Share

PART 06

Author: Aura Kisah
last update Last Updated: 2026-01-05 17:00:16

       Mendengar cerita suaminya, Madam Lena pun mengucapkabn teruima kasih yang sebesar-besarnya atas apa yang telah ia lakukan untuk suaminya, Om Garvin.

       “Sama-sama, Madam. Tetapi hal-hal seperti itu kewajiban hidup sesama manusia saja, Madam.”

        “Tidak semua, Dik Alex. Yang bisa melakukan hal seperti itu hanya orang-orang uang punya kemampuan saja. Saya juga memaminta maaf karena pas melihat Dik Alex pertama kali tadi saya merasa risih melihat Dik Alex. Namun setelah mendengar cerita Om dan ceritamu, saya justru menjadi sangat salut dan berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dik Alex. Ah, saya tidak bisa membayangkan, bagaimana nasib suami saya jika tak ada Dik Alex di tempat itu.”

       “Itu sikap yang wajar, saya kira, Madam. Tak seorang pun di dunia ini menerima tamu dalam kondisi kumal seperti saya tadi, hehehe,” jawab Alex. “Dan ...tentang peristiwa yang dihadapi oleh Om tadi, tentu bukan hal yang kebetulan. Kata seorang ustad yang pernah saya dengar, semua peristiwa yang terjadi di atas dunia itu sudah atas izinNya. Jika pun  saya tak ada di tempat itu, tentu Tuhan akan menggerakkan penolong lain untuk berada di tempat itu. Dan saya pun mengucapkan terima kasih kepada Om dan Madam atas semua pertolongan ini. Andaikata saya tidak bertemu dengan Om tadi, tentu saya benar-benar akan resmi menjadi seorang gelandangan sejati, Madam, Om.”

       “Ya seperti yang Nak Nuno bilang barusan, semua sudah atas izinNya. Semua sudah diatur,” ujar Om Garvin. “Oh ya, sekarang soal pekerjaan. Kira-kira Dik Alex mau bekerja sebagai apa? Insya Allah, saya akan kabulkan.”

       Kepala Alex langsung terangkat, dan menjawab, “Saya siap untuk bekerja sebagai apa saja, Om, Madam, yang penting saya punya penghasilan dan tidak hidup menganggur.”

       Sebelum Om Garvin berkata lagi,  Madam Lena sudah mendahului dengan bertanya, “Nak Alex bisa menyetir?”

       “Bisa, Madam.”

       “Bagus! Kebetulan saya sedang mencari sopir pribadi buat saya, sekaligus sebagai pengawal pribadi. Apakah Dik Alex  siap untuk kedua pekerjaan itu? Jangan khawatir, sebab NDik Alex pun akan menerima gaji rangkap dari kedua pekerjaan itu. Ya gaji sebagai sopir pribadi saya, dan gaji sebagai pengawal pribadi saya.”

      Alex  sangat girang sekali, dan dengan segera ia pun menjawab, “Tentu, Madam. Bukan hanya menerima, tapi sangat menerima. Terima kasih, Madam, Om, atas semuanya.”

       “Sama-sama, Dik Alex. Artinya pikiran saya akan menjadi tenang sekarang, karena istri saya sudah ada yang mengawalnya ke mana-mana,” ucap Om Garvin.

       “Siap, Om!”

       Maka sejak itu Alexander Diaz praktis berstatus sebagai bodyguard yang merangkap sebagai sopir pribadinya Madam Lena. Artinya, ke mana pun Madam Lena berada atau pergi, ia akan selalu ada bersamanya. Jika tidak ke tempat aerobik, gimnasium, salon, ya memanjakan dirinya untuk berwisata kuliner, sebelum berpetualang di mall-mall.

         Ya, singkatnya, Madam Lena lebih banyak memanjakan diri dengan menghambur-hamburkan uang suaminya. Bahkan di dalam ruangan gym, Alex pun diminta menjadi instruktur pribadinya, karena memang pemuda itu juga paham dunia olah fisik seperti itu. Pada latihan-latihan tertentu, Alex harus membimbingnya secara langsung dengan memegang tubuhnya, bahkan memeluknya dengan posisi-posisi tertentu yang dibutuhkan.

       Kedekatan mutlak tanpa jarak mereka berdua ya mungkin berawal dari situ. Tapi Alex harus tetap bekerja secara profesional dan berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran negatifnya terhadap wanita itu, karena  ia  pun harus menjaga amanat Om Garvin untuk menjaga istrinya. Walaupun memang, sebagai pemuda normal, darah muda Alex tetap bergolak dan menggelegak jika bersentuhan tubuh dengan wanita berkelas, cantik, dan pemilik tubuh menggiurkan seperti Madam Lena itu.

        Madam Lena juga merupakan orang yang sangat royal. Alex selalu diperlakukan secara istimewa dari seluruh pegawai lain yang bekerja di rumahnya. Setiap kali Alex diajak ke sebuah pusat perbelanjaan,  wanita itu tak pernah tidak membelikan juga barang-barang istimewa buat sang bodyguard tampannya itu, selain sekedar pakaian. Dalam hal keuangan, nyaris setiap hari Alex diberi tip dengan jumlah yang bervariasi, namun yang jelas tidaklah sedikit untuk ukuran pemuda itu.  Dan uang-uang tersebut Alex simpan saja, tanpa sedikit pun ia pakai buat belanja. Mau belanja apa lagi, wong kebutuhan sandang dan pangannya sudah tercukupi oleh sang bosnya. Madam Lena  benar-benar manusia yang royal dan konsumtif.

        Alex bisa merasakan perubahan intensitas perhatian wanita itu terhadap dirinya. Dalam urusan makan pun, ia diistimewakan oleh Madam Lena. Bahkan ia selalu ikut makan bersama Madam Lena dan keluarganya di meja makan mereka. Satu-satunya anaknya yang masih tinggal bersama mereka di rumah itu adalah Mbak Olive, putri tertua yang sudah menjanda. Sebenarnya Mbak Olive sudah memiliki rumah sendiri, tapi ia tidak betah di rumahnya setelah suaminya meninggal, dan memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya kembali.

        Mbak Olive adalah wanita yang sangat cantik. Ia juga sangat baik terhadap Alex. Sang Janda muda berkelas tinggi itu memperlakukan Alex di rumah itu bak seorang pangeran. Alex sama sekali dibedakan dengan pegawai lain di rumah itu dalam segala hal dan perlakuan. Seperti juga perlakuan ibunya, Madam Lena, terhadap sang driver dan bodyguard itu. Tak jarang jawanita berusia tiga puluh tahun itu tak sungkan untuk bercengkerama dengan Alex,  jika sedang tak mengawal ibunya di luar rumah, dan jika ia sedang libur.

        Ombak Olive juga suka memanfaatkan situasi luang Alex itu untuk mengajaknya keluar, dengan alasan untuk mengantarkannya ke suatu tempat. Padahal sejatinya ia hanya pergi ke tempat-tempat seperti yang dilakukan oleh ibunya,  seperti ke salon, wisata kuliner, ke tempat aerobic, dan juga shopping. Ya singkatnya buat berhura-hura dan menghamburkan uang saja.

       Watak konsumtif dan royalnya Mbak Olive ini persis sama dengan watak ibunya, Madam Lena. Termasuk juga dia suka membelikan Alex barang-barang sandang, di samping  juga memberinya tip. Wajar, karena juga Mbak Olive juga wanita kaya raya. Sumber keuangannya selalu mengalir dari beberapa perusahaan yang ditinggalkan oleh mendiang suaminya, belum lagi kekayaan orang tuanya di mana ia adalah salah satu dari tiga pewarisnya Om Garvin.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 09

    Alex tentu bisa sangat merasakan perubahan intensitas perhatian Madam Lena terhadapnya. Ya, bayangkan dalam urusan makan pun, seperti yang dikatakan di atas, ia diistimewakan. Ia selalu ikut makan bersama Madam Lena dan keluarganya di meja makan mereka. Mbak Olive juga sangat baik dan perhatuab terhadapnya. Alex dan sang janda kembang itu suka curhatan, baik melalui chatting, maupun secara langsung dengan bertemu langsung. Bahkan wanita itu terkadang suka datang ke kemarnya Alex. Sebenarnya, Mbak Olive memiliki rumah sendiri, tapi katanya ia tak betah di rumahnya setelah suaminya meninggal, dan ia lantas memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya itu. Di samping cantik, memiliki bodi yang aduhai, serta memiliki daya pesona yang tinggi, Mbak Olive adalah wanita yang sangat baik dan ramah, terutama terhadap Alex. Ia memperlakukan Alex di rumah itu bak seorang anggota keluarganya. Alex pun merasa, bahwa ia benar-benar diperlakukan sangat beda dengan pegaw

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 08

    Madam Lena berpesan kepada pegawai salon, seorang pria muda, agar menyesuaikan model rambutnya dengan tampil fisik dan model wajah sang bodyguard-nya itu. “Baik, Bu,” sahut pegawai salon itu, lalu membawa masuk Alex ke ruang dalam. Kurang lebih satu jam Madam Lena menunggu di ruang tunggu salon. Ia ingin sebuah kejutan. Dan dia benar-benar mendapatkan sebuah kejutan itu. Saat Alex muncul dari balik ruangan salon yang dibatasi dengan kain korden, Madam Lena nyaris tak percaya dengan penglihatannya. Dengan penampilan baru, rambut dipotong cepak ala pria-pria dari Asia Timur tampak sangat serasi dan makin maskulin dengan tampilan Alex saat itu. Alex benar-benar telah menjelma sebagai seorang pria yang benar-benar tampan dan berwibawa. Ditambah lagi dengan kacamata hitam yang dikenakannya. Ternyata kaca mata hitam itu diberikan oleh pihak salon untuk menambah elegansi penampilan sang customer tampan mereka, dan harganya digabungkan dengan biaya tata rambutny

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 07

    “Ooh, jadi yang keturunan Portugis itu dari pihak ayah Dik Alex, ya?” tanya Madam Lena ketika Alex mengantarkannya ke suatu tempat. Tapi saat itu mereka mampir ke sebuah restoran untuk makan malam dulu. Alex sebenarnya melaksanakan tugasnya saja untuk menjaga sang majikan. Tetapi Madam Lena memintanya untuk menemaninya makan sembari mengobrol. Saat itu adalah untuk pertama kalianya Alex mengantar dan mengawal sang majikan perempuannya. “Benar, Madam. Kalau dari jalus ibu, beliau campuran Oesusse-Arab.” “Jadi, Dik Alex ini blasteran dari tiga ras, ya?” “Benar sekali, Madam.” “Tapi wajah dan postur kamu masik menyimpan sosok Eropa, kebule-bulean, dan juga tampan,” puji Madam Lena lagi dengan tanpa ekpresi dan tanpa melihat ke wajah Alex, karena saat itu beliau sembari mengiris daging di piringnya sebelumnya memasukkan di mulutnya dengan garpu. Alex hanya tertawa tanpa suara, lalu menjawab, “Terima kasih, Madam.” “Oh ya, kemarin Dik Alex tamatan

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 06

    Mendengar cerita suaminya, Madam Lena pun mengucapkabn teruima kasih yang sebesar-besarnya atas apa yang telah ia lakukan untuk suaminya, Om Garvin. “Sama-sama, Madam. Tetapi hal-hal seperti itu kewajiban hidup sesama manusia saja, Madam.” “Tidak semua, Dik Alex. Yang bisa melakukan hal seperti itu hanya orang-orang uang punya kemampuan saja. Saya juga memaminta maaf karena pas melihat Dik Alex pertama kali tadi saya merasa risih melihat Dik Alex. Namun setelah mendengar cerita Om dan ceritamu, saya justru menjadi sangat salut dan berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dik Alex. Ah, saya tidak bisa membayangkan, bagaimana nasib suami saya jika tak ada Dik Alex di tempat itu.” “Itu sikap yang wajar, saya kira, Madam. Tak seorang pun di dunia ini menerima tamu dalam kondisi kumal seperti saya tadi, hehehe,” jawab Alex. “Dan ...tentang peristiwa yang dihadapi oleh Om tadi, tentu bukan hal yang kebetulan. Kata seorang ustad yang pernah saya dengar, semua

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 05

    Selanjutnya Alex berusaha mencari pekerjaan. Namun dari sekian banyak perusahaan yang didatanginya, semuanya menyatakan belum ada lowongan. Ia selanjutnya berjalan tanpa arah, hanya mengikuti ke mana kakinya melangkah untuk membawa tubuhnya. Yang ia pikirkan ketika itu adalah mendapatkan suatu pekerjaan agar bisa tetap menyambung hidup. Ya mungkin sebagai tukang parkir, tukang bangunan, buruh pasar, atau apalah. Tapi beberapa pasar dan proyek yang is datangi tak ada yang siap memperkerjakannys. Mereka mengamati seluruh wujudnya, mulai kaki hingga ke wajah, seolah-olah ia itu barang yang hendak mereka beli, sebelum berkata, “Ah, mana mungkin lu bisa bekerja kasar seperti ini? Kulit dan tampang lu saja mirip bintang pilem gitu!” Alasan yang lucu sebenarnya. Alex berusaha mencoba meyakinkan mereka bahwa ia memang lagi butuh pekerjaan, tapi mereka tetap menolak. Ia mengangguk sebelum membalik badan dengan wajah lesu dan kecewa. Selalu saja seperti itu.

  • KASIH SAYANG PARA WANITA SOSIALITA   PART 04

    Ketukan di pintu kamar mandi membuat Alex mematikan kegiatan mandinya sembari mematikan shower. “Iya, sebentar...!” sahutnya dengan suara sedikit dinaikkan. “Pakaian pengganti Mas Alex ada di atas tempat tidur. Tuan Besar berpesan, jika Mas Alex sudah siap, Tuan Besar dan Madam menunggu di ruang makan.” “Oh iya, baiklah, terima kasih, Sis.” Keluar dari kamar mandi Alex melihat setumpuk pakaian pengganti yang diletakkan di atas tempat tidur yang terdiri dari beberapa celana blue jean’s, baju hem, beberapa lembar celana cargo pendek, dan beberapa lembar baju kaos berkerah dengan brand ternama. Tentu itu pakaian-pakaian bekas dari Om Garvin, tapi kondisinya yang masih sangat layak. Namanya saja pakaiannya orang kaya raya. Dan ukurannya semuanya pas saja dengan tubuhnya. Kecuali celana jean’s-nya yang kurang panjang. Jadi ia memilih untuk memakai baju kaos berkerah dan celana cargo. Setelah itu ia turun ke bawah. Melihat kemunculannya dengan penampilan ya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status