Share

PART 05

Author: Aura Kisah
last update publish date: 2026-01-05 16:56:46

        Selanjutnya    Alex berusaha mencari pekerjaan. Namun dari sekian banyak perusahaan yang didatanginya, semuanya menyatakan belum ada lowongan. Ia selanjutnya  berjalan tanpa arah, hanya mengikuti ke mana kakinya  melangkah untuk membawa tubuhnya. Yang ia pikirkan ketika itu adalah mendapatkan suatu pekerjaan agar bisa tetap menyambung hidup. Ya mungkin sebagai tukang parkir, tukang bangunan, buruh pasar, atau apalah. 

        Tapi beberapa pasar dan proyek yang is datangi tak ada yang siap memperkerjakannys. Mereka mengamati seluruh wujudnya, mulai kaki hingga ke wajah, seolah-olah ia itu barang yang hendak mereka beli, sebelum berkata, “Ah, mana mungkin lu bisa bekerja kasar seperti ini?  Kulit dan tampang lu saja mirip bintang pilem gitu!”

        Alasan yang lucu sebenarnya. Alex berusaha mencoba meyakinkan mereka bahwa ia memang lagi butuh pekerjaan, tapi mereka tetap menolak. Ia mengangguk sebelum membalik badan dengan wajah lesu dan kecewa. Selalu saja seperti itu.

     Sebagian dari kisah hidupnya itu Alex ceritakan kepada Om Garvin dan Madam Lena, sejak dari meja makan hingga ke ruang keluarga. Baik Om Garvin maupun Madam Lena menunjukkan sikap prihatin pada nasib yang dialami oleh Alex itu.

        “Artinya, sebelum terpuruh oleh krisi yang berkepanjangan, Dik Alex pernah mhidup dalam dunia yang gemerlap, ya?” ucap Tante Madam.

    

        “Benar sekali, Madam. Saya sama sekali tak menyangka jika kehidupan saya berbalik seratus delapan derajat seperti itu. Seperti sebuah mimpi buruk yang hingga kini saya kenang. Benarlah sebuah ungkapan, bahwa kehidupan itu seperti roda. Bisa berada pada posisi di mana pun dengan cepat.”

      Alex terdiam untuk beberapa saat sebelum lanjut bercerita, “Selama hampir seminggu  saya terlunta-lunta dan menggelandang. Bukan menggelandang, memang sudah tergolong gelandangan waktu itu. Saya tidur di rumah-rumah tua atau bekas-bekas gedung kantor, lalu pagi hingga sorenya, melanjutkan usaha untuk mencari pekerjaan. Pekerjaan apa saja. Nasib masih sama, penolakan masih berlanjut. Sementara uang di kantong hasil menjual pakaian sudah sangat menghawatirkan. Satu atau dua hari lagi saya tak mampu memperoleh pekerjaan, maka seratus perses saya akan menjadi gelandangan sejati. Saya bakalan mengais makanan bekas di tong-tong samapah. Itu pasti. Puncaknya, ketika suatu hari saya benar-benar telah kehabisan uang. Saya bener-benar nyaris merasakan putus asas. Terakhir kali saya merasakan nasi adalah kemarin pagi. Itu pun tidak banyak, karena saya tak cukup uang untuk membeli makanan yang lebih banyak.

       Menjelang sore hari saya benar-benar sangat kelaparan, pandangan terasa berkunang-kunang dan kepala terasa sakit. Di mana aku bisa mendapatkan makanan? Apa yang harus kulakukan? Pikir saya saat itu.

        Jika saya memulung saat itu, belum tentu saya bisa mendapatkan hasilnya, sementara tuntutan perut adalah ketika itu. Tak ada apa pun yang bisa saya jual lagi. Yang ada dalam kantong plastik di tangan saya hanyalah beberapa pakaian ganti, dan itu pun sudah kotor. Selain itu adalah tiga lembar ijazah dan juga tiga lembar danem. Iya, saya masih punya ijazah. Apakah ada yang mau membelinya atau merimanya jika aku mengadainya? Tapi untuk apa sang pembeli dengan ijazah orang lain?”

          Alex kembali tertawa kecil, tapi sumbang. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca. Ia melanjutkan kisahnya:

        “Saat itu adalah saat di mana saya tak mampu untuk berpikir lagi. Kepala saya semakin pusing dengan mata berkunang-kunang.  Untung ada sebuah sebuah gardu ronda di sebuah kompleks perumahan di daerah Jakarta Barat. Di gardu itu saya merebahkan diri. Saya hanya mampu duduk menyandar di dinding gardu itu dengan tubuh terkulai.  Saya melihat seorang ibu-ibu yang punya rumah berhadapan dengan pos ronda itu melihat ke arah saya. Tapi dia tidak menatap saya dengan sebuah tatapan mencurigai. Malah ia keluar dari halaman rumahnya dan berjalan ke arah saya. Dia menanyakan saya ini dari mana hendak ke mana, dan mengatakan bahwa muka saya sangat pucat. Ia menunjukkan wajah prihatin dan empatinya kepada saya. Saya ceritakan asal dan kondisi saya.

Saya terjebak oleh kondisi yang tak menguntungkan di Jakarta ini. Saya berkata pada beliau saat itu, bahwa yang paling saya butuhkan saat ini adalah makanan. Atau paling tidak minuman. Jika Ibuk punya sisa makanan, tolong saya, Bu, kata saya. Karena memang sejak kemarin sore saya tidak merasakan makanan dan minuman sama sekali. Saya sudah tak punya daya lagi, karena itu saya duduk di sini.”

        Alex berusaha tetap tampak tegar. Ia lanjut bercerita, “Wajah itu ibu terlihat makin iba kepada saya. Tentu saya tak perlu bercerita banyak tentang keadaan saya saat itu, karena kondisi saya sudah sangat mewakili. Tanpa berkata apa pun, ibu itu langsung membalikkan tubuhnya,  melangkah cepat ke arah rumahnya.  Tak lama kemudian dia kembali dengan sepiring nasi dan sebotol air mineral. Ya Tuhan, makanan itu kulihat begitu berharga. Saat itu jika disodorkan sepiring nasi dengan sebongkah berlian yang paling mahal dan disuruh memilih, maka saya akan langsung memilih nasi sepiring itu. Karena saya merasa, beberapa puluh menit lagi jika perut saya tidak kemasukan makanan, saya akan tewas. Saya yakin sekali. Setelah makan, saya mengucapkan terima kasih kepada ibu dermawan itu,  saya langsung  menyandarkan kembali tubuh saya di dinding gardu, sehingga terlihat seperti orang yang baru berjalan jauh dan terengah-engah. Itu si ibu hanya membiarkan saja saya begitu. Baru agak lama saya kuat untuk duduk secara normal. Berkali-kali saya mengucapkan terima kasih kepada beliau. Ibu itu memperkenalkan dirinya, Bu Halimah. Usia beliau saat itu saya taksir belum lagi kepala lima, ibu dari tiga orang anak. Kata beliau,  semua anaknya sudah bekerja dan belum ada yang menikah. Sedangkan suaminya adalah penjaga gudang di sebuah perudahaan yang memproduksi sepatu di daerah Tangerang.”

      Baik Om Garvin maupun Madam Lena sama-sama tertegun mendengar kisah Alex itu. Namun kemudian Madam Lena bertanya tentang bagaimana ceritanya bisa bertemu dengan suaminya.

         “Iya, seharian tadi saya masih berkeliling, Madam, untuk mencari pekerjaan, tapi hasilnya tetap nihil,” jawab Alex. “Saya berjalan saja tanpa destinasi yang pasti, sehingga sampai di perempatan jalan di pinggiran kota. Di  situ saya bertemu dengan Om Garvin.”

      Om Garvin yang gentian bercerita tentang pertemuannya dengan Alex, dan semua yang terjadi.

       “Jadi, Mom, Dik Alex ini sudah sangat berjasa terhadap Papa, ia menyelamatkan nyawa Papa. Papa memberi dia ia satu gepok, lima juta, tapi dia menolaknya, walau kondisinya sudah sangat rpihatin seperti itu. Dia berkata, yang dia butuhkan saat itu adalah pekerjaan, agar dia memiliki penghasilan tetap. Karena itu, Papa memutuskan untuk mengajak Dik Alex ke sini.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 87

    Zara sekali-sekali meraba bagian V-nya. Ia merasakan area itu makin tergenang dan mata tuas Alex keluar masuk dengan bebasnya. Hal itu membuat sensasi nikmat itu makin menjadi-jadi. Namun mereka harus tetap melakukannya dengan senyap dan hati-hati. Justru karena itu sensasinya terasa berlipat-lipat, dari ketika mereka melakukannya dalam kondisi normal, yang pernah mereka rasakan. Yang dirasakan oleh Zara saat itu adalah, bahwa hunjaman milik Alex terasa begitu dalam menembus r4h1mnya. Ia terus menikmatinya dengan mata terpejam. Terasa buah da**nya seakan mau tumpah keluar, terguncang-guncang karena sod*kan-sod*kan yang menggetarkan. Lama tak pernah lagi merasakan permainan seperti itu, menjadikannya kehausan dan sangat menikmatinya. Karena saking nikmatnya, ia pun menarik bagian bawah pinggang Alex agar menekan lebih kuat lagi. Dan … ia pun mencapai puncak kebahagiaan yang luar biasa. Ia merasakan org**me yang sangat lama sekali sembelum ia seperti terhempas dan lema

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 86

    Saat itu rasa takutnya tentang cerita dan bayangan hantu atau demit benar-benar sudah lenyap dalam pikirannya, karena telah digantikan oleh hentakan bi**hinya yang kian menguat. Dengan perasaan yang degdegan, Zara menggeser tubuhnya ke belakang secara pelan-pelan. Ketika tubuhnya sudah berdempetan dengan tubuhnya Alex, ia berhenti. Tidak ada reaksi. Jantungnya makin berdegup kencang bersama hentakan bi**hinya yang kian membuncah. Suhu tubuhnya pun terasa tinggi, bahkan mirip-mirip orang yang dendak demam. Karena dorongan l1b1d0nya yang seolah tak mampu ia bendung membuat tangannya bergerak ke belakang. Ia meraih tangan Alex, dan ia ingin memeluknya. Ternyata Alex merespon hal itu dengan memeluknya. Pemuda itu bukan saja sekedar memeluknya, namun tangannya langsung bertengger pada salah kedua bukit kembarnya. Tetapi hanya meletakkan saja tangannya di kedua area itu, namun tidak menggerakkannya. Padahal Zara sudah menunggu dengan perasaan degdegan akan tindakannya sela

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 85

    Malamnya Mei tetap menyempatkna diri untuk mengirim pesan SMS ke Alex. “Jadi kamu belum sempat ke rumah dulu?” tanya Alex, karena Mei memberitahu dia akan bermalam di rumah sakit. “Tidak. Paling besok aku ke rumah buat jenguk baby-ku. Baby kan memang tidak dianjurkan untuk dibawa ke rumah sakit, apalagi malam-malam.” “Trus suaminya jadi operasi besok pagi?” “Iya, jam sepuluh.” “Semoga operasinya lancar, ya?” “Aamiin.” Terasa sepi juga ternyata ketika Mei tak ada tidur di dekatnya. Tetapi tiba-tiba Zara membawa keluar kasur busa tipisnya dan menggelarnya di tempat yang biasa ditempat oleh Mei. “Pengen rasakan tidur di sini,” ucapnya, tanpa ditujukan khusus pada siapa pun. Saat itu Alex, Kulman, dan Ambar masih asyik dengan layar ponselnya masing-masing. Tapi Ambar yang menjawab, kalau ruang tamu sedikit lebih dingin suhunya daripada dalam kamar. “Iya kayaknya,” sahut Zara sembari menurut tubuhnya dengan selimutnya. Ia tak langsung tid

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 84

    Mungkin karena sudah tak mampu menanggung rasa n1km4t yang luar biasa itu, Alex langsung mendorong tubuh Bu Ema, sehingga wanita itu terjengkang ke belakang di atas kasur. Ia merenggangkan kedua kaki wanita itu, lalu selanjutnya wajahnya mendekat ke area istimewahnya, lalu memanjainya dengan lidah dan mulutnya. “Aaaaah ampun, Dik Aleeex, ini nikmat sekaliii aahs,” desis Bu Ema sembari memejamkan kedua matanya. Cara seperti itu belum Hasan. Lidahh kasar dan l14r Alex memanjai milik Bu Ema. Bagian-bagian tertentu dalam pintu gerbang itu tak liput dari sapuan lidahnya. Bu Ema benar-benar merasakan sensasi yang hebat. Seolah tanpa disadari, tangannya menyambar kepala si 0pemuda, dan jarinya meremasi kembali rambut Alex sambil mengerangg dan mendes4h gelisah dengan raga meliuk-liuk. Malam itu keduanya pun bertarung dengan garang dan berbagai posisi dan gaya bebas digunakan. Memang mereka hanya melakukannya sekali, namun kualitas hasilnya sebanding dengan berk

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 83

    Sesampai di rumah sakit, Pak Ustadz Abdullah dibawa ke ruang MCU untuk dilakukan medical general check-up. Setelah dilakukan pengecekan menyeluruh, dokter yang menangani memberikan keterangannya kepada pihak keluarga Pak Ustadz, bahwa pasien mengalami penurunan aliran darah ke otak, yang disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penurunan tekanan darah, kekurangan oksigen, serta masalah pada sistem jantung. “Kondisi ini bisa dipicu oleh stres emosional, dehidrasi, atau bahkan kondisi medis tertentu seperti masalah jantung atau diabetes,” ucap Pak Dokter lebih lanjut. “Apakah pasien pernah mengalami kondisi seperti ini sebelumnya? Beliau juga ada gejala diabetes.” “Benar, Dok, pernah. Tapi setelah siuman tidak ada keinginan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Padahal saya sudah mendorong hal itu,” jawab istri dari Pak Ustadz Abdullah, namanya Bu Alya. Dokter manggut-manggut lalu menyarankan agar dirawat inap dulu. “Biar kami bisa menanganinya secara intensi

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 82

    Malam itu, mereka tidur agak kemalaman. Bukan karena mengobrol hingga larut, namun setelah obrolan itu masing-masing lanjut untuk chat. Entah dengan keluarga mereka masing-masing. Aldi, Rudi, dan Zara akan kembali besok pagi. Dan seperti biasa, Alex, Mei, Kulman, dan Ambar tetap tidur di ruang tamu. Sementara Hanif tidur dalam kamar, seperti biasa. Kondisi kulman juga sudah mendingan. Sebelum tidur, Alex dan Mei sempat mengobrol sartu sama lain melalui chat. Namun selanjutnya mereka chat dengan keluarganya masing-masing. Mei mungkin dengan suaminya, sementara Alex dengan Tante Lena sebelum dengan Bu Galuh dan Bu Ema. Tante Lena chat hanya untuk mengungkapkan rasa kangen padanya, seperti biasanya. Sementara dengan Bu Ema dan Bu Galuhchat tak jauh-jauh dari urusan per-gen-j0tan. “Rasanya pengen sekali mengulanginya lagi sebelum Dik Alex dan teman-temannya kembali ke Jakarta,” tulis Bu Ema. “Akan aku usahakan waktunya ya, Yank? Kangen ya?” balas Alex. “Ban

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 25

    Tiba di rumah, Alex melihat Om Garvin dan Mbal Olive sedang duduk di ruang tengah. Alex menyalami dan mencium tangan keduanya. Setelah berbasasi sebentar, Alex langsung pamit untuk ke atas. Yang ingin dilakukan olehnya malam nanti adalah tidur lebih cepat, untuk jiwa mengistirahatkan jiwa d

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 16

    “Iya, Madam.” “Dik Alex pasti sering melakukan, kan? Wajarlah, kan masih darah muda.” “Ya gak sering sih, Madam. Cuman pernah.” Pembahasan tentang topik ‘sensitif’ itu membuah Alex jadi panas dingin. Gairahnya seperti digelitik dan disulut, dan itu membuat miliknya pelan-pelan bere

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 15

    Acara itu diadakan di rumah salah seorang anggota. Rumah itu tak kalah mewahnya dengan rumahnya Madam Lena sendiri. “Dik Alex tunggu dalam mobil saja gak apa-apa sambil dengerin musik,” pesan Madam Lena sebelum beliau keluar dari mobil yang Alex bukakan. “Siap, Madam.” Tampaknya

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 08

    Madam Lena berpesan kepada pegawai salon, seorang pria muda, agar menyesuaikan model rambutnya dengan tampil fisik dan model wajah sang bodyguard-nya itu. “Baik, Bu,” sahut pegawai salon itu, lalu membawa masuk Alex ke ruang dalam. Kurang lebih satu jam Madam Lena menunggu di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status