Share

KSP - 3

Author: Azitung
last update Petsa ng paglalathala: 2026-07-21 20:30:43

Isyana mengabaikan kasak-kusuk meremehkan itu. Dia berdiri tegak, merapikan blazer hitamnya, lalu memberi isyarat pada Hendy untuk menyalakan proyektor.

Begitu slide pertama menampilkan desain megah Stadion Nasional baru, Isyana memulai pemaparannya.

"Selamat sore, para hadirin sekalian. Hari ini, kita tidak hanya berbicara tentang membangun sebuah struktur beton dan baja. Kita sedang berbicara tentang masa depan olahraga dan pariwisata Indonesia."

Suara Isyana terdengar begitu lantang, jernih, dan penuh karisma.

"Proyek Stadion ini dirancang dengan kapasitas delapan puluh ribu penonton, menggunakan sistem retractable roof generasi terbaru yang bisa menutup dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Keunggulan utamanya bukan hanya pada kemegahan fisik," Isyana menekan remot kontrol, menampilkan diagram aliran energi. "Tetapi pada efisiensi biaya operasional. Kami mengintegrasikan panel surya transparan pada seluruh fasad luar, yang mampu menyuplai empat puluh persen kebutuhan listrik stadion secara mandiri."

Mendengar penjelasan itu, jajaran direksi Arkana Group yang tadinya bersandar malas di kursi kini mulai menegakkan tubuh.

Pria paruh baya yang memimpin delegasi mereka mulai menyipitkan mata, menatap slide presentasi dengan minat yang mendadak bangkit.

"Tunggu sebentar, Ibu Isyana," potong direktur teknik Arkana Group. "Bagaimana dengan kalkulasi struktur tanah di area rawa yang direncanakan? Pak Rehan sebelumnya sempat ragu dengan anggaran penguatan fondasi."

Isyana tersenyum tipis. "Pertanyaan yang sangat bagus. Anggaran yang sempat diajukan sebelumnya memang terlalu bengkak karena menggunakan metode konvensional. Saya akan merevisi rencana tersebut dengan menerapkan teknologi vacuum consolidation. Metode ini tidak hanya memangkas waktu pematangan tanah hingga tiga puluh persen, tetapi juga menghemat biaya konstruksi dasar sebesar lima puluh miliar rupiah. Detail kalkulasi anggarannya bisa Anda lihat pada halaman ini." Isyana meng-klik satu tulisan di layar, yang sempat dia ubah sebelum masuk ke ruang rapat.

Ruang rapat mendadak sunyi senyap. Pak Dirman dan para petinggi perusahaan yang tadinya memasang wajah lesu kini melongo. Mereka saling berpandangan dengan mata membelalak tak percaya.

Isyana, yang selama ini mereka kira hanya seorang istri yang duduk manis di rumah menerima laporan bersih, ternyata menguasai aspek teknis dan finansial yang bahkan Rehan sendiri pun kesulitan menjelaskannya pada rapat minggu lalu.

"Luar biasa..." gumam pimpinan Arkana Group, matanya berbinar kagum saat menatap Isyana yang sedang menjelaskan grafik pengembalian investasi (ROI). "Analisis risiko yang Anda sajikan jauh lebih tajam dan realistis daripada draf awal yang dikirimkan oleh suami Anda minggu lalu."

"Terima kasih atas penilaiannya," sahut Isyana dengan anggun. "Karena bagi saya, kemitraan bukan hanya tentang membelanjakan uang, melainkan bagaimana kita bisa menciptakan nilai guna jangka panjang yang paling efisien."

Begitu Isyana menutup presentasinya dengan kalimat penutup yang berkelas, seluruh ruangan hening selama dua detik sebelum akhirnya dipenuhi oleh suara tepuk tangan yang meriah.

Pimpinan Arkana Group langsung berdiri dari kursinya dan berjalan mendekati Isyana untuk menjabat tangannya dengan penuh rasa hormat.

"Presentasi yang sangat mengagumkan, Ibu Isyana. Saya rasa, kami tidak perlu lagi menunggu Pak Rehan untuk mengambil keputusan. Kami sangat tertarik untuk segera menandatangani nota kesepahaman proyek ini dengan Anda."

Isyana menyambut jabat tangan itu dengan senyuman kemenangan. "Sebuah kehormatan bagi kami. Tim kami akan segera menyiapkan dokumen finalnya."

Dari sudut ruangan, Hendy menatap bos wanitanya itu dengan rasa takjub yang luar biasa. Sementara itu, Isyana membatin di dalam hati dengan dingin.

Nikmati saja sisa waktumu di kamar hotel itu, Rehan. Saat kamu pulang nanti, kamu akan sadar bahwa semua panggung emas yang kamu impikan sudah sepenuhnya menjadi milikku.

Isyana duduk anggun di sofa ruang tamu yang sunyi. Piyama satin sewarna zamrud yang dikenakannya tampak berkilau lembut di bawah temaram cahaya lampu gantung.

Dengan gerakan yang sangat tenang, dia menyesap teh chamomile hangat dari cangkir porselennya, menikmati aroma menenangkan yang kontras dengan badai yang sebentar lagi akan tiba.

Pintu depan mendadak terbuka kasar. Rehan melangkah masuk dengan napas yang memburu, dasinya sudah longgar, dan wajahnya tampak memerah padam oleh amarah. Tanpa mengucap salam, dia langsung melangkah lebar-lebar menuju tempat Isyana duduk.

"Isyana! Apa yang kau lakukan di perusahaan? Berani-beraninya kau menemui pihak Arkana?!" bentak Rehan, suaranya menggelegar memecah keheningan malam.

Isyana tetap tenang. Dia perlahan meletakkan cangkirnya kembali ke atas tatakan dengan bunyi denting halus yang begitu anggun. Matanya menatap Rehan datar, tanpa ada setitik pun ketakutan.

"Hendy menghubungiku, katanya kerja sama ini tidak bisa ditunda," jawab Isyana santai.

"Tapi itu bukan ranahmu! Sudah sepuluh tahun kau berada di rumah, mengurus rumah tangga! Untuk apa kau mencampuri urusan kantor?!" cecar Rehan dengan telunjuk yang mengarah tepat ke wajah istrinya.

"Meski aku di rumah, aku selalu turut andil dalam mematangkan rencana-rencana perusahaan, Mas. Kau tahu itu dengan sangat baik."

"Tetap saja itu bukan ranahmu! Tugasmu itu di sini, menjadi istri!" Rehan berteriak lagi, wajahnya tampak makin panik di balik amarahnya yang meledak-ledak.

Isyana menyandarkan punggungnya ke sofa. Dia menatap suaminya dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan pandangan yang dingin dan penuh selidik.

"Kau ini kenapa, Mas? Pulang-pulang langsung marah. Bukannya seharusnya kau senang karena proyek itu tetap milik Pilar Corporation?" tanya Isyana, nada suaranya mengalun tenang namun terasa menusuk.

Rehan seketika kelabakan. Matanya bergerak liar, mencari-cari alasan. "Maksudku... maksudku bukan begitu."

"Lantas?" Isyana menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa kau tampak begitu kecewa saat mengetahui proyek triliunan ini berhasil kita amankan?"

"Isyana, kau membuatnya menjadi tanggung jawabmu sekarang! Sedangkan kau tidak mungkin bisa ke perusahaan, apalagi mengurus proyek bernilai triliunan itu!" Rehan mencoba mengalihkan pembicaraan, suaranya bergetar menahan kepanikan yang mulai menggerogoti dadanya.

"Siapa bilang aku tidak bisa?" sahut Isyana dengan senyuman tipis yang sangat mematikan.

Rehan mendengus kasar, dia berkacak pinggang di depan Isyana, mencoba menggunakan senjata pamungkasnya untuk menyudutkan wanita itu. "Kau mau meninggalkan Abim? Melewatkan tumbuh kembangnya hanya demi ambisi gilamu?"

"Abim sudah sepuluh tahun, Mas," jawab Isyana lirih namun tegas. "Dia bukan balita lagi."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (1)
goodnovel comment avatar
Azzurra
laki mah begitu. anak di jadiin alasan istri diem dirumah
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 92

    Genggaman tangan di atas meja marmer itu tidak terlepas selama beberapa detik. Hangatnya telapak tangan Linkin menyalurkan rasa tenang yang nyata, membuat debaran di dada Isyana berangsur mereda menjadi kelegaan yang lapang.Pintu kamar mandi berderit pelan saat Abim keluar sambil mengeringkan tangannya dengan handuk kecil, diikuti oleh Friska di belakangnya. Melihat gerakan itu, Isyana menarik tangannya perlahan seraya merapikan ujung lengan gamis katunnya. Rona merah di pipinya belum sepenuhnya hilang, dan Friska yang menangkap gelagat tersebut hanya menyunggingkan senyum penuh arti tanpa berkomentar sepatah kata pun."Ayo, Ma! Katanya mau ke kamar Nenek Ratna!" seru Abim penuh semangat seraya melompat mendekati ibunya.Linkin bangkit berdiri lebih dulu, mengancingkan kembali jasnya dengan gerakan anggun. "Mari kita turun ke lantai empat. Dr. van de Berg sudah menyiapkan kursi roda di teras taman dalam bila Bu Ratna ingin menghirup udara segar."Mereka berempat melangkah keluar menu

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 91

    Cahaya matahari pagi menerobos tirai tipis kamar VIP lantai lima Arkana Medical Sanctuary. Kamar itu lebih mirip apartemen mewah bernuansa abu-abu dan kayu ek ketimbang ruang rawat inap rumah sakit.Isyana terbangun saat sayup-sayup mendengar celoteh ceria Abim dari arah ruang tamu luar. Kepalanya yang berdenyut hebat semalam kini terasa jauh lebih ringan. Ia beranjak dari ranjang king size yang empuk, melangkah ke kamar mandi marmer untuk membasuh muka dan mengambil wudu.Setelah mengenakan gamis katun panjang warna hijau zaitun dan melilitkan hijab instan senada, Isyana mendorong pintu kamar tidur.Di meja makan bundar ruang tengah, Abim sedang asyik melahap roti panggang isi keju. Friska duduk di seberangnya sambil menyeruput kopi hitam, membaca tablet kerja dengan kacamata berbingkai tipis."Mama sudah bangun!" seru Abim riang, mulutnya belepotan remah roti. "Tadi Om Linkin bawain sereal madu sama buah stroberi segar banyak banget, Ma!"Isyana tersenyum hangat, menghampiri Abim da

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 90

    90Malam turun di Jakarta Pusat, membawa gerimis halus yang membasahi kaca ruang tunggu lantai empat Arkana Medical Sanctuary. Isyana masih berdiri mematung di samping ranjang Bu Ratna. Suara monitor jantung berdetak teratur, mengisi ruangan yang dingin dan steril.Obat penawar racun saraf perlahan mulai bekerja. Kelopak mata Bu Ratna yang keriput bergerak-gerak pelan sebelum terbuka sedikit, menatap Isyana dengan pandangan yang jauh lebih jernih dibanding saat di bukit Lembang."Isyana..." bisik Bu Ratna lemah.Isyana segera merapatkan duduknya, menggenggam jemari sang mertua. "Iya, Bu. Jangan banyak bicara dulu. Ibu sudah di Jakarta, di tempat yang sangat aman.""Rehan..." Setitik air mata mengalir dari sudut mata wanita tua itu, membasahi kain bantal putih. "Rehan anak kandung Ibu... tapi dosanya sudah terlalu besar, Nak. Jangan biarkan dia bawa kamu dan Abim ke neraka yang sama.""Isyana sudah mengurus semuanya, Bu," potong Isyana pelan namun tegas. "Rehan dan keluarga Brawijaya h

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 89

    Sirene ambulans yang meraung di depan membuka jalanan tol Jakarta-Cikampek yang padat. Kecepatan iring-iringan itu stabil, namun ketegangan di dalam mobil sedan hitam Linkin membuat setiap detik terasa lambat dan mencekik leher.Isyana menyandarkan keningnya ke kaca mobil yang bergetar pelan. Kepalanya kembali berdenyut ngilu, bekas jahitan operasi di balik kain pasminanya terasa berdenyut-denyut menolak beban pikiran yang menumpuk. Namun, rasa sakit di raganya itu tak sebanding dengan rasa sesak saat membayangkan anak semata wayangnya, Abim, yang sedang berada di rumah bersama Friska.Rucas Brawijaya sudah di dalam sel Bareskrim, tapi tangannya ternyata masih begitu panjang di luar. Percobaan pembunuhan terhadap Sinta di rumah sakit membuktikan bahwa jaringan kejahatan keluarga Brawijaya bergerak bagai ular berkepala banyak; memotong satu kepala hanya akan membuat kepala lain mematuk secara membabi buta."Arkana," panggil Isyana dengan suara tegas meski kerongkongannya kering.Arkana

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 88

    Kata "diledakkan" menggema di kamar berkabut itu bagai dentum meriam di ruang tertutup.Isyana mematung di lantai papan yang dingin. Tangan kurus Bu Ratna masih mencengkeram pergelangan tangannya begitu kuat, meninggalkan bekas merah di kulit putihnya. Namun, rasa perih di kulit itu tak sebanding dengan rasa dingin yang menjalar dari tengkuk hingga ujung kakinya.Sepuluh tahun lamanya ia hidup dalam keyakinan bahwa orang tuanya tewas karena cuaca buruk dan keteledoran teknis yang kebetulan. Pagi ini di Bareskrim, Rehan mengaku melonggarkan baut rotor demi iming-iming jabatan. Tapi kini, ibu kandung Rehan sendiri—orang yang diasingkan dan dicekoki obat penenang selama bertahun-tahun—membuka tabir yang jauh lebih mengerikan.Baut longgar itu hanyalah kamuflase cadangan. Pesawat itu dipastikan hancur sejak detik pertama roda rodanya lepas landas dari landasan Subang."Ibu... Ibu yakin dengan apa yang Ibu lihat?" bisik Isyana, suaranya tercekat di kerongkongan.Bu Ratna menangis terisak-

  • KUMISKINKAN SUAMI PENGKHIANAT   KSP - 87

    Jalanan aspal menanjak di kawasan perbukitan Lembang terasa lengang. Deretan pohon pinus dan kebun teh yang berselimut kabut tipis tampak melintas cepat di balik jendela kaca mobil sedan hitam yang melaju stabil. Udara dingin pegunungan merayap masuk perlahan lewat celah ventilasi, membuat Isyana merapatkan mantel katun yang membalut tubuhnya.Di kursi belakang, Isyana duduk berdampingan dengan Linkin. Selama dua jam perjalanan dari Jakarta, tangan Isyana bertaut rapat di atas pangkuan. Pikirannya melayang pada kenangan-kenangan lama tentang ibu mertuanya. Bu Ratna, perempuan berdarah Sunda yang selalu bicara dengan nada lembut dan nyaris tak pernah bersuara keras di depan siapa pun."Dua puluh menit lagi kita sampai di gerbang panti, Bu Isyana," suara Arkana dari kursi depan memecah keheningan, matanya melirik spion tengah untuk memastikan kondisi atasannya. "Tim medis dari klinik rekanan Arkana Group di Bandung sudah berada di lokasi lebih dulu dengan izin khusus dari dinas sosial s

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status