ログインCelah dimensi fana di belakang Panti Asuhan Kasih Bunda perlahan memudar, merapat kaku tanpa meninggalkan satu pun bekas getaran spiritual di udara malam. Angin malam Kota Jiangnan yang sejuk membelai lembut pepohonan mangga di halaman belakang, menyambut kepulangan sang penguasa absolut yang baru saja meratakan seluruh kekuatan Pegunungan Utara.Chen Fan melangkah keluar dari balik bayangan pohon, merapikan mantel abu-abunya. Hawa pembantaian dan aura Imperial Domain yang sempat memusnahkan puluhan ribu praktisi di Lembah Kunlun telah sirna sepenuhnya, berganti dengan ketenangan seorang pria biasa yang kembali ke rumahnya.Ia menengadah menatap jendela kamar lantai dua yang memancarkan cahaya kuning hangat. Di balik tirai tipis itu, ia bisa merasakan pendaran Qi murni dari Tubuh Yin Kayu Giok milik Lin Ruoxi yang terus berdenyut stabil dan penuh kecemasan yang tertahan.KREK...Pintu lantai dua terdorong pelan.Lin Ruoxi yang sedang duduk bersila di tepi ranjang seketika membuka sepa
Aura membunuh yang meluap dari tubuh Chen Fan menjelma menjadi badai emas murni yang memutar ganas di atas Lembah Kunlun. Tekanan batin Imperial Absolute Domain menindas bumi hingga permukaan altar batu giok retak sejauh puluhan mil. Langit malam yang tadinya diselimuti awan es hitam kini dipenuhi pendaran cahaya keemasan yang begitu panas dan menyengat.Leluhur Gu, Leluhur Cang, dan Leluhur Ming gemetaran hebat di udara. Sebagai pakar Ranah Golden Core Tingkat Puncak yang telah menguasai Pegunungan Utara selama ratusan tahun, ini adalah kali pertama mereka merasakan ketakutan sedahsyat ini—perasaan bagaikan cacing kecil yang berdiri di bawah telapak kaki seekor naga purba!"Jangan terintimidasi oleh gertakannya!" raung Leluhur Gu seraya memuntahkan seteguk darah untuk memaksa aliran Qi di Dantiannya bergerak kembali. "Dia cuma satu orang! Kita memiliki puluhan ribu prajurit dan Formasi Pembantai Kaisar Sembilan Bintang! Aktifkan formasi sekarang juga!""Aktifkan formasi!" jerit para
Senja di Kota Jiangnan perlahan berganti menjadi keheningan malam yang hangat. Angin berembus lembut membelai dedaunan pohon mangga di halaman belakang Panti Asuhan Kasih Bunda. Pendaran lampu-lampu taman bernuansa kuning redup menciptakan suasana yang begitu syahdu, seolah mengisolasi kehangatan panti dari gelombang ancaman raksasa yang tengah membumbung tinggi di Ranah Tersembunyi Kunlun.Di dalam kamar di lantai dua, Lin Ruoxi berdiri di hadapan Chen Fan. Jemari halusnya yang lentik telaten merapikan kerah jubah linen hitam yang kini dikenakan oleh suaminya. Gaun tidur katun sutera berwarna krem yang melekat pada tubuh ramping Lin Ruoxi memancarkan pendaran cahaya hijau keemasan yang menyejukkan—efek murni dari Tubuh Yin Kayu Giok yang kian padu di dalam meridiannya.Meskipun hatinya dipenuhi rasa cemas khas seorang istri yang melepas suaminya menuju medan pertempuran besar, Lin Ruoxi tidak meneteskan air mata sedikit pun. Binar mata jernihnya memancarkan kepercayaan dan keteguhan
Pagi di Kota Jiangnan disambut oleh langit biru yang bersih tanpa setitik pun awan. Keheningan di perbatasan utara kota tempat pemusnahan tiga utusa n Golden Core semalam sama sekali tidak meninggalkan jejak. Bagi masyarakat dunia fana, Kota Jiangnan tetaplah kota yang tenang, aman, dan damai.Di halaman Panti Asuhan Kasih Bunda, aroma harum nasi goreng bumbu rempah dan teh hijau hangat menyeruak dari arah dapur. Suara tawa riang anak-anak panti yang berebutan mengambil sendok mewarnai teras depan.Lin Ruoxi berdiri di ambang pintu dapur dengan celemek kain bercorak bunga-bunga kecil yang terikat rapi di pinggangnya. Rambut hitam panjangnya disanggul longgar di belakang kepala, memperlihatkan leher porselennya yang mulus. Sejak keberhasilan pembangkitan Tubuh Yin Kayu Giok dan bimbingan kultivasi ganda bersama Chen Fan, aura keanggunan alaminya kian terpancar sempurna. Setiap kali ia tersenyum, hawa kehangatan yang begitu menyejukkan seolah menyelimuti sekelilingnya.Saat melihat Chen
Jejak Penyusup dan Batas TeritorialDi batas kota bagian utara, angin malam berembus kencang menerpa deretan buatan beton dan pepohonan pinus yang sepi. Tiga sosok tua berjubah abu-abu tua berdiri melayang beberapa senti di atas tanah. Aura Golden Core Tingkat Puncak yang melekat pada tubuh mereka memancarkan hawa dingin yang menusuk, membuat vegetasi di sekitar tempat mereka berpijak seketika layu dan membeku.Mereka adalah utusan perintis Tiga Leluhur Pengasingan Pegunungan Utara: Tetua Duan, Tetua Mo, dan Tetua Mu."Aura energi spiritual di kota fana ini sangat tipis dan kotor," ujar Tetua Mo seraya mengibaskan lengan bajunya dengan nada jijik. "Bagaimana mungkin sosok yang dikabarkan menghancurkan Klan Liu dan memusnahkan jutaan praktisi di Lembah Naga Tenggelam memilih bersarang di tempat seperti ini?""Jangan lengah," tegur Tetua Duan dengan mata menyipit tajam menatap ke arah pusat Kota Jiangnan. "Kaisar Alkemis itu pasti memiliki pusaka luar biasa atau formasi kuno yang me
Matahari mulai meninggi di langit Kota Jiangnan, menyinari halaman Panti Asuhan Kasih Bunda dengan hangat. Setelah menutup saluran transmisi suara dari Su Qingxue, Chen Fan melangkah kembali menuju teras depan. Wajahnya telah kembali tenang, tidak menyisakan sedikit pun jejak aura dingin yang baru saja terpercik saat mendengar kabar tentang Tiga Leluhur Pengasingan Pegunungan Utara.Namun, Lin Ruoxi yang kini memiliki kepekaan batin luar biasa berkat Tubuh Yin Kayu Giok langsung menyadari perubahan halus pada suaminya. Saat Chen Fan duduk di bangku kayu teras, Lin Ruoxi menyerahkan segelas teh melati hangat dan duduk melingkar di sampingnya."Fan," panggil Lin Ruoxi lembut, jemari tangannya meremas pelan pergelangan tangan Chen Fan. "Pesan dari dunia kultivasi lagi, ya?"Chen Fan menoleh, menatap iris mata jernih istrinya. Ia tidak ingin menyembunyikan hal penting dari Lin Ruoxi, karena ia tahu kejujuran dan keterbukaan adalah fondasi utama ikatan mereka."Iya, Ruoxi," jawab Chen Fan







