LOGINSelanjutnya Alex berusaha mencari pekerjaan. Namun dari sekian banyak perusahaan yang didatanginya, semuanya menyatakan belum ada lowongan. Ia selanjutnya berjalan tanpa arah, hanya mengikuti ke mana kakinya melangkah untuk membawa tubuhnya. Yang ia pikirkan ketika itu adalah mendapatkan suatu pekerjaan agar bisa tetap menyambung hidup. Ya mungkin sebagai tukang parkir, tukang bangunan, buruh pasar, atau apalah.
Tapi beberapa pasar dan proyek yang is datangi tak ada yang siap memperkerjakannys. Mereka mengamati seluruh wujudnya, mulai kaki hingga ke wajah, seolah-olah ia itu barang yang hendak mereka beli, sebelum berkata, “Ah, mana mungkin lu bisa bekerja kasar seperti ini? Kulit dan tampang lu saja mirip bintang pilem gitu!”
Alasan yang lucu sebenarnya. Alex berusaha mencoba meyakinkan mereka bahwa ia memang lagi butuh pekerjaan, tapi mereka tetap menolak. Ia mengangguk sebelum membalik badan dengan wajah lesu dan kecewa. Selalu saja seperti itu.
Sebagian dari kisah hidupnya itu Alex ceritakan kepada Om Garvin dan Madam Lena, sejak dari meja makan hingga ke ruang keluarga. Baik Om Garvin maupun Madam Lena menunjukkan sikap prihatin pada nasib yang dialami oleh Alex itu.
“Artinya, sebelum terpuruh oleh krisi yang berkepanjangan, Dik Alex pernah mhidup dalam dunia yang gemerlap, ya?” ucap Tante Madam.
“Benar sekali, Madam. Saya sama sekali tak menyangka jika kehidupan saya berbalik seratus delapan derajat seperti itu. Seperti sebuah mimpi buruk yang hingga kini saya kenang. Benarlah sebuah ungkapan, bahwa kehidupan itu seperti roda. Bisa berada pada posisi di mana pun dengan cepat.”
Alex terdiam untuk beberapa saat sebelum lanjut bercerita, “Selama hampir seminggu saya terlunta-lunta dan menggelandang. Bukan menggelandang, memang sudah tergolong gelandangan waktu itu. Saya tidur di rumah-rumah tua atau bekas-bekas gedung kantor, lalu pagi hingga sorenya, melanjutkan usaha untuk mencari pekerjaan. Pekerjaan apa saja. Nasib masih sama, penolakan masih berlanjut. Sementara uang di kantong hasil menjual pakaian sudah sangat menghawatirkan. Satu atau dua hari lagi saya tak mampu memperoleh pekerjaan, maka seratus perses saya akan menjadi gelandangan sejati. Saya bakalan mengais makanan bekas di tong-tong samapah. Itu pasti. Puncaknya, ketika suatu hari saya benar-benar telah kehabisan uang. Saya bener-benar nyaris merasakan putus asas. Terakhir kali saya merasakan nasi adalah kemarin pagi. Itu pun tidak banyak, karena saya tak cukup uang untuk membeli makanan yang lebih banyak.
Menjelang sore hari saya benar-benar sangat kelaparan, pandangan terasa berkunang-kunang dan kepala terasa sakit. Di mana aku bisa mendapatkan makanan? Apa yang harus kulakukan? Pikir saya saat itu.
Jika saya memulung saat itu, belum tentu saya bisa mendapatkan hasilnya, sementara tuntutan perut adalah ketika itu. Tak ada apa pun yang bisa saya jual lagi. Yang ada dalam kantong plastik di tangan saya hanyalah beberapa pakaian ganti, dan itu pun sudah kotor. Selain itu adalah tiga lembar ijazah dan juga tiga lembar danem. Iya, saya masih punya ijazah. Apakah ada yang mau membelinya atau merimanya jika aku mengadainya? Tapi untuk apa sang pembeli dengan ijazah orang lain?”
Alex kembali tertawa kecil, tapi sumbang. Kedua matanya terlihat berkaca-kaca. Ia melanjutkan kisahnya:
“Saat itu adalah saat di mana saya tak mampu untuk berpikir lagi. Kepala saya semakin pusing dengan mata berkunang-kunang. Untung ada sebuah sebuah gardu ronda di sebuah kompleks perumahan di daerah Jakarta Barat. Di gardu itu saya merebahkan diri. Saya hanya mampu duduk menyandar di dinding gardu itu dengan tubuh terkulai. Saya melihat seorang ibu-ibu yang punya rumah berhadapan dengan pos ronda itu melihat ke arah saya. Tapi dia tidak menatap saya dengan sebuah tatapan mencurigai. Malah ia keluar dari halaman rumahnya dan berjalan ke arah saya. Dia menanyakan saya ini dari mana hendak ke mana, dan mengatakan bahwa muka saya sangat pucat. Ia menunjukkan wajah prihatin dan empatinya kepada saya. Saya ceritakan asal dan kondisi saya.
Saya terjebak oleh kondisi yang tak menguntungkan di Jakarta ini. Saya berkata pada beliau saat itu, bahwa yang paling saya butuhkan saat ini adalah makanan. Atau paling tidak minuman. Jika Ibuk punya sisa makanan, tolong saya, Bu, kata saya. Karena memang sejak kemarin sore saya tidak merasakan makanan dan minuman sama sekali. Saya sudah tak punya daya lagi, karena itu saya duduk di sini.”
Alex berusaha tetap tampak tegar. Ia lanjut bercerita, “Wajah itu ibu terlihat makin iba kepada saya. Tentu saya tak perlu bercerita banyak tentang keadaan saya saat itu, karena kondisi saya sudah sangat mewakili. Tanpa berkata apa pun, ibu itu langsung membalikkan tubuhnya, melangkah cepat ke arah rumahnya. Tak lama kemudian dia kembali dengan sepiring nasi dan sebotol air mineral. Ya Tuhan, makanan itu kulihat begitu berharga. Saat itu jika disodorkan sepiring nasi dengan sebongkah berlian yang paling mahal dan disuruh memilih, maka saya akan langsung memilih nasi sepiring itu. Karena saya merasa, beberapa puluh menit lagi jika perut saya tidak kemasukan makanan, saya akan tewas. Saya yakin sekali. Setelah makan, saya mengucapkan terima kasih kepada ibu dermawan itu, saya langsung menyandarkan kembali tubuh saya di dinding gardu, sehingga terlihat seperti orang yang baru berjalan jauh dan terengah-engah. Itu si ibu hanya membiarkan saja saya begitu. Baru agak lama saya kuat untuk duduk secara normal. Berkali-kali saya mengucapkan terima kasih kepada beliau. Ibu itu memperkenalkan dirinya, Bu Halimah. Usia beliau saat itu saya taksir belum lagi kepala lima, ibu dari tiga orang anak. Kata beliau, semua anaknya sudah bekerja dan belum ada yang menikah. Sedangkan suaminya adalah penjaga gudang di sebuah perudahaan yang memproduksi sepatu di daerah Tangerang.”
Baik Om Garvin maupun Madam Lena sama-sama tertegun mendengar kisah Alex itu. Namun kemudian Madam Lena bertanya tentang bagaimana ceritanya bisa bertemu dengan suaminya.
“Iya, seharian tadi saya masih berkeliling, Madam, untuk mencari pekerjaan, tapi hasilnya tetap nihil,” jawab Alex. “Saya berjalan saja tanpa destinasi yang pasti, sehingga sampai di perempatan jalan di pinggiran kota. Di situ saya bertemu dengan Om Garvin.”
Om Garvin yang gentian bercerita tentang pertemuannya dengan Alex, dan semua yang terjadi.
“Jadi, Mom, Dik Alex ini sudah sangat berjasa terhadap Papa, ia menyelamatkan nyawa Papa. Papa memberi dia ia satu gepok, lima juta, tapi dia menolaknya, walau kondisinya sudah sangat rpihatin seperti itu. Dia berkata, yang dia butuhkan saat itu adalah pekerjaan, agar dia memiliki penghasilan tetap. Karena itu, Papa memutuskan untuk mengajak Dik Alex ke sini.”
Lalu, di pagi menjelang siang ini, mereka benar-benar sedang memanfaat suasana sepi itu untuk saling memanjakan bi**hi satu sama lain. Ambar memasrahkan semuanya kepada Kulman, dan Kulman ingin memberikan sesuatu yang tidak akan pernah Ambar dapatkan dari suaminya. Hunjaman dan gempuran yang dilakukan oleh Kulman benar-benar membuat Ambar sangat menikmatinya. Dinding-dinding lorong hangatnya yang dipenuhi saraf-saraf sensitif merespon dengan baik, sehingga membuatnya menjerit kecil namun kuat sebelum ia jatuh dengan posisi tengkvrap semabri menumpahkan cairan bening yang sangat membahagiakannya. Dan itu membuat kasur busa tipis menjadi basah. Namun mereka tak pedulikan itu. Kebahagiaan yang Ambar tak berhenti sampai di situ. Sebab Kulman yang sedang on fire langsung mengejar. Pada posisi Ambar seperti itu pun ia langsung menghunjamkan mata bajaknya yang cukup panjang yang membuat leher dan wajah Ambar sontak terangkat. Suara jeritan dan racauan pun kembali terdengar d
Sebenarnya Mei ingin satu mobil dengan sang PIL-nya. Namun tentu tidak mungkin itu dilakukan, karena ia membawa mobil sendiri. Ia bersama Zara, sementara Alan bersama Rudi dan Hanif. Dan memang benarlah. Begitu ketiga mobil itu meninggalkan posko, kedua insan yang dimabuk cinta dan punya sifat sangat gandrung s3x itu langsung menutup pintunya. Kulman langsung membopong bini orang itu ke dalam kamar cowok. Memang semalam mereka uring-uringan nyaris tak bisa tidur karena gairah tinggi mereka tak bisa tersalurkan. Zara ikut-ikutan tidur di luar, di dekat Ambar, dengan alasan dalam kamar katanya agak gerah. Karena itu, ketika posko dalam kondisi kosong seperti itu, mereka akan memanfaatkannya dengan sebaik-sebaiknya. Seperti batin Alex. Keduanya benar-benar sama-sama berkebutuhan besar untuk saling memeberikan kebahagiaan tertinggi di ranjang itu. Jika Kulman lebih tinggi lagi desakan lib*donya karena memang masih laki-laki muda dan lajang, itu wajar. Tetapi Ambar yang suda
Ketika Pak Kadus Hasan sudah berada kembali di rumahnya, Alex dan ketujuh temannya langsung menghadap ke rumah beliau. Selain Pak Kadus Hasan, di sana juga hadir Dik Muhlis, ketua panitia hajatan, Bu Galuh, Bu Kadus, Bu Ema, dan beberapa ketua seksi acara. Pak Alwi belum pulang dari desanya. “Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.” Salam Alex langsung dijawab oleh semuanya. “Pak Kadus, Bu Kadus, Bu Galuh, Dik Muhlis, Kang Asep, dan semua hadiri di sini pada sore hari ini yang kami hormati. Dalam kesempatan ini, kami selaku anggota kelompok KKN, ingin menyampaikan satu atau dua hal. Yang pertama, adalah kami ingin menyerahkan sumbangan kami untuk mendukung acara hajatan ini, terutama khusus untuk membeli seekor sapi untuk dipotong.” Mendengar itu langsung disambut dengan ucapan hamdallah dari semuanya. “Semalam Dik Muhlis dan Kang Asep, ya? Pemilik sapi.” “Iya, Kak.” “Iya, semalam Dik Muhlis dan Kang Asep datang ke posko untuk memberitahukan, bahwa suda
Dan karena memang Tante Lena malam itu sedang sangat menginginkannya. Begitu punya suaminya tegak, maka ia langsung memosisikan diri di atas. Ia menikmatinya dengan sambil memejamkan matanya. Saat itu ia sedang membayangkan sedang bergumul dengan Alex, sang singa muda nan perkasa. Sehingga dalam waktu yang singkat ia mampu mencapai klimaks tepat pada saat suaminya, Om Garvin, juga mengalami hal yang sama. Jika dihitung, permainan itu tak lebih dari empat menit. Namun karena memang Tante Lena memang berhasil meningkatkan gairahnya melalui bayangan Alex yang ia hadirkan saat itu. Pemuda yang merupakan bodyguard dan sopir pribadinya itu adalah stimulus terbesar baginya. “Papa benar-benar luar biasa, karena selalu mampu memuaskan Mama,” puji Tante Lena sembari mengusap dada suaminya. Dada yang ditumbuhi bulu secuil. Tentu saja pujian itu hanya sekedar buat menyenangkan hati suaminya, Om Garvin. “Tapi maaf, Mam, Papa gak lagi mampu melayani Mama dalam waktu yang agak la
Keluar dari hotel mereka langsung meluncur ke sebuah bank yang kantornya tak jauh dari hotel itu. Alex bukan saja mengambil uang dalam jumlah yang cukup banyak, namun sekalian juga membukakan rekening Bu Galuh, karena wanita itu belum memiliki rekening. Dia pernah punya rekening buku tabungan, namun sudah lama tidak aktif setelah saldo rekeningnya habis. “Buku tabungan dan kartu ATM-nya disimpan baik-baik ya, Yang? Saldo rekeningnya ada dua puluh lima juta,” ucap Alex pada Bu Galuh ketika mereka sudah keluar dari kantor bank dan ada alam mobil. “Aku sangat gak enak hati, Sayang. Kamu baik sekali. Uangnya banyak sekali kasihnya.” “Buat kamu gak seberapalah. Dan ini simpan untuk pegang-pegang.” Alex memberikan lagi segepok uang pecahan lima puluh ribu Rupiah.” “Kok ditambah, Sayang?” “Itu kan uang tunai buat pegang-pegang. Tapi kan usahakan jangan sampai Pak Alwi tahu. Takutnya beliau curiga lagi.” “Iya, Sayang. Sekali lagi terima kasih, ya?” “Y
Setelah berurusan dengan resepsionis, Alex langsung mengajak Bu Galuh ke lantai atas. Mereka kembali melalui ruang lift. Kamar yang mereka sewa berada di lantai empat. Mereka memasuki kamar itu dan menguncinya dari dalam. Saat Bu Galuh berdiri memandangi semua interior kamar yang tampak mewah itu, tiba-tiba tangan Alex meraih pinggangnya dan langsung mendaratkan ciuman yang sudah langsung panas. Dan yang dirasakan oelh Bu Galuh berikutnya adalah bibir Alex yang begitu beringas dan panas. “Uh uh uh ….” Bu Galuh menjadi tergagap sesaat, sebelum membalas dengan intensitas yang juga langsung meninggi. Apa yang ditahannya dalam perjalanan, langsung ditumpahkannya. Tidak ada lagi yang ia malukan saat itu. Toh hanya mereka berdua yang ada dalam kamar itu. Bahkan tidak hanya puas dengan menggasak bibir Alex, namun suka serangannya turun ke bawah ke lehernya pemuda itu. “Ah uhh….” Gantian Alex yang dibuat gelagapan. Apa yang dilakukan oleh Bu G







