Share

Teman Masa Kecil

Penulis: Shu Li
last update Tanggal publikasi: 2025-12-15 17:57:51

Aland.

Nama itu sudah lama tidak Nara dengar, apalagi ucapkan. 

Akan tetapi, nama tersebut menyimpan begitu banyak kenangan lama terpendam yang sekarang dipaksa untuk keluar.

Sejak ayah Nara meninggal karena kecelakaan konstruksi, Aland, teman sekolah sekaligus tetangga sebelah rumahnya, menjadi satu-satunya sosok yang selalu ada di sisinya.

Saat anak-anak lain menjauhi Nara karena dianggap pembawa sial, Aland justru menemaninya bermain, menenangkannya setiap kali ia menangis, dan melindunginya dari ejekan anak-anak sekitar yang memanggilnya “anak yatim.”

Keluarga mereka pun menjadi dekat. Ibu Nara, Laudya, seorang direktur pemasaran yang sibuk dan jarang di rumah, sering menitipkan Nara di rumah keluarga Dashiel. Sebaliknya, Ibu Aland yang lembut dan penyayang memperlakukan Nara seperti putrinya sendiri.

Hari-hari mereka diisi dengan tawa, belajar bersama di teras rumah, saling bertukar bekal, hingga mimpi besar yang mereka ucapkan dengan polos di bawah langit senja.

“Tunggu saja, Nara,” ujar Aland waktu itu dengan nada percaya diri khas anak kecil. “Aku akan bangun rumah yang kuat dan kokoh supaya kamu nggak perlu takut kehilangan lagi.”

Kalimat kecil itu selalu diingat Nara. Sederhana, tapi pada masa itu terasa seperti janji paling tulus yang pernah ia dengar.

Namun, hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana. Karena seiring mereka beranjak dewasa, Aland perlahan berubah. Dia menjadi sosok yang dingin dan juga menutup diri, seakan tidak suka kalau ada orang mendekat dan mencoba mengerti dirinya, bahkan kalau orang itu adalah Nara. Walau demikian, Nara tetap bertekad untuk menjaga hubungan dengannya.

Sampai akhirnya, satu malam itu terjadi dan menghancurkan segalanya.

Nara masih ingat, saat itu ia baru saja masuk kuliah dan mulai tinggal di asrama. Namun, karena masih ada beberapa pakaian yang tertinggal di rumah, Nara memutuskan untuk pulang demi mengambil barang-barangnya. Kebetulan, di waktu yang sama, Irene—ibu Aland—meminta tolong padanya untuk mengantarkan beberapa barang milik Aland yang juga tertinggal.

“Maaf Tante merepotkan ya, Nara ….”

“Nggak masalah, Tante. Toh, apartemen Aland dan asramaku juga dekat,” ucapnya, merasa itu hanya hal kecil bila dibandingkan dengan betapa besar utangnya terhadap Irene yang sudah ikut mengurusnya selama ini.

Setelah itu, Nara pun langsung pergi dengan titipan Irene untuk Aland, yang kini tinggal sendirian di apartemen barunya.

Namun, begitu sampai di depan pintu apartemen Aland, Nara malah disambut suara desahan aneh dari dalam apartemen.

“Aland, jangan terus menolak ….”

“Buka bajumu ….”

Langkah Nara pun langsung terhenti. Dia mengangkat pandangan, dan terbelalak melihat pemandangan di dalam dari celah pintu apartemen yang terbuka.

Nara bisa melihat seorang perempuan asing menindih tubuh Aland yang setengah tidak sadar di sofa, tangannya sibuk menanggalkan kemeja pria itu sambil tertawa kecil.

Refleks, Nara langsung menerobos masuk dan berseru, “Berhenti! Menjauh darinya!” Dia menarik tubuh wanita itu dengan kasar, membuatnya memekik kaget. Lalu, Nara pun beralih pada sahabatnya yang setengah tidak sadarkan diri itu. “Aland, bangun!” serunya, mencoba menyadarkan Aland dengan menampar pipinya.

Saat mata Aland terbuka, dia menautkan alis. “Nara …?”

Bau alkohol menguar dari mulutnya, membuat Nara mengernyit. Bukannya malam ini seharusnya Aland mengikuti acara penyambutan murid baru oleh para senior, kenapa dia malah jadi minum sebanyak ini?!

Nara pun menoleh dan melihat wanita yang baru saja berdiri merapikan diri dengan wajah kesal. Seketika, dia yakin kalau wanita asing itu adalah salah satu senior yang berusaha menjebak Aland!

Marah melihat temannya hampir terjerumus hal terlarang, Nara pun langsung berseru, “Silakan keluar dari tempat ini!”

“Hei! Apa-apaan?!” seru senior itu.

Namun, baru saja Nara hampir berhasil mendorong senior tersebut keluar dari ruangan, mendadak sebuah tangan mencengkeramnya.

Nara menoleh, lalu melihat itu Aland. Dan berbeda dari biasanya, pancaran mata pria itu gelap, asing.

“Kenapa kamu di sini?” tanyanya dengan suara rendah yang mengerikan.

“Aku … ibumu memintaku mengantarkan barangmu yang tertinggal. Tapi, aku malah melihat wanita itu—”

“Berhenti ikut campur dalam hidupku!” potong Aland tajam, mengejutkan Nara. “Kamu pikir kamu siapa terus-menerus melakukan itu? Bagian dari keluargaku?”

Kalimat itu menusuk hati Nara lebih dalam dari apa pun. Dia memang bukan keluarga, tapi … bukankah dia teman kecil Aland?

Berpikir Aland mabuk, Nara berusaha menghadapinya dengan tenang. “Aland, aku cuma—”

“Keluar.” Tatapan mata Aland dingin. “Mulai hari ini, berhenti ikut campur urusanku. Aku muak melihatmu terus menempel padaku hanya karena kamu kesepian!”

Hening.

Nara menatapnya beberapa detik, tak percaya dengan apa yang baru ia dengar.

Lalu, tanpa berkata apa pun lagi, ia meletakkan tas berisi titipan Irene di atas meja, berbalik, dan melangkah pergi.

Sejak malam itu, Nara tidak pernah datang lagi ke apartemen Aland.

Tidak ada pesan, tidak ada sapaan. Hubungan mereka terputus begitu saja.

Nara memutuskan untuk fokus pada kuliahnya, mengejar prestasi, dan membangun reputasi baru tanpa bayang-bayang masa lalu.

Sementara dari kejauhan, ia hanya mendengar kabar tentang Aland yang berubah semakin liar. Berkelahi, berpesta, memukul senior, bahkan disebut-sebut dekat dengan banyak perempuan.

Namun, Nara memilih untuk tidak peduli.

Ia berjanji pada dirinya sendiri, bahwa Aland Dashiel hanyalah orang asing baginya. Persis seperti yang pria itu inginkan.

Setidaknya, begitu pikirnya.

Sampai malam ini.

Pria yang sudah lama ia anggap seperti orang asing itu kembali berdiri di hadapannya, membantunya dengan tatapan yang sama, tapi aura yang berbeda.

“Aland, aku—"

Baru saja ingin bicara, tapi kalimat Nara terpotong oleh pria yang tadi berusaha menggodanya.

“Apa sih masalah lo?!” gerutunya pada Aland. “Gue lagi PDKT sama dia. Jangan ikut campur!”

Aland menatapnya datar. “PDKT?” Ia menoleh ke Nara sejenak, lalu kembali menatap pria tadi. “Mustahil murid teladan kebanggaan kampus mau berurusan dengan sampah kelas bawah.”

Ucapan itu membuat beberapa orang yang menonton langsung bergumam. Pria itu tersentak, jelas tersinggung berat. Rahangnya mengeras.

“Kalau gue disebut sampah kelas bawah, lo apa, hah?!” geram pria itu. “Kalau bukan karena duit bokap lo, lo udah ditendang dari kampus sejak lama! Semua orang tahu lo cuma hidup dari nama keluarga dan sikap lo yang murahan! Profesor aja ditidurin, dasar gigolo!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 113 Sabtu Nara

    Wajah Nara berubah kecewa, muncullah Irene dari dalam rumah menyapa ramah Nara seperti biasanya. “Nara kenapa tidak masuk saja, ayo tante bikin makanan enak banget-” “Maaf tante, Nara hanya mampir mau menanyakan tentang Aland tapi kata om Roy Aland sudah berangkat ke luar negeri kemarin, kenapa begitu mendadak tante?” Nara tak sungkan bertanya lebih jelas pada nyonya rumah itu. Irene hendak menjawab, langkah gusar suaminya mengalihkannya sejenak. Orang itu bahkan masuk ke dalam tanpa pamit. Sebagai istrinya ia juga sengit melihatnya. “Maaf Nara, sebenarnya kabar ini sangat mendadak. Aland sebulan yang lalu diam-diam mencari informasi kuliah di luar negeri dan ia mendapat jawaban pun juga mendadak. Segera ia persiapkan dan ingin memberitahumu tapi kemarin kamu susah sekali dihubungin. Maaf ya sayang, pasti kamu terkejut dengan cara om Roy memberi tahu.” Irene bisa menduga seperti apa cara suaminya memberi tahu. “Baiklah tante, Nara nggak papa kok hanya berita ini cukup mengejutkan

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 112 Tentang Seseorang

    Aland baru saja sampai di Negara lain. Ia melihat ponselnya, tak ada tanda-tanda pesan balasan dari Nara. Nomornya tak aktif, membuat Aland berpikir macam-macam. Bagaimana jika sesuatu terjadi padanya. Aland menghubungi mamanya, namun tidak diangkat. Antara sudah tidur atau sedang sibuk yang lain. Ia memutuskan menghubungi nanti lagi setelah sampai di apartemen. Sepanjang perjalanan Aland hanya memikirkan Nara, mengulas lagi bagaimana mereka kembali berbaikan setelah beberapa tahun tak menjalin komunikasi. Nafasnya berhembus teratur dan senyumnya kembali menyungging. Aland tiba di sebuah apartemen yang akan menjadi tempat tinggalnya. Begitu masuk ruangan itu lebih bagus dari yang ia pikirkan. Dari gedung yang tinggi ia bisa melihat pemandangan kota dengan jelas. Lampu-lampu gemerlap menyilaukan mata. Membayangkan Nara mengetahuinya pasti ia akan sangat senang dan tiada henti terpukau. Sama seperti Dikta, ia melihat Nara lain saat wajah cerah dan semringah itu memandang gemerlap l

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 111 Sial Berakhir Mujur

    "Yuk!" Dikta membiarkan Nara mendahuluinya, ia mempersilahkan Nara memilih tempat. Hujan reda, sisa-sisa mendung masih terlihat. Namun sebentar lagi gelap, lampu-lampu kota akan menyala menggantikan mendung.Nara dan Dikta duduk di bangku paling sudut, sengaja Nara yang memilihnya agar bisa memotret pemandangan dari sudut dan mendapatkan lebih luas. Ckrek!"Wah, boleh juga nih hp! cantik nggak?" tanyanya girang.Netra Dikta berhenti pada wajah Nara, lalu menjawab, "Cantik. cantik banget!""Tuh, ya kan! coba kamera jarak jauhnya-" Nara sibuk mengeksplor ponsel barunya. Ia terlihat sangat senang dengan ponsel barunya. Tapi sayang, nomor lamanya tak bisa dibuka tandanya pencuri itu sudah mengotak-atik ponselnya.Sial sekali Nara, terlebih semua nomor-nomor temannya disana juga nomor penting lainnya. Nara mengambil nomor Mamanya dari ponsel Dikta, menyimpannya lal menelponnya. "Halo Ma-" dari balik telepon Laudya sedang mengungkapkan kekhawatirannya. Panjang lebar omelan itu dan Nara h

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 110 Perhatian yang Berlebihan

    “Nara!” Merasa ada yang memanggilnya ia menoleh, awalnya ia masih mencari-cari suara itu karena lalu lalang keramaian di stasiun. Nara berdiri ketika melihat Dikta. Dikta mempercepat langkah untuk sampai pada posisi Nara, wajahnya terlihat khawatir. “Nara- kamu nggak pa-pa?” tanyanya sembari mengusap rambut samping Nara. Nara menggeleng, ia melihat Dikta yang sekhawatir itu padanya. “Aku baik-baik saja kak, hanya ketinggalan kereta dan ponselku hilang.” Dikta menunjukkan muka yang sedikit lega karena Nara terlihat baik-baik saja, “ayo ke mobil.” “Pak-”Nara menggeleng cepat, memperbaiki sebutannya.”Kak- kamu naik mobil sendiri kesini?” Dikta mengangguk,”Ha?” wajah Nara menatap heran. Namun sebelum mengatakan sesuatu lagi Dikta sudah menarik tangannya. Ia membawanya ke luar stasiun, Dikta memarkir mobilnya di luar stasiun karena tempatnya yang penuh. Mereka masuk ke mobil, sesampainya di dalam Dikta mengambil handuk kecil di dasbor. “Pakailah-” katanya mengingatkan Nara pada sebu

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 109 Benarkah Perpisahan adalah Kesialan?

    “Bukankah dia yang menemani tante Laudya di rumah sakit?” ingatnya pada hari itu.”Ya, dia kan anak dari atasannya Tante Laudya, mereka sengaja di dekatkan atau -ah! sial!”hatinya panas, tapi bagaimanapun saat itu fokus Nara ingin pada Mamanya juga pekerjaan. Pada dasarnya Aland belum rela jika hubungan mereka berakhir. Hatinya juga kesal dengan Nara, dia merasa hanya sebagai pelarian dari keadaannya. Keluarganya selama ini selalu bersikap baik, terlepas kenyataan adanya masalah antara orang tua mereka.Tapi di sisi lain Aland juga masih marah dengan Papanya. Andai saja Papanya tidak memperingatkan Nara juga Mamanya mungkin ada celah untuk berjuang. Namun pikiran Aland hanya andai, andai dan andaikan.Terlepas dari kenyataan yang ada Nara berusaha tegas untuk memilah hati yang mendukung keadaannya.Jarum jam terus berputar tanpa henti, dan Aland masih belum bisa memejamkan mata meski sejenak. Ia kembali berdiri di depan jendela kamarnya. Langkahnya maju mundur mau membuka Jendela yang

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 108 Perayaan

    “Wah! Parah kamu Na, jahat banget! Coba kalian waktu itu kenalan, pasti udah jadi-” kalimat Wina terpotong karena Lusi membungkamnya, ia berontak berusaha melepaskan cengkeraman Lusi. Mata Lusi ,melotot ke arah Wina agar tidak sembrono berbicara lalu melepasnya. “Maksudnya jadi teman, gitu kan ya kak?” Wina mencari dukungan sementara Dikta tersenyum melirik Nara yang tetap tenang. Mereka sampai di sebuah restoran mewah. “Wah... aku merasa nggak menyesal deh mengikuti kalian, gas yok!” Wina terlalu bersemangat. Dia suka sekali di ajak ke tempat mewah. Tari mengumumkan jika ia yang akan mentraktir semuanya makan, sebagai acara pelepasan Laudya karena sudah mengabdi di kantornya selama 15 tahun ditambah acara kelulusan Nara dengan pencapaian sebagai mahasiswi terbaik. “Tari, nggak perlu repot aku sanggup mentraktir kalian makan disini-” “Patuh saja, bagiku kamu adalah teman spesial jadi sebagai tanda penghargaanku padamu patuh saja oke!” Tari tidak mau kalah, ia kekeuh pada keingina

  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 107 Wisuda

    Nara berdiri untuk memeluk Laudya, ia benar-benar merasakan kasih sayang seorang ibu. Mungkin Laudya yang dulu adalah wanita yang merasa lemah karena ditinggal belahan jiwanya, meski demikian ia berhasil melewati semuanya. Kini luka itu membaik dan menyadari Nara adalah perisai kebahagiaannya. La

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-04
  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 106 Rahasia Sofia

    Sofia merasa tak biasa terlebih dia merupakan pelayan Roy yang belakangan ini begitu setia. Karena di sapa, Sofia merasa harus datang, dengan sekejap wajahnya berbinar seperti biasanya. “Aland?” “Hai!” balasnya menyapa, terlihat santai. Ia paham sofia punya akses kesini, tidak heran, karena ia di

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-04
  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 105 Pelampiasan

    Irene memilih menginterogasi suaminya sendiri sepulang kerja. Seperti biasa, jawaban Roy Dashiel dingin dan seolah tak ada hal yang mencurigakan. “Itu milik Lena sekretarisku,” ucapnya santai sambil melepas kemejanya.”Saat rapat dengan klien dan mencapai kesepakatan dia lupa bawa stempel lalu mengg

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-04-04
  • Jerat Rahasia Teman Masa Kecilku   Bab 60 Pikiran Orang Tua

    Mendengar pertanyaan Laudya, ia tak langsung menanggapi. Tingkahnya masih basa-basi, mengambilkan air putih di gelas untuk Laudya tanpa diminta. Merapikan selimut padahal tidak ada yang berantakan. “Mama kenapa tanya begitu?” Nara berkata dengan lembut. “Jawab saja dulu, baik apa tidak?” Pertany

    last updateTerakhir Diperbarui : 2026-03-26
Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status