Partager

Bab 2: Tanggal di Kalender

Auteur: Bunga Merah
last update Date de publication: 2026-03-22 23:01:37

Kepalaku terasa pusing. Ingatan terakhirku adalah dinginnya suasana rumah sakit, suara tawa Marco dan Sarah yang kejam, dan sumpah yang kuucapkan dalam kegelapan. Tapi di sini ... di sini hangat. sangat nyaman.

Mataku liar memindai sekeliling. Ini kamarku. Kamar tidur utama yang aku rancang sendiri. Tidak ada bau disinfektan, tidak ada suara monitor jantung. Hanya ada aroma lavender yang menenangkan dan keheningan pagi.

"Ini tidak mungkin... ini mimpi," bisikku pada diriku sendiri. Suaraku terdengar serak, asing di telingaku sendiri. "Ini pasti semacam halusinasi sebelum benar-benar mati."

Aku mencubit lenganku dengan keras. Rasa sakit yang tajam dan menyengat menjalari kulitku. Aku tersentak. Rasa sakit itu nyata.

"Kalau begitu... apa ini?"

Pandanganku jatuh pada ponsel yang tergeletak di atas nakas. Benda itu berkilauan di bawah cahaya lampu tidur yang masih menyala. Dengan jantung berdebar kencang, aku meraihnya. Tanganku begitu gemetar hingga aku hampir menjatuhkannya.

Aku menekan tombol samping. Layarnya menyala.

Foto di layar kunci itu menusuk hatiku. Aku dan Marco, tersenyum di menara Eiffel saat bulan madu kami. Aku terlihat begitu bahagia, begitu penuh cinta, begitu... bodoh. Mataku terpaku pada deretan angka putih di bawah foto itu.

15 Oktober 2024.

"Lima belas... Oktober?" bisikku tak percaya. Aku mengucek mata, berharap angka-angka itu akan berubah. Tapi tidak, mereka tetap di sana, menatapku dengan kebenaran yang mustahil.

Ini adalah hari ulang tahun kelima perusahaan Marco. Hari diadakannya pesta besar-besaran. Hari yang kuingat dengan jelas, karena di hari itulah untuk pertama kalinya aku merasa ada yang aneh dengan kedekatan Marco dan Sarah, tapi aku mengabaikannya.

Hari ini ... tepat satu tahun sebelum rem mobilku blong di jalan menurun itu.

"Satu tahun ..," kataku lirih. Aku menjatuhkan ponsel ke pangkuanku. "Aku ... aku kembali?"

"Ini tidak masuk akal. Aku pasti sudah gila." Aku bergumam, memegangi kepalaku.

Tiba-tiba, sebuah suara yang ceria dan familier, suara yang menghantui detik-detik kematianku terdengar dari lantai bawah.

"Clara! Sayang! Sudah bangun?"

Suara Marco terdengar begitu lantang namun penuh kelembutan.

"Clara?" panggilnya lagi, nadanya terdengar sedikit lebih keras. "Kamu baik-baik saja di atas sana?"

Aku harus menjawab. Jika aku diam, dia akan curiga dan naik ke atas. Aku tidak bisa menghadapinya sekarang. Tidak saat topengku belum terpasang dengan sempurna.

Aku menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan suara agar tidak bergetar. "Ya, Sayang! Aku sudah bangun! Sebentar lagi aku turun!"

"Bagus!" jawabnya dari bawah. "Jangan terlalu lama, Ratu-ku! Kita tidak boleh terlambat di acara kita sendiri. Aku sudah menyuruh Bi Inah menyiapkan sarapan favoritmu."

Ratu-ku.

Panggilan sayang itu kini terdengar seperti hinaan yang paling kejam. Perutku terasa mual. Aku menekan dada, mencoba menahan gelombang kebencian yang meluap-luap.

"Tentu, Sayang! Beri aku waktu lima belas menit!" jawabku, berusaha terdengar senormal mungkin.

"Baiklah! Aku menunggumu di bawah, Cantik!"

Setelah itu hening. Aku tahu dia sudah pergi dari bawah tangga. Aku langsung merosot di tempat tidur, napasku terengah-engah seolah baru saja berlari maraton. Berpura-pura. Hanya beberapa kata dan rasanya sudah menguras seluruh energiku. Bagaimana aku akan melakukan ini selama setahun penuh?

Tidak. Aku tidak boleh lemah. Ini bukan kutukan, ini adalah anugerah. Kesempatan yang kuminta dengan napas terakhirku.

Dengan tekad baru, aku bangkit dari tempat tidur. Kakiku masih terasa sedikit goyah, bukan karena lemah fisik, tetapi karena guncangan mental. Aku berjalan perlahan menuju cermin besar berbingkai emas di sudut kamar.

Dan di sana, aku melihatnya.

Seorang wanita menatapku balik. Wajahnya adalah wajahku, tetapi matanya ... matanya berbeda. Mata di cermin itu memancarkan kelembutan, kepercayaan, dan cinta yang tulus dan naif pada pria yang baru saja memanggilnya dari bawah. Belum ada jejak pengkhianatan di sana. Belum ada luka yang menggores jiwanya.

"Lihat dirimu," bisikku pada pantulan itu. Suaraku dingin, tanpa emosi. "Begitu lemah. Begitu percaya. Kamu menatap pria itu seolah dia adalah pusat duniamu."

Pantulan diriku seolah menatapku dengan bingung. Aku menempelkan telapak tanganku ke permukaan cermin yang dingin.

"Kanu dengar suaranya tadi?" Aku melanjutkan, seperti sedang berbicara pada orang lain. "Suara yang sama yang akan mengatakan 'akhirnya si bodoh ini mati'. Suara pria yang akan mencium sahabatmu sendiri di depan mayatmu."

Mata di cermin itu mulai berkaca-kaca. Tidak. Aku tidak boleh menangis. Air mata adalah kemewahan yang tidak lagi kumiliki. Clara yang lama sudah mati di lantai rumah sakit yang dingin. Yang berdiri di sini sekarang adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang ditempa oleh api pengkhianatan dan kebencian.

"Jangan menangis," desisku tajam. "Air matamu tidak akan mengubah apa pun. Kau sudah mencobanya di kehidupanmu yang dulu, dan lihat di mana itu berakhir."

Aku menarik tanganku dari cermin, lalu mengepalkannya dengan erat. Kuku-kuku jariku menancap dalam ke telapak tanganku, rasa sakit yang tajam menjadi pengingat akan tujuanku.

"Clara yang naif sudah mati," kataku pada pantulanku, mataku kini berkilat dengan cahaya yang dingin dan penuh perhitungan. "Dia mati di tangan suaminya sendiri. Yang tersisa hanyalah aku. Hantunya. Mimpi buruknya."

Aku menatap lekat-lekat wajah di cermin itu, seolah sedang menghafal setiap detail dari kelemahan yang pernah kumiliki.

"Pesta ulang tahun perusahaan, katamu, Marco?" Aku tersenyum tipis ke arah pantulanku, tapi senyum itu tidak mencapai mataku. "Oh, ini memang akan menjadi pesta. Sebuah perayaan. Perayaan dimulainya kehancuranmu."

Aku berbalik dari cermin, meninggalkan bayangan wanita naif itu di belakang. Saat aku berjalan menuju lemari pakaian untuk memilih gaun, setiap langkahku terasa lebih mantap, lebih pasti.

"Kamu menyebutku Ratu-mu?" bisikku pada keheningan kamar.

Aku membuka pintu lemari, mataku tertuju pada gaun merah menyala yang belum pernah kupakai. Gaun yang sempurna untuk sebuah pernyataan.

"Kamu benar, Marco. Aku adalah seorang Ratu," lanjutku, menarik gaun itu keluar. "Tapi kali ini, aku tidak akan menjadi Ratu yang terbuang."

Aku memegang gaun itu di depan tubuhku, menatap pantulanku sekali lagi dari kejauhan. Wajah yang sama, tetapi dengan tatapan yang sama sekali berbeda. Dingin, tajam, dan penuh janji akan pembalasan.

"Kali ini, permainan akan berbeda."

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 11: Rahasia Lain Suamiku

    Bagaimana dia tahu aku sedang menunggu broker?Adrian seolah bisa membaca pikiranku. Dia tersenyum tipis, senyum pertama yang kulihat darinya, tapi senyum itu tidak menunjukkan kehangatan sama sekali."Tenang, saya tidak membuntuti Anda," jelasnya. "Hanya orang-orang tertentu yang datang ke kafe ini di jam kerja sambil membawa tas dokumen dan terus-menerus melirik ke arah pintu. Cukup mudah ditebak. Apalagi setelah saya mengenali siapa Anda."Aku menelan ludah. Pria ini berbahaya. Analisanya terlalu cepat dan akurat. Aku tidak punya pilihan selain duduk kembali, memeluk blazerku yang rusak di pangkuan."Apa mau Anda, Tuan Adrian?" tanyaku dengan nada sedingin mungkin, mencoba menyamai auranya."Tidak ada. Awalnya," jawabnya. "Tadinya saya hanya ingin minta maaf dan mengganti rugi. Tapi sekarang setelah tahu siapa Anda, saya jadi sedikit penasaran.""Penasaran tentang apa?""Tentang apa yang dilakukan seorang Nyonya Marco Alexander di kafe kelas menengah seperti ini, sendirian, dengan

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 10: Pertemuan Tak Terduga

    Pagi berikutnya, aku menyelinap keluar dari rumah seperti pencuri. Aku sengaja menunggu hingga Marco berangkat ke kantor. Kepada Bi Inah, asisten rumah tangga kami, aku hanya berpesan singkat. "Bi, saya mau ke butik bunga sebentar, mungkin agak siang baru pulang," kataku sambil merapikan syal sutra yang menutupi leherku. "Baik, Nyonya. Perlu saya siapkan bekal makan siang?" tawar Bi Inah dengan ramah. "Tidak perlu, Bi. Terima kasih." Tentu saja aku tidak pergi ke butik. Aku mengendarai mobil kompak milikku, bukan sedan mewah yang biasa kusopiri, menuju sebuah kafe kecil yang terletak di distrik bisnis pinggiran. Namanya "The Daily Grind Cafe". Tempat ini jauh dari jangkauan lingkaran sosialita dan kolega bisnis Marco. Sempurna untuk pertemuan rahasiaku. Di dalam, aroma kopi yang pekat dan roti panggang menyambutku. Aku memilih meja di sudut paling belakang, dekat jendela yang menghadap ke sebuah gang sempit. Aku mengenakan kacamata hitam besar dan sebuah blazer sederhana berwarn

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 9: Memasang Wajah Polos

    "Ada apa, Marco? Kenapa reaksimu begitu?" tanyaku pura-pura bingung. Sarah menyela dengan nada sedikit menggurui, "Clara sayang, Lumina Tech itu saat ini sedang berada di ambang kehancuran. Saham mereka anjlok parah minggu ini karena CEO mereka dituduh menggelapkan dana riset. Perusahaan itu sedang diselidiki otoritas keuangan." "Benarkah?" Aku membulatkan mata, berpura-pura terkejut. "Tapi ... tapi Datin Rossa bilang justru saat harganya murah begini kita harus beli! Nanti kalau masalahnya selesai, harganya akan naik tajam!" "Itu namanya spekulasi buta, Clara!" tegur Marco sedikit keras. "Datin Rossa itu hanya sosialita yang kelebihan uang dari suaminya. Lumina Tech adalah investasi yang sangat berisiko tinggi. Sangat berisiko! Hampir bisa dipastikan perusahaan itu akan bangkrut bulan depan." Aku menahan senyum dalam-dalam. Tentu saja Marco akan bilang begitu. Semua orang di kota ini berpikir Lumina Tech akan hancur. Beritanya tersebar di mana-mana. CEO mereka dituduh korupsi, i

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 8: Langkah Awal

    "Kamu mengambil ponselku?!" Suaranya melengking tajam, topeng sahabat baiknya nyaris retak sepenuhnya. Jemarinya dengan panik menekan tombol daya, memeriksa layarnya.Aku menatapnya dengan tatapan terluka dan mata berkaca-kaca. "Sarah ... kenapa kamu membentakku? A-aku melihat ponselmu tergeletak begitu saja di meja dekat prasmanan setelah insiden minuman tadi. Aku takut ponselmu dicuri pelayan atau tamu lain, jadi aku mengamankannya ke dalam tasku."Sarah menatap layarnya yang masih menampilkan gambar kunci secangkir kopi. Dia mencoba menggeser layarnya, dan matriks kata sandi muncul, seolah tidak pernah terbuka sebelumnya. Bahunya tampak sedikit rileks, tapi matanya masih memicing menatapku."Kanu tidak membukanya?" tanyanya dingin."Membukanya?" Aku memiringkan kepala, memasang ekspresi sangat bingung dan tersinggung. "Tentu saja tidak! Layarnya terkunci, Sarah. Lagipula, untuk apa aku membuka ponselmu? Apa ... apa ada rahasia penting di sana yang tidak boleh kulihat?"Pertanyaanku

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 7: Memegang Bukti

    "Kalian pikir rencana kalian sempurna?" bisikku tajam ke arah layar, seakan mereka berdua bisa mendengarku dari sana. "Kalian pikir kalian adalah sutradara dari takdirku?" Aku keluar dari aplikasi pesan dan dengan cepat membuka aplikasi Email di ponsel Sarah. "Aku akan menjadikan semua pesan ini sebagai tiket kalian menuju kehancuran total," kataku sambil mengetik cepat. Aku membuat pesan email baru dan mengetikkan alamat email rahasia yang baru saja kubuat kemarin setelah aku terbangun dari kematian, Clara.Reborn@mail.com. "Subjek: Bukti Kebusukan," gumamku sambil mengetik. Aku kembali beralih ke aplikasi chat hijau, memilih opsi 'Ekspor Obrolan' pada kontak Marco, dan melampirkan seluruh teks beserta medianya ke email tersebut. Setelah itu, aku kembali ke folder galeri tersembunyi, memilih puluhan foto paling eksplisit, dan menekan tombol 'Bagikan ke Email'. "Kirim," desakku, menekan tombol panah biru di pojok layar. "Ayo. Cepatlah terkirim." Sebuah baris progres biru muncul d

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 6: Pesan Rahasia

    "Sial," umpatku tertahan. Kepanikan mulai merambat naik di dadaku. Waktuku tidak banyak. Jika aku salah lagi, ponsel ini akan terkunci permanen selama beberapa menit. "Berpikirlah, Clara. Berpikirlah! Apa hari yang paling bersejarah bagi mereka berdua? Hari di mana mereka ..." Mataku melebar saat sebuah kesadaran yang sangat memuakkan menghantam otakku. Hari bersejarah. Hari di mana Sarah secara resmi 'kehilanganku' dan Marco terikat padaku, yang membuat obsesi mereka semakin gila. "Tidak mungkin," bisikku dengan suara bergetar. "Apakah kalian sekejam itu?" Dengan tangan yang kini benar-benar gemetar karena emosi, aku mengetikkan empat angka. Satu, dua, nol, lima. Tanggal dua belas Mei. Tanggal pernikahanku dengan Marco. Layar berkedip hijau. Gembok itu terbuka. "Keparat!" jeritku tertahan, memukul pilar balkon dengan tangan kiriku. "Kalian menjadikan tanggal pernikahanku sebagai sandi rahasia perselingkuhan kalian? Dasar binatang!" Air mata kemarahan menggenang di pelupuk matak

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 5: Membuka Rahasia

    Dengan gerakan cepat dan tenang yang sudah kuperhitungkan, tanganku meluncur ke atas meja. Aku menyelipkan ponsel Sarah ke telapak tanganku, lalu dengan mulus memasukkannya ke clutch pestaku sendiri yang berukuran agak besar. Terdengar bunyi klik pelan saat penutup clutch-ku terkunci. Tepat saat

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 4: Sahabat Palsu

    "Clara! Astaga, sahabatku!" Sarah membuka tangannya lebar-lebar. Aku menyerahkan satu gelas minuman padanya sebelum kami berpelukan cipika-cipiki. "Kamu datang juga akhirnya. Aku mencarimu sejak tadi," kataku dengan antusiasme palsu yang sempurna. "Tentu saja aku datang! Aku tidak mungkin mel

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 3: Pesta Penuh Kepura-puraan

    Lampu kilat kamera menyambar-nyambar saat pintu mobil terbuka. Angin malam yang sejuk menerpa wajahku, tetapi tidak sedingin hatiku saat ini. "Berikan tanganmu, Sayang ..." Suara bariton Marco terdengar lembut. "Terima kasih, Suamiku," balasku dengan nada manja yang dibuat-buat. "Kamu terli

  • KESEMPATAN KEDUA SANG RATU YANG TERBUANG    Bab 1: Kematian yang Dingin

    "Clara, Sayang ... kamu bisa mendengarku?" Sebuah tangan yang hangat dan kuat menggenggam tanganku yang dingin. Itu tangan Marco, suamiku. Aku mencoba menjawab, bahkan hanya untuk menggerakkan jariku sebagai balasan, tetapi tubuh ini bukan lagi milikku. Dia seolah telah menyerah. "Bertahanlah

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status