تسجيل الدخول“Perawatannya sudah selesai, Pak Elang. Ibu Indah sudah boleh pulang,” kata dokter yang memeriksa Indah.
Arumi menghela napas lega. Selama hampir tiga minggu, ibunya menjalani perawatan intensif di rumah sakit kabupaten. Kini, dengan hasil lab yang membaik dan obat-obatan yang rutin diminum, Indah akhirnya diperbolehkan pulang.Elang mengangguk, lalu membantu Arumi menuntun Indah keluar dari ruang perawatan. Perempuan tua itu masih tampak kurus dan lelah, tapi mataMereka hampir sampai di rumah Elang. Langkah Arumi melambat karena ia terus memperhatikan kondisi Elang yang masih lemah. Sesekali ia melirik wajah pria itu, memastikan tidak ada tanda-tanda kesakitan. Elang sendiri berjalan dengan tegap, meskipun setiap langkahnya masih terasa nyeri.Namun, tiba-tiba seseorang menghalangi jalan mereka.“Arumi ... tolong aku ...!” Seorang pria berdiri di tengah jalan dengan wajah kusut dan pakaian lusuh. Rambutnya acak-acakan, matanya merah, dan tubuhnya sedikit gemetar.Elang refleks menahan sakit dan bergerak melindungi Arumi, tubuhnya berdiri di depan istrinya. “Ada apa, Mas Darsa?” tanyanya, suaranya tegas.Darsa melangkah mendekat, tangannya terulur seperti orang yang memohon. “Mas Elang, saya mohon, saya minta tolong ... saya diusir dari rumah. Saya tidak punya tempat tinggal sekarang.”Arumi menatap Darsa dengan curiga. Ia masih ingat pertemuan terakhir mereka—saat Darsa me
Pagi itu, Arumi membantu Elang berjalan menuju puskesdes. Langkah Elang masih tertatih, wajahnya pucat, dan setiap kali kakinya menyentuh tanah, ia meringis menahan sakit. Arumi memapahnya dengan hati-hati, tangannya melingkar di pinggang Elang untuk menopang tubuh suaminya yang lebih besar.“Sabar ya, Mas. Kita sebentar lagi sampai,” bisik Arumi, mencoba memberi semangat.Elang hanya mengangguk, napasnya berat. Luka-luka di tubuhnya yang semalam hanya terasa nyeri, kini mulai terasa perih. Mungkin karena ia terlalu banyak bergerak.Sesampai di puskesdes, Galih sudah siap dengan peralatan medis. Ia mempersilakan Elang duduk di tempat tidur periksa, lalu mulai memeriksa luka-luka di wajah dan tubuhnya dengan cermat.“Pak Elang bisa tahan sebentar. Ini tidak akan sakit,” kata Galih sambil mengoleskan antiseptik ke luka di pelipis Elang.Namun, begitu kapas menyentuh luka, Elang meringis keras. Tubuhnya menegang, dan tangannya refleks menggenggam tangan Arumi yang berdiri di sampingnya.
Seorang pria berdiri di tepi kebun, tubuhnya tegap, wajahnya tegas. Ia menggenggam sebuah parang panjang di tangannya.“Sardi?” Elang mencoba memanggilnya.Damar mengerutkan dahi dan tersenyum meremehkan.Sardi melangkah maju, parang di tangannya terarah ke Damar dan dua pria bertubuh tambun di sisinya. “Lepaskan Elang. Atau aku yang akan membuat kalian berhenti. Aku nggak akan main-main, aku nggak kenal kalian!”Damar tertawa. “Kamu pikir kamu bisa ngelawan kami? Satu lawan tiga.”Sardi tidak menjawab. Ia melangkah lebih dekat, matanya tajam. “Aku nggak takut sama kalian. Dan aku tidak akan mengulangi. Lepaskan dia atau aku arahkan ini ke leher kalian!”Dua pria itu ragu, menatap Damar. Damar menghela napas, lalu memberi isyarat. Mereka melepaskan Elang dan mundur beberapa langkah.“Kita belum selesai, Elang,” kata Damar sambil mundur. “Aku akan balas perbuatan kamu. Dan lain kali, kau tidak akan selamat.”Damar berbalik dan menghilang di antara pepohonan. Dua pria itu mengikuti.Sar
Elang menatap Arumi, lalu menghela napas. “Aku harus ke kebun. Ada yang merusak tanaman lagi.” Arumi merasakan kekhawatiran dan ketakutan seketika. “Siapa yang tega ngelakuin itu, Mas?” “Aku belum tahu. Tapi aku akan cari tahu.” Elang segera mengeluarkan kunci motor dari saku jaketnya. “Kita pulang dulu. Aku anter kamu ke rumah, terus aku lanjut ke kebun untuk lihat siapa yang ngelakuin cara culas kayak gitu.” Arumi mengangguk, mencoba tersenyum meskipun hatinya mulai gelisah. Hari yang sempurna harus berakhir dengan masalah baru untuk mereka. Mereka pulang dengan cepat. Di rumah, Arumi turun dari motor dan menatap Elang yang sudah bersiap pergi. “Mas Elang hati-hati ya,” pesan Arumi. “Iya. Aku pergi dulu. Kamu jaga rumah, ya.” Elang tersenyum, menepuk tangannya, lalu melaju pergi. Arumi berdiri di teras, menatap kepergian Elang. Di dalam hatinya, ia berdoa agar semuanya baik-baik saja. Sampai di kebunnya, Elang berdiri di hadapan tanaman cabai yang rusak. Batang-batang cabai
Arumi menatap Elang, lalu menjawab, “Saya belum tahu. Tergantung Mas Elang aja.” “Ke kebun aja,” kata Elang santai. “Aku mau lihat cabe sama timun. Kamu bisa bantu aku.” Arumi mengangguk, tersenyum. “Baik, Mas.” Nining menggeleng. “Kalian ini. Liburan aja masih ke kebun. Nggak capek?” Elang tersenyum. “Itu liburan buat kami.” Nining tiba-tiba berseru karena sebuah ide terlintas di benaknya, “Eh, kenapa nggak coba pergi ke kota? Nonton bioskop. Kalian belum pernah nonton bareng 'kan?” Elang tersenyum lalu menatap Arumi. Matanya bertanya, lembut. “Kamu mau?” Arumi tersenyum kecil, tangannya memainkan ujung taplak meja. “Saya terserah Mas Elang saja.” Elang mengangguk. “Ya sudah. Besok kita coba ke bioskop.” “Asyik! Aku ikut ya, Mas?” Nining bertepuk tangan, matanya berbinar. Elang menole
Arumi terbangun dari tidurnya dengan perasaan hangat yang menyelimuti tubuhnya. Matanya masih sayu, tapi ia segera menyadari sesuatu—tangan besar Elang melingkari pinggangnya, menjaganya sepanjang malam. Napas Elang terdengar teratur di belakang telinganya, hangat dan menenangkan.Arumi tersenyum, tapi ia tidak ingin membangunkan Elang. Perlahan-lahan, dengan gerakan hati-hati, ia melepaskan diri dari pelukan Elang dan turun dari tempat tidur. Kakinya menyentuh lantai semen yang dingin, dan ia berjalan pelan menuju pintu.Namun, saat ia hendak membuka pintu, suara Elang terdengar dari balik kasur.“Kamu mau ke mana?” gumam Elang, matanya masih setengah terpejam.Arumi menoleh, sedikit terkejut. “Ke kamar mandi, Mas. Aku mau mandi.”Elang mengangguk pelan, lalu tanpa sadar menambahkan, “Jangan lupa keramas, ya.”Arumi mengerutkan dahi, ingin bertanya alasannya. Tapi ia melihat Elang sudah memejamkan mata lagi, kembali tertidur. Arumi mengurungkan niatnya mengingat mereka sedang mengina







