Share

Bab 5: Membuka Rahasia

Author: Bunga Merah
last update publish date: 2026-03-23 06:03:27

Dengan gerakan cepat dan tenang yang sudah kuperhitungkan, tanganku meluncur ke atas meja. Aku menyelipkan ponsel Sarah ke telapak tanganku, lalu dengan mulus memasukkannya ke clutch pestaku sendiri yang berukuran agak besar.

Terdengar bunyi klik pelan saat penutup clutch-ku terkunci.

Tepat saat itu, Marco berbalik dan berjalan kembali ke arahku bersama seorang pelayan yang membawa alat pembersih.

"Pelayan akan mengurusnya," kata Marco dengan nada dingin, menatapku dengan sedikit curiga. "Kamu diam saja di sini. Kamu terlihat aneh malam ini, Clara."

Aku menyentuh penutup clutch-ku yang kini terasa lebih berat. Senyum tipis yang tak bisa kutahan terbit di sudut bibirku.

"Aneh?" balasku dengan suara berbisik, menatap lurus ke mata pria yang akan kuhancurkan itu. Tidak, Marco. Malam ini, aku baru saja mulai menjadi diriku yang sebenarnya.

"Kamu kenapa tersenyum sendiri, Clara?"

Suara dingin Marco membuyarkan lamunanku. Aku menoleh, mendapatinya menatapku dengan kerutan tidak suka di dahi. Pelayan hotel baru saja selesai membersihkan pecahan gelas di dekat kaki kami.

"Tersenyum?" tanyaku dengan nada polos, sengaja melebarkan mata. "Aku tidak tersenyum, Suamiku. Aku menggigit bibir karena menahan rasa gugup. Aku masih merasa sangat bersalah pada Sarah."

"Lain kali perhatikan langkahmu," tegur Marco tajam. "Ini acara penting. Sikap cerobohmu bisa mempermalukanku di depan para investor."

"Maafkan aku, Marco. Hak sepatuku sungguh tersangkut tadi," rengekku pelan, menyentuh lengannya. "Apa kamu sangat marah padaku?"

Marco menghela napas kasar, melepaskan sentuhanku dari lengannya dengan gerakan halus yang seolah tak kentara. "Tidak. Aku tidak marah. Hanya saja, tolong kendalikan dirimu. Aku harus kembali menemui dewan direksi."

"Pergilah, Sayang. Sapa mereka. Kamu adalah bintang utama malam ini," dorongku dengan senyum manis. "Aku ... kurasa aku butuh udara segar. Perutku sedikit mual karena terkejut tadi."

"Mual? Kamu sakit?" Marco menatapku, kali ini ada kilat aneh di matanya yang dulu selalu kuartikan sebagai kekhawatiran, tapi kini aku tahu itu hanyalah observasi untuk rencananya.

"Hanya sedikit pusing. Balkon di lantai atas biasanya sepi. Aku akan ke sana sebentar untuk menenangkan diri," jawabku meyakinkan.

"Ya sudah. Jangan terlalu lama. Hubungi aku kalau kamu butuh sesuatu," kata Marco sebelum berbalik dan berjalan meninggalkanku menuju kerumunan pria berjas itu.

"Tentu saja, Suamiku," bisikku pada punggungnya yang menjauh. "Aku akan menemukan semua yang kubutuhkan malam ini."

Aku memutar tubuh, memeluk clutch pestaku erat-erat di depan dada. Jantungku berdetak dengan ritme yang liar. Setiap langkah menuju tangga VIP di ujung lorong terasa seperti hitungan mundur menuju sebuah ledakan besar.

Begitu sampai di lantai dua, aku mendorong pintu kaca berat yang menuju ke arah balkon sayap utara. Angin malam langsung menerpa wajahku, membawa serta kesunyian yang kubutuhkan. Alunan musik orkestra dari ballroom di bawah terdengar sayup-sayup, teredam oleh tebalnya dinding kaca.

Aku berjalan cepat menuju sudut paling gelap di balkon itu, berlindung di balik bayangan pilar beton raksasa.

"Baiklah, Sarah," desisku pelan ke udara kosong. "Mari kita lihat apa saja rahasia menjijikkan yang kamu sembunyikan di dalam sini."

Tanganku sedikit gemetar saat aku membuka tas dan mengeluarkan ponsel bersampul hitam itu. Layarnya menyala, menampilkan foto layar kunci: gambar secangkir kopi dengan latar belakang pemandangan senja. Sangat estetik. Sangat palsu.

"Geser untuk membuka," gumamku membaca instruksi di layar.

Aku menggeser layarnya. Sebuah matriks titik-titik sembilan pola muncul, meminta kata sandi keamanan.

"Pola sandi," aku terkekeh getir. "Apa yang dipakai oleh wanita simpanan yang merasa dirinya sangat pintar tapi sebenarnya sangat mudah ditebak?"

Aku menutup mataku sejenak, mengingat kembali percakapan di kehidupanku yang lalu. Sarah sangat terobsesi pada Marco. Dia selalu menginginkan apa yang kumiliki.

"Di kehidupanku yang dulu, setelah aku memergokinya, dia pernah menyombongkan diri bahwa segala hal tentangnya adalah tentang suamiku," bisikku pada diriku sendiri. "Mari kita buktikan."

Jari telunjukku menyentuh layar, menarik garis dari sudut kiri bawah, naik ke atas, menyilang ke tengah bawah, naik ke kanan atas, dan lurus ke kanan bawah.

Membentuk huruf M.

Klik.

Layar beranda terbuka seketika.

"Tepat sasaran," tawaku sinis, nyaris terdengar seperti isakan. "Kalian berdua benar-benar bajingan yang tidak kreatif. Huruf M untuk Marco."

Tanpa membuang waktu satu detik pun, ibu jariku menekan ikon Galeri. Berbagai foto selfie dan foto desain interior muncul. Aku tidak peduli dengan itu semua. Aku menggulir layar ke bawah, mencari album tersembunyi.

"Pasti ada di sini... ah, ini dia."

Sebuah folder bernama 'Proyek Impian' berada di urutan paling bawah, terkunci dengan ikon gembok kecil. Aku menekannya. Layar kembali meminta sebuah PIN berupa empat angka.

"PIN," gumamku, memutar otak. "Tanggal lahir Marco? Mari kita coba. Nol, delapan, satu, dua."

Layar bergetar merah. Kata sandi salah.

"Bukan tanggal lahirnya?" Aku mengerutkan dahi. "Lalu apa? Tanggal lahir Sarah sendiri? Satu, dua, nol, empat."

Layar kembali bergetar merah. Kata sandi salah. Percobaan tersisa 3 kali.

"Sial, kenapa salah terus?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 11: Rahasia Lain Suamiku

    Bagaimana dia tahu aku sedang menunggu broker?Adrian seolah bisa membaca pikiranku. Dia tersenyum tipis, senyum pertama yang kulihat darinya, tapi senyum itu tidak menunjukkan kehangatan sama sekali."Tenang, saya tidak membuntuti Anda," jelasnya. "Hanya orang-orang tertentu yang datang ke kafe ini di jam kerja sambil membawa tas dokumen dan terus-menerus melirik ke arah pintu. Cukup mudah ditebak. Apalagi setelah saya mengenali siapa Anda."Aku menelan ludah. Pria ini berbahaya. Analisanya terlalu cepat dan akurat. Aku tidak punya pilihan selain duduk kembali, memeluk blazerku yang rusak di pangkuan."Apa mau Anda, Tuan Adrian?" tanyaku dengan nada sedingin mungkin, mencoba menyamai auranya."Tidak ada. Awalnya," jawabnya. "Tadinya saya hanya ingin minta maaf dan mengganti rugi. Tapi sekarang setelah tahu siapa Anda, saya jadi sedikit penasaran.""Penasaran tentang apa?""Tentang apa yang dilakukan seorang Nyonya Marco Alexander di kafe kelas menengah seperti ini, sendirian, dengan

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 10: Pertemuan Tak Terduga

    Pagi berikutnya, aku menyelinap keluar dari rumah seperti pencuri. Aku sengaja menunggu hingga Marco berangkat ke kantor. Kepada Bi Inah, asisten rumah tangga kami, aku hanya berpesan singkat. "Bi, saya mau ke butik bunga sebentar, mungkin agak siang baru pulang," kataku sambil merapikan syal sutra yang menutupi leherku. "Baik, Nyonya. Perlu saya siapkan bekal makan siang?" tawar Bi Inah dengan ramah. "Tidak perlu, Bi. Terima kasih." Tentu saja aku tidak pergi ke butik. Aku mengendarai mobil kompak milikku, bukan sedan mewah yang biasa kusopiri, menuju sebuah kafe kecil yang terletak di distrik bisnis pinggiran. Namanya "The Daily Grind Cafe". Tempat ini jauh dari jangkauan lingkaran sosialita dan kolega bisnis Marco. Sempurna untuk pertemuan rahasiaku. Di dalam, aroma kopi yang pekat dan roti panggang menyambutku. Aku memilih meja di sudut paling belakang, dekat jendela yang menghadap ke sebuah gang sempit. Aku mengenakan kacamata hitam besar dan sebuah blazer sederhana berwarn

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 9: Memasang Wajah Polos

    "Ada apa, Marco? Kenapa reaksimu begitu?" tanyaku pura-pura bingung. Sarah menyela dengan nada sedikit menggurui, "Clara sayang, Lumina Tech itu saat ini sedang berada di ambang kehancuran. Saham mereka anjlok parah minggu ini karena CEO mereka dituduh menggelapkan dana riset. Perusahaan itu sedang diselidiki otoritas keuangan." "Benarkah?" Aku membulatkan mata, berpura-pura terkejut. "Tapi ... tapi Datin Rossa bilang justru saat harganya murah begini kita harus beli! Nanti kalau masalahnya selesai, harganya akan naik tajam!" "Itu namanya spekulasi buta, Clara!" tegur Marco sedikit keras. "Datin Rossa itu hanya sosialita yang kelebihan uang dari suaminya. Lumina Tech adalah investasi yang sangat berisiko tinggi. Sangat berisiko! Hampir bisa dipastikan perusahaan itu akan bangkrut bulan depan." Aku menahan senyum dalam-dalam. Tentu saja Marco akan bilang begitu. Semua orang di kota ini berpikir Lumina Tech akan hancur. Beritanya tersebar di mana-mana. CEO mereka dituduh korupsi, i

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 8: Langkah Awal

    "Kamu mengambil ponselku?!" Suaranya melengking tajam, topeng sahabat baiknya nyaris retak sepenuhnya. Jemarinya dengan panik menekan tombol daya, memeriksa layarnya.Aku menatapnya dengan tatapan terluka dan mata berkaca-kaca. "Sarah ... kenapa kamu membentakku? A-aku melihat ponselmu tergeletak begitu saja di meja dekat prasmanan setelah insiden minuman tadi. Aku takut ponselmu dicuri pelayan atau tamu lain, jadi aku mengamankannya ke dalam tasku."Sarah menatap layarnya yang masih menampilkan gambar kunci secangkir kopi. Dia mencoba menggeser layarnya, dan matriks kata sandi muncul, seolah tidak pernah terbuka sebelumnya. Bahunya tampak sedikit rileks, tapi matanya masih memicing menatapku."Kanu tidak membukanya?" tanyanya dingin."Membukanya?" Aku memiringkan kepala, memasang ekspresi sangat bingung dan tersinggung. "Tentu saja tidak! Layarnya terkunci, Sarah. Lagipula, untuk apa aku membuka ponselmu? Apa ... apa ada rahasia penting di sana yang tidak boleh kulihat?"Pertanyaanku

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 7: Memegang Bukti

    "Kalian pikir rencana kalian sempurna?" bisikku tajam ke arah layar, seakan mereka berdua bisa mendengarku dari sana. "Kalian pikir kalian adalah sutradara dari takdirku?" Aku keluar dari aplikasi pesan dan dengan cepat membuka aplikasi Email di ponsel Sarah. "Aku akan menjadikan semua pesan ini sebagai tiket kalian menuju kehancuran total," kataku sambil mengetik cepat. Aku membuat pesan email baru dan mengetikkan alamat email rahasia yang baru saja kubuat kemarin setelah aku terbangun dari kematian, Clara.Reborn@mail.com. "Subjek: Bukti Kebusukan," gumamku sambil mengetik. Aku kembali beralih ke aplikasi chat hijau, memilih opsi 'Ekspor Obrolan' pada kontak Marco, dan melampirkan seluruh teks beserta medianya ke email tersebut. Setelah itu, aku kembali ke folder galeri tersembunyi, memilih puluhan foto paling eksplisit, dan menekan tombol 'Bagikan ke Email'. "Kirim," desakku, menekan tombol panah biru di pojok layar. "Ayo. Cepatlah terkirim." Sebuah baris progres biru muncul d

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 6: Pesan Rahasia

    "Sial," umpatku tertahan. Kepanikan mulai merambat naik di dadaku. Waktuku tidak banyak. Jika aku salah lagi, ponsel ini akan terkunci permanen selama beberapa menit. "Berpikirlah, Clara. Berpikirlah! Apa hari yang paling bersejarah bagi mereka berdua? Hari di mana mereka ..." Mataku melebar saat sebuah kesadaran yang sangat memuakkan menghantam otakku. Hari bersejarah. Hari di mana Sarah secara resmi 'kehilanganku' dan Marco terikat padaku, yang membuat obsesi mereka semakin gila. "Tidak mungkin," bisikku dengan suara bergetar. "Apakah kalian sekejam itu?" Dengan tangan yang kini benar-benar gemetar karena emosi, aku mengetikkan empat angka. Satu, dua, nol, lima. Tanggal dua belas Mei. Tanggal pernikahanku dengan Marco. Layar berkedip hijau. Gembok itu terbuka. "Keparat!" jeritku tertahan, memukul pilar balkon dengan tangan kiriku. "Kalian menjadikan tanggal pernikahanku sebagai sandi rahasia perselingkuhan kalian? Dasar binatang!" Air mata kemarahan menggenang di pelupuk matak

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 4: Sahabat Palsu

    "Clara! Astaga, sahabatku!" Sarah membuka tangannya lebar-lebar. Aku menyerahkan satu gelas minuman padanya sebelum kami berpelukan cipika-cipiki. "Kamu datang juga akhirnya. Aku mencarimu sejak tadi," kataku dengan antusiasme palsu yang sempurna. "Tentu saja aku datang! Aku tidak mungkin mel

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 3: Pesta Penuh Kepura-puraan

    Lampu kilat kamera menyambar-nyambar saat pintu mobil terbuka. Angin malam yang sejuk menerpa wajahku, tetapi tidak sedingin hatiku saat ini. "Berikan tanganmu, Sayang ..." Suara bariton Marco terdengar lembut. "Terima kasih, Suamiku," balasku dengan nada manja yang dibuat-buat. "Kamu terli

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 2: Tanggal di Kalender

    Kepalaku terasa pusing. Ingatan terakhirku adalah dinginnya suasana rumah sakit, suara tawa Marco dan Sarah yang kejam, dan sumpah yang kuucapkan dalam kegelapan. Tapi di sini ... di sini hangat. sangat nyaman. Mataku liar memindai sekeliling. Ini kamarku. Kamar tidur utama yang aku rancang sen

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 1: Kematian yang Dingin

    "Clara, Sayang ... kamu bisa mendengarku?" Sebuah tangan yang hangat dan kuat menggenggam tanganku yang dingin. Itu tangan Marco, suamiku. Aku mencoba menjawab, bahkan hanya untuk menggerakkan jariku sebagai balasan, tetapi tubuh ini bukan lagi milikku. Dia seolah telah menyerah. "Bertahanlah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status