LOGIN“Za … kita semua lagi sama bingungnya. Semua yang terjadi serba tiba-tiba. Prabu, lalu … kasus perusahaannya. Sekarang penggugat mengajukan sita jaminan karena khawatir harta tergugat hilang atau dialihkan. Rumah ini disita selama kasus tapi belum dilelang.” Arga menjelaskan dengan hati-hati.
“Jadi akan ada petugas yang datang ke sini dan menempelkan sesuatu di pintu rumahku?” Sambil Sheza menghapus air matanya cepat-cepat. Arga mengangguk. Sheza merasa ruangan berputar. “Kalau aku sebagai ahli waris Prabu kalah di pengadilan, aku dan Dio harus pergi dari rumah ini?” Suaranya lirih. Lagi-lagi Arga mengangguk. “Maaf, Za. Tapi ada hal yang lebih kami takutkan.” “Ada lagi? Apa ada yang lebih buruk lagi yang bakal terjadi?” Sheza mendengkus sinis di antara isaknya. “Tuntutan ini bukan satu-satunya,” ucap Arga pelan. Sheza terkesiap. “Maksudnya … bukan cuma satu klien? Tapi kebetulan baru satu klien ini yang nuntut?” Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tangan Roman terulur menepuk-nepuk pelan bahunya. Roman duduk di sebelah Sheza sambil membaca-baca semua berkas. “Empat belas hari sebelum penyitaan. Sidang pertama sudah ditetapkan. Kalau tidak ada kesepakatan, rumah bisa langsung masuk daftar lelang? Begitu?” Pertanyaannya ditujukan pada Pak Firman. Ia yang seorang dokter gigi memang agak tidak paham bagaimana sebuah perkara bergulir. Pria itu menggeleng. “Belum tentu. Kalau ada pihak yang bisa jadi penanggung jawab, kasus ini bisa dinegosiasikan. Tapi … Bu Sheza tidak bisa sendirian. Status Ibu saat ini terlalu rentan.” “Maksudnya, Pak? Status saya kenapa, ya?” Sheza mengusap air matanya seraya mengatur napas. “Status Bu Sheza yang … maaf, seorang janda saat ini menjadikan Bu Sheza target paling mudah. Ibu ahli waris dari semua inventaris perusahaan Pak Prabu.” Pak Firman menutup map di depannya. Mobil yang setidaknya masih milik Prabu sampai hari itu masih terparkir di garasi dan sudah hampir dua minggu tidak dinyalakan. Hari itu Sheza meminta Athar mengantar Dio dengan motor karena ia sendiri memang belum bisa menyetir. Mungkin akibat dulu ia selalu membanggakan suaminya yang mau melakukan semua hal. Apa-apa tinggal bilang Prabu. Alhasil hari itu ia merasa menjadi janda paling bodoh. Sheza berdiri di ambang pintu kamar Dio, melihat putranya berseragam rapi. Athar menggendong tas keponakannya seraya merapikan kerah bajunya. “Ibun jangan sedih, ya,” bisik Dio sambil memeluk pinggang Sheza erat-erat. Sheza mengusap rambut anaknya. “Ibun nggak sedih. Ibun kuat buat Dio. Hari ini berangkat sama Om Atha, ya “ “Aku nggak sekolah lama-lama, kok. Sebentar lagi aku masuk SD jadi pasti cepat besar.” Dio mencium pipi ibunya sebelum naik ke motor Athar. Di ruang tamu, mertuanya duduk menunggu. Pak Rudi sibuk menatap ponsel, sedangkan Bu Ratna baru saja menyesap tehnya. Sheza duduk perlahan mengatur napas. Hari sebelumnya terlalu berat, tapi hari ini harus ia lalui. Ia butuh bicara. Ia perlu mencari tahu tentang Prabu dari orang tuanya. “Bu, ada hal penting yang mau Sheza omongin,” ucap Sheza pelan. Bu Ratna mengangkat wajah. Nada suaranya halus, tapi matanya tampak was-was. “Ada apa lagi, Sheza? Wajah kamu pucat.” Sheza menelan ludah. “Sheza dapat surat gugatan. Rumah ini disita sementara…katanya Prabu pernah jadikan rumah ini jaminan untuk proyek perusahaan.” Ayah mertua mengangkat wajah perlahan. “Prabu beberapa kali cerita kalau dia butuh modal. Tapi kalau menjadikan rumahnya sebagai jaminan kayaknya nggak mungkin. Selama ini dia kan selalu cerita sama kamu.” Kalimat itu seperti tuduhan halus. Rahang Sheza berkedut. “Mas Prabu memang nggak pernah cerita apa-apa, Yah. Semuanya keliatan baik-baik aja. Rumah ini dikasih Mas Prabu untuk kami.” Senyum tipis muncul di bibir Bu Ratna, senyum getir yang terasa menampar. “Prabu itu laki-laki, Sheza. Dia nggak mungkin cerita semua secara gamblang. Kita sebagai perempuan yang harus pintar bertanya. Kita harus peduli. Kalau orangnya sudah nggak ada begini, kita harus nanya ke mana?” Sheza mengatur napas. “Bu, saya harus gimana? Rumah ini bakal disita. Dio nggak ada tempat tinggal.” Air mata Sheza kembali jatuh. Ayah Prabu lalu memotong pelan. “Bukan nggak mau bantu kamu. Tapi kamu tau sendiri kami ini sudah tua. Kamu yang jadi ahli warisnya Prabu. Baru aja kita mau berharap warisan, eh malah dapat gugatan.” Kata-kata itu menusuk tanpa ampun. “Atau … kalau sementara Sheza sama Dio tinggal di rumah Ibu dulu sampai masalah selesai—” Belum selesai kalimatnya, Bu Ratna langsung menjawab cepat. “Oh, nggak bisa, Sheza. Kamu tau sendiri kalau rumah Ayah-Ibu kecil sekali. Ada adiknya Prabu, ada sepupunya juga. Lagipula…itu rumah nenek Prabu, bukan rumah kami.” Kalimat itu seperti menghantam Sheza. Ayah mertua menyesap teh dinginnya lalu berkata pelan, “Za, kamu harus realistis. Prabu sudah nggak ada. Hidupmu harus jalan terus. Cari cara. Kalau nggak mampu bayar pengacara, ya cari jalan lain. Kami sudah tua, Sheza. Dio juga pasti butuh sosok Ayah. Nggak mungkin juga kamu menjanda selamanya.” Sheza terdiam lama menahan rasa tertampar kata-kata ayah mertuanya. Ruangan terasa sumpek. Ia bangkit, “Maaf, Yah, Bu. Sheza ke kamar dulu.” Ia meninggalkan mertuanya di meja makan. “Kalau mau titip jagakan Dio, bisalah sesekali. Dio bisa tidur dengan Puspa. Tapi kalau kamar buat kalian ya nggak ada.” Suara Bu Ratna terdengar ke seluruh penjuru ruangan. Sheza masuk ke kamar dan mengabaikannya dengan hati terasa ditusuk. ***** Menjelang sore bel kembali berbunyi. Sebelum Sheza menuju pintu, Bu Ratna lebih dulu menoleh dan mendahuluinya. Sheza lalu duduk mengawasi dari depan televisi. “Selamat sore, Dionya ada?” Suara Roman yang ceria langsung dikenali sebegitu pintu terbuka. Bu Ratna menoleh Sheza, meminta ia mengambil alih tamu kenalannya. Di tangan pria itu ada paperbag besar dan kotak. “Saya Roman, Bu. Sahabatnya Prabu. Saya ke sini mau lihat Dio dan Sheza.” Roman menyalami Bu Ratna, lalu mengangkat kotak donatnya agar dilihat Dio. Bocah laki-laki itu segera berlari menghampiri Roman yang memang terbilang sering main ke rumah itu semasa Prabu masih ada. “Om Roman!” jerit Dio. “Hei, laki-laki kecil favorit Om Roman mana?” godanya ringan, tone-nya dibuat ceria. Begitu Dio muncul dari dalam sambil berlari kecil, Roman langsung jongkok dan menyodorkan robot mainan warna biru. Wajah Dio bersinar untuk pertama kalinya hari itu. “Buat aku, kan?” tanya Dio, matanya berbinar. “Buat kamu … buat Ibun juga,” kata Roman, melirik Sheza. Tak jauh dari mereka, Bu Ratna melihat adegan itu dan mengangguk. …Sheza memejamkan mata saat Satria merengkuhnya lebih erat.Napasnya sempat tertahan oleh perubahan jarak di antara mereka. Jemarinya spontan mencengkeram bahu pria itu, lalu perlahan mengendur ketika bagian paling lelaki di tubuh Satria memasukinya pelan. Memenuhinya dengan kehangatan yang memabukkan. Ia mengembuskan napas panjang.Rasa gugup yang sempat muncul perlahan larut, berganti dengan ketenangan yang hanya bisa ia rasakan ketika berada dalam pelukan Satria.Pipinya memerah.Mata yang sejak tadi menatap suaminya perlahan terpejam, sementara dahinya menyentuh dahi pria itu."Mas Satria …,” bisiknya lirih.“Hmm.” Satria mengecup bibirnya lembut.Jawaban itu membuat Sheza merasa aman. Sheza menjulurkan tangan untuk membelai rambut Satria. Jemarinya menyelusup di antara helai-helai rambut pria itu. Tangan yang lain mengusap rahang Satria, membelainya dengan lembut, lalu bergerak turun menjelajahi lehernya.Aroma oud yang hangat tercium begitu jelas dari kulit Satria. Hangat dan m
Malam itu, lampu utama kamar sudah dimatikan. Hanya diterangi lampu tidur yang redup kekuningan.Sheza berbaring menyamping membelakangi pintu. Selimut tipis menutupi pinggangnya. Rambut yang sejak pagi dijepit kini telah terurai, menutupi sebagian pipinya.Pintu kamar terbuka perlahan. Satria masuk setenang mungkin. Ia menutup pintu tanpa suara, lalu meletakkan ponsel di atas nakas.Baru saja merapikan bantalnya, suara pelan terdengar dari sebelahnya. “Kok baru masuk?” Sheza berbalik pelan. Satria menoleh. "Ternyata belum tidur."Sheza mengulurkan tangannya perlahan. "Aku nungguin."Senyum tipis muncul di bibir Satria. "Dari kamar bayi. Tadi Sagara bangun sebentar. Jadi aku gendong ke depan tv. Sekalian nonton bola.”Sheza langsung membalikkan tubuh menghadap suaminya. “Diajakin nonton bola? Anaknya sekarang melek?” “Enggak. Dibawa ke depan tv malah nyenyak.” Satria terkekeh, lalu naik ke ranjang. Sebegitu kepalanya menyentuh bantal, ia lalu bergeser mendekati Sheza. “Sini,” katany
Dua minggu setelah segala kebutuhan administrasi dan surat menyurat dibereskan oleh Ratri, ia meminta asisten rumah tangga menyusun seluruh kopernya di dekat pintu ruang tengah.Dua koper besar. Satu koper kecil milik Raka. Beberapa kardus telah lebih dulu dikirim ke Swiss beberapa hari sebelumnya. Dua hari belakangan ia juga sudah menitipkan banyak pesan-pesan kepada asisten rumah tangga dan seorang asisten pribadi papanya yang sering mengunjungi rumah itu untuk kebutuhan kantor.Rumah itu tampak sama seperti biasanya. Tenang. Nyaris tak berubah. Hanya saja, sudah dua minggu tidak ada lagi percakapan antara Ratri dan papanya. Mereka tinggal di bawah atap yang sama. Berpapasan setiap hari. Namun tak pernah benar-benar saling menyapa.Hendra menjalani harinya seolah tidak pernah terjadi pertengkaran apa pun. Seolah putrinya tidak pernah mengatakan ingin pergi. Seolah semua akan kembali seperti semula.Namun pagi itu … Ratri tahu, ia benar-benar akan meninggalkan rumah tersebut.Ia mer
Bagi Ratri, tak ada hari yang lebih menyakitkan daripada hari itu. Belum genap sehari sejak ia mengetahui Calvin telah meninggal dunia. Luka itu bahkan belum sempat mengering.Namun pagi itu, untuk pertama kali dalam hidup, ia meninggikan suara kepada ayahnya.Pria yang selama ini paling ia hormati. Pria yang membesarkannya seorang diri setelah kepergian sang ibu. Kenangan demi kenangan bermunculan tanpa diminta.Seorang Hendra yang menggandeng tangannya pada hari pertama masuk sekolah. Hendra yang menungguinya demam semalaman. Hendra yang tak pernah absen menghadiri pembagian rapor. Hendra yang selalu mengatakan bahwa selama ia masih hidup, tak akan ada seorang pun yang menyakiti putrinya.Ratri tahu … ayahnya telah mengorbankan begitu banyak hal untuk membesarkannya.Ia tidak pernah meragukan kasih sayang itu.Justru karena itulah ...Meninggalkan Hendra dalam usia yang tak lagi muda dan kondisi kesehatan yang mulai menurun terasa jauh lebih menyakitkan daripada yang sanggup ia ungka
Tangis Ratri semakin pecah. Tubuhnya sampai berguncang. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangann, berusaha meredam isak yang tak lagi bisa ditahan.Hendra menatap putrinya lama. Wajahnya mulai memerah. Nada bicaranya pun berubah."Kamu begini karena masih membela Calvin?"Ratri tidak menjawab."Kamu lupa apa yang dia lakukan ke kamu?" Suara Hendra meninggi. "Kamu pernah ditampar sama dia, Ratri. Kamu ingat nggak?""Papa yang dari kecil ngebesarin kamu … apa pernah main tangan sama kamu?"Ratri mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah. Pipinya basah."Aku nggak pernah ngebenerin apa yang Mas Calvin lakuin ke aku, Pa." Suaranya bergetar. "Itu salah. Kasar."Ratri mengusap wajahnya. "Aku tahu.""Tapi ….” Ia menggigit bibirnya sendiri. "Apa Papa nggak pernah sadar … kalau Papa juga menghancurkan Mas Calvin sedikit demi sedikit?"Hendra terdiam."Papa terus menghina Mas Calvin. Selalu melecehkan Mas Calvin dengan kata-kata tajam. Papa selalu … selalu masuk dalam masalah rumah tangg
__________Memang sepertinya aku harus pindah dari sini.Aku mulai merasa seperti tahanan.Takut keluar. Takut pulang. Takut setiap orang asing yang menatapku.Kalau mereka memang menginginkan uang itu … kenapa tidak ada satu pun yang menghubungiku untuk membicarakannya?__________Ratri ...Apa kabar? Raka sekarang sudah suka pisang? Atau masih lebih suka apel sama mangga seperti dulu?Aku baru saja menandatangani kontrak kerja. Aku diterima sebagai akuntan di sebuah perusahaan. Sepertinya jalan hidupku mulai terbuka di sini.Andai kita masih bersama … aku pasti minta kamu dan Raka menyusul ke Swiss.Kita mulai dari nol. Nggak perlu rumah besar. Nggak perlu mobil mahal.Yang penting ... kita tinggal serumah lagi.__________Hari ini aku cuma keluar dua jam. Waktu pulang … rumah sudah berantakan.Ada orang yang masuk dengan kunci. Pintu tidak dibobol tapi semuanya berantakan.Semua laci dibuka. Isi lemari diacak-acak.Aku bahkan nggak sempat membereskannya. Besok pagi aku harus berangk







