로그인"Lantas kau ingin pengasuh yang mengawasinya dua puluh empat jam? Kau mau melepas peran ibu dari dirimu?!" tekan Rehan dengan nada menghakimi yang sangat kental. "Anak itu butuh ibunya di rumah, Isyana! Jangan egois!"
Mendengar kata egois keluar dari mulut pria yang baru saja memeluk wanita lain di kamar hotel beberapa jam lalu, Isyana merasakan dorongan kuat untuk tertawa keras. Dia menahannya. Dia justru berdiri, membuat tinggi badan mereka kini hampir sejajar. Aura dominan Isyana seketika mengintimidasi Rehan. "Aku yang egois, Mas? Atau kau yang sebenarnya sedang ketakutan?" tanya Isyana melangkah selangkah lebih dekat. "Ketakutan? Apa maksudmu? Aku hanya memikirkan anak kita!" bela Rehan, meski matanya mulai menghindari tatapan tajam istrinya. "Selama sepuluh tahun ini, aku memberikan seluruh waktuku untuk membesarkan Abim, memastikan rumah ini menjadi tempat paling nyaman untukmu pulang," ucap Isyana, suaranya merendah, sarat akan kepedihan yang sengaja dia tunjukkan untuk memancing Rehan. "Tapi sekarang, saat aku melangkah untuk menyelamatkan masa depan perusahaan yang kita rintis bersama, kau malah menuduhku melepas peran ibu?" "Isyana, mengurus proyek sebesar itu akan menyita seluruh waktumu! Kau tidak akan punya waktu lagi untuk keluarga!" "Aku bisa membagi waktuku dengan sangat baik, Mas. Dan kau tahu kemampuanku lebih dari siapa pun di dunia ini," sela Isyana cepat. "Kecuali... ada alasan lain kenapa kau begitu bersikeras mengurungku di dalam rumah ini?" Rehan tersentak, jakunnya naik turun saat dia menelan ludah dengan susah payah. "Alasan apa? Jangan bicara sembarangan!" "Entahlah. Mungkin kau takut aku menyadari sesuatu? Atau mungkin... kau takut posisimu di perusahaan terancam jika para investor tahu bahwa otak di balik kesuksesan Pilar Corporation selama ini adalah wanita tua yang kau kurung di rumah ini?" Isyana sengaja menekankan kata wanita tua dengan intonasi yang sangat tajam. Wajah Rehan seketika memucat mendengarnya. Jantungnya berdegup kencang, takut jika Isyana telah mengetahui sesuatu tentang pembicaraannya dengan Sinta di hotel tadi. Namun, dia segera menepis pikiran itu. Tidak mungkin Isyana tahu. "Cukup, Isyana! Jangan mulai berhalusinasi!" bentak Rehan, mencoba menutupi kegugupannya dengan suara keras. "Besok, aku yang akan menemui pihak Arkana untuk mengambil alih kembali proyek itu. Kau tetap di rumah!" Isyana tidak menjawab. Dia hanya menatap suaminya dengan senyuman dingin yang sangat tenang, seolah sedang menonton pertunjukan komedi yang menggelikan. "Silakan dicoba, Mas," bisik Isyana pelan, lalu berbalik dan melangkah anggun menuju kamarnya, meninggalkan Rehan yang berdiri mematung di ruang tamu dengan keringat dingin yang mulai membasahi pelipisnya. Tengah malam yang sunyi itu hanya diisi oleh deru halus pendingin ruangan. Di atas ranjang berukuran besar, Isyana berbaring diam membelakangi Rehan. Matanya terpejam rapat, namun kesadarannya terjaga penuh. Denting halus disertai getaran beruntun dari ponsel di atas nakas seketika memecah keheningan. Isyana merasakan pergerakan di sampingnya. Rehan bangkit dengan sangat perlahan, seolah takut pergerakannya akan mengusik tidur sang istri. Pria itu menyambar ponselnya, lalu melangkah terburu-buru dengan jinjit kaki menuju balkon kamar. Pintu kaca digeser seringan mungkin, menyisakan celah sempit yang justru menjadi corong suara bagi Isyana. Isyana membuka matanya. Sepasang manik matanya berkilat tajam di tengah kegelapan. Dia bangkit tanpa suara, melangkah mendekati tirai tebal yang membatasi kamar dengan area balkon, lalu menajamkan pendengarannya. Di luar bawah siraman cahaya bulan, Rehan mendekatkan ponsel ke telinga dengan suara setengah berbisik yang sarat akan kecemasan. "Halo, Sinta? Kenapa menelepon larut malam begini?" tanya Rehan, nadanya terdengar panik. Suara isakan tangis seorang wanita samar-samar terdengar dari seberang saluran, cukup tinggi hingga mampu menembus celah pintu kaca yang terbuka. "Mas... Rosy tiba-tiba demam tinggi. Badannya panas sekali dan dia terus menangis memanggil namamu," adu Sinta di seberang telepon dengan suara serak yang sengaja dibuat memelas. Jantung Isyana bagai dihantam gada besi mendengar nama asing itu disebut. Rosy? Siapa lagi perempuan itu? Rehan tampak mengusap wajahnya kasar, berbalik membelakangi kamar tanpa tahu sang istri sedang menguliti setiap kalimatnya dari balik tirai. "Bawa ke rumah sakit sekarang, Sinta. Jangan ditunda. Besok pagi-pagi sekali aku akan datang ke sana." "Apa tidak bisa malam ini, Mas? Rosy merindukanmu. Dia tidak mau minum obat kalau tidak ada papanya di sini," ratap Sinta, menekan kata papa dengan begitu jelas. Papa? Darah Isyana seketika berdesir hebat, mendadak terasa sedingin es. Rahangnya mengeras seketika di balik kegelapan tirai. Dadanya bergemuruh hebat, menahan hantaman fakta baru yang jauh lebih menjijikkan dari sekadar perselingkuhan. Bajingan itu tidak hanya membagi ranjang, tapi sudah membangun sebuah keluarga kecil di luar sana. "Tidak bisa malam ini, Sinta! Mengertilah sedikit!" tekan Rehan, suaranya meninggi namun tertahan, penuh ketakutan jika Isyana terbangun. "Kita baru saja kehilangan kesempatan atas proyek stadion sore tadi. Isyana mengambil alih semuanya di luar rencanaku!" "Tapi anakmu sedang sakit, Mas! Apa proyek itu lebih penting dari kami?!" "Bukan begitu! Isyana itu wanita yang cerdas dan penuh perhitungan. Aku harus ekstra hati-hati sekarang. Jangan sampai Isyana mencurigaiku sedikit pun jika kita tidak ingin rencana pengalihan aset ini berantakan! Kalau dia tahu hal ini sebelum sahamnya berpindah tangan, kita berdua tidak akan dapat sepeser pun!" bentak Rehan frustrasi. "Lalu bagaimana denganku dan Rosy? Kami harus terus bersembunyi seperti kriminal hanya karena wanita tua itu?!" Isak tangis Sinta semakin menjadi-jadi di seberang sana. "Aku janji ini tidak akan lama lagi. Begitu momentumnya tepat dan semua dokumen kekuasaan beralih ke namaku, aku akan langsung menceraikannya dan membawa kalian hidup sah bersamaku. Sekarang, bawa Rosy ke rumah sakit terdekat. Aku akan mengirimkan uang untuk biaya perawatannya malam ini juga." "Janji, besok pagi kamu datang?" "Iya, aku janji. Tidurlah, aku harus menutup teleponnya." Rehan mematikan sambungan telepon dengan napas memburu. Dia berdiri diam di balkon selama beberapa saat, mencoba menenangkan gemuruh di dadanya sebelum kembali masuk ke dalam kamar. Di balik tirai, Isyana mundur selangkah demi selangkah dengan sangat tenang. Tidak ada air mata yang jatuh membasahi pipinya. Rasa sakit yang sempat menyengat dadanya kini telah bermutasi menjadi kebencian murni yang teramat dingin. Rosy? Jadi kau punya anak dari perempuan itu, Rehan? Dan kau berniat menendangku setelah merampas semua yang kubangun? batin Isyana. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman paling mengerikan yang pernah ada. Isyana kembali merebahkan tubuhnya di ranjang, memejamkan mata tepat sesaat sebelum pintu kaca balkon digeser terbuka. Dia mengatur napasnya agar tetap teratur saat merasakan Rehan kembali menyelinap di balik selimut. Silakan habiskan uangmu untuk mengobati anak harammu itu, Rehan. Karena besok pagi, aku akan memastikan tidak akan ada satu sen pun harta milik Pilar Corporation yang tersisa atas namamu. Permainanmu terlalu amatir untuk melawanku.Genggaman tangan di atas meja marmer itu tidak terlepas selama beberapa detik. Hangatnya telapak tangan Linkin menyalurkan rasa tenang yang nyata, membuat debaran di dada Isyana berangsur mereda menjadi kelegaan yang lapang.Pintu kamar mandi berderit pelan saat Abim keluar sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil, diikuti oleh Friska di belakangnya. Melihat gerakan itu, Isyana menarik tangannya perlahan seraya merapikan ujung lengan gamis katunnya. Rona merah di pipinya belum sepenuhnya hilang, dan Friska yang menangkap gelagat tersebut hanya menyunggingkan senyum penuh arti tanpa berkomentar sepatah kata pun."Ayo, Ma! Katanya mau ke kamar Nenek Ratna!" seru Abim penuh semangat seraya melompat mendekati ibunya.Linkin bangkit berdiri lebih dulu, mengancingkan kembali jasnya dengan gerakan anggun. "Mari kita turun ke lantai empat. Dr. van de Berg sudah menyiapkan kursi roda di teras taman dalam bila Bu Ratna ingin menghirup udara segar."Mereka berempat melangkah keluar menu
Cahaya matahari pagi menerobos tirai tipis kamar VIP lantai lima Arkana Medical Sanctuary. Kamar itu lebih mirip apartemen mewah bernuansa abu-abu dan kayu ek ketimbang ruang rawat inap rumah sakit.Isyana terbangun saat sayup-sayup mendengar celoteh ceria Abim dari arah ruang tamu luar. Kepalanya yang berdenyut hebat semalam kini terasa jauh lebih ringan. Ia beranjak dari ranjang king size yang empuk, melangkah ke kamar mandi marmer untuk membasuh muka dan mengambil wudu.Setelah mengenakan gamis katun panjang warna hijau zaitun dan melilitkan hijab instan senada, Isyana mendorong pintu kamar tidur.Di meja makan bundar ruang tengah, Abim sedang asyik melahap roti panggang isi keju. Friska duduk di seberangnya sambil menyeruput kopi hitam, membaca tablet kerja dengan kacamata berbingkai tipis."Mama sudah bangun!" seru Abim riang, mulutnya belepotan remah roti. "Tadi Om Linkin bawain sereal madu sama buah stroberi segar banyak banget, Ma!"Isyana tersenyum hangat, menghampiri Abim da
90Malam turun di Jakarta Pusat, membawa gerimis halus yang membasahi kaca ruang tunggu lantai empat Arkana Medical Sanctuary. Isyana masih berdiri mematung di samping ranjang Bu Ratna. Suara monitor jantung berdetak teratur, mengisi ruangan yang dingin dan steril.Obat penawar racun saraf perlahan mulai bekerja. Kelopak mata Bu Ratna yang keriput bergerak-gerak pelan sebelum terbuka sedikit, menatap Isyana dengan pandangan yang jauh lebih jernih dibanding saat di bukit Lembang."Isyana..." bisik Bu Ratna lemah.Isyana segera merapatkan duduknya, menggenggam jemari sang mertua. "Iya, Bu. Jangan banyak bicara dulu. Ibu sudah di Jakarta, di tempat yang sangat aman.""Rehan..." Setitik air mata mengalir dari sudut mata wanita tua itu, membasahi kain bantal putih. "Rehan anak kandung Ibu... tapi dosanya sudah terlalu besar, Nak. Jangan biarkan dia bawa kamu dan Abim ke neraka yang sama.""Isyana sudah mengurus semuanya, Bu," potong Isyana pelan namun tegas. "Rehan dan keluarga Brawijaya h
Sirene ambulans yang meraung di depan membuka jalanan tol Jakarta-Cikampek yang padat. Kecepatan iring-iringan itu stabil, namun ketegangan di dalam mobil sedan hitam Linkin membuat setiap detik terasa lambat dan mencekik leher.Isyana menyandarkan keningnya ke kaca mobil yang bergetar pelan. Kepalanya kembali berdenyut ngilu, bekas jahitan operasi di balik kain pasminanya terasa berdenyut-denyut menolak beban pikiran yang menumpuk. Namun, rasa sakit di raganya itu tak sebanding dengan rasa sesak saat membayangkan anak semata wayangnya, Abim, yang sedang berada di rumah bersama Friska.Rucas Brawijaya sudah di dalam sel Bareskrim, tapi tangannya ternyata masih begitu panjang di luar. Percobaan pembunuhan terhadap Sinta di rumah sakit membuktikan bahwa jaringan kejahatan keluarga Brawijaya bergerak bagai ular berkepala banyak; memotong satu kepala hanya akan membuat kepala lain mematuk secara membabi buta."Arkana," panggil Isyana dengan suara tegas meski kerongkongannya kering.Arkana
Kata "diledakkan" menggema di kamar berkabut itu bagai dentum meriam di ruang tertutup.Isyana mematung di lantai papan yang dingin. Tangan kurus Bu Ratna masih mencengkeram pergelangan tangannya begitu kuat, meninggalkan bekas merah di kulit putihnya. Namun, rasa perih di kulit itu tak sebanding dengan rasa dingin yang menjalar dari tengkuk hingga ujung kakinya.Sepuluh tahun lamanya ia hidup dalam keyakinan bahwa orang tuanya tewas karena cuaca buruk dan keteledoran teknis yang kebetulan. Pagi ini di Bareskrim, Rehan mengaku melonggarkan baut rotor demi iming-iming jabatan. Tapi kini, ibu kandung Rehan sendiri—orang yang diasingkan dan dicekoki obat penenang selama bertahun-tahun—membuka tabir yang jauh lebih mengerikan.Baut longgar itu hanyalah kamuflase cadangan. Pesawat itu dipastikan hancur sejak detik pertama roda rodanya lepas landas dari landasan Subang."Ibu... Ibu yakin dengan apa yang Ibu lihat?" bisik Isyana, suaranya tercekat di kerongkongan.Bu Ratna menangis terisak-
Jalanan aspal menanjak di kawasan perbukitan Lembang terasa lengang. Deretan pohon pinus dan kebun teh yang berselimut kabut tipis tampak melintas cepat di balik jendela kaca mobil sedan hitam yang melaju stabil. Udara dingin pegunungan merayap masuk perlahan lewat celah ventilasi, membuat Isyana merapatkan mantel katun yang membalut tubuhnya.Di kursi belakang, Isyana duduk berdampingan dengan Linkin. Selama dua jam perjalanan dari Jakarta, tangan Isyana bertaut rapat di atas pangkuan. Pikirannya melayang pada kenangan-kenangan lama tentang ibu mertuanya. Bu Ratna, perempuan berdarah Sunda yang selalu bicara dengan nada lembut dan nyaris tak pernah bersuara keras di depan siapa pun."Dua puluh menit lagi kita sampai di gerbang panti, Bu Isyana," suara Arkana dari kursi depan memecah keheningan, matanya melirik spion tengah untuk memastikan kondisi atasannya. "Tim medis dari klinik rekanan Arkana Group di Bandung sudah berada di lokasi lebih dulu dengan izin khusus dari dinas sosial s







