Share

Bab 4: Sahabat Palsu

Author: Bunga Merah
last update publish date: 2026-03-22 23:36:43

"Clara! Astaga, sahabatku!" Sarah membuka tangannya lebar-lebar.

Aku menyerahkan satu gelas minuman padanya sebelum kami berpelukan cipika-cipiki.

"Kamu datang juga akhirnya. Aku mencarimu sejak tadi," kataku dengan antusiasme palsu yang sempurna.

"Tentu saja aku datang! Aku tidak mungkin melewatkan hari besar sahabatku dan ..." Sarah melirik ke samping saat Marco tiba di sebelah kami. "...dan suamimu yang hebat ini. Malam, Marco."

"Malam, Sarah. Terima kasih sudah datang," jawab Marco dengan nada formal. Sangat formal, hingga terdengar lucu bagiku.

"Gaunmu indah sekali, Sarah," pujiku, mundur selangkah untuk menatapnya dari atas ke bawah. "Warna hijau zamrud benar-benar menonjolkan kulitmu. Sayang sekali kamu datang sendiri. Tidak ada pria yang menggandengmu malam ini?"

Aku melihat rahang Marco sedikit menegang mendengar ucapanku.

Sarah tertawa pelan, tawanya terdengar sedikit dipaksakan. "Ah, kamu tahu aku, Clara. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaan. Lagipula, sulit mencari pria yang bisa menandingi standar yang kalian berdua tetapkan. Kalian ini pasangan impian."

"Jangan berkata begitu, Sarah," sahutku lembut, menatap matanya dalam-dalam. "Aku yakin di luar sana, atau mungkin di dekat sini, ada pria yang sangat mendambakanmu. Kamu hanya perlu lebih berani mengambil... apa yang kamu inginkan."

Mata Sarah berkedip cepat. Dia melirik Marco sekilas, tampak ragu dengan maksud ucapanku.

"Clara benar," Marco tiba-tiba menyela, suaranya sedikit lebih berat. "Wanita secantik dan sepintar dirimu, Sarah, pasti punya banyak pengagum rahasia. Kamu tidak perlu cemburu pada kami."

"Aku tidak cemburu." Sarah terkekeh, menyesap minumannya. "Aku ikut bahagia. Clara adalah wanita yang sangat beruntung. Kamu menjaganya dengan sangat baik, Marco."

"Dia suamiku, Sarah. Tentu saja dia menjagaku," potongku cepat, tertawa kecil. "Tapi terkadang, aku merasa aku tidak cukup memperhatikannya. Mungkin aku harus mencari asisten pribadi untuknya. Seseorang yang sangat mengenalnya, yang bisa mengurus kebutuhannya di luar rumah. Bagaimana menurutmu, Sarah? Kamu kan sangat mengenal kami."

Suasana mendadak menjadi kaku.

"Asisten pribadi?" Sarah mengulangi, menelan ludah.

"Sayang, kamu ini bicara apa? Aku tidak butuh asisten pribadi. Kamu sudah lebih dari cukup untukku." Marco menyahut cepat, tertawa garing.

"Aku hanya bercanda, Marco," ucapku, memukul pelan lengannya dengan manja. "Kalian berdua ini tegang sekali. Santai saja. Ini pesta kita!"

"Ya, tentu. Pesta," gumam Sarah, meletakkan tas kecilnya, sebuah clutch berwarna emas di atas meja tinggi di sampingnya. Dia juga meletakkan ponselnya tepat di sebelah tas itu.

Mataku langsung terkunci pada ponsel itu. Benda kecil bercasing hitam itu adalah kunci utamanya. Di dalamnya tersimpan kebusukan mereka. Aku harus mendapatkannya malam ini juga.

"Ngomong-ngomong, Sarah," kataku seraya melangkah lebih dekat padanya. "Aku melihat desain interior baru untuk apartemenmu di media sosial. Terlihat sangat ... maskulin. Kamu merombaknya untuk seseorang?"

Wajah Sarah memucat sejenak. "Oh! I-itu ... tidak. Aku hanya bosan dengan warna-warna pastel. Aku sedang mencoba gaya industrial."

"Benarkah? Baguslah. Karena di salah satu fotomu, aku melihat ada dasi pria tergeletak di sofa. Aku sempat berpikir kamu sudah menyembunyikan seorang kekasih dari sahabatmu sendiri," kataku sambil tertawa geli.

"Dasi? Oh, itu ... itu milik adikku! Ya, dia mampir minggu lalu."

Marco terbatuk kecil, membuang muka untuk menatap meja prasmanan. "Aku permisi sebentar, aku harus mengambilkan minuman baru untuk Pak Direktur Utama di sana."

Ini kesempatanku.

"Biar aku saja yang ambilkan, Marco," kataku sambil bergerak maju dengan cepat.

Saat aku melangkah, aku sengaja menyangkutkan ujung hak tinggi sepatuku pada karpet tebal di bawah meja. Tubuhku limbung ke depan.

"Aaaah!" jeritku dengan suara yang kubuat se-natural mungkin.

Aku mengayunkan tangan yang memegang gelas yang berisi minuman penuh ke arah Sarah. Cairan merah itu tumpah dengan sempurna, menyiram tepat di bagian dada dan perut gaun sutra hijau zamrudnya. Gelas kristal itu jatuh dan pecah di lantai berkarpet.

"Ya Tuhan!" pekik Sarah, melompat mundur. "Gaunku!"

"Astaga! Astaga, Sarah! Maafkan aku!" Aku menutup mulut dengan kedua tangan, memasang ekspresi sangat terkejut dan bersalah. "Hak sepatuku tersangkut! Astaga, aku ceroboh sekali!"

Marco langsung berbalik, wajahnya terlihat marah. "Clara! Apa yang kamu lakukan?"

"Aku tidak sengaja, Marco! Sungguh!" rengekku, mendekati Sarah dengan panik. "Sarah, maafkan aku. Gaun sutramu ... ini akan meninggalkan noda."

Wajah Sarah memerah padam karena marah, tapi dia berusaha keras mempertahankan senyum tipisnya karena beberapa tamu mulai menoleh ke arah kami.

"Ti-tidak apa-apa, Clara," desis Sarah melalui gigi yang terkatup rapat. Matanya menatapku dengan kilatan kebencian yang selama ini ia sembunyikan. "Ini hanya kecelakaan kecil."

"Mana bisa tidak apa-apa? Kamu basah kuyup!" seruku prihatin. "Kamu harus segera membersihkannya sebelum lengket. Pergilah ke kamar mandi VVIP di lorong sebelah kanan. Itu lebih sepi. Aku akan menyuruh pelayan membawakan pengering rambut dan handuk bersih ke sana."

Sarah melihat ke arah gaunnya yang kini tembus pandang di beberapa bagian karena basah. Dia memeluk tubuhnya sendiri dengan canggung. "Baiklah. A-aku ke kamar mandi dulu."

"Mau kutemani?" tawarku dengan nada bersalah tingkat dewa.

"TIDAK!" jawab Sarah cepat, nadanya lebih keras dari yang seharusnya. Dia berdeham, mencoba melembutkan suaranya. "Maksudku ... tidak usah, Clara. Kamu temani saja Marco. Aku bisa mengurusnya sendiri. Ini akan memakan waktu."

Tanpa menunggu balasan, Sarah berbalik dan berjalan cepat membelah kerumunan dengan wajah tertunduk menahan malu. Karena terburu-buru dan panik, dia melupakan meja tinggi di sebelahnya.

Dia meninggalkan clutch emasnya. Dan yang lebih penting ... dia meninggalkan ponselnya di sana.

Marco menghela napas kasar, memijat pangkal hidungnya. "Clara, bagaimana kamu bisa seceroboh itu? Dia tamu istimewa kita."

"Aku bilang aku tidak sengaja, Marco!" balasku dengan mata berkaca-kaca, memainkan peran istri malang yang merasa bersalah. "Aku merasa sangat buruk. Tolong panggilkan pelayan untuk membersihkan pecahan gelas ini, ya? Kakiku gemetar."

"Tetap di sini. Jangan ke mana-mana. Aku akan mencari pelayan."

Pria itu berbalik dan berjalan menjauh dariku, matanya menyapu ruangan mencari staf hotel.

Begitu punggung Marco berbalik, air mata palsu di mataku langsung menguap. Tubuhku yang tadinya pura-pura gemetar kini berdiri tegap. Aku menoleh ke arah meja tinggi di sampingku.

Ponsel hitam itu tergeletak diam seperti menungguku.

Jantungku berdebar memompa adrenalin. Aku melirik ke kiri dan ke kanan. Tamu-tamu lain sibuk dengan obrolan mereka, tidak ada yang memperhatikan sudut ini karena tontonan insiden tumpahan minuman sudah berakhir. Marco masih berdiri beberapa meter dariku, berbicara dengan seorang pelayan sambil menunjuk ke arahku.

Waktuku tidak banyak, aku harus mendapatkan ponsel itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 11: Rahasia Lain Suamiku

    Bagaimana dia tahu aku sedang menunggu broker?Adrian seolah bisa membaca pikiranku. Dia tersenyum tipis, senyum pertama yang kulihat darinya, tapi senyum itu tidak menunjukkan kehangatan sama sekali."Tenang, saya tidak membuntuti Anda," jelasnya. "Hanya orang-orang tertentu yang datang ke kafe ini di jam kerja sambil membawa tas dokumen dan terus-menerus melirik ke arah pintu. Cukup mudah ditebak. Apalagi setelah saya mengenali siapa Anda."Aku menelan ludah. Pria ini berbahaya. Analisanya terlalu cepat dan akurat. Aku tidak punya pilihan selain duduk kembali, memeluk blazerku yang rusak di pangkuan."Apa mau Anda, Tuan Adrian?" tanyaku dengan nada sedingin mungkin, mencoba menyamai auranya."Tidak ada. Awalnya," jawabnya. "Tadinya saya hanya ingin minta maaf dan mengganti rugi. Tapi sekarang setelah tahu siapa Anda, saya jadi sedikit penasaran.""Penasaran tentang apa?""Tentang apa yang dilakukan seorang Nyonya Marco Alexander di kafe kelas menengah seperti ini, sendirian, dengan

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 10: Pertemuan Tak Terduga

    Pagi berikutnya, aku menyelinap keluar dari rumah seperti pencuri. Aku sengaja menunggu hingga Marco berangkat ke kantor. Kepada Bi Inah, asisten rumah tangga kami, aku hanya berpesan singkat. "Bi, saya mau ke butik bunga sebentar, mungkin agak siang baru pulang," kataku sambil merapikan syal sutra yang menutupi leherku. "Baik, Nyonya. Perlu saya siapkan bekal makan siang?" tawar Bi Inah dengan ramah. "Tidak perlu, Bi. Terima kasih." Tentu saja aku tidak pergi ke butik. Aku mengendarai mobil kompak milikku, bukan sedan mewah yang biasa kusopiri, menuju sebuah kafe kecil yang terletak di distrik bisnis pinggiran. Namanya "The Daily Grind Cafe". Tempat ini jauh dari jangkauan lingkaran sosialita dan kolega bisnis Marco. Sempurna untuk pertemuan rahasiaku. Di dalam, aroma kopi yang pekat dan roti panggang menyambutku. Aku memilih meja di sudut paling belakang, dekat jendela yang menghadap ke sebuah gang sempit. Aku mengenakan kacamata hitam besar dan sebuah blazer sederhana berwarn

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 9: Memasang Wajah Polos

    "Ada apa, Marco? Kenapa reaksimu begitu?" tanyaku pura-pura bingung. Sarah menyela dengan nada sedikit menggurui, "Clara sayang, Lumina Tech itu saat ini sedang berada di ambang kehancuran. Saham mereka anjlok parah minggu ini karena CEO mereka dituduh menggelapkan dana riset. Perusahaan itu sedang diselidiki otoritas keuangan." "Benarkah?" Aku membulatkan mata, berpura-pura terkejut. "Tapi ... tapi Datin Rossa bilang justru saat harganya murah begini kita harus beli! Nanti kalau masalahnya selesai, harganya akan naik tajam!" "Itu namanya spekulasi buta, Clara!" tegur Marco sedikit keras. "Datin Rossa itu hanya sosialita yang kelebihan uang dari suaminya. Lumina Tech adalah investasi yang sangat berisiko tinggi. Sangat berisiko! Hampir bisa dipastikan perusahaan itu akan bangkrut bulan depan." Aku menahan senyum dalam-dalam. Tentu saja Marco akan bilang begitu. Semua orang di kota ini berpikir Lumina Tech akan hancur. Beritanya tersebar di mana-mana. CEO mereka dituduh korupsi, i

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 8: Langkah Awal

    "Kamu mengambil ponselku?!" Suaranya melengking tajam, topeng sahabat baiknya nyaris retak sepenuhnya. Jemarinya dengan panik menekan tombol daya, memeriksa layarnya.Aku menatapnya dengan tatapan terluka dan mata berkaca-kaca. "Sarah ... kenapa kamu membentakku? A-aku melihat ponselmu tergeletak begitu saja di meja dekat prasmanan setelah insiden minuman tadi. Aku takut ponselmu dicuri pelayan atau tamu lain, jadi aku mengamankannya ke dalam tasku."Sarah menatap layarnya yang masih menampilkan gambar kunci secangkir kopi. Dia mencoba menggeser layarnya, dan matriks kata sandi muncul, seolah tidak pernah terbuka sebelumnya. Bahunya tampak sedikit rileks, tapi matanya masih memicing menatapku."Kanu tidak membukanya?" tanyanya dingin."Membukanya?" Aku memiringkan kepala, memasang ekspresi sangat bingung dan tersinggung. "Tentu saja tidak! Layarnya terkunci, Sarah. Lagipula, untuk apa aku membuka ponselmu? Apa ... apa ada rahasia penting di sana yang tidak boleh kulihat?"Pertanyaanku

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 7: Memegang Bukti

    "Kalian pikir rencana kalian sempurna?" bisikku tajam ke arah layar, seakan mereka berdua bisa mendengarku dari sana. "Kalian pikir kalian adalah sutradara dari takdirku?" Aku keluar dari aplikasi pesan dan dengan cepat membuka aplikasi Email di ponsel Sarah. "Aku akan menjadikan semua pesan ini sebagai tiket kalian menuju kehancuran total," kataku sambil mengetik cepat. Aku membuat pesan email baru dan mengetikkan alamat email rahasia yang baru saja kubuat kemarin setelah aku terbangun dari kematian, Clara.Reborn@mail.com. "Subjek: Bukti Kebusukan," gumamku sambil mengetik. Aku kembali beralih ke aplikasi chat hijau, memilih opsi 'Ekspor Obrolan' pada kontak Marco, dan melampirkan seluruh teks beserta medianya ke email tersebut. Setelah itu, aku kembali ke folder galeri tersembunyi, memilih puluhan foto paling eksplisit, dan menekan tombol 'Bagikan ke Email'. "Kirim," desakku, menekan tombol panah biru di pojok layar. "Ayo. Cepatlah terkirim." Sebuah baris progres biru muncul d

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 6: Pesan Rahasia

    "Sial," umpatku tertahan. Kepanikan mulai merambat naik di dadaku. Waktuku tidak banyak. Jika aku salah lagi, ponsel ini akan terkunci permanen selama beberapa menit. "Berpikirlah, Clara. Berpikirlah! Apa hari yang paling bersejarah bagi mereka berdua? Hari di mana mereka ..." Mataku melebar saat sebuah kesadaran yang sangat memuakkan menghantam otakku. Hari bersejarah. Hari di mana Sarah secara resmi 'kehilanganku' dan Marco terikat padaku, yang membuat obsesi mereka semakin gila. "Tidak mungkin," bisikku dengan suara bergetar. "Apakah kalian sekejam itu?" Dengan tangan yang kini benar-benar gemetar karena emosi, aku mengetikkan empat angka. Satu, dua, nol, lima. Tanggal dua belas Mei. Tanggal pernikahanku dengan Marco. Layar berkedip hijau. Gembok itu terbuka. "Keparat!" jeritku tertahan, memukul pilar balkon dengan tangan kiriku. "Kalian menjadikan tanggal pernikahanku sebagai sandi rahasia perselingkuhan kalian? Dasar binatang!" Air mata kemarahan menggenang di pelupuk matak

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 5: Membuka Rahasia

    Dengan gerakan cepat dan tenang yang sudah kuperhitungkan, tanganku meluncur ke atas meja. Aku menyelipkan ponsel Sarah ke telapak tanganku, lalu dengan mulus memasukkannya ke clutch pestaku sendiri yang berukuran agak besar. Terdengar bunyi klik pelan saat penutup clutch-ku terkunci. Tepat saat

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 3: Pesta Penuh Kepura-puraan

    Lampu kilat kamera menyambar-nyambar saat pintu mobil terbuka. Angin malam yang sejuk menerpa wajahku, tetapi tidak sedingin hatiku saat ini. "Berikan tanganmu, Sayang ..." Suara bariton Marco terdengar lembut. "Terima kasih, Suamiku," balasku dengan nada manja yang dibuat-buat. "Kamu terli

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 2: Tanggal di Kalender

    Kepalaku terasa pusing. Ingatan terakhirku adalah dinginnya suasana rumah sakit, suara tawa Marco dan Sarah yang kejam, dan sumpah yang kuucapkan dalam kegelapan. Tapi di sini ... di sini hangat. sangat nyaman. Mataku liar memindai sekeliling. Ini kamarku. Kamar tidur utama yang aku rancang sen

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 1: Kematian yang Dingin

    "Clara, Sayang ... kamu bisa mendengarku?" Sebuah tangan yang hangat dan kuat menggenggam tanganku yang dingin. Itu tangan Marco, suamiku. Aku mencoba menjawab, bahkan hanya untuk menggerakkan jariku sebagai balasan, tetapi tubuh ini bukan lagi milikku. Dia seolah telah menyerah. "Bertahanlah

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status