Share

Bab 6: Pesan Rahasia

Author: Bunga Merah
last update publish date: 2026-03-23 15:33:00

"Sial," umpatku tertahan. Kepanikan mulai merambat naik di dadaku. Waktuku tidak banyak. Jika aku salah lagi, ponsel ini akan terkunci permanen selama beberapa menit. "Berpikirlah, Clara. Berpikirlah! Apa hari yang paling bersejarah bagi mereka berdua? Hari di mana mereka ..."

Mataku melebar saat sebuah kesadaran yang sangat memuakkan menghantam otakku. Hari bersejarah. Hari di mana Sarah secara resmi 'kehilanganku' dan Marco terikat padaku, yang membuat obsesi mereka semakin gila.

"Tidak mungkin," bisikku dengan suara bergetar. "Apakah kalian sekejam itu?"

Dengan tangan yang kini benar-benar gemetar karena emosi, aku mengetikkan empat angka. Satu, dua, nol, lima. Tanggal dua belas Mei.

Tanggal pernikahanku dengan Marco.

Layar berkedip hijau. Gembok itu terbuka.

"Keparat!" jeritku tertahan, memukul pilar balkon dengan tangan kiriku. "Kalian menjadikan tanggal pernikahanku sebagai sandi rahasia perselingkuhan kalian? Dasar binatang!"

Air mata kemarahan menggenang di pelupuk mataku saat ratusan foto terbuka di depan wajahku. Napasku memburu. Aku memaksa mataku untuk melihat bukti-bukti kejatuhanku sendiri.

"Menjijikkan," desisku, menggeser foto pertama. "Di ranjang kami? Di atas seprai yang kubeli dari Italia? Kamu membawanya masuk saat aku menjenguk ibuku di rumah sakit?"

Aku menggeser ke foto berikutnya.

"Dan ini ... liburan 'bisnis' Marco ke Bali dua bulan lalu? Kalian berfoto dengan jubah mandi di vila yang sama?" Suaraku terdengar serak, tenggorokanku seolah tercekik oleh duri. "Pantas saja dia melarangku ikut dengan alasan ini perjalanan urusan internal perusahaan."

Aku tidak sanggup melihat foto-foto kulit yang bersentuhan itu lebih lama lagi. Rasa mual di perutku kini bukan lagi kebohongan. Aku beralih ke aplikasi pesan singkat, mencari kebenaran yang lebih dalam dari sekadar perselingkuhan fisik.

Aku membuka aplikasi chat hijau. Kontak yang disematkan di paling atas bernama "My M".

Aku membuka riwayat obrolan mereka. Deretan gelembung hijau dan putih menyambutku. Aku mulai membaca dari pesan beberapa bulan yang lalu, membacanya keras-keras dengan suara berbisik untuk memastikan telingaku mendengar kenyataan ini.

[Sarah: Marco, aku benci melihatnya memelukmu di acara tadi. Dia terlihat sangat bangga memilikimu.]

[Marco: Sabar, Sayang. Kau tahu aku hanya mencintaimu. Ini semua demi kelancaran rencana kita. Kau harus terus berpura-pura menjadi sahabat yang mendukungnya.]

[Sarah: Berapa lama lagi aku harus berakting? Aku muak bermain menjadi pendengar yang baik. Dia terlalu cerewet. Kapan kita bisa mengambil alih semuanya?]

Aku mencengkeram ponsel itu kuat-kuat. "Jadi sejak awal... pertemanan kita selama ini juga hanya sebuah skenario?" ratapku pada kehampaan. "Kamu tidak pernah menganggapku sebagai sahabat, Sarah."

Aku melanjutkan membaca balasan Marco di layar.

[Marco: Tidak akan lama lagi. Setelah semua aset pribadinya dan sisa saham perusahaan sepenuhnya dialihkan atas namaku, kita tidak perlu berpura-pura lagi. Dokter bilang kesehatannya akan terus menurun jika obat itu terus dikonsumsi.]

Napas tertahan di tenggorokan. Mataku terbelalak lebar membaca kata-kata itu.

"Obat?" gumamku panik. "Obat apa?"

Aku menggulir layar dengan liar ke bawah, mencari kelanjutan pesan itu.

[Sarah: Kamu yakin vitamin itu bekerja? Kenapa dia masih terlihat segar hari ini?]

[Marco: Tentu saja bekerja. Pil tidur berdosis tinggi yang kucampur sedikit demi sedikit di teh chamomile rutinnya setiap malam sudah menunjukkan hasil. Jantungnya akan perlahan melemah. Jika dia mati karena serangan jantung atau gagal organ, tidak akan ada yang curiga. Itu wajar.]

[Sarah: Jangan sampai dosisnya kurang, Marco. Pastikan dia meminum tehnya sampai habis. Aku ingin dia cepat lenyap dari rumah itu. Aku sudah memilihkan sofa baru untuk ruang tengah kita nanti.]

Aku menutup mulut dengan tangan, menahan jeritan yang hampir meledak. Kakiku terasa lemas. Aku merosot perlahan hingga terduduk di lantai balkon yang dingin.

"Teh chamomile," isakku, air mata akhirnya jatuh membasahi pipiku. "Teh buatan suami tercinta yang selalu kuminum sebelum tidur karena kupikir itu bentuk perhatiannya. Kamu ... kamu meracuniku setiap malam, Marco?"

Pantas saja. Pantas saja di bulan-bulan terakhir sebelum kematianku di kehidupan yang lalu, aku sering merasa lelah luar biasa. Jantungku sering berdebar tidak karuan, kepalaku berkunang-kunang. Dan Marco dengan wajah penuh empati mengantarku ke dokter langganannya, yang sekarang kuyakini pasti sudah dibayar olehnya.

Aku menatap layar ponsel itu dengan tatapan membunuh. Ini bukan sekadar perselingkuhan. Ini adalah konspirasi pembunuhan berencana yang sangat rapi.

Aku kembali menatap layar, membaca pesan yang dikirim seminggu sebelum pesta ini.

[Sarah: Marco, aku tidak sabar menunggu jantungnya melemah. Itu terlalu lama. Bagaimana dengan rencana cadangan kita? Rem mobilnya?]

[Marco: Montir kepercayaanku sedang mengatur waktu yang pas. Kita butuh momen yang tepat agar terlihat seperti murni kecelakaan tunggal.]

[Sarah: Nanti saat dia pergi ke butik langganannya sendirian bulan depan, kita eksekusi saja. Jalanan menuruni bukit di kawasan itu sangat curam. Rem blong di sana adalah resep kematian yang sempurna.]

[Marco: Kamu memang wanita tercerdas, Ratu-ku. Aku akan mengaturnya. Pastikan kau mengundangnya keluar hari itu agar jadwalnya pasti.]

"Jadi begitulah cara kalian melakukannya," desisku. Suaraku kini tidak lagi bergetar karena tangis, melainkan mendingin seperti baja. Air mataku telah mengering seketika, menguap oleh panasnya amarah. "Kalian merencanakan kematianku layaknya merencanakan jadwal liburan."

Aku bangkit berdiri. Lututku tidak lagi gemetar. Ketakutan dan kelemahanku telah mati sepenuhnya. Yang ada di dalam dadaku sekarang hanyalah mesin pembalasan dendam.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 11: Rahasia Lain Suamiku

    Bagaimana dia tahu aku sedang menunggu broker?Adrian seolah bisa membaca pikiranku. Dia tersenyum tipis, senyum pertama yang kulihat darinya, tapi senyum itu tidak menunjukkan kehangatan sama sekali."Tenang, saya tidak membuntuti Anda," jelasnya. "Hanya orang-orang tertentu yang datang ke kafe ini di jam kerja sambil membawa tas dokumen dan terus-menerus melirik ke arah pintu. Cukup mudah ditebak. Apalagi setelah saya mengenali siapa Anda."Aku menelan ludah. Pria ini berbahaya. Analisanya terlalu cepat dan akurat. Aku tidak punya pilihan selain duduk kembali, memeluk blazerku yang rusak di pangkuan."Apa mau Anda, Tuan Adrian?" tanyaku dengan nada sedingin mungkin, mencoba menyamai auranya."Tidak ada. Awalnya," jawabnya. "Tadinya saya hanya ingin minta maaf dan mengganti rugi. Tapi sekarang setelah tahu siapa Anda, saya jadi sedikit penasaran.""Penasaran tentang apa?""Tentang apa yang dilakukan seorang Nyonya Marco Alexander di kafe kelas menengah seperti ini, sendirian, dengan

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 10: Pertemuan Tak Terduga

    Pagi berikutnya, aku menyelinap keluar dari rumah seperti pencuri. Aku sengaja menunggu hingga Marco berangkat ke kantor. Kepada Bi Inah, asisten rumah tangga kami, aku hanya berpesan singkat. "Bi, saya mau ke butik bunga sebentar, mungkin agak siang baru pulang," kataku sambil merapikan syal sutra yang menutupi leherku. "Baik, Nyonya. Perlu saya siapkan bekal makan siang?" tawar Bi Inah dengan ramah. "Tidak perlu, Bi. Terima kasih." Tentu saja aku tidak pergi ke butik. Aku mengendarai mobil kompak milikku, bukan sedan mewah yang biasa kusopiri, menuju sebuah kafe kecil yang terletak di distrik bisnis pinggiran. Namanya "The Daily Grind Cafe". Tempat ini jauh dari jangkauan lingkaran sosialita dan kolega bisnis Marco. Sempurna untuk pertemuan rahasiaku. Di dalam, aroma kopi yang pekat dan roti panggang menyambutku. Aku memilih meja di sudut paling belakang, dekat jendela yang menghadap ke sebuah gang sempit. Aku mengenakan kacamata hitam besar dan sebuah blazer sederhana berwarn

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 9: Memasang Wajah Polos

    "Ada apa, Marco? Kenapa reaksimu begitu?" tanyaku pura-pura bingung. Sarah menyela dengan nada sedikit menggurui, "Clara sayang, Lumina Tech itu saat ini sedang berada di ambang kehancuran. Saham mereka anjlok parah minggu ini karena CEO mereka dituduh menggelapkan dana riset. Perusahaan itu sedang diselidiki otoritas keuangan." "Benarkah?" Aku membulatkan mata, berpura-pura terkejut. "Tapi ... tapi Datin Rossa bilang justru saat harganya murah begini kita harus beli! Nanti kalau masalahnya selesai, harganya akan naik tajam!" "Itu namanya spekulasi buta, Clara!" tegur Marco sedikit keras. "Datin Rossa itu hanya sosialita yang kelebihan uang dari suaminya. Lumina Tech adalah investasi yang sangat berisiko tinggi. Sangat berisiko! Hampir bisa dipastikan perusahaan itu akan bangkrut bulan depan." Aku menahan senyum dalam-dalam. Tentu saja Marco akan bilang begitu. Semua orang di kota ini berpikir Lumina Tech akan hancur. Beritanya tersebar di mana-mana. CEO mereka dituduh korupsi, i

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 8: Langkah Awal

    "Kamu mengambil ponselku?!" Suaranya melengking tajam, topeng sahabat baiknya nyaris retak sepenuhnya. Jemarinya dengan panik menekan tombol daya, memeriksa layarnya.Aku menatapnya dengan tatapan terluka dan mata berkaca-kaca. "Sarah ... kenapa kamu membentakku? A-aku melihat ponselmu tergeletak begitu saja di meja dekat prasmanan setelah insiden minuman tadi. Aku takut ponselmu dicuri pelayan atau tamu lain, jadi aku mengamankannya ke dalam tasku."Sarah menatap layarnya yang masih menampilkan gambar kunci secangkir kopi. Dia mencoba menggeser layarnya, dan matriks kata sandi muncul, seolah tidak pernah terbuka sebelumnya. Bahunya tampak sedikit rileks, tapi matanya masih memicing menatapku."Kanu tidak membukanya?" tanyanya dingin."Membukanya?" Aku memiringkan kepala, memasang ekspresi sangat bingung dan tersinggung. "Tentu saja tidak! Layarnya terkunci, Sarah. Lagipula, untuk apa aku membuka ponselmu? Apa ... apa ada rahasia penting di sana yang tidak boleh kulihat?"Pertanyaanku

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 7: Memegang Bukti

    "Kalian pikir rencana kalian sempurna?" bisikku tajam ke arah layar, seakan mereka berdua bisa mendengarku dari sana. "Kalian pikir kalian adalah sutradara dari takdirku?" Aku keluar dari aplikasi pesan dan dengan cepat membuka aplikasi Email di ponsel Sarah. "Aku akan menjadikan semua pesan ini sebagai tiket kalian menuju kehancuran total," kataku sambil mengetik cepat. Aku membuat pesan email baru dan mengetikkan alamat email rahasia yang baru saja kubuat kemarin setelah aku terbangun dari kematian, Clara.Reborn@mail.com. "Subjek: Bukti Kebusukan," gumamku sambil mengetik. Aku kembali beralih ke aplikasi chat hijau, memilih opsi 'Ekspor Obrolan' pada kontak Marco, dan melampirkan seluruh teks beserta medianya ke email tersebut. Setelah itu, aku kembali ke folder galeri tersembunyi, memilih puluhan foto paling eksplisit, dan menekan tombol 'Bagikan ke Email'. "Kirim," desakku, menekan tombol panah biru di pojok layar. "Ayo. Cepatlah terkirim." Sebuah baris progres biru muncul d

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 6: Pesan Rahasia

    "Sial," umpatku tertahan. Kepanikan mulai merambat naik di dadaku. Waktuku tidak banyak. Jika aku salah lagi, ponsel ini akan terkunci permanen selama beberapa menit. "Berpikirlah, Clara. Berpikirlah! Apa hari yang paling bersejarah bagi mereka berdua? Hari di mana mereka ..." Mataku melebar saat sebuah kesadaran yang sangat memuakkan menghantam otakku. Hari bersejarah. Hari di mana Sarah secara resmi 'kehilanganku' dan Marco terikat padaku, yang membuat obsesi mereka semakin gila. "Tidak mungkin," bisikku dengan suara bergetar. "Apakah kalian sekejam itu?" Dengan tangan yang kini benar-benar gemetar karena emosi, aku mengetikkan empat angka. Satu, dua, nol, lima. Tanggal dua belas Mei. Tanggal pernikahanku dengan Marco. Layar berkedip hijau. Gembok itu terbuka. "Keparat!" jeritku tertahan, memukul pilar balkon dengan tangan kiriku. "Kalian menjadikan tanggal pernikahanku sebagai sandi rahasia perselingkuhan kalian? Dasar binatang!" Air mata kemarahan menggenang di pelupuk matak

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 5: Membuka Rahasia

    Dengan gerakan cepat dan tenang yang sudah kuperhitungkan, tanganku meluncur ke atas meja. Aku menyelipkan ponsel Sarah ke telapak tanganku, lalu dengan mulus memasukkannya ke clutch pestaku sendiri yang berukuran agak besar. Terdengar bunyi klik pelan saat penutup clutch-ku terkunci. Tepat saat

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 4: Sahabat Palsu

    "Clara! Astaga, sahabatku!" Sarah membuka tangannya lebar-lebar. Aku menyerahkan satu gelas minuman padanya sebelum kami berpelukan cipika-cipiki. "Kamu datang juga akhirnya. Aku mencarimu sejak tadi," kataku dengan antusiasme palsu yang sempurna. "Tentu saja aku datang! Aku tidak mungkin mel

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 3: Pesta Penuh Kepura-puraan

    Lampu kilat kamera menyambar-nyambar saat pintu mobil terbuka. Angin malam yang sejuk menerpa wajahku, tetapi tidak sedingin hatiku saat ini. "Berikan tanganmu, Sayang ..." Suara bariton Marco terdengar lembut. "Terima kasih, Suamiku," balasku dengan nada manja yang dibuat-buat. "Kamu terli

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 2: Tanggal di Kalender

    Kepalaku terasa pusing. Ingatan terakhirku adalah dinginnya suasana rumah sakit, suara tawa Marco dan Sarah yang kejam, dan sumpah yang kuucapkan dalam kegelapan. Tapi di sini ... di sini hangat. sangat nyaman. Mataku liar memindai sekeliling. Ini kamarku. Kamar tidur utama yang aku rancang sen

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status