LOGINSaat itu adalah untuk pertama kalianya Alex mengantar dan mengawal sang majikan perempuannya.
“Benar, Madam. Kalau dari jalus ibu, beliau campuran Oesusse-Arab.”
“Jadi, Dik Alex ini blasteran dari tiga ras, ya?”
“Benar sekali, Madam.”
“Tapi wajah dan postur kamu masik menyimpan sosok Eropa, kebule-bulean, dan juga tampan,” puji Madam Lena lagi dengan tanpa ekpresi dan tanpa melihat ke wajah Alex, karena saat itu beliau sembari mengiris daging di piringnya sebelumnya memasukkan di mulutnya dengan garpu.
Alex hanya tertawa tanpa suara, lalu menjawab, “Terima kasih, Madam.”
“Oh ya, kemarin Dik Alex tamatan apa?”
“Saya STM, Madam. Tetapi ketika saya kerja dulu, saya pernah sambilan kuliah. Kuliahnya sore hingga malam.”
“Oh ya? Di mana?”
“Di Jakarta juga, Madam.”
“Sudah sampai pada semester berapa?”
“Semester lima, Madam. Seharusnya sudah ada rencana KKN juga. Tetapi terpaksa saya berhenti karena sikon yang tidak mendukung.”
“Sayang sekali itu, Lex. Artinya kamu sudah DO?”
“Oh belum, Madam. Beberapa bulan yang lalu saya berkunjung ke kampus untuk melakukan heregistrasi, biar saya tidak DO. Hanya saja, saya memang setelah semester lima itu, saya tidak pernah ke kampus lagi. Dan kemungkinan memang saya akan DO jika tidak ikut semester bulan depan, atau tidak melaksanakan kewajiban-kewajiban lain sebagai mahasiswa.”
“Baiknya kamu lanjutkan kuliahnya, Lex. Kan bisa mengambil kuliah sore dan malam itu. Mungkin juga tidak setiap hari, kan? Umpama nanti pas kamu ada kuliah sementara saya ada acara di luar, saya bisa menggunakan sopir keluarga, Pak Rudi atau Pak Jaja.”
“Tidak, Madam.”
“Iya coba kapan-kapan bereskan masalah kuliahmu. Soal biaya, kamu gak usah khawatir, biar itu dari saya. Kan sayang tuh, sudah semester lima ditinggal begitu saja.”
“Baik, Madam.”
“Hehehe, iysa, Madam. Makanya di kampung saya kadang masih dipanggil dengan Bule. Panggilan kecil, Madam.”
“Oh ya, nama lengkap apa, Lex?”
“Nama lengkapnya saya Alexander Diaz, Madam.”
“Masih nama Eropa. Diaz itu pasti nama warisan, ya?”
“Benar, Madam. Almarhum ayah saya namanya Diarte Antonio Diaz.”
“Berarti Dik Alex bisa bahasa Portugal?”
“Bisa secara pasif, Madam, hanya ngerti saja dikit-dikit, tapi gak berani untuk menggunakannya. Hehehe.”
“Yang asli Portugis itu kakek dari ayahmu, ya?”
“Bukan, Madam. Yang murni Portugis itu ayah dari kakek saya.”
“Oh iya, ya. Kalau suami saya, Om Garvin, juga blasteran. Tapi dia blasteran Indo-Turki. Makanya namanya Garvin Omar Mesut.”
“Oh pantesan. Om juga masih kental face Turki-nya. Menurun pada face-nya Mbak Olive.”
“Iya benar.”
Memang, wajah kebule-bulean itu ada pada wajahnya Mbak Olive. Dia wanita yang masih terlihat sangat cantik dengan postur yang tinggi singset. Bagian yang paling indah pada diri janda kembang ini adalah bagian pinggangnya besar dan pantanya yang bulat kencang. Namnya bodi yang dimiliki wanita yang bermata lebar ini warisan dari ibunya, Madam Lena.
Tiba-tiba Madam Lena bertanya, sejak kapan Alex memelihara rambutnya sehingga sangat panjang dan diikat rapi ke belakang.
“Sudah lama, Madam. Ketika saya masih berkecimpung di dunia entertain. Sebenarnya saya mau motong, tapi belum juga ada kesempatan.”
“Kalau kamu potong, kamu pasti terlihat lebih ganteng dan maskulin lagi, Lex.”
“Hehehe, bisa jadi, Madam. Tapi memang sudah terasa bosan juga untuk terus bertahan dengan model rambut seperti ini.”
“Ya kalau begitu dipotong saja, Lex.”
“Siap, madam.”
Mereka keluar dari rumah makan itu pukul setengah delapan malam. Madam meminta Alex untuk pergi ke sebuah mall di kawasan Senayan.
“Siap, Madam.”
Tentu saja Alex harus selalu siaga dan mengantar kemana pun sang majikan mau diantar, tanpa perlu bertanya.
Mereka masuk ke sebuah supermall. Madam Lena langsung mengajak Alex ke bagian outfit. Alex pernah sekali datang ke tempat itu, hanya karena ingin jalan-jalan saja sembari membeli beberapa potong pakaian. Pakaian di tempat itu tentu punya brand level dunia, yang tentu saja harganya sangat mahal.
“Maaf, Madam mau membelikan pakaian Om?” tanya Alex memberanikan diri, karena saat itu Madam Lena mengajaknya ke bagian outfit khusus pria.
“Tidak. Saya ingin membelikan kamu pakaian. Pilihkan beberapa stelan jas. Dik Alex akan memakai pakaian seperti itu jika mengantar saya ke suatu acara penting.”
“Oh iya, Madam.”
“Pilihlah tiga atau empat stel jas berikut celananya. Kemudian dasi, beberapa lembar kemeja, sepatu pantofel, ikat pinggang, dompet, termasuk juga pakaian untuk pakaian santai atau di luar kerja.”
Tentu saja Alex tidak boleh menolak permintaan itu, karena itu untuk kepentingannya dalam bekerja.
Karena ditemani oleh Madam Lena, dan wanita itu bantu memilihkan pakaian yang dibutuhkan, Alex pun mengikuti semua yang dipilihkan oleh Madam Lena.
“Tapi untuk stel jas dan celana ini coba kamu pakai. Lengkap saja dengan sepatu dan dasinya. Sementara pakaian yang kamu pakai sekarang di masukkan saja dengan tas plastik.”
Sekali lagi Alex mengikuti permintaan itu, dan langsung masuk ke kamar pas.
Hanya butuh waktu beberapa menit, Alex telah keluar dengan penampilan barunya, mengenakan stelah jas serta dasi.
Penampilannya itu benar-benar membuat Madam Lena jadi tertegun sekaligus kagum. Dengan penampilannya seperti itu, Alex benar-benar makin tampan, gagah, dan maskulin.
“Yuk, kita langsung ke kasir,” ucap Madam Lena sembari meraih lengan Alex, dan menggandengnya dengan lengannya.
Alex sesaat sempat kaget dan gugup mendapat perlakuan seperti itu. Namun karena tidak ingin membuat kecewa sang majikan, ia pun membiarkan tangannya digandeng oleh lengannya Tante lena.
Entah berapa pastinya Madam Lena membayar semua pakaiannya, karena juga membayarnya dengan menggunakan mata uang USD. Namun yang pasti, pastilah cukup besar nilainya.
Dari kasir mereka langsung menuju ke salah satu cap salon yang ada di lantai itu. Ia memberi kesempatan kepada Alex untuk memangkas pendek rambutnya.
Alex tentu bisa sangat merasakan perubahan intensitas perhatian Madam Lena terhadapnya. Ya, bayangkan dalam urusan makan pun, seperti yang dikatakan di atas, ia diistimewakan. Ia selalu ikut makan bersama Madam Lena dan keluarganya di meja makan mereka. Mbak Olive juga sangat baik dan perhatuab terhadapnya. Alex dan sang janda kembang itu suka curhatan, baik melalui chatting, maupun secara langsung dengan bertemu langsung. Bahkan wanita itu terkadang suka datang ke kemarnya Alex. Sebenarnya, Mbak Olive memiliki rumah sendiri, tapi katanya ia tak betah di rumahnya setelah suaminya meninggal, dan ia lantas memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya itu. Di samping cantik, memiliki bodi yang aduhai, serta memiliki daya pesona yang tinggi, Mbak Olive adalah wanita yang sangat baik dan ramah, terutama terhadap Alex. Ia memperlakukan Alex di rumah itu bak seorang anggota keluarganya. Alex pun merasa, bahwa ia benar-benar diperlakukan sangat beda dengan pegaw
Madam Lena berpesan kepada pegawai salon, seorang pria muda, agar menyesuaikan model rambutnya dengan tampil fisik dan model wajah sang bodyguard-nya itu. “Baik, Bu,” sahut pegawai salon itu, lalu membawa masuk Alex ke ruang dalam. Kurang lebih satu jam Madam Lena menunggu di ruang tunggu salon. Ia ingin sebuah kejutan. Dan dia benar-benar mendapatkan sebuah kejutan itu. Saat Alex muncul dari balik ruangan salon yang dibatasi dengan kain korden, Madam Lena nyaris tak percaya dengan penglihatannya. Dengan penampilan baru, rambut dipotong cepak ala pria-pria dari Asia Timur tampak sangat serasi dan makin maskulin dengan tampilan Alex saat itu. Alex benar-benar telah menjelma sebagai seorang pria yang benar-benar tampan dan berwibawa. Ditambah lagi dengan kacamata hitam yang dikenakannya. Ternyata kaca mata hitam itu diberikan oleh pihak salon untuk menambah elegansi penampilan sang customer tampan mereka, dan harganya digabungkan dengan biaya tata rambutny
“Ooh, jadi yang keturunan Portugis itu dari pihak ayah Dik Alex, ya?” tanya Madam Lena ketika Alex mengantarkannya ke suatu tempat. Tapi saat itu mereka mampir ke sebuah restoran untuk makan malam dulu. Alex sebenarnya melaksanakan tugasnya saja untuk menjaga sang majikan. Tetapi Madam Lena memintanya untuk menemaninya makan sembari mengobrol. Saat itu adalah untuk pertama kalianya Alex mengantar dan mengawal sang majikan perempuannya. “Benar, Madam. Kalau dari jalus ibu, beliau campuran Oesusse-Arab.” “Jadi, Dik Alex ini blasteran dari tiga ras, ya?” “Benar sekali, Madam.” “Tapi wajah dan postur kamu masik menyimpan sosok Eropa, kebule-bulean, dan juga tampan,” puji Madam Lena lagi dengan tanpa ekpresi dan tanpa melihat ke wajah Alex, karena saat itu beliau sembari mengiris daging di piringnya sebelumnya memasukkan di mulutnya dengan garpu. Alex hanya tertawa tanpa suara, lalu menjawab, “Terima kasih, Madam.” “Oh ya, kemarin Dik Alex tamatan
Mendengar cerita suaminya, Madam Lena pun mengucapkabn teruima kasih yang sebesar-besarnya atas apa yang telah ia lakukan untuk suaminya, Om Garvin. “Sama-sama, Madam. Tetapi hal-hal seperti itu kewajiban hidup sesama manusia saja, Madam.” “Tidak semua, Dik Alex. Yang bisa melakukan hal seperti itu hanya orang-orang uang punya kemampuan saja. Saya juga memaminta maaf karena pas melihat Dik Alex pertama kali tadi saya merasa risih melihat Dik Alex. Namun setelah mendengar cerita Om dan ceritamu, saya justru menjadi sangat salut dan berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dik Alex. Ah, saya tidak bisa membayangkan, bagaimana nasib suami saya jika tak ada Dik Alex di tempat itu.” “Itu sikap yang wajar, saya kira, Madam. Tak seorang pun di dunia ini menerima tamu dalam kondisi kumal seperti saya tadi, hehehe,” jawab Alex. “Dan ...tentang peristiwa yang dihadapi oleh Om tadi, tentu bukan hal yang kebetulan. Kata seorang ustad yang pernah saya dengar, semua
Selanjutnya Alex berusaha mencari pekerjaan. Namun dari sekian banyak perusahaan yang didatanginya, semuanya menyatakan belum ada lowongan. Ia selanjutnya berjalan tanpa arah, hanya mengikuti ke mana kakinya melangkah untuk membawa tubuhnya. Yang ia pikirkan ketika itu adalah mendapatkan suatu pekerjaan agar bisa tetap menyambung hidup. Ya mungkin sebagai tukang parkir, tukang bangunan, buruh pasar, atau apalah. Tapi beberapa pasar dan proyek yang is datangi tak ada yang siap memperkerjakannys. Mereka mengamati seluruh wujudnya, mulai kaki hingga ke wajah, seolah-olah ia itu barang yang hendak mereka beli, sebelum berkata, “Ah, mana mungkin lu bisa bekerja kasar seperti ini? Kulit dan tampang lu saja mirip bintang pilem gitu!” Alasan yang lucu sebenarnya. Alex berusaha mencoba meyakinkan mereka bahwa ia memang lagi butuh pekerjaan, tapi mereka tetap menolak. Ia mengangguk sebelum membalik badan dengan wajah lesu dan kecewa. Selalu saja seperti itu.
Ketukan di pintu kamar mandi membuat Alex mematikan kegiatan mandinya sembari mematikan shower. “Iya, sebentar...!” sahutnya dengan suara sedikit dinaikkan. “Pakaian pengganti Mas Alex ada di atas tempat tidur. Tuan Besar berpesan, jika Mas Alex sudah siap, Tuan Besar dan Madam menunggu di ruang makan.” “Oh iya, baiklah, terima kasih, Sis.” Keluar dari kamar mandi Alex melihat setumpuk pakaian pengganti yang diletakkan di atas tempat tidur yang terdiri dari beberapa celana blue jean’s, baju hem, beberapa lembar celana cargo pendek, dan beberapa lembar baju kaos berkerah dengan brand ternama. Tentu itu pakaian-pakaian bekas dari Om Garvin, tapi kondisinya yang masih sangat layak. Namanya saja pakaiannya orang kaya raya. Dan ukurannya semuanya pas saja dengan tubuhnya. Kecuali celana jean’s-nya yang kurang panjang. Jadi ia memilih untuk memakai baju kaos berkerah dan celana cargo. Setelah itu ia turun ke bawah. Melihat kemunculannya dengan penampilan ya







