LOGIN"Terimalah ini, anggap saja sebagai penebus rasa bersalah Bapak padamu." Ucapan Bapak terngiang-ngiang di kepalaku. Anam dan Riri, sepasang suami istri yang hidupnya sangat sederhana sekali atau bisa dibilang miskin, hinaan, dan cacian sudah terbiasa mereka dapatkan dari para tetangga dan saudara nya. Akan tetapi, biarpun demikian tak membuat keduanya patah semangat dalam menjalani hidup, hingga suatu hari mereka mendapatkan sebuah rezeki yang teramat besar hingga menjadikan mereka seorang jutawan, lantas apakah setelah mereka menjadi jutawan, hinaan dan cacian yang kerap mereka terima akan lenyap?
View More"Sudahlah Kartika. Kita baru satu hari di sini. Bersabar saja dulu. Setelah nanti kita laksanakan rencana kita dan berhasil maka kita akan tendang mereka semua dari sini, lagian bukankah kamu tertarik sama Amar waktu papa kasih lihat ftonya padamu? Apa kamu gak mau menyingkirkan Aliyah dari kehidupan Amar?" ucap papa yang membutku sedikit terbellak. Rupanya ada bibit pelakor kecil dalam rumah tanggakuYah, meskipun aku sudah menduganya hanya saja aku tidak sangka jika keluargaku akan dihinggapi benalu seperti mereka. Bergegas kumatikan mode rekam di ponselku. Kurasa ini semua sudah cukup sedikit bukti. Nanti akan kucari tahu apa rencana mereka tentang ini.***"Assalamualaikum!"Suara Mas Amar terdengar dari balik pintu. Be
"Kau pikir kau siapa mau menyamakan posisimu dengan suami dan anak-anakku? Apa perlu kuingatkan lagi kalau posisimu dan Papamu itu di sini hanya menumpang? Jadi, sadarlah diri sedikit karena tidak selamanya seorang tuan rumah itu harus welcome pada tamunya," desisku sembari menatap tajam wajah Kartika yang memuakkan itu."Kalau aku tidak mau lalu kau mau apa?" tantang Tika yang juga membalas tatapan mataku tajam."Dengan senang hati aku akan mempersilahkanmu dan Papamu untuk angkat kaki dari rumahku ini," ucapku penuh penekanan. Perlu Kartika ketahui jika seorang Aliyah tidak pernah main-main dalam perkataannya."Memangnya ini rumahmu? Ini rumah Mas Amar, Mas Amar itu kakakku, jadi aku dan Papa juga berhak dong tinggal di sini."
"Ini sarapannya, Yah, kalian juga cepat dimakan sarapannya, ini sudah jam enam lebih lima belas menit sebentar lagi masuk sekolah nanti telat," ucapku pada mas Amar dan ketiga anakku yang masing-masing sudah duduk di kursi makan.Tiba-tiba saja papa dan Kartika datang. Tampak sekali kalau mereka baru bangun tidur. Hal itu bisa terlihat dari wajah papa dan Kartika yang terlihat kusut serta papa yang masih menggunakan piyama dan Kartika yang masih menggunakan daster sebatas lutut.Astaghfirullah … bukankah mas Amar kemarin suda mewanti-wanti Kartika untuk memakai baju lebih sopan jika ingin tinggal di sini? Tapi lihatlah penampilan dia saat ini, daster yang dikenakannya selain hanya sebatas di atas lutut juga tidak memiliki lengan dengan bentuk kerah yang rendah ke arah dada."Wah, udah pada sarapan aja, kok gak bangunin kita?" ucap papa membuka percakapan sembari sesekali ngelap iler di sudut bibi
"Apa kamu gak mau gitu memberikan dukungan moril sama aku?" ucapku sembari tersenyum penuh arti. Aliyah yang seolah mengerti maksudku pun turut tersenyum serta. Ah, sungguh indah ciptaanMU Tuhan. Beruntungnya aku memiliki istri sepertinya."Tadi 'kan sudah diberi dukungan moril.""Itu 'kan moril pada umumnya. Kalau yang aku maksud moril yang jalur khusus, ah masa Bunda gak paham maksud Ayah sih?""Hahaha, kamu ada-ada sih, Yah, udah kayak kendaraan saja ada jalur khususnya," ucap Aliyah sembari tergelak memperlihatkan lesung pipinya yang membuat tambah manis wajah istriku itu.Tiba-tiba saja ada yang berdesir dalam dada ini. Ah, aku jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya pada istriku sendiri. Akhirnya aku dan Aliyah pun memadu kasih dalam balutan hubungan halal ini.Pov AliyahAku mengusap keringat di dahi mas Amar, suamiku. Kami baru
"Siapa, Mas? " "Bu Ida dan suaminya. " "Untuk apa mereka kesini? " "Entah, Mas juga tidak tahu, sebaiknya kita temui saja mereka dulu, baru ditanyakan apa tujuan mereka kemari. " Akhirnya aku mengikuti apa yang Mas Anam katakan, hingga aku pun sampai di ruang tamu, dan benar saja disana sudah ada Bu
"Aku? Membuat kamu malu? Iyuh, hello, emangnya situ siapa, artis bukan, tokoh besar juga bukan, lah yang datang ke rumahku bawa pasukan kayak gini siapa? Segala bawa poster dikira kalian mau demo? " "Iya nih, Mbak Riri, padahal sudah saya kasih tau kalau Lintang pasti fitnah Mbak Riri, secara Lintan
Tapi semua itu hancur berantakan karena kedatangan Riri dalam hidup Mas Anam, Mas Anam yang tadinya menyayangiku melebihi dirinya sendiri setelah menikah dengan Riri Mas Anam jadi rada menjauh dariku. Aku sempat mengutarakan perasaanku pada Mas Anam, dan berkali-kali berusaha mengajak nya untuk berb
"Pergilah sebelum aku kembali ingin membunuh dan mencincang tubuhmu! Sekali lagi aku dengar kau mengusik keluargaku tak segan-segan aku akan membungkam mulutmu dengan kulit durian yang tajam itu, pergi! " pekik Riri yang membuat Lintang terlonjak lalu lari terbirit-birit. Setelah kepergian Lintang,












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews