LOGIN"Kalian pikir rencana kalian sempurna?" bisikku tajam ke arah layar, seakan mereka berdua bisa mendengarku dari sana. "Kalian pikir kalian adalah sutradara dari takdirku?"
Aku keluar dari aplikasi pesan dan dengan cepat membuka aplikasi Email di ponsel Sarah. "Aku akan menjadikan semua pesan ini sebagai tiket kalian menuju kehancuran total," kataku sambil mengetik cepat. Aku membuat pesan email baru dan mengetikkan alamat email rahasia yang baru saja kubuat kemarin setelah aku terbangun dari kematian, Clara.Reborn@mail.com. "Subjek: Bukti Kebusukan," gumamku sambil mengetik. Aku kembali beralih ke aplikasi chat hijau, memilih opsi 'Ekspor Obrolan' pada kontak Marco, dan melampirkan seluruh teks beserta medianya ke email tersebut. Setelah itu, aku kembali ke folder galeri tersembunyi, memilih puluhan foto paling eksplisit, dan menekan tombol 'Bagikan ke Email'. "Kirim," desakku, menekan tombol panah biru di pojok layar. "Ayo. Cepatlah terkirim." Sebuah baris progres biru muncul di bagian atas layar. Mengunggah lampiran... 15%... "Ayo, ayo... kenapa sinyalnya lambat sekali di balkon atas sini!" rutukku sambil mengangkat ponsel itu tinggi-tinggi ke udara. Mengunggah lampiran... 30%... "Ukuran file fotonya terlalu besar," desahku panik, mondar-mandir di sudut sempit balkon. "Ayolah, bergeraklah lebih cepat." Di bawah sana, alunan musik pesta tiba-tiba berhenti, digantikan oleh suara tepuk tangan meriah. Suara MC terdengar melalui pengeras suara, memanggil Marco ke atas panggung untuk memberikan pidato. Mengunggah lampiran... 55%... "Sempurna. Marco sedang sibuk sekarang. Aku hanya butuh beberapa detik lagi," ucapku menyemangati diri sendiri. Mengunggah lampiran... 75%... Tiba-tiba, suara ketukan keras dari heels yang beradu dengan lantai marmer terdengar samar dari arah lorong di balik pintu kaca balkon. Ketukan yang temponya sangat kukenali. Cepat, tajam, dan tidak sabaran. Langkah kaki Sarah. Mengunggah lampiran... 85%... "Clara?" Suara tinggi Sarah menggema menembus celah pintu kaca balkon. Jantungku serasa melompat ke tenggorokan. "Clara, kamu di luar sana? Pelayan bilang melihatmu naik ke tangga VIP!" panggil Sarah. Suaranya terdengar tegang, tidak ada nada ramah 'sahabat' yang biasa ia gunakan. Dia sedang panik mencari ponselnya. Mengunggah lampiran... 90%... "Cepat, sialan," umpatku nyaris tanpa suara, menatap baris biru yang bergerak merayap seperti siput. Aku merapatkan tubuhku ke pilar beton, menyembunyikan diri dari pandangan langsung melalui kaca. "Clara, berhentilah bermain-main. Aku tahu kamu di sana. Ujung gaun merahmu terlihat dari balik pot tanaman itu!" seru Sarah, suaranya kini terdengar semakin dekat. Dia sudah berada di depan pintu kaca. Kepanikan menyergapku. Jika dia menemukanku memegang ponselnya dengan layar terbuka di email ini, semuanya akan hancur malam ini juga. Rencanaku belum matang. Aku belum siap menyerang secara terbuka. Mengunggah lampiran... 96%... "Clara! Jawab aku!" Suara engsel pintu kaca berderit keras. Klik. Pintu balkon terbuka. Angin dingin berhembus masuk. Mengunggah lampiran... 99%... "Aku tahu kamu menyembunyikan sesuatu," desis Sarah tajam, langkah kakinya kini menginjak lantai kayu balkon. Bayangannya jatuh memanjang di lantai, bergerak tepat ke arah sudut tempatku bersembunyi. Terkirim. Tulisan kecil itu muncul sedetik sebelum layar ponsel Sarah kembali ke halaman utama email. Dengan gerakan secepat kilat, aku menekan tombol daya di samping ponsel, mematikan layarnya hingga menjadi hitam kelam, lalu menyelipkannya ke belahan dada gaunku karena tasku berada di lantai, tak terjangkau oleh tanganku saat ini. Tepat saat itu, wajah Sarah muncul dari balik pilar beton. Matanya melotot tajam menatapku dengan napas yang memburu. "Apa yang sedang kamu lakukan di sini sendirian, Clara?" Suara Sarah mendesis tajam bagai ular yang bersiap mematuk. Matanya menyapu ujung balkon hingga ke pilar tempatku bersandar. Bayangannya tampak memanjang di lantai kayu, mengurungku dalam sudut sempit ini. Aku menelan ludah, berusaha menetralkan debar jantungku yang menggila. Ponsel hitam miliknya kini terselip aman di balik belahan gaunku, tersembunyi dari pandangannya. Namun, aku tahu Sarah bukan wanita bodoh. Insting liciknya pasti sedang bekerja. Aku memejamkan mata sejenak, memanggil sisa-sisa kemampuanku berakting. Ketika aku membuka mata, aku sengaja melemaskan lututku dan merosot perlahan ke lantai. "Sarah ..." lirihku, meremas dada kiriku dengan tangan kanan, sementara tangan kiriku mencengkeram erat pilar balkon. Napasku kubuat memburu, pendek-pendek dan putus asa. "S-Sarah ... tolong aku." Ekspresi curiga di wajah Sarah seketika goyah. Langkahnya yang tadi mengancam kini terhenti. "Clara? Kamu kenapa?" tanyanya, nadanya masih mengandung selidik. "Dadaku ... sesak," rintihku, memaksakan sebulir air mata buaya jatuh menetes ke pipiku. "Jantungku berdebar sangat cepat. Udaranya ... aku tidak bisa bernapas di bawah sana." Mendengar kata 'jantung', aku bisa melihat secercah kilatan panik, sekaligus kepuasan, melintasi mata Sarah. Tentu saja dia puas. Racun yang dia dan Marco berikan padaku setiap malam seolah sedang bekerja tepat di depan matanya. Dia bergegas menghampiriku dan berlutut di depanku. "Ya Tuhan, Clara! Kamu pucat sekali!" serunya dengan nada simpati yang begitu palsu hingga membuatku mual. "Kenapa kamu tidak bilang pada Marco? Kenapa kamu malah lari ke balkon yang dingin ini?" "Aku ... aku tidak ingin merusak pidatonya," jawabku tersengal-sengal. Aku membiarkan Sarah merangkul bahuku. Sentuhannya terasa seperti sengatan serangga berbisa, tapi aku menahannya. "Tadi aku bermaksud mencarimu di toilet... t-tapi aku melihat sesuatu milikmu tertinggal." "Sesuatu milikku?" Kening Sarah berkerut keras. Dengan gerakan lambat dan gemetar, aku menggeser tubuhku sedikit menjauhi rengkuhannya. Tanganku meraih tas pestaku yang tergeletak di lantai balkon. Di dalam hati, aku merapalkan doa agar rencanaku berhasil. Saat aku membuka tas itu, aku menyelipkan tanganku dengan cepat ke belahan gaunku, menarik ponselnya, dan seolah-olah mengeluarkannya dari dalam tas. "Ponselmu," kataku lemah, menyerahkan benda persegi panjang itu padanya. Mata Sarah membelalak lebar. Dia langsung merebut ponsel itu dari tanganku dengan kasar. "Kamu mengambil ponselku?!"Bagaimana dia tahu aku sedang menunggu broker?Adrian seolah bisa membaca pikiranku. Dia tersenyum tipis, senyum pertama yang kulihat darinya, tapi senyum itu tidak menunjukkan kehangatan sama sekali."Tenang, saya tidak membuntuti Anda," jelasnya. "Hanya orang-orang tertentu yang datang ke kafe ini di jam kerja sambil membawa tas dokumen dan terus-menerus melirik ke arah pintu. Cukup mudah ditebak. Apalagi setelah saya mengenali siapa Anda."Aku menelan ludah. Pria ini berbahaya. Analisanya terlalu cepat dan akurat. Aku tidak punya pilihan selain duduk kembali, memeluk blazerku yang rusak di pangkuan."Apa mau Anda, Tuan Adrian?" tanyaku dengan nada sedingin mungkin, mencoba menyamai auranya."Tidak ada. Awalnya," jawabnya. "Tadinya saya hanya ingin minta maaf dan mengganti rugi. Tapi sekarang setelah tahu siapa Anda, saya jadi sedikit penasaran.""Penasaran tentang apa?""Tentang apa yang dilakukan seorang Nyonya Marco Alexander di kafe kelas menengah seperti ini, sendirian, dengan
Pagi berikutnya, aku menyelinap keluar dari rumah seperti pencuri. Aku sengaja menunggu hingga Marco berangkat ke kantor. Kepada Bi Inah, asisten rumah tangga kami, aku hanya berpesan singkat. "Bi, saya mau ke butik bunga sebentar, mungkin agak siang baru pulang," kataku sambil merapikan syal sutra yang menutupi leherku. "Baik, Nyonya. Perlu saya siapkan bekal makan siang?" tawar Bi Inah dengan ramah. "Tidak perlu, Bi. Terima kasih." Tentu saja aku tidak pergi ke butik. Aku mengendarai mobil kompak milikku, bukan sedan mewah yang biasa kusopiri, menuju sebuah kafe kecil yang terletak di distrik bisnis pinggiran. Namanya "The Daily Grind Cafe". Tempat ini jauh dari jangkauan lingkaran sosialita dan kolega bisnis Marco. Sempurna untuk pertemuan rahasiaku. Di dalam, aroma kopi yang pekat dan roti panggang menyambutku. Aku memilih meja di sudut paling belakang, dekat jendela yang menghadap ke sebuah gang sempit. Aku mengenakan kacamata hitam besar dan sebuah blazer sederhana berwarn
"Ada apa, Marco? Kenapa reaksimu begitu?" tanyaku pura-pura bingung. Sarah menyela dengan nada sedikit menggurui, "Clara sayang, Lumina Tech itu saat ini sedang berada di ambang kehancuran. Saham mereka anjlok parah minggu ini karena CEO mereka dituduh menggelapkan dana riset. Perusahaan itu sedang diselidiki otoritas keuangan." "Benarkah?" Aku membulatkan mata, berpura-pura terkejut. "Tapi ... tapi Datin Rossa bilang justru saat harganya murah begini kita harus beli! Nanti kalau masalahnya selesai, harganya akan naik tajam!" "Itu namanya spekulasi buta, Clara!" tegur Marco sedikit keras. "Datin Rossa itu hanya sosialita yang kelebihan uang dari suaminya. Lumina Tech adalah investasi yang sangat berisiko tinggi. Sangat berisiko! Hampir bisa dipastikan perusahaan itu akan bangkrut bulan depan." Aku menahan senyum dalam-dalam. Tentu saja Marco akan bilang begitu. Semua orang di kota ini berpikir Lumina Tech akan hancur. Beritanya tersebar di mana-mana. CEO mereka dituduh korupsi, i
"Kamu mengambil ponselku?!" Suaranya melengking tajam, topeng sahabat baiknya nyaris retak sepenuhnya. Jemarinya dengan panik menekan tombol daya, memeriksa layarnya.Aku menatapnya dengan tatapan terluka dan mata berkaca-kaca. "Sarah ... kenapa kamu membentakku? A-aku melihat ponselmu tergeletak begitu saja di meja dekat prasmanan setelah insiden minuman tadi. Aku takut ponselmu dicuri pelayan atau tamu lain, jadi aku mengamankannya ke dalam tasku."Sarah menatap layarnya yang masih menampilkan gambar kunci secangkir kopi. Dia mencoba menggeser layarnya, dan matriks kata sandi muncul, seolah tidak pernah terbuka sebelumnya. Bahunya tampak sedikit rileks, tapi matanya masih memicing menatapku."Kanu tidak membukanya?" tanyanya dingin."Membukanya?" Aku memiringkan kepala, memasang ekspresi sangat bingung dan tersinggung. "Tentu saja tidak! Layarnya terkunci, Sarah. Lagipula, untuk apa aku membuka ponselmu? Apa ... apa ada rahasia penting di sana yang tidak boleh kulihat?"Pertanyaanku
"Kalian pikir rencana kalian sempurna?" bisikku tajam ke arah layar, seakan mereka berdua bisa mendengarku dari sana. "Kalian pikir kalian adalah sutradara dari takdirku?" Aku keluar dari aplikasi pesan dan dengan cepat membuka aplikasi Email di ponsel Sarah. "Aku akan menjadikan semua pesan ini sebagai tiket kalian menuju kehancuran total," kataku sambil mengetik cepat. Aku membuat pesan email baru dan mengetikkan alamat email rahasia yang baru saja kubuat kemarin setelah aku terbangun dari kematian, Clara.Reborn@mail.com. "Subjek: Bukti Kebusukan," gumamku sambil mengetik. Aku kembali beralih ke aplikasi chat hijau, memilih opsi 'Ekspor Obrolan' pada kontak Marco, dan melampirkan seluruh teks beserta medianya ke email tersebut. Setelah itu, aku kembali ke folder galeri tersembunyi, memilih puluhan foto paling eksplisit, dan menekan tombol 'Bagikan ke Email'. "Kirim," desakku, menekan tombol panah biru di pojok layar. "Ayo. Cepatlah terkirim." Sebuah baris progres biru muncul d
"Sial," umpatku tertahan. Kepanikan mulai merambat naik di dadaku. Waktuku tidak banyak. Jika aku salah lagi, ponsel ini akan terkunci permanen selama beberapa menit. "Berpikirlah, Clara. Berpikirlah! Apa hari yang paling bersejarah bagi mereka berdua? Hari di mana mereka ..." Mataku melebar saat sebuah kesadaran yang sangat memuakkan menghantam otakku. Hari bersejarah. Hari di mana Sarah secara resmi 'kehilanganku' dan Marco terikat padaku, yang membuat obsesi mereka semakin gila. "Tidak mungkin," bisikku dengan suara bergetar. "Apakah kalian sekejam itu?" Dengan tangan yang kini benar-benar gemetar karena emosi, aku mengetikkan empat angka. Satu, dua, nol, lima. Tanggal dua belas Mei. Tanggal pernikahanku dengan Marco. Layar berkedip hijau. Gembok itu terbuka. "Keparat!" jeritku tertahan, memukul pilar balkon dengan tangan kiriku. "Kalian menjadikan tanggal pernikahanku sebagai sandi rahasia perselingkuhan kalian? Dasar binatang!" Air mata kemarahan menggenang di pelupuk matak
Dengan gerakan cepat dan tenang yang sudah kuperhitungkan, tanganku meluncur ke atas meja. Aku menyelipkan ponsel Sarah ke telapak tanganku, lalu dengan mulus memasukkannya ke clutch pestaku sendiri yang berukuran agak besar. Terdengar bunyi klik pelan saat penutup clutch-ku terkunci. Tepat saat
"Clara! Astaga, sahabatku!" Sarah membuka tangannya lebar-lebar. Aku menyerahkan satu gelas minuman padanya sebelum kami berpelukan cipika-cipiki. "Kamu datang juga akhirnya. Aku mencarimu sejak tadi," kataku dengan antusiasme palsu yang sempurna. "Tentu saja aku datang! Aku tidak mungkin mel
Lampu kilat kamera menyambar-nyambar saat pintu mobil terbuka. Angin malam yang sejuk menerpa wajahku, tetapi tidak sedingin hatiku saat ini. "Berikan tanganmu, Sayang ..." Suara bariton Marco terdengar lembut. "Terima kasih, Suamiku," balasku dengan nada manja yang dibuat-buat. "Kamu terli
Kepalaku terasa pusing. Ingatan terakhirku adalah dinginnya suasana rumah sakit, suara tawa Marco dan Sarah yang kejam, dan sumpah yang kuucapkan dalam kegelapan. Tapi di sini ... di sini hangat. sangat nyaman. Mataku liar memindai sekeliling. Ini kamarku. Kamar tidur utama yang aku rancang sen







