Home / Rumah Tangga / KAMAR KEDUA / Bab 5. Rumah Tanpa Tempat Pulang

Share

Bab 5. Rumah Tanpa Tempat Pulang

Author: juskelapa
last update publish date: 2026-01-05 15:28:33

“Za … kita semua lagi sama bingungnya. Semua yang terjadi serba tiba-tiba. Prabu, lalu … kasus perusahaannya. Sekarang penggugat mengajukan sita jaminan karena khawatir harta tergugat hilang atau dialihkan. Rumah ini disita selama kasus tapi belum dilelang.” Arga menjelaskan dengan hati-hati.

“Jadi akan ada petugas yang datang ke sini dan menempelkan sesuatu di pintu rumahku?” Sambil Sheza menghapus air matanya cepat-cepat. Arga mengangguk. Sheza merasa ruangan berputar. “Kalau aku sebagai ahli waris Prabu kalah di pengadilan, aku dan Dio harus pergi dari rumah ini?” Suaranya lirih.

Lagi-lagi Arga mengangguk. “Maaf, Za. Tapi ada hal yang lebih kami takutkan.”

“Ada lagi? Apa ada yang lebih buruk lagi yang bakal terjadi?” Sheza mendengkus sinis di antara isaknya.

“Tuntutan ini bukan satu-satunya,” ucap Arga pelan.

Sheza terkesiap. “Maksudnya … bukan cuma satu klien? Tapi kebetulan baru satu klien ini yang nuntut?” Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tangan Roman terulur menepuk-nepuk pelan bahunya.

Roman duduk di sebelah Sheza sambil membaca-baca semua berkas. “Empat belas hari sebelum penyitaan. Sidang pertama sudah ditetapkan. Kalau tidak ada kesepakatan, rumah bisa langsung masuk daftar lelang? Begitu?” Pertanyaannya ditujukan pada Pak Firman. Ia yang seorang dokter gigi memang agak tidak paham bagaimana sebuah perkara bergulir.

Pria itu menggeleng. “Belum tentu. Kalau ada pihak yang bisa jadi penanggung jawab, kasus ini bisa dinegosiasikan. Tapi … Bu Sheza tidak bisa sendirian. Status Ibu saat ini terlalu rentan.”

“Maksudnya, Pak? Status saya kenapa, ya?” Sheza mengusap air matanya seraya mengatur napas.

“Status Bu Sheza yang … maaf, seorang janda saat ini menjadikan Bu Sheza target paling mudah. Ibu ahli waris dari semua inventaris perusahaan Pak Prabu.” Pak Firman menutup map di depannya.

Mobil yang setidaknya masih milik Prabu sampai hari itu masih terparkir di garasi dan sudah hampir dua minggu tidak dinyalakan. Hari itu Sheza meminta Athar mengantar Dio dengan motor karena ia sendiri memang belum bisa menyetir. Mungkin akibat dulu ia selalu membanggakan suaminya yang mau melakukan semua hal. Apa-apa tinggal bilang Prabu. Alhasil hari itu ia merasa menjadi janda paling bodoh.

Sheza berdiri di ambang pintu kamar Dio, melihat putranya berseragam rapi. Athar menggendong tas keponakannya seraya merapikan kerah bajunya.

“Ibun jangan sedih, ya,” bisik Dio sambil memeluk pinggang Sheza erat-erat.

Sheza mengusap rambut anaknya. “Ibun nggak sedih. Ibun kuat buat Dio. Hari ini berangkat sama Om Atha, ya “

“Aku nggak sekolah lama-lama, kok. Sebentar lagi aku masuk SD jadi pasti cepat besar.” Dio mencium pipi ibunya sebelum naik ke motor Athar.

Di ruang tamu, mertuanya duduk menunggu. Pak Rudi sibuk menatap ponsel, sedangkan Bu Ratna baru saja menyesap tehnya.

Sheza duduk perlahan mengatur napas. Hari sebelumnya terlalu berat, tapi hari ini harus ia lalui. Ia butuh bicara. Ia perlu mencari tahu tentang Prabu dari orang tuanya.

“Bu, ada hal penting yang mau Sheza omongin,” ucap Sheza pelan.

Bu Ratna mengangkat wajah. Nada suaranya halus, tapi matanya tampak was-was. “Ada apa lagi, Sheza? Wajah kamu pucat.”

Sheza menelan ludah. “Sheza dapat surat gugatan. Rumah ini disita sementara…katanya Prabu pernah jadikan rumah ini jaminan untuk proyek perusahaan.”

Ayah mertua mengangkat wajah perlahan.

“Prabu beberapa kali cerita kalau dia butuh modal. Tapi kalau menjadikan rumahnya sebagai jaminan kayaknya nggak mungkin. Selama ini dia kan selalu cerita sama kamu.”

Kalimat itu seperti tuduhan halus.

Rahang Sheza berkedut. “Mas Prabu memang nggak pernah cerita apa-apa, Yah. Semuanya keliatan baik-baik aja. Rumah ini dikasih Mas Prabu untuk kami.”

Senyum tipis muncul di bibir Bu Ratna, senyum getir yang terasa menampar. “Prabu itu laki-laki, Sheza. Dia nggak mungkin cerita semua secara gamblang. Kita sebagai perempuan yang harus pintar bertanya. Kita harus peduli. Kalau orangnya sudah nggak ada begini, kita harus nanya ke mana?”

Sheza mengatur napas. “Bu, saya harus gimana? Rumah ini bakal disita. Dio nggak ada tempat tinggal.” Air mata Sheza kembali jatuh.

Ayah Prabu lalu memotong pelan. “Bukan nggak mau bantu kamu. Tapi kamu tau sendiri kami ini sudah tua. Kamu yang jadi ahli warisnya Prabu. Baru aja kita mau berharap warisan, eh malah dapat gugatan.”

Kata-kata itu menusuk tanpa ampun.

“Atau … kalau sementara Sheza sama Dio tinggal di rumah Ibu dulu sampai masalah selesai—”

Belum selesai kalimatnya, Bu Ratna langsung menjawab cepat. “Oh, nggak bisa, Sheza. Kamu tau sendiri kalau rumah Ayah-Ibu kecil sekali. Ada adiknya Prabu, ada sepupunya juga. Lagipula…itu rumah nenek Prabu, bukan rumah kami.”

Kalimat itu seperti menghantam Sheza.

Ayah mertua menyesap teh dinginnya lalu berkata pelan, “Za, kamu harus realistis. Prabu sudah nggak ada. Hidupmu harus jalan terus. Cari cara. Kalau nggak mampu bayar pengacara, ya cari jalan lain. Kami sudah tua, Sheza. Dio juga pasti butuh sosok Ayah. Nggak mungkin juga kamu menjanda selamanya.”

Sheza terdiam lama menahan rasa tertampar kata-kata ayah mertuanya. Ruangan terasa sumpek. Ia bangkit, “Maaf, Yah, Bu. Sheza ke kamar dulu.”

Ia meninggalkan mertuanya di meja makan.

“Kalau mau titip jagakan Dio, bisalah sesekali. Dio bisa tidur dengan Puspa. Tapi kalau kamar buat kalian ya nggak ada.” Suara Bu Ratna terdengar ke seluruh penjuru ruangan. Sheza masuk ke kamar dan mengabaikannya dengan hati terasa ditusuk.

*****

Menjelang sore bel kembali berbunyi. Sebelum Sheza menuju pintu, Bu Ratna lebih dulu menoleh dan mendahuluinya. Sheza lalu duduk mengawasi dari depan televisi.

“Selamat sore, Dionya ada?” Suara Roman yang ceria langsung dikenali sebegitu pintu terbuka.

Bu Ratna menoleh Sheza, meminta ia mengambil alih tamu kenalannya. Di tangan pria itu ada paperbag besar dan kotak.

“Saya Roman, Bu. Sahabatnya Prabu. Saya ke sini mau lihat Dio dan Sheza.” Roman menyalami Bu Ratna, lalu mengangkat kotak donatnya agar dilihat Dio. Bocah laki-laki itu segera berlari menghampiri Roman yang memang terbilang sering main ke rumah itu semasa Prabu masih ada.

“Om Roman!” jerit Dio.

“Hei, laki-laki kecil favorit Om Roman mana?” godanya ringan, tone-nya dibuat ceria. Begitu Dio muncul dari dalam sambil berlari kecil, Roman langsung jongkok dan menyodorkan robot mainan warna biru.

Wajah Dio bersinar untuk pertama kalinya hari itu. “Buat aku, kan?” tanya Dio, matanya berbinar.

“Buat kamu … buat Ibun juga,” kata Roman, melirik Sheza.

Tak jauh dari mereka, Bu Ratna melihat adegan itu dan mengangguk.

…

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (21)
goodnovel comment avatar
Larose
Roman duda yg suka clubbing sementara Satria duda baik tp sepertinya kurang suka dgn Sheza,btw Sheza masa km g punya tabungan sama sekali suami meninggal blm sebulan udah bingung mau ngapain pdhl sepertinya Prabu pengusaha sukses
goodnovel comment avatar
Rania Humaira
apakah sheza ibu rumahtangga 100% ya? koq sampai mau menumpang tinggal sama mertua. dan selama jadi istri apa g punya tabungan, secara dia kan iatri pwngusaha.
goodnovel comment avatar
Henny Aruan
ada permainan busuk kah ne semua, ulah siapa???
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • KAMAR KEDUA   Bab 357. Sebuah Titipan

    Kandungan Sheza sudah memasuki bulan kesembilan, dan malam itu ia belum juga bisa tidur. Kontraksi palsu datang dan pergi sejak sore, membuatnya gelisah berpindah posisi berkali-kali di atas ranjang. Kapan saja bisa terjadi, kata dokter kandungannya minggu lalu."Sini, Mas," katanya, membalikkan tubuh miring, menarik ujung kaus Satria. "Punggungnya pegel banget. Oles minyak telon dong."Satria meraih botol kecil dari laci nakas, menuangkan sedikit ke telapak tangannya, lalu mulai mengusapkannya perlahan di punggung Sheza yang sudah lama tidak merasakan posisi tidur nyaman."Rania jadi pulang minggu ini?" tanya Satria, melanjutkan obrolan yang sempat terhenti."Harusnya. Tapi aku tahan dia." Sheza mengerang pelan ketika Satria menekan satu titik yang terasa paling pegal. "Minimal tunggu aku lahiran dulu, Mas. Untungnya dia mau.""Oh, iya. Roman kemarin chat, lho." Satria terkekeh, mengusap area pinggang istrinya. "Makasih katanya, karena kamu nahan Rania.""Roman jadi mau nganterin? Em

  • KAMAR KEDUA   Bab 356. Secangkir Kopi Larut Malam

    Pukul sepuluh malam, restoran mulai sepi. Nadine berdiri di dekat pintu dengan kunci mobil di tangan dan wajah yang sudah memutuskan sesuatu.“Pak Damar … makasih buat makan malam yang sangat menyenangkan buat kami, terutama buat Nayla.” Tangannya menyentuh bahu Nayla yang berdiri tegak di depannya.“Saya juga senang sekali. Semuanya sesuai dengan yang saya harapkan. Terutama ada bintang tamu yang pinter ini.” Damar menyodorkan kepalan tangannya. Nayla menyambutnya dengan mengadu kepalan tangan mereka. “Saya antar, ya.”"Kamj pulang berdua aja, Pak Damar. Seperti datang tadi. Aman,” kata Nadine dengan nada optimisnya seperti biasa."Saya tidak meragukan keamanannya," jawab Damar. "Saya meragukan jalanan Jakarta jam segini.""Sudah puluhan tahun saya nyetir sendiri jam segini.""Kalau begitu, begini saja." Damar mengulurkan tangan, setengah bercanda. "Saya yang bawa mobil Ibu. Ibu dan Nayla duduk manis. Nanti saya pulang naik taksi dari rumah Bu Nadine.”Nadine langsung menggeleng. "Da

  • KAMAR KEDUA   Bab 355. Makan Malam Sempurna (2)

    Ruang privat restoran itu didominasi warna krem lembut dengan pencahayaan temaram yang hangat. Satu meja bundar diatur di tengah ruangan, taplaknya putih bersih, tiga set alat makan tersusun rapi. Sebuah vas kecil berisi bunga segar diletakkan di tengah meja, bukan berlebihan, hanya cukup untuk membuat suasana terasa lebih istimewa dari makan malam biasa.Damar sudah berdiri menunggu ketika pintu ruangan itu terbuka. Ia mengenakan kemeja biru dongker, lengan tergulung rapi sampai siku, jauh dari penampilan kasualnya yang biasa terlihat berantakan di kantor konsultan kecilnya."Bu Nadine." Ia tersenyum, lalu menoleh ke sosok mungil yang berdiri di samping Nadine, matanya langsung berbinar. "Dan ini pasti Nayla."Nayla mengangguk, sedikit malu-malu, tapi matanya penuh rasa ingin tahu memandangi pria di depannya dari atas ke bawah."Halo, Nayla. Saya Damar," katanya, berjongkok sedikit agar sejajar dengan tinggi Nayla, mengulurkan tangan dengan sopan. "Senang akhirnya bisa ketemu kamu la

  • KAMAR KEDUA   Bab 354. Makan Malam Sempurna (1)

    Begitu pembicaraan dengan Nayla selesai, Nadine segera mengambil ponselnya, mengetik pesan singkat untuk Damar.Nadine:Nayla udah siap. Kami berdua udah siap.Balasan pesan itu tidak butuh waktu lama.Damar:Oke. Biar saya yang atur. Saya mau bikin makan malam paling menyenangkan buat Nayla.Nadine membaca pesan itu dua kali, lalu meletakkan ponselnya dengan perasaan campur aduk—antara lega dan sedikit gugup membayangkan pertemuan itu benar-benar akan terjadi.**********Dua minggu kemudian, di Jalan Pine II No. 8, suara ketukan palu kecil memantul pelan di dinding bengkel kerja Satria.Siang itu ia sedang berkutat dengan sebuah lempengan emas kuning yang tipis dan memanjang, menempa bagian tepinya dengan hati-hati di atas landasan baja. Kacamata pembesarnya terpasang di hidung, dan beberapa alat ukir tersusun rapi di sampingnya—sketsa desain yang baru setengah jadi tergeletak di sudut meja kerja.Langkah kecil terdengar dari arah pintu. Satria menghentikan ketukannya, menoleh."Nay?

  • KAMAR KEDUA   Bab 353. Apa yang Diinginkan Nadine

    Setelah beberapa hari tenggelam dalam kesibukan memimpin perusahaan, ia mendapat laporan perkembangan hasil kerja gedung. Bagian kolom gedung sudah selesai. Bersamaan dengan itu, ia kembali teringat obrolannya bersama Damar soal makan malam.Malam itu, lewat pukul sepuluh, Nadine baru menyetir sendiri pulang dari kantor. Jalanan Jakarta yang biasanya ramai sudah lengang, tapi pikirannya justru mengembara ke banyak hal yang selama ini jarang ia izinkan muncul.Setelah Satria, tentu ada beberapa orang yang pernah mencoba mendekatinya. Entah karena ia memang belum benar-benar berdamai dengan masa lalu, atau karena kenyamanan yang ia rasakan sekarang terasa berbeda, Nadine tidak pernah benar-benar berpikir untuk meladeni percakapan lebih jauh dengan siapa pun. Semuanya berhenti di basa-basi, lalu lenyap begitu saja dari ingatannya.Berbeda dengan Damar.Damar baginya seperti teman ngobrol yang menyenangkan. Mereka nyambung, entah bagaimana caranya. Damar easygoing, dan anehnya, cukup saba

  • KAMAR KEDUA   Bab 352. Nasi Goreng Sepiring Berdua

    Mobil Damar melaju pelan menembus jalanan Jakarta yang mulai lengang. Nadine duduk di kursi penumpang, memandang keluar jendela, menyaksikan lampu-lampu kota berkelip di kejauhan."Kita ke mana?" tanyanya akhirnya."Gultik," jawab Damar singkat, matanya tetap di jalan. "Di Blok M. Udah pernah coba?"Nadine menggeleng. "Gultik? Namanya lucu.”"Katanya sih kepanjangannya gulai tikungan. Porsinya kecil-kecil, jadi setelah gultik, kita bisa makan yang lain.” Damar tersenyum, memperhatikan anggukan Nadine dan sepasang mata wanita yang bercahaya. Ia lalu membelokkan mobil ke arah Blok M.Mereka berhenti di deretan gerobak yang berjejer di pinggir jalan, asap mengepul dari arang yang menyala, aroma daging bercampur bumbu gulai memenuhi udara malam. Damar memesan dua porsi tanpa bertanya dulu, lalu duduk di bangku kayu panjang yang sedikit goyang ketika Nadine ikut duduk."Ini aman buat perut Ibu?" tanya Damar, sedikit meragu begitu makanan datang—sepiring nasi putih yang disiram gulai."Saya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status