling depan hingga berhenti mendadak. Sebelum Jasmine dan Martha sempat bereaksi, BRAK! Benturan kedua menyusul. Mobil mereka pun berguncang hebat karena tabrakan beruntun. Kaca jendela bergetar, suara logam beradu memekakkan telinga. Tubuh Jasmine terhempas ke depan, sabuk pengaman menahan dadanya dengan kasar. “Ah—!” Jasmine menjerit pelan. Martha refleks memeluk Jasmine erat. “Ya Tuhan—Nona, pegang saya!” suaranya gemetar, jauh dari ketenangan biasanya. Jasmine mencengkeram lengan Martha lebih kuat, napasnya terengah. “Apa yang terjadi, Bi? Kita kenapa?!” Sebelum Martha sempat menjawab, teriakan panik memenuhi radio komunikasi. Sopir di mobil barisan pertama buru-buru menekan earpiece di telinganya, napasnya memburu. “TUAN—KITA DISERANG!” *****Sendok terakhir diletakkan perlahan. Jasmine menarik napas kecil, lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi. Namun matanya tetap tertuju pada Martha, seolah tidak ingin kehilangan satu detik pun. Jeda beberapa detik, lalu Jasmine tiba-tiba berdiri. Gerakannya cepat dan antusias. “Ayo, Bibi!” katanya, suaranya langsung hidup, penuh semangat. “Ke kamarku. Kita ngobrol di sana.” Ia bahkan sudah menarik pergelangan tangan Martha sedikit. “Aku mau cerita banyak… dan aku juga mau dengar semua cerita dari Bibi. Aku akan tunjukkan kamarku juga—” “Nanti, ya Nona.” Kata-kata itu memotong dengan lembut, namun cukup untuk membuat langkah Jasmine terhenti. Jasmine menoleh cepat. “Maksudnya…?” Martha tersenyum kecil. Ada rasa bersalah di sana, tapi juga ketegasan. “Tidak sekarang, Nona…” Jasmine mengerutkan kening. “Tapi—” “Saya masih ada pekerjaan,” lanjut Martha pelan. “Tuan Zein sudah memberikan saya kesempatan bekerja di sini… saya tidak boleh menyia-nyiakannya.” Nada suarany
Martha terdiam beberapa detik, lalu menggeleng pelan.“Bukan sekarang, Nona…”Jasmine langsung mengerutkan kening.“Kenapa?”Martha tersenyum lembut.“Akan saya ceritakan… nanti.”“Tapi Bi—”“Sekarang…” Martha menepuk pelan punggung tangan Jasmine, “…lebih baik Nona sarapan dulu.”Jasmine menatap Martha tidak percaya.“Aku tidak mau makan,” katanya cepat. “Aku cuma mau bicara sama Bibi.”“Jasmine...”Zein yang sejak tadi hanya dia, akhirnya mulai membuka suara. Nadanya tenang dan rendah, namun cukup untuk membuat Jasmine menoleh padanya.Zein melangkah mendekat.“Sarapan dulu,” ujarnya singkat sambil mengusap lembut puncak kepala Jasmine, penuh sayang.Jasmine menatapnya, masih ada sisa rasa penasaran di matanya.“Kamu tahu sesuatu, kan?” tanyanya langsung pada Zein. “Kamu harus jelasin ini—”“Iya, Sayang... nanti,” potong Zein tanpa menaikkan suara. Ia lalu mengalihkan pandangannya ke Martha.“Bagaimana menurutmu, Martha?”Martha sedikit menunduk, lalu menjawab pelan, “Benar sekali,
Jasmine menggeleng pelan, lalu matanya melebar seketika.“B-Bi Martha?” suaranya jatuh pelan, tidak percaya.Wanita tua itu menatapnya dengan lembut, tatapan itu benar-benar sama seperti dulu.“Iya…” jawabnya pelan. “Ini saya, Nona Jasmine.”Hening.Jasmine terdiam, tidak langsung mendekat, tidak langsung percaya.Tangannya perlahan terangkat, mengucek matanya berkali-kali, lalu berkedip cepat, menatap kembali. Ia takut pandangannya mengabur lagi seperti kemarin dan salah mengenali orang.Namun wajah itu tetap sama. Tidak mengabur, tidak hilang. Itu Nyata.“Tidak mungkin…” bisiknya. Dadanya mulai sesak. “Ini… bukan mimpi… kan…?”Martha tidak menjawab dengan kata-kata.Hanya menatap Jasmine dengan mata yang juga mulai berkaca-kaca.Detik berikutnya, air mata Jasmine jatuh tanpa bisa ditahan.“Bi Martha…!”Ia langsung berlari, memeluk wanita itu erat, seolah takut sosok itu akan menghilang jika dilepaskan.Martha membalas pelukan itu dengan sama eratnya, tangannya mengusap punggung Jasm
Malam sudah larut saat mobil hitam itu memasuki halaman mansion. Lampu-lampu taman menyala redup, memantulkan bayangan panjang di jalan setapak. Suasana sunyi, hanya beberapa pengawal yang berjaga. Mobil berhenti. Liam turun lebih dulu, lalu membuka pintu belakang. Zein keluar tanpa banyak bicara. Wajahnya kembali seperti biasa—tenang, dingin, dan tidak terbaca. Tidak ada sisa emosi yang sempat muncul di markas tadi. “Tuan,” ucap Liam singkat. Zein melangkah satu langkah, lalu berhenti. “Besok pagi,” katanya tanpa menoleh, “bawa dia ke mansion.” Liam tidak langsung menjawab, tapi hanya dalam satu detik ia mengerti. “Baik, Tuan.”Zein mengangguk tipis. Tanpa berkata lagi, ia melangkah masuk ke dalam mansion. Lorong panjang itu kembali menyambutnya dengan keheningan.Langkahnya pelan dan terukur, tapi kali ini ada tujuan yang lebih jelas. Tanpa singgah ke mana pun, ia langsung menuju lantai dua mansion itu—ke satu tempat, ke satu orang. Pintu kamar di hadapannya terbuka per
Beberapa hari kemudian...Siang merambat pelan di balik dinding kaca tebal. Langit tampak cerah, tapi kehangatan itu seolah tidak pernah benar-benar masuk ke dalam ruangan itu.Ruang kerja Zein di markas Blackthorne Syndicate tetap sama seperti biasa—hening, rapi, dan dingin.Di balik meja besar berlapis kayu gelap, Zein duduk tegak. Jasnya masih sempurna, seolah waktu tidak pernah menyentuhnya sejak pagi.Beberapa berkas terbuka di hadapannya. Dokumen kerja sama, angka-angka, nama-nama sekutu, dan tanda tangan yang nilainya jauh melampaui sekadar bisnis.Zein menelusuri satu halaman dari berkas terakhir. Tatapannya bergerak perlahan, baris demi baris, tajam, teliti, tidak ada yang terlewat satu pun.Ujung jarinya mengetuk pelan permukaan meja. Sekali, dua kali, lalu berhenti. Seolah keputusan sudah terbentuk bahkan sebelum seluruh isi dokumen selesai dibaca.Keheningan menggantung, hanya suara halus kertas yang bergeser, lalu tiba-tiba pintu terbuka dari luar tanpa suara berlebihan.
Jasmine terdiam beberapa detik.Tatapannya bertemu dengan mata Zein yang masih menatapnya—dalam, tanpa berpaling, seolah benar-benar menunggu. Ada sesuatu di sana, lembut namun juga tidak mau kalah.Jasmine menghela napas pelan.“Dasar kamu…” gumamnya lirih.Namun pada akhirnya, ia menunduk.Cup.Bibirnya menyentuh pipi Zein singkat, hangat, dan seharusnya cukup. Namun, Zein tidak menjauh, justru sudut bibirnya terangkat tipis.“Bukan di situ, Sayang...”Jasmine langsung mengernyit.“Zein kamu itu—”Zein menggeleng pelan, memotong kalimat Jasmine. Matanya tidak lepas darinya.“Yang ini,” katanya sambil tatapannya turun ke bibir Jasmine.Jasmine tercekat.“Nakal.”“Serius.”Jasmine menatap Zein beberapa detik, seperti sedang menimbang, atau mungkin hanya pura-pura bertahan. Namun pada akhirnya, ia menyerah.Perlahan, Jasmine mendekat. Jarak di antara mereka menghilang sedikit demi sedikit. Napas mereka bersentuhan hangat, dekat, dan saat bibir mereka akhirnya bertemu, tidak ada keragua
Zein terdiam sejenak, cukup lama untuk membuat Jasmine menahan napas. Tatapannya turun sesaat, lalu kembali menatap lurus ke arah Jasmine. Wajahnya tetap dingin, tapi ada sesuatu yang berubah, seperti terganggu.“Jawab aku,” desak Jasmine, suaranya tidak meninggi, tapi menekan. Ia melangkah setenga
Zein terdiam sejenak sebelum melangkah turun. Satu anak tangga, dua, tiga. Hingga akhirnya, sepatu hitamnya menyentuh lantai marmer ruang tengah dengan bunyi pelan, hampir tenggelam dalam keheningan yang menekan.Dua pengawal berdiri tak jauh darinya. Bahu mereka tegang, rahang mengeras. Kali ini,
Ruang kerja Michael di mansion itu tenggelam dalam keheningan yang mencekik.Aroma nikotin, wiski tua, dan cerutu mahal bercampur di udara, namun tak satu pun mampu meredam amarah yang berputar liar di nadinya. Sudah lebih dari satu bulan, jejak Jasmine belum juga ditemukan.Tak lama, ketukan pelan
Lorong menuju ruang kerja Zein di mansion kembali sunyi. Langkah Zein mantap dan berirama tenang. Tak ada lagi sisa kegugupan di wajahnya, hanya ekspresi dingin khas sang pemilik rumah yang tersisa. Di belakangnya, Liam mengikuti dengan jarak satu langkah, membawa map hitam tipis di tangannya. Be







