แชร์

Bab 21

ผู้เขียน: Mita Yoo
last update วันที่เผยแพร่: 2026-08-02 12:00:19
Arumi menatap Elang dan Sumirah. Udara di dapur terasa membeku. Sumirah masih berdiri dengan baju basah dan bekas teh di telapak tangannya. Wajahnya pucat, bibirnya bergetar.

“Sum, jawab!” kata Elang dengan tegas. Suaranya keras kali ini.

Sumirah menunduk lebih dalam. Tangannya gemetar di sisi tubuhnya. “Mas ... Aku nggak bermaksud kayak gitu,” katanya pelan, suaranya hampir tak terdengar. “Aku cuma nggak suka sama dia.”

Elang mendengus. Matanya menyipit. “Kamu nggak suka sama dia? Dia sal
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 54

    Elang menatap Arumi dengan mata yang tidak berkedip. Ia mengangguk.“Ya. Seperti itu saja. Kita menikah. Aku akan daftarkan pernikahan kita di catatan sipil.”Arumi merasakan dadanya seolah berhenti berdetak. “Mas Elang ... serius?”Ada keraguan di mata Arumi, seperti ia tidak percaya pada apa yang baru saja didengarnya.Elang mengangguk sekali lagi. “Ya.”“Tapi Mas ... apa kata orang nanti?” Arumi masih ragu. “Apa kata tetangga, apa kata Mak Tijah, apa kata mereka kalau Mas menikahi saya yang—”“Aku tidak peduli kata orang.” Elang mengepalkan tangannya lebih erat. “Aku tidak bisa membiarkan orang-orang terus berasumsi yang tidak baik.”Arumi terdiam. Lalu perlahan, ia mengangguk. “Baik, Mas. Saya ikut saja.”Elang tersenyum. Senyum yang jarang ia tunjukkan.“Besok. Aku daftarin pernikahan besok.”***Esoknya, pagi-pagi sekali, mer

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 53

    “Pak Karto, tolong antar kami ke rumah saya. Ibu Arumi perlu mendapatkan perawatan,” kata Elang.Pak Karto mengangguk sigap. Ia membantu Elang mengangkat Indah ke jok belakang mobil. Arumi duduk di samping ibunya, sementara Elang mengiringi mereka dengan motornya.Sepanjang perjalanan, Arumi tidak banyak bicara. Ia hanya memegang tangan ibunya, berdoa dalam hati. Kadang ia menatap ke belakang, ke arah rumah tuanya semakin menjauh, dan Darsono tidak terlihat sama sekali.Sesampai di rumah Elang, suasana berbeda. Rumah itu terasa lebih hidup dengan kehadiran Indah. Elang langsung bergerak cepat, ia mengambilkan kotak P3K, air hangat, dan handuk bersih.Salju menggonggong sebentar saat melihat orang asing, lalu diam saat Elang menenangkannya.“Arumi, bantu Ibu duduk di kursi,” perintah Elang. “Aku periksa lukanya.”Arumi menuntun Indah ke kursi ruang tamu. Perlahan, Elang memeriksa luka-luka di tangan d

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 52

    Motor Elang melaju kencang meninggalkan pasar. Arumi duduk di belakang, tangannya memegang ujung jaket Elang. Pikirannya masih tertuju pada ibunya. Indah yang sakit, ayahnya yang memaksa, dan kalung yang gagal ia jual.“Mas Elang,” teriak Arumi di antara deru angin, “kita ke mana?”“Yang tadi udah kubilang, ke rumahmu,” jawab Elang. “Kita lihat ibumu.”Arumi terkejut. “Tapi Mas …”“Aku tahu kamu khawatir. Aku juga tahu Bapakmu datang semalam.” Suara Elang tegas. “Aku sudah tahu dari tetangga.”Arumi tidak bisa berkata-kata. Elang sudah tahu.Mereka melaju melewati sawah-sawah hijau, melewati kebun-kebun sayuran, menuju desa Kanigara, tempat Arumi lahir dan dibesarkan. Rumah-rumah mulai tampak, atap-atap seng yang sudah berkarat, pagar-pagar bambu yang reyot.Motor Elang berhenti di depan rumah tua yang hampir roboh. Arumi turun dengan cepat, tapi sebelum kakinya menginjak tanah—

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 51

    Esoknya Arumi bangun lebih pagi dari biasanya. Ia masih memikirkan ibunya yang sakit, ayahnya yang memaksa, dan kalung emas di laci lemari.Setelah merapikan rumah dan memberi makan Oren serta Salju, ia bergegas menuju pasar dengan kotak beludru biru tersembunyi di dalam tas kecilnya.Pasar pagi sudah ramai. Pedagang sayur, buah, dan ikan saling bersahutan menawarkan dagangan. Arumi berjalan cepat menuju deretan toko emas di ujung pasar. Ia masuk ke salah satu toko dengan perasaan gugup.“Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?” sapa penjaga toko, seorang pria paruh baya dengan kacamata di ujung hidung.Arumi mengeluarkan kotak beludru itu, membukanya dengan hati-hati. Kalung emas dengan liontin berbentuk hati berkilauan di bawah cahaya lampu toko.“Saya mau menjual ini, Pak,” katanya pelan.Penjaga toko mengambil kalung itu, memeriksanya dengan teliti. Ia memutar-mutar, menimbang, lalu melihat

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 50

    Arumi terdiam sesaat. Matanya terbelalak saat melihat wajah pria itu.“Bapak ...?”Arumi membuka pintu.Pria itu adalah Darsono, ayahnya, menatap Arumi dengan tatapan memicing. Di bawah cahaya rembulan, wajahnya tampak lebih tua dari terakhir kali Arumi melihatnya. Hanya matanya yang tetap tajam, seperti dulu.“Selamat malam, Nduk,” sapa Darsono dengan suara serak. “Lama tak jumpa.”Arumi masih tidak percaya. Ayahnya ada di sini? Di rumah Elang? Malam-malam begini?“Bapak ... Ada perlu apa Bapak datang ke sini malam-malam begini?” tanya Arumi dengan suara bergetar.Ia memilin ujung kemejanya dan menduga-duga apa yang diinginkan oleh ayahnya itu.Darsono mematikan rokoknya, berdiri perlahan, lalu melangkah mendekat. Ia tidak tersenyum. Matanya menatap Arumi dengan dingin.“Bapak butuh uang, Arumi.”Arumi mengerutkan dahi. “Uang?”“I

  • Juragan Sayur Tambatan Hatiku   Bab 49

    Arumi mengepalkan tangannya, menahan emosi. “Maaf, Pak Damar. Saya …”“Saya tidak meminta Mbak Arumi untuk meninggalkan Mas Elang sekarang.” Damar mengulurkan kotak itu, memaksa Arumi menerimanya. “Tapi saya ingin Mbak tahu, ada pilihan lain di luar sana. Saya bisa memberikan Mbak Arumi kehidupan yang lebih baik. Lebih aman dari apa yang Mas Elang berikan selama ini.”Arumi menatap kalung itu, lalu menatap Damar. Pria di hadapannya tampak tulus.Matanya lembut, senyumnya hangat. Tapi ada sesuatu di balik semua itu yang membuat Arumi tidak nyaman.“Maaf, Pak Damar,” kata Arumi pelan, lalu mendorong kotak itu dengan perlahan ke arah Damar.“Saya tidak bisa menerima ini. Saya sudah menikah dengan Mas Elang. Dan saya …” Arumi menjeda sesaat sebelum melanjutkan, “saya mencintainya.”Damar terdiam. Senyumnya sedikit memudar, tapi ia tetap menatap Arumi. “Mbak yakin?”Arumi mengangguk. “Saya y

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status