LOGINMendengar cerita suaminya, Madam Lena pun mengucapkabn teruima kasih yang sebesar-besarnya atas apa yang telah ia lakukan untuk suaminya, Om Garvin.
“Sama-sama, Madam. Tetapi hal-hal seperti itu kewajiban hidup sesama manusia saja, Madam.”
“Tidak semua, Dik Alex. Yang bisa melakukan hal seperti itu hanya orang-orang uang punya kemampuan saja. Saya juga memaminta maaf karena pas melihat Dik Alex pertama kali tadi saya merasa risih melihat Dik Alex. Namun setelah mendengar cerita Om dan ceritamu, saya justru menjadi sangat salut dan berterima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dik Alex. Ah, saya tidak bisa membayangkan, bagaimana nasib suami saya jika tak ada Dik Alex di tempat itu.”
“Itu sikap yang wajar, saya kira, Madam. Tak seorang pun di dunia ini menerima tamu dalam kondisi kumal seperti saya tadi, hehehe,” jawab Alex. “Dan ...tentang peristiwa yang dihadapi oleh Om tadi, tentu bukan hal yang kebetulan. Kata seorang ustad yang pernah saya dengar, semua peristiwa yang terjadi di atas dunia itu sudah atas izinNya. Jika pun saya tak ada di tempat itu, tentu Tuhan akan menggerakkan penolong lain untuk berada di tempat itu. Dan saya pun mengucapkan terima kasih kepada Om dan Madam atas semua pertolongan ini. Andaikata saya tidak bertemu dengan Om tadi, tentu saya benar-benar akan resmi menjadi seorang gelandangan sejati, Madam, Om.”
“Ya seperti yang Nak Nuno bilang barusan, semua sudah atas izinNya. Semua sudah diatur,” ujar Om Garvin. “Oh ya, sekarang soal pekerjaan. Kira-kira Dik Alex mau bekerja sebagai apa? Insya Allah, saya akan kabulkan.”
Kepala Alex langsung terangkat, dan menjawab, “Saya siap untuk bekerja sebagai apa saja, Om, Madam, yang penting saya punya penghasilan dan tidak hidup menganggur.”
Sebelum Om Garvin berkata lagi, Madam Lena sudah mendahului dengan bertanya, “Nak Alex bisa menyetir?”
“Bisa, Madam.”
“Bagus! Kebetulan saya sedang mencari sopir pribadi buat saya, sekaligus sebagai pengawal pribadi. Apakah Dik Alex siap untuk kedua pekerjaan itu? Jangan khawatir, sebab NDik Alex pun akan menerima gaji rangkap dari kedua pekerjaan itu. Ya gaji sebagai sopir pribadi saya, dan gaji sebagai pengawal pribadi saya.”
Alex sangat girang sekali, dan dengan segera ia pun menjawab, “Tentu, Madam. Bukan hanya menerima, tapi sangat menerima. Terima kasih, Madam, Om, atas semuanya.”
“Sama-sama, Dik Alex. Artinya pikiran saya akan menjadi tenang sekarang, karena istri saya sudah ada yang mengawalnya ke mana-mana,” ucap Om Garvin.
“Siap, Om!”
Maka sejak itu Alexander Diaz praktis berstatus sebagai bodyguard yang merangkap sebagai sopir pribadinya Madam Lena. Artinya, ke mana pun Madam Lena berada atau pergi, ia akan selalu ada bersamanya. Jika tidak ke tempat aerobik, gimnasium, salon, ya memanjakan dirinya untuk berwisata kuliner, sebelum berpetualang di mall-mall.
Ya, singkatnya, Madam Lena lebih banyak memanjakan diri dengan menghambur-hamburkan uang suaminya. Bahkan di dalam ruangan gym, Alex pun diminta menjadi instruktur pribadinya, karena memang pemuda itu juga paham dunia olah fisik seperti itu. Pada latihan-latihan tertentu, Alex harus membimbingnya secara langsung dengan memegang tubuhnya, bahkan memeluknya dengan posisi-posisi tertentu yang dibutuhkan.
Kedekatan mutlak tanpa jarak mereka berdua ya mungkin berawal dari situ. Tapi Alex harus tetap bekerja secara profesional dan berusaha menyingkirkan pikiran-pikiran negatifnya terhadap wanita itu, karena ia pun harus menjaga amanat Om Garvin untuk menjaga istrinya. Walaupun memang, sebagai pemuda normal, darah muda Alex tetap bergolak dan menggelegak jika bersentuhan tubuh dengan wanita berkelas, cantik, dan pemilik tubuh menggiurkan seperti Madam Lena itu.
Madam Lena juga merupakan orang yang sangat royal. Alex selalu diperlakukan secara istimewa dari seluruh pegawai lain yang bekerja di rumahnya. Setiap kali Alex diajak ke sebuah pusat perbelanjaan, wanita itu tak pernah tidak membelikan juga barang-barang istimewa buat sang bodyguard tampannya itu, selain sekedar pakaian. Dalam hal keuangan, nyaris setiap hari Alex diberi tip dengan jumlah yang bervariasi, namun yang jelas tidaklah sedikit untuk ukuran pemuda itu. Dan uang-uang tersebut Alex simpan saja, tanpa sedikit pun ia pakai buat belanja. Mau belanja apa lagi, wong kebutuhan sandang dan pangannya sudah tercukupi oleh sang bosnya. Madam Lena benar-benar manusia yang royal dan konsumtif.
Alex bisa merasakan perubahan intensitas perhatian wanita itu terhadap dirinya. Dalam urusan makan pun, ia diistimewakan oleh Madam Lena. Bahkan ia selalu ikut makan bersama Madam Lena dan keluarganya di meja makan mereka. Satu-satunya anaknya yang masih tinggal bersama mereka di rumah itu adalah Mbak Olive, putri tertua yang sudah menjanda. Sebenarnya Mbak Olive sudah memiliki rumah sendiri, tapi ia tidak betah di rumahnya setelah suaminya meninggal, dan memutuskan untuk tinggal di rumah orang tuanya kembali.
Mbak Olive adalah wanita yang sangat cantik. Ia juga sangat baik terhadap Alex. Sang Janda muda berkelas tinggi itu memperlakukan Alex di rumah itu bak seorang pangeran. Alex sama sekali dibedakan dengan pegawai lain di rumah itu dalam segala hal dan perlakuan. Seperti juga perlakuan ibunya, Madam Lena, terhadap sang driver dan bodyguard itu. Tak jarang jawanita berusia tiga puluh tahun itu tak sungkan untuk bercengkerama dengan Alex, jika sedang tak mengawal ibunya di luar rumah, dan jika ia sedang libur.
Ombak Olive juga suka memanfaatkan situasi luang Alex itu untuk mengajaknya keluar, dengan alasan untuk mengantarkannya ke suatu tempat. Padahal sejatinya ia hanya pergi ke tempat-tempat seperti yang dilakukan oleh ibunya, seperti ke salon, wisata kuliner, ke tempat aerobic, dan juga shopping. Ya singkatnya buat berhura-hura dan menghamburkan uang saja.
Watak konsumtif dan royalnya Mbak Olive ini persis sama dengan watak ibunya, Madam Lena. Termasuk juga dia suka membelikan Alex barang-barang sandang, di samping juga memberinya tip. Wajar, karena juga Mbak Olive juga wanita kaya raya. Sumber keuangannya selalu mengalir dari beberapa perusahaan yang ditinggalkan oleh mendiang suaminya, belum lagi kekayaan orang tuanya di mana ia adalah salah satu dari tiga pewarisnya Om Garvin.
Zara sekali-sekali meraba bagian V-nya. Ia merasakan area itu makin tergenang dan mata tuas Alex keluar masuk dengan bebasnya. Hal itu membuat sensasi nikmat itu makin menjadi-jadi. Namun mereka harus tetap melakukannya dengan senyap dan hati-hati. Justru karena itu sensasinya terasa berlipat-lipat, dari ketika mereka melakukannya dalam kondisi normal, yang pernah mereka rasakan. Yang dirasakan oleh Zara saat itu adalah, bahwa hunjaman milik Alex terasa begitu dalam menembus r4h1mnya. Ia terus menikmatinya dengan mata terpejam. Terasa buah da**nya seakan mau tumpah keluar, terguncang-guncang karena sod*kan-sod*kan yang menggetarkan. Lama tak pernah lagi merasakan permainan seperti itu, menjadikannya kehausan dan sangat menikmatinya. Karena saking nikmatnya, ia pun menarik bagian bawah pinggang Alex agar menekan lebih kuat lagi. Dan … ia pun mencapai puncak kebahagiaan yang luar biasa. Ia merasakan org**me yang sangat lama sekali sembelum ia seperti terhempas dan lema
Saat itu rasa takutnya tentang cerita dan bayangan hantu atau demit benar-benar sudah lenyap dalam pikirannya, karena telah digantikan oleh hentakan bi**hinya yang kian menguat. Dengan perasaan yang degdegan, Zara menggeser tubuhnya ke belakang secara pelan-pelan. Ketika tubuhnya sudah berdempetan dengan tubuhnya Alex, ia berhenti. Tidak ada reaksi. Jantungnya makin berdegup kencang bersama hentakan bi**hinya yang kian membuncah. Suhu tubuhnya pun terasa tinggi, bahkan mirip-mirip orang yang dendak demam. Karena dorongan l1b1d0nya yang seolah tak mampu ia bendung membuat tangannya bergerak ke belakang. Ia meraih tangan Alex, dan ia ingin memeluknya. Ternyata Alex merespon hal itu dengan memeluknya. Pemuda itu bukan saja sekedar memeluknya, namun tangannya langsung bertengger pada salah kedua bukit kembarnya. Tetapi hanya meletakkan saja tangannya di kedua area itu, namun tidak menggerakkannya. Padahal Zara sudah menunggu dengan perasaan degdegan akan tindakannya sela
Malamnya Mei tetap menyempatkna diri untuk mengirim pesan SMS ke Alex. “Jadi kamu belum sempat ke rumah dulu?” tanya Alex, karena Mei memberitahu dia akan bermalam di rumah sakit. “Tidak. Paling besok aku ke rumah buat jenguk baby-ku. Baby kan memang tidak dianjurkan untuk dibawa ke rumah sakit, apalagi malam-malam.” “Trus suaminya jadi operasi besok pagi?” “Iya, jam sepuluh.” “Semoga operasinya lancar, ya?” “Aamiin.” Terasa sepi juga ternyata ketika Mei tak ada tidur di dekatnya. Tetapi tiba-tiba Zara membawa keluar kasur busa tipisnya dan menggelarnya di tempat yang biasa ditempat oleh Mei. “Pengen rasakan tidur di sini,” ucapnya, tanpa ditujukan khusus pada siapa pun. Saat itu Alex, Kulman, dan Ambar masih asyik dengan layar ponselnya masing-masing. Tapi Ambar yang menjawab, kalau ruang tamu sedikit lebih dingin suhunya daripada dalam kamar. “Iya kayaknya,” sahut Zara sembari menurut tubuhnya dengan selimutnya. Ia tak langsung tid
Mungkin karena sudah tak mampu menanggung rasa n1km4t yang luar biasa itu, Alex langsung mendorong tubuh Bu Ema, sehingga wanita itu terjengkang ke belakang di atas kasur. Ia merenggangkan kedua kaki wanita itu, lalu selanjutnya wajahnya mendekat ke area istimewahnya, lalu memanjainya dengan lidah dan mulutnya. “Aaaaah ampun, Dik Aleeex, ini nikmat sekaliii aahs,” desis Bu Ema sembari memejamkan kedua matanya. Cara seperti itu belum Hasan. Lidahh kasar dan l14r Alex memanjai milik Bu Ema. Bagian-bagian tertentu dalam pintu gerbang itu tak liput dari sapuan lidahnya. Bu Ema benar-benar merasakan sensasi yang hebat. Seolah tanpa disadari, tangannya menyambar kepala si 0pemuda, dan jarinya meremasi kembali rambut Alex sambil mengerangg dan mendes4h gelisah dengan raga meliuk-liuk. Malam itu keduanya pun bertarung dengan garang dan berbagai posisi dan gaya bebas digunakan. Memang mereka hanya melakukannya sekali, namun kualitas hasilnya sebanding dengan berk
Sesampai di rumah sakit, Pak Ustadz Abdullah dibawa ke ruang MCU untuk dilakukan medical general check-up. Setelah dilakukan pengecekan menyeluruh, dokter yang menangani memberikan keterangannya kepada pihak keluarga Pak Ustadz, bahwa pasien mengalami penurunan aliran darah ke otak, yang disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penurunan tekanan darah, kekurangan oksigen, serta masalah pada sistem jantung. “Kondisi ini bisa dipicu oleh stres emosional, dehidrasi, atau bahkan kondisi medis tertentu seperti masalah jantung atau diabetes,” ucap Pak Dokter lebih lanjut. “Apakah pasien pernah mengalami kondisi seperti ini sebelumnya? Beliau juga ada gejala diabetes.” “Benar, Dok, pernah. Tapi setelah siuman tidak ada keinginan untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Padahal saya sudah mendorong hal itu,” jawab istri dari Pak Ustadz Abdullah, namanya Bu Alya. Dokter manggut-manggut lalu menyarankan agar dirawat inap dulu. “Biar kami bisa menanganinya secara intensi
Malam itu, mereka tidur agak kemalaman. Bukan karena mengobrol hingga larut, namun setelah obrolan itu masing-masing lanjut untuk chat. Entah dengan keluarga mereka masing-masing. Aldi, Rudi, dan Zara akan kembali besok pagi. Dan seperti biasa, Alex, Mei, Kulman, dan Ambar tetap tidur di ruang tamu. Sementara Hanif tidur dalam kamar, seperti biasa. Kondisi kulman juga sudah mendingan. Sebelum tidur, Alex dan Mei sempat mengobrol sartu sama lain melalui chat. Namun selanjutnya mereka chat dengan keluarganya masing-masing. Mei mungkin dengan suaminya, sementara Alex dengan Tante Lena sebelum dengan Bu Galuh dan Bu Ema. Tante Lena chat hanya untuk mengungkapkan rasa kangen padanya, seperti biasanya. Sementara dengan Bu Ema dan Bu Galuhchat tak jauh-jauh dari urusan per-gen-j0tan. “Rasanya pengen sekali mengulanginya lagi sebelum Dik Alex dan teman-temannya kembali ke Jakarta,” tulis Bu Ema. “Akan aku usahakan waktunya ya, Yank? Kangen ya?” balas Alex. “Ban
Setelah berurusan dengan resepsionis, Alex langsung mengajak Bu Galuh ke lantai atas. Mereka kembali melalui ruang lift. Kamar yang mereka sewa berada di lantai empat. Mereka memasuki kamar itu dan menguncinya dari dalam. Saat Bu Galuh berdiri memandangi semua interior kamar y
Ya, saat-saat sendiri seperti itu, maka keinginannya langsung melonjak kalau ia membayangkan Alex. Dari tampilan tubuhnya yang kekar dan kokoh walaupun tak berotot menonjol bak seorang binaragawan, Bu Galuh langsung membayangkan milik pemuda itu menegak begitu gagah dan perkasanya, seperti ya
Sekitar sepuluh menit kemudian, suara nafas halus Alex dan Mei telah terdengar oleh Kulman dan Ambar. Tentu saja, Alex dan Ambar saat itu belum tidur. Justru keduanya sedang menunggu adegan panas yang dilakukan oleh sang berondong dengan sang ibu muda itu dengan penuh ketegangan. Mei da
Yudi menatap wajahnya dengan raut wajah menunjukkan keprihatinannya. “Terima kasih, Yud. Aku sudah melihatnya,” ucap Alex, pelan dan lemah. “Dan kamu gak … sakit hati dan marah …?” Ia tidak langsung menjawab. Ia melangkah menjauhi tempat itu dengan wajah gusar campur sedih.







