LOGINKetukan di pintu kamar mandi membuat Alex mematikan kegiatan mandinya sembari mematikan shower.
“Iya, sebentar...!” sahutnya dengan suara sedikit dinaikkan.
“Pakaian pengganti Mas Alex ada di atas tempat tidur. Tuan Besar berpesan, jika Mas Alex sudah siap, Tuan Besar dan Madam menunggu di ruang makan.”
“Oh iya, baiklah, terima kasih, Sis.”
Keluar dari kamar mandi Alex melihat setumpuk pakaian pengganti yang diletakkan di atas tempat tidur yang terdiri dari beberapa celana blue jean’s, baju hem, beberapa lembar celana cargo pendek, dan beberapa lembar baju kaos berkerah dengan brand ternama. Tentu itu pakaian-pakaian bekas dari Om Garvin, tapi kondisinya yang masih sangat layak. Namanya saja pakaiannya orang kaya raya. Dan ukurannya semuanya pas saja dengan tubuhnya. Kecuali celana jean’s-nya yang kurang panjang. Jadi ia memilih untuk memakai baju kaos berkerah dan celana cargo. Setelah itu ia turun ke bawah.
Melihat kemunculannya dengan penampilan yang jauh berbeda, baik Om Garvin maupun Madam Lena, sama-sama menunjukkan ekspresi kaget dan sedikit tertegun. Saat itu keduanya sudah duduk menunggunya di meja makan yang luas dan mewah di ruang tengah.
“Lh, ini kamu Dik Alex ...?” tanya Madam Lena seolah-olah ingin memastikan ketidakpercayaan pada penglihatannya sendiri terhadap pemuda itu.
“I-iya, Madam, saya Alex,” jawab Alex terbata-bata dengan kepala agak menunduk dan kedua tangan disilangkan di depan perutnya.
“Oh my God, sampai pangling saya, Dik Alex. Kamu ini mirip seorang akt ....”
Om Garvin tak melanjutkan ucapannya, karena salah seorang asisten rumah tangga yang saat itu datang untuk membawa masakan dari ruang dapur berkata, “Lho, bukankan jenengan ini Mas Alexander Diaz?”
Alex tentu saja tidak begitu kaget ketika wanita sang asisten rumah tangga itu mengenalnya. Tapi sebelum ia mengiyakan, Madam Lena lebih dulu bertanya kepada si asisten rumah tangganya itu.
“Sis Frida kenal dengan Dik Alex ini?”
“Ya, tentu saja kenal, Madam. Mas Alexander ini ini seorang aktor pembantu kawakan. Dia juga seorang DJ yang cukup ternama lho, Madam. Ya kan, Mas Alex?”
“Benar begitu, Dik Alex?”
“I-iya benar, Madam. Tapi itu dulu, sebelum reformasi,” jawab Alex.
Ya, nama lengkap Alex memang Alexander Diaz. Ia kadang dipanggil Alex, kadang juga dipanggil Diaz. Posturnya kekar dengan tinggi badan 188 cm, dan berat badan 75 kg. Bentuk fisiknya itu warisan dari nenek moyangnya yang berbangsa Eropa. Ia adalah blasteran Timor-Portugis (portu)-Arab. Untuk wajah, ia memiliki wajah yang tampan dan kebule-bulean dengan bola mata yang agak kecoklatan.
Alex datang ke Jakarta ini pada tahun 1989. Di Jakarta ia tidak memiliki siapa-siapa, benar-benar hidup sebatang kara. Ia memperjuangkan nasibnya murni oleh dirinya sendiri. Ia melakukan pekerjaan apa saja demi untuk agar saya tetap bisa bernafas dan menikmati hidup. Ia memiliki prinsip tidak mau bergantung pada siapa pun, apalagi membebani orang lain. Ya, ia harus menggunakan kekuatan otak, ketrampilan, serta kemampuannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan dirinya.
Dulu, ia memang pernah terjun di dunia entertainment. Terutama di dunia hiburan malam dan perfilman. Ia mantan seorang DJ yang cukup ternama kala itu, dan bekerja di banyak nite club. Dan di lain waktu, jika bosan di dugem, ia akan meliburkan diri sembari menerima tawaran untuk bermain film.
Entah sudah berapa film yang ia perani, dan entah di beberapa Nite Club yang menggunakan kepiawiannya sebagai seorang DJ, serta entah sudah berapa kelezatan duniawi yang telah ia rengkuh dan nikmati. Sampai akhirnya semuanya dihentikan oleh situasi dan kondisi yang tak mampu dilawan oleh siapa pun saat itu: Krisis Moneter! Suatu krisis yang tergolong parah, yang pemicu utama krisis moneter Indonesia di tahun 1997-1998 itu adalah utang luar negeri swasta yang membengkak, nilai tukar Rupiah yang terlalu tinggi (overvalued), kelemahan sistem perbankan, dan ketergantungan pada modal asing, yang juga diperburuk oleh kebijakan pemerintah yang lamban dan kurang transparan, serta ketidakstabilan politik dan krisis kepercayaan pasar, sehingga juga memicu penarikan modal besar-besaran, yang berujung melemahnya nilai Rupiah yang drastis hampir di seluruh kawasan Asia.
Ya, semua terpuruk, termasuk nasib Alex. Ia terpuruk dan frustasi. Lalu negeri ini tiba-tiba dihantam gelombang revolusi rakyat yang berstempel “Reformasi Damai”. Sebuah gerakan massa mahasiawa dan rakyat yang mengakhiri kekuasan rezim orba yang demikian perkasanya kala itu.
Pasca reformasi, keadaan bukannya membaik, malah sebaliknya. Indonesia makin terpuruk, keadaan kian centang-perenang di segala bidang kehidupan dan kenegaraan. Ekonomi ambuk seambruk-ambruknya. Negeri mengalami krisis moneter yang sangat parah. Mungkin terparah sejak negeri ini diproklamasikan. Terparah karena sebelumnya kondisinya demikian stabil dan bahkan kita sedang berada di ujung landasan untuk siap tinggal landas.
Dan, keterpurukan itu tentu berimbas pula kepada kehidupan Alex. Padahal sebelumnya kondisi ekonomi dan kehidupannya cukup jaya, bahkan suka menerapkan gaya hidup mewah dan boros. Ketika dihantam oleh kondisi krisis yang berlangsung cepat seperti itu, menjadikannya langsung terpuruk dan juga jatuh. Semua harta lenyap. Bahkan semua pekerjaannya pun raib. Banyak perusahaan yang gulung tikar, kolaps.
Kondisi itu seolah menyadarkan Alex, bahwa gaya hidup mewah dan boros itu kelak bisa menjadi bumerang bagi siapa pun jika sewaktu-waktu kondisi negeri memburuk seperti yang pernah terjadi di Indonesia dulu. Kemewahan dan hingar binggar dunia gemerlap jadi raib. Bahkan sahabat hilang satu persatu dari kehidupan, apalagi hanya sekedar fans atau penggemar. Hidup nafsi-nafsi langsung ia rasakan akhirnya.
Beberapa bulan pasca reformasi dan pergantian rezim, keuangannya memang masih lumayan tangguh, karena ia masih memiliki barang-barang berharga berupa perhiasan, koleksi cincin dan kalung emas, mobil, serta sepeda motor. Ia bisa tinggal berpindah-pindah dari apartemen yang satu ke apartemen yang lain, karena tidak betah untuk tinggal di satu tempat dan situasi.
Namun, setelah sikon negeri berubah berubah demikian drastisnya, satu persatu barang-barang itu saya jual. Sebagian untuk ongkos hidup dan gaya hidup yang belum redup, tentunya.
Ketika barang terakhir yang ia punya, yaitu sebuah sepeda motor, ia jual juga. Justru itu petaka mulai menyapanya. Untung tak bisa diraih, justru nahas yang mengintai. Ketika ia keluar dari diler itu dan ia sedang menunggu bis kota di pinggir trotoar, tiba-tiba ada sebuah sepeda motor yang ditumpangi oleh dua orang pemuda melaju dengan sangat kencang, dan langsung menarik tas dada yang berisi uang hasil penjualan sepeda motornya.
Untungnya ia masih memiliki sedikit uang yang ia simpan di saku depan celana blue jean’s-nya. Ia balik ke apartemen untuk mengambil semua barangnya. Ia berpikir cepat. Nyaris semua pakaiannya yang dalam tas jual di sebuah pasar pakaian bekas di daerah Jakarta Barat. Pakaian yang dulu ia beli mahal-mahal karena bermerek itu terjual menurut harga yang ditawarkan oleh sang pembelinya. Ia hanya menyisakan beberapa lembar pakaian pengganti saja. Bahkan tasnya ia jual juga. Untuk beberapa hari ia menumpang di kontrakan temannya.
Lalu, di pagi menjelang siang ini, mereka benar-benar sedang memanfaat suasana sepi itu untuk saling memanjakan bi**hi satu sama lain. Ambar memasrahkan semuanya kepada Kulman, dan Kulman ingin memberikan sesuatu yang tidak akan pernah Ambar dapatkan dari suaminya. Hunjaman dan gempuran yang dilakukan oleh Kulman benar-benar membuat Ambar sangat menikmatinya. Dinding-dinding lorong hangatnya yang dipenuhi saraf-saraf sensitif merespon dengan baik, sehingga membuatnya menjerit kecil namun kuat sebelum ia jatuh dengan posisi tengkvrap semabri menumpahkan cairan bening yang sangat membahagiakannya. Dan itu membuat kasur busa tipis menjadi basah. Namun mereka tak pedulikan itu. Kebahagiaan yang Ambar tak berhenti sampai di situ. Sebab Kulman yang sedang on fire langsung mengejar. Pada posisi Ambar seperti itu pun ia langsung menghunjamkan mata bajaknya yang cukup panjang yang membuat leher dan wajah Ambar sontak terangkat. Suara jeritan dan racauan pun kembali terdengar d
Sebenarnya Mei ingin satu mobil dengan sang PIL-nya. Namun tentu tidak mungkin itu dilakukan, karena ia membawa mobil sendiri. Ia bersama Zara, sementara Alan bersama Rudi dan Hanif. Dan memang benarlah. Begitu ketiga mobil itu meninggalkan posko, kedua insan yang dimabuk cinta dan punya sifat sangat gandrung s3x itu langsung menutup pintunya. Kulman langsung membopong bini orang itu ke dalam kamar cowok. Memang semalam mereka uring-uringan nyaris tak bisa tidur karena gairah tinggi mereka tak bisa tersalurkan. Zara ikut-ikutan tidur di luar, di dekat Ambar, dengan alasan dalam kamar katanya agak gerah. Karena itu, ketika posko dalam kondisi kosong seperti itu, mereka akan memanfaatkannya dengan sebaik-sebaiknya. Seperti batin Alex. Keduanya benar-benar sama-sama berkebutuhan besar untuk saling memeberikan kebahagiaan tertinggi di ranjang itu. Jika Kulman lebih tinggi lagi desakan lib*donya karena memang masih laki-laki muda dan lajang, itu wajar. Tetapi Ambar yang suda
Ketika Pak Kadus Hasan sudah berada kembali di rumahnya, Alex dan ketujuh temannya langsung menghadap ke rumah beliau. Selain Pak Kadus Hasan, di sana juga hadir Dik Muhlis, ketua panitia hajatan, Bu Galuh, Bu Kadus, Bu Ema, dan beberapa ketua seksi acara. Pak Alwi belum pulang dari desanya. “Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.” Salam Alex langsung dijawab oleh semuanya. “Pak Kadus, Bu Kadus, Bu Galuh, Dik Muhlis, Kang Asep, dan semua hadiri di sini pada sore hari ini yang kami hormati. Dalam kesempatan ini, kami selaku anggota kelompok KKN, ingin menyampaikan satu atau dua hal. Yang pertama, adalah kami ingin menyerahkan sumbangan kami untuk mendukung acara hajatan ini, terutama khusus untuk membeli seekor sapi untuk dipotong.” Mendengar itu langsung disambut dengan ucapan hamdallah dari semuanya. “Semalam Dik Muhlis dan Kang Asep, ya? Pemilik sapi.” “Iya, Kak.” “Iya, semalam Dik Muhlis dan Kang Asep datang ke posko untuk memberitahukan, bahwa suda
Dan karena memang Tante Lena malam itu sedang sangat menginginkannya. Begitu punya suaminya tegak, maka ia langsung memosisikan diri di atas. Ia menikmatinya dengan sambil memejamkan matanya. Saat itu ia sedang membayangkan sedang bergumul dengan Alex, sang singa muda nan perkasa. Sehingga dalam waktu yang singkat ia mampu mencapai klimaks tepat pada saat suaminya, Om Garvin, juga mengalami hal yang sama. Jika dihitung, permainan itu tak lebih dari empat menit. Namun karena memang Tante Lena memang berhasil meningkatkan gairahnya melalui bayangan Alex yang ia hadirkan saat itu. Pemuda yang merupakan bodyguard dan sopir pribadinya itu adalah stimulus terbesar baginya. “Papa benar-benar luar biasa, karena selalu mampu memuaskan Mama,” puji Tante Lena sembari mengusap dada suaminya. Dada yang ditumbuhi bulu secuil. Tentu saja pujian itu hanya sekedar buat menyenangkan hati suaminya, Om Garvin. “Tapi maaf, Mam, Papa gak lagi mampu melayani Mama dalam waktu yang agak la
Keluar dari hotel mereka langsung meluncur ke sebuah bank yang kantornya tak jauh dari hotel itu. Alex bukan saja mengambil uang dalam jumlah yang cukup banyak, namun sekalian juga membukakan rekening Bu Galuh, karena wanita itu belum memiliki rekening. Dia pernah punya rekening buku tabungan, namun sudah lama tidak aktif setelah saldo rekeningnya habis. “Buku tabungan dan kartu ATM-nya disimpan baik-baik ya, Yang? Saldo rekeningnya ada dua puluh lima juta,” ucap Alex pada Bu Galuh ketika mereka sudah keluar dari kantor bank dan ada alam mobil. “Aku sangat gak enak hati, Sayang. Kamu baik sekali. Uangnya banyak sekali kasihnya.” “Buat kamu gak seberapalah. Dan ini simpan untuk pegang-pegang.” Alex memberikan lagi segepok uang pecahan lima puluh ribu Rupiah.” “Kok ditambah, Sayang?” “Itu kan uang tunai buat pegang-pegang. Tapi kan usahakan jangan sampai Pak Alwi tahu. Takutnya beliau curiga lagi.” “Iya, Sayang. Sekali lagi terima kasih, ya?” “Y
Setelah berurusan dengan resepsionis, Alex langsung mengajak Bu Galuh ke lantai atas. Mereka kembali melalui ruang lift. Kamar yang mereka sewa berada di lantai empat. Mereka memasuki kamar itu dan menguncinya dari dalam. Saat Bu Galuh berdiri memandangi semua interior kamar yang tampak mewah itu, tiba-tiba tangan Alex meraih pinggangnya dan langsung mendaratkan ciuman yang sudah langsung panas. Dan yang dirasakan oelh Bu Galuh berikutnya adalah bibir Alex yang begitu beringas dan panas. “Uh uh uh ….” Bu Galuh menjadi tergagap sesaat, sebelum membalas dengan intensitas yang juga langsung meninggi. Apa yang ditahannya dalam perjalanan, langsung ditumpahkannya. Tidak ada lagi yang ia malukan saat itu. Toh hanya mereka berdua yang ada dalam kamar itu. Bahkan tidak hanya puas dengan menggasak bibir Alex, namun suka serangannya turun ke bawah ke lehernya pemuda itu. “Ah uhh….” Gantian Alex yang dibuat gelagapan. Apa yang dilakukan oleh Bu G







