Home / Romansa / Jerat Ranjang Sang Aktor / 20. Ternyata Mereka?

Share

20. Ternyata Mereka?

last update Last Updated: 2026-01-23 08:15:52

“Ya Tuhan, aku harus bagaimana?” Elara gemetar saat meraih ponselnya kembali.

Tangannya masih basah oleh air mata dan sisa muntah yang belum sepenuhnya ia bersihkan. Ia menekan nama Nico di layar, berharap panggilan itu segera tersambung.

Satu dering. Dua dering. Tetap tidak ada jawaban.

“Angkat, Nico, tolong angkat,” bisiknya panik.

Ia mencoba lagi. Kali ini panggilan bahkan tidak masuk. Elara menatap layar ponsel dengan napas memburu. Tidak ada sinyal. Tidak ada ikon data.

“Kenapa ini?” gumam
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Jerat Ranjang Sang Aktor   25. Menyongsong Masa Depan Bersama

    Suara sirene memecah malam Jakarta yang basah oleh hujan. Mobil hitam itu melaju kencang di jalan tol, tapi tak pernah benar-benar lepas dari bayangan. Dari kursi penumpang mobil polisi, Arion menatap layar tablet yang menampilkan peta pergerakan kendaraan Revand.“Dia menuju kawasan gudang lama di Pelabuhan Sunda Kelapa,” lapor Donny dengan suara tegas. “Tim sudah bersiap.”Arion menggenggam tangannya sendiri erat-erat. Setelan pengantinnya masih melekat, kerahnya kusut, namun ia tak peduli. Pikirannya hanya satu.Elara.Di dalam mobil yang melaju di depan, Elara perlahan membuka mata. Kepalanya pusing, tubuhnya lemas. Cahaya lampu jalan menyusup masuk melalui kaca mobil.“Akh!” suaranya serak.Pria itu melirik sekilas. “Kau sudah bangun.”“Kenapa?” Elara berbisik, air mata menggenang. “Kenapa kau melakukan ini?”Revand tersenyum tipis, pahit. “Karena aku mencintaimu sejak dulu. Dan aku tidak bisa menerima kau menjadi milik orang lain.”“Ini gila,” isak Elara. “Lepaskan aku. Aku hami

  • Jerat Ranjang Sang Aktor   24. Diculik di Malam Pernikahan

    Langit Jakarta pagi itu cerah, seolah ikut merayakan hari yang telah lama tertunda. Gedung kaca tempat pernikahan digelar dipenuhi bunga putih dan rangkaian mawar lembut. Media internasional berdiri di luar area utama, dijaga ketat oleh keamanan. Hari ini, dunia menyaksikan satu hal yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.Arion Kyle akan menikah. Tapi bukan dengan Liza, dan bukan dengan perempuan bangsawan Eropa, melainkan dengan seorang model cantik asal Indonesia yang dulu hampir dihapus dari hidupnya, Elara.Di ruang rias, Elara duduk diam di depan cermin. Gaun putih sederhana tapi elegan membalut tubuhnya. Tangannya gemetar saat menyentuh perutnya yang belum terlalu terlihat.“Tenang,” ucap Azura sambil tersenyum, menyeka sudut mata Elara. “Kau terlihat cantik. Sangat cantik.”Elara mengangguk pelan. Jantungnya berdegup keras. Bukan karena keraguan, melainkan karena takut bahagia ini terlalu rapuh.Tok! Tok! Tok!Pintu diketuk dari luar.“Elara,” suara Arion terdengar dari lu

  • Jerat Ranjang Sang Aktor   23. Memberimu Kesempatan

    Langkah kaki Arion terdengar pelan dan pasti di lorong rumah sakit. Jantungnya berdegup keras, seolah setiap detaknya membawa penyesalan yang terlambat. Tangannya sedikit gemetar saat berhenti di depan pintu kamar Elara. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengetuk.Tidak ada jawaban.Arion membuka pintu perlahan. Elara terbaring menghadap jendela, selimut menutup hingga dadanya. Wajahnya pucat, matanya sembap, jelas baru saja menangis. Saat menyadari kehadiran Arion, Elara langsung memalingkan wajah.“Aku sudah bilang kau tidak perlu kembali,” ucapnya dingin.“Aku harus,” jawab Arion pelan.Elara tertawa kecil tanpa humor. “Untuk apa? Kau sudah pamit. Kau sudah mengucapkan selamat pada aku dan suamiku.”Arion mendekat dan berdiri di sisi ranjang.“Aku tahu sekarang.”Elara menegang.“Aku tahu bayi itu adalah anakku.”Keheningan menyergap ruangan. Elara menutup matanya rapat-rapat, seolah kata-kata itu menyakitkan.“Terlambat,” bisiknya. “Semuanya sudah terlambat.”“Tidak,” Arion mengg

  • Jerat Ranjang Sang Aktor   22. Mengandung Anakku?

    Suara roda ranjang bergeser cepat di sepanjang lorong rumah sakit yang dingin dan terang. Elara terbaring dengan wajah pucat, tubuhnya masih gemetar meski selimut sudah menyelubunginya. Arion berjalan di sampingnya, langkahnya tergesa, rahangnya mengeras, matanya tak lepas dari wajah perempuan itu.“Tekanan darahnya turun, tapi masih stabil,” ucap seorang perawat.Arion mengangguk cepat. “Tolong jaga dia.”Beberapa menit kemudian, Elara dibawa masuk ke ruang pemeriksaan. Arion terpaksa menunggu di luar, mondar-mandir seperti singa dalam sangkar. Tangannya mengepal, pikirannya kacau. Wajah Elara yang penuh lebam, tangisannya, dan satu kalimat yang menghantam kepalanya tanpa ampun.“Dia hamil? Sejak kapan?”Waktu terasa berjalan sangat lambat hingga akhirnya pintu terbuka. Seorang dokter perempuan keluar dengan ekspresi profesional.“Siapa keluarganya?”Arion refleks melangkah maju. “Saya.”Dokter menatapnya sejenak, lalu berkata tegas.“Kondisi pasien baik. Ada sedikit stres dan kelela

  • Jerat Ranjang Sang Aktor   21. Rencana Jahat Liza dan Ben

    Elara berdiri terpojok di sudut ruang tamu apartemennya sendiri. Dinding dingin menekan punggungnya, sementara di hadapannya Liza dan Ben berdiri seperti dua predator yang sudah menentukan mangsanya.“Jangan pura-pura lemah,” ucap Liza dingin. “Aku tahu perempuan sepertimu.”Elara menggeleng keras. “Aku tidak pernah mengganggu Arion. Demi apa pun, aku tidak akan ….”“Diam!” bentak Liza tiba-tiba.Suara itu menggema di ruangan sempit, membuat Elara terlonjak. Liza melangkah maju, jaraknya kini sangat dekat. Aroma parfum mahal bercampur dengan hawa amarah yang menusuk.“Kau pikir aku bodoh?” Liza menatap Elara dari ujung kepala sampai kaki dengan jijik. “Kau muncul lagi di hidup Arion tepat sebelum pernikahan kami. Dan kau berani bilang tidak mengganggu?”Elara menggeleng, air matanya jatuh. “Aku pergi. Aku bahkan tidak berniat kembali ke Jakarta kalau bukan karena urusan kerja.”“Kebohongan,” desis Liza.Ben menyilangkan tangan di dada, memperhatikan Elara dengan tatapan tajam dan pen

  • Jerat Ranjang Sang Aktor   20. Ternyata Mereka?

    “Ya Tuhan, aku harus bagaimana?” Elara gemetar saat meraih ponselnya kembali.Tangannya masih basah oleh air mata dan sisa muntah yang belum sepenuhnya ia bersihkan. Ia menekan nama Nico di layar, berharap panggilan itu segera tersambung.Satu dering. Dua dering. Tetap tidak ada jawaban.“Angkat, Nico, tolong angkat,” bisiknya panik.Ia mencoba lagi. Kali ini panggilan bahkan tidak masuk. Elara menatap layar ponsel dengan napas memburu. Tidak ada sinyal. Tidak ada ikon data.“Kenapa ini?” gumamnya semakin panik.Ia bangkit dari lantai kamar mandi dan berlari kecil ke ruang tamu. Router internet mati. Lampu indikatornya padam, seolah tidak pernah terhubung. Elara menekan tombolnya berulang kali, tapi tidak ada reaksi.Denyut ketakutan menjalar dari tengkuk hingga ujung jarinya.Ini bukan kebetulan.Jantung Elara berdetak semakin kencang. Ia menoleh ke sekeliling apartemen yang kini terasa asing. Sunyi. Terlalu sunyi. Tidak ada suara kendaraan dari luar. Tidak ada suara tetangga. Hanya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status