Share

Bab 23

Author: Mita Yoo
last update publish date: 2026-08-02 21:05:47

Arumi mengalihkan perhatian ke rak buku di hadapannya. Matanya menyusuri deretan buku, lalu berhenti di sebuah buku bersampul merah di rak paling atas. Arumi menjulurkan tangan, mencoba meraihnya.

“Kalau aku baca sambil tiduran di sini, Mas Elang nggak akan marah kan ya?” gumam Arumi sambil tersenyum kecil.

Tapi ia melihat debu tipis di lantai ruangan itu. Sudah lama tidak dibersihkan. Arumi menggeleng, menepuk-nepuk bajunya.

“Nanti dulu bacanya. Bersihin dulu ah.”

Ia keluar dari perpustakaan,
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 23

    Arumi mengalihkan perhatian ke rak buku di hadapannya. Matanya menyusuri deretan buku, lalu berhenti di sebuah buku bersampul merah di rak paling atas. Arumi menjulurkan tangan, mencoba meraihnya.“Kalau aku baca sambil tiduran di sini, Mas Elang nggak akan marah kan ya?” gumam Arumi sambil tersenyum kecil.Tapi ia melihat debu tipis di lantai ruangan itu. Sudah lama tidak dibersihkan. Arumi menggeleng, menepuk-nepuk bajunya.“Nanti dulu bacanya. Bersihin dulu ah.”Ia keluar dari perpustakaan, berjalan ke dapur untuk mengambil kain pel dan ember berisi air sabun. Kembali ke ruangan itu, ia mulai mengepel lantai dengan tekun. Debu-debu hilang, lantai mulai berkilau. Bau pembersih menyegarkan ruangan. Oren datang menghampiri dari balik pintu, duduk di ambang sambil mengawasi.“Jangan masuk dulu, Oren. Lantai masih basah,” kata Arumi sambil tersenyum.Setelah selesai, Arumi duduk di lantai yang sudah bersih, menyandarkan punggungnya ke rak buku. Ia membuka buku merah yang berhasil diraih

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 22

    Pria itu melangkah masuk tanpa izin. Sepatu kulitnya berdecit di lantai kayu. Matanya jelajah ke seluruh ruangan, lalu berhenti pada Arumi yang masih berdiri di dekat dapur.“Jadi ini istrimu?” pria itu tersenyum, tapi senyumnya tampak menyeramkan. “Cantik juga. Kau beruntung, Elang. Masih ada yang mau menerimamu sebagai suami.”Arumi hendak menyangkal, membuka mulut untuk mengatakan sesuatu. Tapi sebelum suara keluar—“Bapak.”Satu kata yang datar dan berat keluar dari mulut Elang dengan nada yang tidak pernah Arumi dengar sebelumnya.Arumi terbelalak. Dugaannya benar. Pria itu adalah ayah Elang.Elang melangkah maju, tubuhnya menghalangi pandangan Arumi ke arah pria itu. Bahunya tegang, kedua tangannya mengepal di sisi tubuh.“Kamu ke kamar dulu ya,” kata Elang pelan, tanpa menoleh ke Arumi. “Jangan lupa kunci pintunya.”Arumi ingin bertanya mengapa ia harus pergi? Siapa

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 21

    Arumi menatap Elang dan Sumirah. Udara di dapur terasa membeku. Sumirah masih berdiri dengan baju basah dan bekas teh di telapak tangannya. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar.“Sum, jawab!” kata Elang dengan tegas. Suaranya keras kali ini.Sumirah menunduk lebih dalam. Tangannya gemetar di sisi tubuhnya. “Mas ... Aku nggak bermaksud kayak gitu,” katanya pelan, suaranya hampir tak terdengar. “Aku cuma nggak suka sama dia.”Elang mendengus. Matanya menyipit. “Kamu nggak suka sama dia? Dia salah apa sama kamu, Sum?”Sumirah tidak menjawab. Ia hanya memutar-mutar ujung bajunya yang basah, matanya tetap tertunduk. Wati berdiri di belakangnya, wajahnya penuh rasa malu dan kecewa.“Bi Wati,” panggil Elang pada Wati. “Anak Bibi ini …”“Maaf, Mas Elang,” Wati memotong cepat. “Bibi benar-benar minta maaf. Sumirah akan Bibi bawa pulang. Bibi janji ini tidak akan terulang kejadian seperti ini, Mas Elang.”

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 20

    “Karena …” Elang meraih koran dari tangan Arumi, melipatnya perlahan, “di sana ada sesuatu yang aku simpan. Untukmu. Tapi kamu harus menemukannya sendiri.”Arumi menatap Elang dengan tatapan bingung dan penasaran. “Apa itu, Mas?”Elang tersenyum, namun tidak menjawab. Ia berdiri, berjalan ke arah lorong menuju kamarnya. Di ambang pintu, ia berhenti dan menoleh.“Pintu perpustakaan tidak dikunci. Kamu bisa ke sana kapan saja. Tapi kalau kamu pergi,” ia tersenyum misterius, “jangan bilang sama aku.”Arumi terdiam. Berusaha mencerna kalimat itu. Matanya menatap Elang yang sudah setengah masuk ke kamar, lalu ia mengerutkan kening.“Maksudnya aku nggak boleh ke sana ya?” tanyanya bingung.Elang tertawa kecil, Arumi terperangah. Selama ia tinggal di rumah ini, Elang sangat jarang tertawa. “Boleh. Tapi jangan karena aku yang nyuruh."“Terus aku harus gimana?”“Ya itu kalau kamu p

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 19

    Perjalanan pulang berlangsung dalam keheningan yang nyaman. Angin sore berhembus melalui jendela pick-up yang terbuka, membawa aroma dedaunan dan tanah. Arumi duduk di samping Elang, sesekali melirik ke arah suaminya yang fokus menyetir.Pikirannya masih berputar. Tadi, di kebun Pak Mardi, Elang kembali mengakuinya sebagai istri.Dengan tegas dan tanpa ragu. Di depan orang yang jelas penting dalam hidupnya.Arumi menggigit bibir. Ada rasa hangat di dadanya, tapi juga kegelisahan. Apakah itu hanya bagian dari perlindungan? Atau ada sesuatu yang lebih?“Mas Elang …” Arumi akhirnya memecah keheningan."Ya?" Elang tidak menoleh, matanya tetap menatap jalan di hadapan mereka.“Yang tadi itu ... nggak apa-apa? Maksudnya, Mas bilang saya istri Mas di depan Pak Mardi.”Elang mengangkat alis, masih fokus ke jalan. “Maksudnya?”“Anu, Mas …” Arumi menunduk, memainkan ujung bajunya. “

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 18

    Mobil berhenti di pinggir jalan setapak. Di hadapan mereka, kebun sayuran membentang luas. Kentang, wortel, dan kubis tumbuh subur di lahan yang tertata rapi. Beberapa pekerja terlihat sedang memetik hasil panen, keranjang-keranjang bambu berjejer di samping mereka. “Yuk, turun,” kata Elang sambil mematikan mesin. Arumi mengangguk, membuka pintu dan turun. Udara di sini terasa lebih segar, lebih sejuk, dengan aroma tanah basah dan daun-daunan hijau. Ia mengikuti Elang yang sudah berjalan di antara pematang sawah menuju ke dalam kebun. Dari belakang, Arumi mengamati Elang. Punggungnya lebar, bahunya tegap, langkahnya mantap dan penuh percaya diri. Pria itu terlihat berbeda di sini. Tampak lebih santai, lebih menjadi dirinya sendiri. Seperti sedang berada di tempat yang ia kenal dan cintai. “Pak Mardi!” panggil Elang. Seorang pria tua dengan caping bambu mendekat dari balik barisan tana

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status