Share

PART 04

Author: Aura Kisah
last update Last Updated: 2026-01-05 16:56:07

Ketukan di pintu kamar mandi membuat Alex mematikan kegiatan mandinya sembari mematikan shower.

     “Iya, sebentar...!” sahutnya dengan suara sedikit dinaikkan.

     “Pakaian pengganti Mas Alex  ada di atas tempat tidur. Tuan Besar berpesan, jika Mas Alex sudah siap, Tuan Besar dan Madam menunggu di ruang makan.”

       “Oh iya, baiklah, terima kasih, Sis.”

        Keluar dari kamar mandi Alex melihat setumpuk pakaian pengganti yang diletakkan di atas tempat tidur yang terdiri dari beberapa celana blue jean’s, baju hem, beberapa lembar celana cargo pendek, dan beberapa lembar baju kaos berkerah dengan brand ternama. Tentu itu pakaian-pakaian bekas dari Om Garvin, tapi kondisinya yang masih sangat layak. Namanya saja pakaiannya orang kaya raya. Dan ukurannya semuanya pas saja dengan tubuhnya. Kecuali celana jean’s-nya yang kurang panjang. Jadi ia memilih untuk memakai baju kaos berkerah dan celana cargo. Setelah itu ia turun ke bawah.

        Melihat kemunculannya dengan penampilan yang jauh berbeda, baik Om Garvin maupun Madam Lena, sama-sama menunjukkan ekspresi  kaget dan sedikit tertegun. Saat itu keduanya sudah duduk menunggunya di meja makan yang luas dan mewah di ruang tengah.

         “Lh, ini kamu Dik Alex ...?” tanya Madam Lena  seolah-olah ingin memastikan ketidakpercayaan pada penglihatannya sendiri terhadap pemuda itu.

         “I-iya, Madam, saya Alex,” jawab Alex terbata-bata dengan kepala agak menunduk dan kedua tangan disilangkan di depan perutnya.

         “Oh my God, sampai pangling saya, Dik Alex. Kamu ini mirip seorang akt ....”

        Om Garvin tak melanjutkan ucapannya, karena salah seorang asisten rumah tangga yang saat itu datang untuk membawa masakan dari ruang dapur berkata, “Lho, bukankan jenengan ini Mas Alexander Diaz?”

        Alex tentu saja tidak begitu kaget ketika wanita sang asisten rumah tangga itu mengenalnya. Tapi sebelum ia mengiyakan, Madam Lena lebih dulu bertanya kepada si asisten rumah tangganya itu.

       “Sis Frida kenal dengan Dik Alex ini?”

       “Ya, tentu saja kenal, Madam. Mas Alexander ini ini seorang aktor pembantu kawakan. Dia juga seorang DJ yang cukup ternama lho, Madam. Ya kan, Mas Alex?”

        “Benar begitu, Dik Alex?”

        “I-iya benar, Madam. Tapi itu dulu, sebelum reformasi,” jawab Alex.

         Ya, nama lengkap Alex memang Alexander Diaz. Ia kadang dipanggil Alex, kadang juga dipanggil Diaz. Posturnya kekar dengan tinggi badan  188 cm, dan berat badan 75 kg. Bentuk fisiknya itu warisan dari nenek moyangnya yang berbangsa Eropa. Ia adalah blasteran Timor-Portugis (portu)-Arab. Untuk wajah, ia memiliki wajah yang tampan dan kebule-bulean dengan bola mata yang agak kecoklatan.

        Alex datang ke Jakarta ini pada tahun 1989. Di Jakarta ia tidak memiliki siapa-siapa, benar-benar hidup sebatang kara. Ia memperjuangkan nasibnya  murni oleh dirinya sendiri. Ia melakukan pekerjaan apa saja demi untuk agar saya tetap bisa bernafas dan menikmati hidup. Ia memiliki prinsip tidak  mau bergantung pada siapa pun, apalagi membebani orang lain. Ya, ia harus menggunakan kekuatan otak, ketrampilan, serta kemampuannya sendiri untuk memenuhi kebutuhan dirinya.

        Dulu, ia memang pernah terjun di dunia entertainment. Terutama di dunia hiburan malam dan perfilman. Ia mantan seorang DJ yang cukup ternama kala itu, dan bekerja di banyak nite club. Dan di lain waktu, jika bosan di dugem, ia akan meliburkan diri sembari menerima tawaran untuk bermain film.

         Entah sudah berapa film yang ia perani, dan entah di beberapa Nite Club yang menggunakan kepiawiannya sebagai seorang DJ, serta entah sudah berapa kelezatan duniawi yang telah ia rengkuh dan nikmati. Sampai akhirnya semuanya dihentikan oleh situasi dan kondisi yang tak mampu dilawan oleh siapa pun saat itu: Krisis Moneter! Suatu krisis yang tergolong parah, yang pemicu utama krisis moneter Indonesia di tahun 1997-1998 itu adalah utang luar negeri swasta yang membengkak, nilai tukar Rupiah yang terlalu tinggi (overvalued), kelemahan sistem perbankan, dan ketergantungan pada modal asing, yang juga diperburuk oleh kebijakan pemerintah yang lamban dan kurang transparan, serta ketidakstabilan politik dan krisis kepercayaan pasar, sehingga  juga memicu penarikan modal besar-besaran, yang berujung melemahnya nilai Rupiah yang drastis hampir di seluruh kawasan Asia.

        Ya, semua terpuruk, termasuk nasib Alex. Ia terpuruk dan frustasi.  Lalu negeri ini tiba-tiba dihantam gelombang revolusi rakyat yang berstempel “Reformasi Damai”.  Sebuah gerakan massa mahasiawa dan rakyat yang mengakhiri kekuasan rezim orba yang demikian perkasanya kala itu.

        Pasca reformasi, keadaan bukannya membaik, malah sebaliknya. Indonesia makin terpuruk, keadaan  kian centang-perenang di segala bidang kehidupan dan kenegaraan.  Ekonomi ambuk seambruk-ambruknya. Negeri mengalami krisis moneter yang sangat parah. Mungkin terparah sejak negeri ini diproklamasikan. Terparah karena sebelumnya kondisinya demikian stabil dan bahkan kita sedang berada di ujung landasan untuk siap tinggal landas.

        Dan, keterpurukan itu tentu berimbas pula kepada kehidupan Alex. Padahal sebelumnya kondisi ekonomi dan kehidupannya  cukup jaya, bahkan suka menerapkan gaya hidup mewah dan boros. Ketika dihantam oleh kondisi krisis yang berlangsung cepat seperti itu, menjadikannya langsung terpuruk dan juga jatuh. Semua harta lenyap. Bahkan semua pekerjaannya pun raib. Banyak perusahaan yang gulung tikar, kolaps.

       Kondisi itu seolah menyadarkan Alex,  bahwa gaya hidup mewah dan boros itu kelak bisa menjadi bumerang bagi siapa pun jika sewaktu-waktu kondisi negeri memburuk seperti yang pernah terjadi di Indonesia dulu. Kemewahan dan hingar binggar dunia gemerlap jadi raib. Bahkan sahabat hilang satu persatu dari kehidupan, apalagi hanya sekedar fans atau penggemar. Hidup nafsi-nafsi langsung ia rasakan akhirnya.

        Beberapa bulan pasca reformasi dan pergantian rezim, keuangannya memang masih lumayan tangguh, karena ia masih memiliki barang-barang berharga berupa perhiasan, koleksi cincin dan kalung emas, mobil, serta sepeda motor. Ia bisa tinggal berpindah-pindah dari apartemen yang satu ke apartemen yang lain,  karena tidak betah untuk tinggal di satu tempat dan situasi.

         Namun, setelah sikon negeri berubah berubah demikian drastisnya,   satu persatu barang-barang itu saya jual. Sebagian untuk ongkos hidup dan gaya hidup yang belum redup, tentunya.

        Ketika barang terakhir yang ia punya, yaitu sebuah sepeda motor, ia jual juga. Justru itu petaka mulai menyapanya. Untung tak bisa diraih, justru nahas yang mengintai. Ketika ia  keluar dari diler itu dan ia  sedang menunggu bis kota di pinggir trotoar, tiba-tiba ada sebuah sepeda motor yang ditumpangi oleh dua orang pemuda melaju dengan sangat kencang, dan langsung  menarik tas dada yang berisi uang hasil penjualan sepeda motornya.

    Untungnya ia masih memiliki sedikit uang yang ia simpan di saku depan celana blue jean’s-nya. Ia balik ke apartemen untuk mengambil semua barangnya.  Ia berpikir cepat. Nyaris semua pakaiannya yang dalam tas jual di sebuah pasar pakaian bekas di daerah Jakarta Barat.  Pakaian yang dulu ia beli mahal-mahal karena  bermerek itu terjual menurut harga yang ditawarkan oleh sang pembelinya. Ia  hanya menyisakan beberapa lembar pakaian pengganti saja. Bahkan tasnya ia jual juga. Untuk beberapa hari ia menumpang di kontrakan temannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 09

    Alex tentu bisa sangat merasakan perubahan intensitas perhatian Madam Lena terhadapnya. Ya, bayangkan dalam urusan makan pun, seperti yang dikatakan di atas, ia diistimewakan. Ia selalu ikut makan bersama Madam Lena dan keluarganya di meja makan mereka. Mbak Olive juga sangat baik dan perhatuab terhadapnya. Alex dan sang janda kembang itu suka curhatan, baik melalui chatting, maupun secara langsung dengan bertemu langsung. Bahkan wanita itu terkadang suka datang ke kemarnya Alex. Sebenarnya, Mbak Olive memiliki rumah sendiri, tapi katanya ia tak betah di rumahnya setelah suaminya meninggal, dan ia lantas memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya itu. Di samping cantik, memiliki bodi yang aduhai, serta memiliki daya pesona yang tinggi, Mbak Olive adalah wanita yang sangat baik dan ramah, terutama terhadap Alex. Ia memperlakukan Alex di rumah itu bak seorang anggota keluarganya. Alex pun merasa, bahwa ia benar-benar diperlakukan sangat beda dengan pegaw

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 08

    Madam Lena berpesan kepada pegawai salon, seorang pria muda, agar menyesuaikan model rambutnya dengan tampil fisik dan model wajah sang bodyguard-nya itu. “Baik, Bu,” sahut pegawai salon itu, lalu membawa masuk Alex ke ruang dalam. Kurang lebih satu jam Madam Lena menunggu di ruang tunggu salon. Ia ingin sebuah kejutan. Dan dia benar-benar mendapatkan sebuah kejutan itu. Saat Alex muncul dari balik ruangan salon yang dibatasi dengan kain korden, Madam Lena nyaris tak percaya dengan penglihatannya. Dengan penampilan baru, rambut dipotong cepak ala pria-pria dari Asia Timur tampak sangat serasi dan makin maskulin dengan tampilan Alex saat itu. Alex benar-benar telah menjelma sebagai seorang pria yang benar-benar tampan dan berwibawa. Ditambah lagi dengan kacamata hitam yang dikenakannya. Ternyata kaca mata hitam itu diberikan oleh pihak salon untuk menambah elegansi penampilan sang customer tampan mereka, dan harganya digabungkan dengan biaya tata rambutny

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 07

    “Ooh, jadi yang keturunan Portugis itu dari pihak ayah Dik Alex, ya?” tanya Madam Lena ketika Alex mengantarkannya ke suatu tempat. Tapi saat itu mereka mampir ke sebuah restoran untuk makan malam dulu. Alex sebenarnya melaksanakan tugasnya saja untuk menjaga sang majikan. Tetapi Madam Lena memintanya untuk menemaninya makan sembari mengobrol. Saat itu adalah untuk pertama kalianya Alex mengantar dan mengawal sang majikan perempuannya. “Benar, Madam. Kalau dari jalus ibu, beliau campuran Oesusse-Arab.” “Jadi, Dik Alex ini blasteran dari tiga ras, ya?” “Benar sekali, Madam.” “Tapi wajah dan postur kamu masik menyimpan sosok Eropa, kebule-bulean, dan juga tampan,” puji Madam Lena lagi dengan tanpa ekpresi dan tanpa melihat ke wajah Alex, karena saat itu beliau sembari mengiris daging di piringnya sebelumnya memasukkan di mulutnya dengan garpu. Alex hanya tertawa tanpa suara, lalu menjawab, “Terima kasih, Madam.” “Oh ya, kemarin Dik Alex tamatan

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 06

    Mendengar cerita suaminya, Madam Lena pun mengucapkabn teruima kasih yang sebesar-besarnya atas apa yang telah ia lakukan untuk suaminya, Om Garvin. “Sama-sama, Madam. Tetapi hal-hal seperti itu kewajiban hidup sesama manusia saja, Madam.” “Tidak semua, Dik Alex. Yang bisa melakukan hal seperti itu hanya orang-orang uang punya kemampuan saja. Saya juga memaminta maaf karena pas melihat Dik Alex pertama kali tadi saya merasa risih melihat Dik Alex. Namun setelah mendengar cerita Om dan ceritamu, saya justru menjadi sangat salut dan berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dik Alex. Ah, saya tidak bisa membayangkan, bagaimana nasib suami saya jika tak ada Dik Alex di tempat itu.” “Itu sikap yang wajar, saya kira, Madam. Tak seorang pun di dunia ini menerima tamu dalam kondisi kumal seperti saya tadi, hehehe,” jawab Alex. “Dan ...tentang peristiwa yang dihadapi oleh Om tadi, tentu bukan hal yang kebetulan. Kata seorang ustad yang pernah saya dengar, semua

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 05

    Selanjutnya Alex berusaha mencari pekerjaan. Namun dari sekian banyak perusahaan yang didatanginya, semuanya menyatakan belum ada lowongan. Ia selanjutnya berjalan tanpa arah, hanya mengikuti ke mana kakinya melangkah untuk membawa tubuhnya. Yang ia pikirkan ketika itu adalah mendapatkan suatu pekerjaan agar bisa tetap menyambung hidup. Ya mungkin sebagai tukang parkir, tukang bangunan, buruh pasar, atau apalah. Tapi beberapa pasar dan proyek yang is datangi tak ada yang siap memperkerjakannys. Mereka mengamati seluruh wujudnya, mulai kaki hingga ke wajah, seolah-olah ia itu barang yang hendak mereka beli, sebelum berkata, “Ah, mana mungkin lu bisa bekerja kasar seperti ini? Kulit dan tampang lu saja mirip bintang pilem gitu!” Alasan yang lucu sebenarnya. Alex berusaha mencoba meyakinkan mereka bahwa ia memang lagi butuh pekerjaan, tapi mereka tetap menolak. Ia mengangguk sebelum membalik badan dengan wajah lesu dan kecewa. Selalu saja seperti itu.

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 04

    Ketukan di pintu kamar mandi membuat Alex mematikan kegiatan mandinya sembari mematikan shower. “Iya, sebentar...!” sahutnya dengan suara sedikit dinaikkan. “Pakaian pengganti Mas Alex ada di atas tempat tidur. Tuan Besar berpesan, jika Mas Alex sudah siap, Tuan Besar dan Madam menunggu di ruang makan.” “Oh iya, baiklah, terima kasih, Sis.” Keluar dari kamar mandi Alex melihat setumpuk pakaian pengganti yang diletakkan di atas tempat tidur yang terdiri dari beberapa celana blue jean’s, baju hem, beberapa lembar celana cargo pendek, dan beberapa lembar baju kaos berkerah dengan brand ternama. Tentu itu pakaian-pakaian bekas dari Om Garvin, tapi kondisinya yang masih sangat layak. Namanya saja pakaiannya orang kaya raya. Dan ukurannya semuanya pas saja dengan tubuhnya. Kecuali celana jean’s-nya yang kurang panjang. Jadi ia memilih untuk memakai baju kaos berkerah dan celana cargo. Setelah itu ia turun ke bawah. Melihat kemunculannya dengan penampilan ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status