Share

PART 07

Author: Aura Kisah
last update publish date: 2026-01-07 01:10:35

    “Ooh, jadi yang keturunan Portugis itu dari pihak ayah Dik Alex, ya?” tanya Madam Lena ketika Alex mengantarkannya ke suatu tempat.  Tapi saat itu mereka mampir ke sebuah restoran untuk makan malam dulu. Alex sebenarnya melaksanakan tugasnya saja untuk menjaga sang majikan. Tetapi Madam Lena memintanya untuk menemaninya makan sembari mengobrol.

      Saat itu adalah untuk pertama kalianya Alex mengantar dan mengawal sang majikan perempuannya.

      “Benar, Madam. Kalau dari jalus ibu, beliau campuran Oesusse-Arab.”

      “Jadi, Dik Alex ini blasteran dari tiga ras, ya?”

    “Benar sekali, Madam.”

    “Tapi wajah dan postur kamu masik menyimpan sosok Eropa, kebule-bulean, dan juga tampan,” puji Madam Lena lagi dengan tanpa ekpresi dan tanpa melihat ke wajah Alex, karena saat itu beliau sembari mengiris daging di piringnya sebelumnya memasukkan di mulutnya dengan garpu.

      Alex hanya tertawa tanpa suara, lalu menjawab, “Terima kasih, Madam.”

     “Oh ya, kemarin Dik Alex tamatan apa?”

     “Saya STM, Madam. Tetapi ketika saya kerja dulu, saya pernah sambilan kuliah. Kuliahnya sore hingga malam.”

     “Oh ya? Di mana?”

     “Di Jakarta juga, Madam.”

     “Sudah sampai pada semester berapa?”

     “Semester lima, Madam. Seharusnya sudah ada rencana KKN juga. Tetapi terpaksa saya berhenti karena sikon yang tidak mendukung.”

      “Sayang sekali itu, Lex. Artinya kamu sudah DO?”

     “Oh belum, Madam. Beberapa bulan yang lalu saya berkunjung ke kampus untuk melakukan heregistrasi, biar saya tidak DO. Hanya saja, saya memang setelah semester lima itu, saya tidak pernah ke kampus lagi. Dan kemungkinan memang saya akan DO jika tidak ikut semester bulan depan, atau tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban lain sebagai mahasiswa.”

     “Baiknya kamu lanjutkan kuliahnya, Lex. Kan bisa mengambil kuliah sore dan malam itu. Mungkin juga tidak setiap hari, kan? Umpama nanti pas kamu ada kuliah sementara saya ada acara di luar, saya bisa menggunakan sopir keluarga, Pak  Rudi atau Pak Jaja.”

    “Tidak, Madam.”

    “Iya coba kapan-kapan bereskan masalah kuliahmu. Soal biaya, kamu gak usah khawatir, biar itu dari saya. Kan sayang tuh, sudah semester lima ditinggal begitu saja.”

    “Baik, Madam.”

    “Hehehe, iysa, Madam. Makanya di kampung saya kadang masih dipanggil dengan Bule. Panggilan kecil, Madam.”

     “Oh ya, nama lengkap apa, Lex?”

    “Nama lengkapnya saya Alexander Diaz, Madam.”

    “Masih nama Eropa. Diaz itu pasti nama warisan, ya?”

    “Benar, Madam. Almarhum ayah saya namanya Diarte Antonio Diaz.”

     “Berarti Dik Alex bisa bahasa Portugal?”

     “Bisa secara pasif, Madam, hanya ngerti saja dikit-dikit, tapi gak berani untuk menggunakannya. Hehehe.”

     “Yang asli Portugis itu kakek dari ayahmu, ya?”

     “Bukan, Madam. Yang murni Portugis itu ayah dari kakek saya.”

      “Oh iya, ya. Kalau suami saya, Om Garvin, juga blasteran. Tapi dia blasteran Indo-Turki. Makanya namanya Garvin Omar Mesut.”

     “Oh pantesan. Om juga masih kental face Turki-nya. Menurun pada face-nya Mbak Olive.”

     “Iya benar.”

       Memang, wajah kebule-bulean itu ada pada wajahnya Mbak Olive. Dia wanita yang masih terlihat sangat cantik dengan postur yang tinggi singset. Bagian yang paling indah pada diri janda kembang ini adalah bagian pinggangnya besar dan pantanya yang bulat kencang. Namnya bodi yang dimiliki wanita yang bermata lebar ini warisan dari ibunya, Madam Lena. 

     Tiba-tiba Madam Lena bertanya, sejak kapan Alex memelihara rambutnya sehingga sangat panjang dan diikat rapi ke belakang.

    “Sudah lama, Madam. Ketika saya masih berkecimpung di dunia entertain. Sebenarnya saya mau motong, tapi belum juga ada kesempatan.”

    “Kalau kamu potong, kamu pasti terlihat lebih ganteng dan maskulin lagi, Lex.”

     “Hehehe, bisa jadi, Madam. Tapi memang sudah terasa bosan juga untuk terus bertahan dengan model rambut seperti ini.”

     “Ya kalau begitu dipotong saja, Lex.”

     “Siap, madam.”

      Mereka keluar dari rumah makan itu pukul setengah delapan malam. Madam meminta Alex untuk pergi ke sebuah mall di kawasan Senayan.

      “Siap, Madam.”

       Tentu saja Alex harus selalu siaga dan mengantar kemana pun sang majikan mau diantar, tanpa perlu bertanya.

      Mereka masuk ke sebuah supermall. Madam Lena langsung mengajak Alex ke bagian outfit. Alex pernah sekali datang ke tempat itu, hanya karena ingin jalan-jalan saja sembari membeli beberapa potong pakaian. Pakaian di tempat itu tentu punya brand level  dunia, yang tentu saja harganya sangat mahal.

     “Maaf, Madam mau membelikan pakaian Om?” tanya Alex memberanikan diri, karena saat itu Madam Lena mengajaknya ke bagian outfit khusus pria.

     “Tidak. Saya ingin membelikan kamu pakaian. Pilihkan beberapa stelan jas. Dik Alex akan memakai pakaian seperti itu jika mengantar saya ke suatu acara penting.”

     “Oh iya, Madam.”

     “Pilihlah tiga atau empat stel jas berikut celananya. Kemudian dasi, beberapa lembar kemeja, sepatu pantofel, ikat pinggang, dompet, termasuk juga pakaian untuk pakaian santai atau di luar kerja.”

     Tentu saja Alex tidak boleh menolak permintaan itu, karena itu untuk kepentingannya dalam bekerja.

    Karena ditemani oleh  Madam Lena, dan wanita itu bantu memilihkan pakaian yang dibutuhkan, Alex pun mengikuti semua yang dipilihkan oleh Madam Lena.

    “Tapi untuk stel jas dan celana ini coba kamu pakai. Lengkap saja dengan sepatu dan dasinya. Sementara pakaian yang kamu pakai sekarang di masukkan saja dengan tas plastik.”

     Sekali lagi Alex mengikuti permintaan itu, dan langsung masuk ke kamar pas.

     Hanya butuh waktu beberapa menit, Alex telah keluar dengan penampilan barunya, mengenakan stelah jas serta dasi.

    Penampilannya itu benar-benar membuat Madam Lena jadi tertegun sekaligus kagum. Dengan penampilannya seperti itu, Alex benar-benar makin tampan, gagah, dan maskulin.

    “Yuk, kita langsung ke kasir,” ucap Madam Lena sembari meraih lengan Alex, dan menggandengnya dengan lengannya.

    Alex sesaat sempat kaget dan gugup mendapat perlakuan seperti itu. Namun karena tidak ingin membuat kecewa sang majikan, ia pun membiarkan tangannya digandeng oleh lengannya Tante lena.

     Entah berapa pastinya Madam Lena membayar semua pakaiannya, karena juga membayarnya dengan menggunakan mata uang USD. Namun yang pasti, pastilah cukup besar nilainya.

    Dari kasir mereka langsung menuju ke salah satu cap salon yang ada di lantai itu. Ia memberi kesempatan kepada Alex untuk memangkas pendek rambutnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 87

    Zara sekali-sekali meraba bagian V-nya. Ia merasakan area itu makin tergenang dan mata tuas Alex keluar masuk dengan bebasnya. Hal itu membuat sensasi nikmat itu makin menjadi-jadi. Namun mereka harus tetap melakukannya dengan senyap dan hati-hati. Justru karena itu sensasinya terasa berlipat-lipat, dari ketika mereka melakukannya dalam kondisi normal, yang pernah mereka rasakan. Yang dirasakan oleh Zara saat itu adalah, bahwa hunjaman milik Alex terasa begitu dalam menembus r4h1mnya. Ia terus menikmatinya dengan mata terpejam. Terasa buah da**nya seakan mau tumpah keluar, terguncang-guncang karena sod*kan-sod*kan yang menggetarkan. Lama tak pernah lagi merasakan permainan seperti itu, menjadikannya kehausan dan sangat menikmatinya. Karena saking nikmatnya, ia pun menarik bagian bawah pinggang Alex agar menekan lebih kuat lagi. Dan … ia pun mencapai puncak kebahagiaan yang luar biasa. Ia merasakan org**me yang sangat lama sekali sembelum ia seperti terhempas dan lema

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 86

    Saat itu rasa takutnya tentang cerita dan bayangan hantu atau demit benar-benar sudah lenyap dalam pikirannya, karena telah digantikan oleh hentakan bi**hinya yang kian menguat. Dengan perasaan yang degdegan, Zara menggeser tubuhnya ke belakang secara pelan-pelan. Ketika tubuhnya sudah berdempetan dengan tubuhnya Alex, ia berhenti. Tidak ada reaksi. Jantungnya makin berdegup kencang bersama hentakan bi**hinya yang kian membuncah. Suhu tubuhnya pun terasa tinggi, bahkan mirip-mirip orang yang dendak demam. Karena dorongan l1b1d0nya yang seolah tak mampu ia bendung membuat tangannya bergerak ke belakang. Ia meraih tangan Alex, dan ia ingin memeluknya. Ternyata Alex merespon hal itu dengan memeluknya. Pemuda itu bukan saja sekedar memeluknya, namun tangannya langsung bertengger pada salah kedua bukit kembarnya. Tetapi hanya meletakkan saja tangannya di kedua area itu, namun tidak menggerakkannya. Padahal Zara sudah menunggu dengan perasaan degdegan akan tindakannya sela

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 85

    Malamnya Mei tetap menyempatkna diri untuk mengirim pesan SMS ke Alex. “Jadi kamu belum sempat ke rumah dulu?” tanya Alex, karena Mei memberitahu dia akan bermalam di rumah sakit. “Tidak. Paling besok aku ke rumah buat jenguk baby-ku. Baby kan memang tidak dianjurkan untuk dibawa ke rumah sakit, apalagi malam-malam.” “Trus suaminya jadi operasi besok pagi?” “Iya, jam sepuluh.” “Semoga operasinya lancar, ya?” “Aamiin.” Terasa sepi juga ternyata ketika Mei tak ada tidur di dekatnya. Tetapi tiba-tiba Zara membawa keluar kasur busa tipisnya dan menggelarnya di tempat yang biasa ditempat oleh Mei. “Pengen rasakan tidur di sini,” ucapnya, tanpa ditujukan khusus pada siapa pun. Saat itu Alex, Kulman, dan Ambar masih asyik dengan layar ponselnya masing-masing. Tapi Ambar yang menjawab, kalau ruang tamu sedikit lebih dingin suhunya daripada dalam kamar. “Iya kayaknya,” sahut Zara sembari menurut tubuhnya dengan selimutnya. Ia tak langsung tid

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 84

    Mungkin karena sudah tak mampu menanggung rasa n1km4t yang luar biasa itu, Alex langsung mendorong tubuh Bu Ema, sehingga wanita itu terjengkang ke belakang di atas kasur. Ia merenggangkan kedua kaki wanita itu, lalu selanjutnya wajahnya mendekat ke area istimewahnya, lalu memanjainya dengan lidah dan mulutnya. “Aaaaah ampun, Dik Aleeex, ini nikmat sekaliii aahs,” desis Bu Ema sembari memejamkan kedua matanya. Cara seperti itu belum Hasan. Lidahh kasar dan l14r Alex memanjai milik Bu Ema. Bagian-bagian tertentu dalam pintu gerbang itu tak liput dari sapuan lidahnya. Bu Ema benar-benar merasakan sensasi yang hebat. Seolah tanpa disadari, tangannya menyambar kepala si 0pemuda, dan jarinya meremasi kembali rambut Alex sambil mengerangg dan mendes4h gelisah dengan raga meliuk-liuk. Malam itu keduanya pun bertarung dengan garang dan berbagai posisi dan gaya bebas digunakan. Memang mereka hanya melakukannya sekali, namun kualitas hasilnya sebanding dengan berk

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 83

    Sesampai di rumah sakit, Pak Ustadz Abdullah dibawa ke ruang MCU untuk dilakukan medical general check-up. Setelah dilakukan pengecekan menyeluruh, dokter yang menangani memberikan keterangannya kepada pihak keluarga Pak Ustadz, bahwa pasien mengalami penurunan aliran darah ke otak, yang disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penurunan tekanan darah, kekurangan oksigen, serta masalah pada sistem jantung. “Kondisi ini bisa dipicu oleh stres emosional, dehidrasi, atau bahkan kondisi medis tertentu seperti masalah jantung atau diabetes,” ucap Pak Dokter lebih lanjut. “Apakah pasien pernah mengalami kondisi seperti ini sebelumnya? Beliau juga ada gejala diabetes.” “Benar, Dok, pernah. Tapi setelah siuman tidak ada keinginan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Padahal saya sudah mendorong hal itu,” jawab istri dari Pak Ustadz Abdullah, namanya Bu Alya. Dokter manggut-manggut lalu menyarankan agar dirawat inap dulu. “Biar kami bisa menanganinya secara intensi

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 82

    Malam itu, mereka tidur agak kemalaman. Bukan karena mengobrol hingga larut, namun setelah obrolan itu masing-masing lanjut untuk chat. Entah dengan keluarga mereka masing-masing. Aldi, Rudi, dan Zara akan kembali besok pagi. Dan seperti biasa, Alex, Mei, Kulman, dan Ambar tetap tidur di ruang tamu. Sementara Hanif tidur dalam kamar, seperti biasa. Kondisi kulman juga sudah mendingan. Sebelum tidur, Alex dan Mei sempat mengobrol sartu sama lain melalui chat. Namun selanjutnya mereka chat dengan keluarganya masing-masing. Mei mungkin dengan suaminya, sementara Alex dengan Tante Lena sebelum dengan Bu Galuh dan Bu Ema. Tante Lena chat hanya untuk mengungkapkan rasa kangen padanya, seperti biasanya. Sementara dengan Bu Ema dan Bu Galuhchat tak jauh-jauh dari urusan per-gen-j0tan. “Rasanya pengen sekali mengulanginya lagi sebelum Dik Alex dan teman-temannya kembali ke Jakarta,” tulis Bu Ema. “Akan aku usahakan waktunya ya, Yank? Kangen ya?” balas Alex. “Ban

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 31

    Dari kampus itu ia rencananya akan langsung pulang, menuju kediaman majikannya. Akan tetapi, ketika ia berbelok ke jalan yang menuju ke arah Slipi, dari kejauhan ia melihat mobil warna merah itu berhenti di sisi kiri jalan. Terlihat juga Nayla dan ibunya, Tante Ariani, sedang kebingunan. S

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 29

    Tante Luluk tersenyum senang lalu memasang kuda-kuda gaya seperti hendak merangkak. Alex berada di belakangnya. Itu adalah sebuah pemadangan yang sangat indah bagi Alex. Sebuah bok*ng yang putih bulat dan sekal. Saat ia tiba-tiba menampar bagian itu di kedua bagiannya, Tante Luluk langsung m

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 27

    Tak lama kemudian, Alex dan Tante Luluk pun telah melaju pelan di jalan yang padat. Sembari menikmati kemacetan itu, keduanya mengisinya dengan obrolan-obrolan ringan, sampai akhirnya Tante Luluk bertanya tentang yang diceritakan Alex yang beberapa malam yang lalu dan juga semalam. Semalam mema

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 26

    Hari itu, setelah dua hari dari kedatangannya yang pertama, Alex datang ke kampus untuk merampungkan urusan kuliahnya agar ia kembali sah menjadi mahasiswa di kampusnya. Ada sekitar seperempat jam ia berbicara dengan Bu Ismi BAAK. Maka urusan itu selesai. Ia juga sudah bisa dipers

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status