LOGIN* Tempat yang membuat nyaman dan menjadi diri sendiri * Aira adalah gadis remaja yang duduk di bangku SMA, di kelas XII IPA - B. Wajah nya terlihat manis dan cantik, ditambah dengan tatapannya yang teduh membuat siapapun merasa tenang ketika melihatnya. Tidak ada yang menarik dalam hidupnya, dia menjalani hidupnya dengan apa ada nya. Namun, ketika temannya meminta diantar kerumah pacar nya, tanpa dia sangka itu adalah awal dari dia kehilangan kehidupan yang tenang. Aira bertemu dengan seorang pria yang begitu menyebalkan, begitu keras kepala, dan memiliki sifat yang dominan. Dia adalag Agarish Sadajiwa Yaksa. Pertemuan yang kurang menyenangkan dengan pria itu membuat Aira tidak menyukai pria itu, karena dia benar benar menyebalkan. Tapi, takdir tidak berpihak kepada Aira. Mereka sering kali bertemu entah itu ada alasan atau tidak, disengaja atau tidak yang jelas mereka seringkali bertemu. Satu hal yang membuat Agarish tertarik. Dia menjadi diri sendiri ketika bersama dengan Aira. Orang orang menganggap dirinya cool dan tenang, namun ketika dengan Aira dia menjadi dirinya, tidak memperdulikan imej. Selain menjadi diri sendiri, Agarish juga merasa...... Nyaman. Ya, gadis itu berhasil membuat Agarish nyaman. Lalu bagaimana kelanjutannya? Agarish yang keras kepada dan Aira yang tidak mau mengalah, indahnya hubungan dua insan ini....
View MoreSienna's POV
“I want to end the contract,” I said softly but firmly. I looked into my mother-in-law’s eyes—Mrs. Wilson—who sat across from me. Her gaze was sharp, but not angry. Just contemplative, like she was weighing something important. “You once said that if Liam didn’t fall in love with me within five years, the contract would be void, right?” I asked to confirm. She didn’t deny it. “I did say that, Sienna,” she replied calmly. “But now you and Liam have Noah. You love that boy deeply. Are you really willing to let him grow up and see someone else as his mother?” I inhaled deeply, my chest tightening—but my answer was firm. “Yes. I am.” Because the truth is, this marriage was always just a contract. Even Noah—my beloved little boy—was part of that agreement. And now, with Emily back, Liam no longer needs me. Noah doesn’t seem to either. Five years I’ve lived this life. From the outside, it looked beautiful—perfect even. As if I was the luckiest woman to marry the heir of the Sinclair family. But on the inside? Cold. Empty. Loveless. I used to believe that my sincerity could warm Liam’s frozen heart. I was wrong. Mrs. Wilson stood up and went to her drawer. She pulled out a brown folder and handed it to me. “There’s one week left in your contract. Here are the papers. Sign it now. Next week, you’ll be free from this family.” Without hesitation, I took the pen and signed the last page. No trembling hand. No tears. Just exhaustion and a long-overdue resolve. I left the Sinclair mansion—a grand place that had felt more like a prison. The autumn wind hit my face as I opened my car door. A notification popped up. A photo from Noah’s school. My hand trembled as I opened it. Liam was smiling, his laughter radiant—something I hadn’t seen in five years. Standing beside him was Emily, holding Noah’s hand tightly like she belonged there. They were all wearing matching family sportswear. Outfits I had prepared for Noah’s school event. But I wasn’t there. I hadn’t been invited. I hadn’t even been considered. I bit my lip to keep the tears in. Emily hadn’t just returned. She was replacing me. Liam and Emily were once the golden couple—he, the heir to a fortune; she, a rising actress. Different worlds brought together by love. Until she left him for her career and broke him. I still remember that night. The media went wild over Liam’s near-suicide. Meanwhile, I sat in a hospital waiting room, praying my father would survive surgery. My family was drowning in medical bills. That’s when Mrs. Wilson made her offer: “Help Liam recover. Marry him. Just for five years.” She would pay for my father’s treatment. I said yes. I thought maybe love could grow. But when I first met Liam, I realized—I had stepped into a frozen world. When Mrs. Wilson asked, “Liam, will you marry Sienna?” he replied coldly, “Whatever. No one matters but Emily.” That was the start of our marriage. A formality, nothing more. I tried. I stayed by his side when he was drunk. I managed his schedule. I cared for him. And slowly... I fell in love. But Liam remained distant. He never even made our marriage official. Then came that night. He stumbled in, drunk. Looked at me with hazy eyes. “Let’s have a child,” he said. And foolishly, I thought things were changing. The next morning, I saw the news: Emily had just announced a new boyfriend. That night was nothing more than a distraction. Still, I got pregnant. Liam didn’t oppose it. He even changed a bit—became more human. I thought maybe we could build something real. Then Emily came back. She left her boyfriend and slowly returned to Liam’s life. They were caught together on camera. Emily started showing up. Staying over. And I? I became a ghost. Liam, who once hated being photographed, now proudly printed pictures of himself, Emily, and Noah. Even my son changed. “Mommy Emily,” Noah said one night. I couldn’t sleep after that. That was the night I realized—no matter how hard I tried, Liam would never love me. Thankfully, it was just a contract. One more week... and I’d be free. I picked up my phone and called the publisher who had once shown interest in my manuscript. Then I booked a one-way plane ticket. It was time to chase my dream. Time to become a writer. When I pulled into the driveway, a car slid into my usual spot—Emily’s. Inside were Liam and Noah. My fingers clenched the steering wheel. I watched them from a distance. They stepped out, laughing. Emily held Noah’s hand tightly. They looked perfect. Without me. I took a deep breath. I gave them one last look. Then I turned away. No tears. No protests. Just silence. “Oh, sorry. I didn’t mean to take your parking spot. You don’t mind, do you?”Selamat membaca. “Tiara!” Tiara menghentikan langkahnya ketika seorang pria memanggilnya. Dia Raffi, temannya Gino. Raffi berlari menuju Tiara. “Apa?” “Lo udah denger belum kalau Aira kecelakaan?” tanya Raffi Tiara membulatkan matanya, “Jangan bercanda lo. Mana ada Aira kecelakaan, kemarin pagi gue kerumah dia. Ngaco lo!” sewot Tiara Raffi menghembuskan nafasnya, “Gue denger dari Bu Ratna sama si Gino sih. Katanya, Kakak nya si Gino yang nolongin Aira.” “Kakaknya? Siapa? Oh Agarish. Hah? Agarish? Masa iya? Tapi Gino gak bilang apapun ke gue.” “Si Gino lagi di kantin. Biasalah.” ucap Raffi Kebiasaan Gino adalah ketika dia datang kesekolah, dia tidak langsung ke kelas, tapi dia akan pergi ke kantin untuk memborong seluruh permen karet kasukaannya. “Lo
Selamat membaca.... "Neng Air, gimana keadaannya?" tanya Bi Iin Bi Iin adalah pembantu di rumah Aira. Biasanya, Bi Iin akan datang kerumah Aira hari senin, rabu dan minggu untuk membersihkan rumah Aira. Pekerjaan Bi Iin tidak full, karena ini kemauan Aira sendiri. Tapi karena tadi Bi Iin ditelefon oleh majikannya, bahwa Aira kecelakaan dan meminta Bi Iin untuk merawat Aira. Akhirnya Bi Iin memutuskan untuk tinggal bersama Aira, mengurus gadis itu. "Aku gakpapa Bi. Disuruh Ayah ya? Maaf ya ngerepotin Bibi." balas Aira Bi Iin tersenyum, layaknya seorang Ibu yang menenangkan perasaan anaknya. "Ish bicara apa si Neng nih. Kan harusnya emang gini, Bibi yang jaga Neng. Pokoknya sekarang Bibi yang ngurus keperluan Neng semua nya. Ayah sama Bibi khawatir denger keadaan Neng," Aira tersenyum, "Makasih Bi." Bi Iin sudah bekerja puluhan tahun dengan kel
Selamat membaca “Tadinya aku mau kerumah Bintang buat bantu dia ngerjain tugas, tapi karena kecelakaan itu kayak nya aku gak bisa kerumah Bintang deh.” jelas Aira “Ya memang gak bisa!” sewot Agarish Aira tersentak kaget, dia menatap tajam Agarish. “Ya biasa aja dong! Aku kan cum- eh aku belum ngabarin Bintang kalau aku gak bisa kerumah nya. Mana ponsel ku?” tagih Aira “Dimobil. Pakai ponsel saya,” Agarish menyodorkan ponsel yang berlogo apple keluaran terbaru. “Tapi aku gak inget nomber nya,” Agarish membuang nafasnya. Dia mencari nomber Aji untuk menelfon nya. “Antarkan ponsel yang tertinggal di mobil ke UGD.” suruh Agarish ketika sudah tersambung dengan nomber Aji “Iya Pak, sebentar lagi saya kesana.” balas Aji Agarish memutuskan sambungan telefonnya. Dia menyimpan kembali ponsel nya di kantung celana nya. “Sebentar lagi supir saya akan ant
Rumah Bintang cukup jauh dari rumah Aira, rumah Bintang berada di sebuah pendesaan. Setelah Bintang mengirim alamat rumah nya kepada Aira, Aira segera siap siap. Setelah dirasa sudah siap, Aira segera memesan ojek online. Tak lama kemudian, ojek online pun sudah datang. “Dengan Mba Aira?” tanya nya Aira mengangguk, “Benar Mas,” “Ke jalan Angga Direja ya Mba?” Aira mengangguk lagi “Di pake Mba helm nya, biar selamat sampai tujuan.” Aira menerima nya, lalu memakainya. Aira naik ke atas motor matic itu dan motor pun mulai melaju dengan kecepatan sedang. “Semalam hujan ya Mba, jadi jalannya cukup licin. Harus extra hati hati ini mah,” ucap nya “Iya Mas, tapi saya gak tau soalnya udah tidur.” Driver ojol pun terkekeh pelan “Astagfirullah!” pekik Driver ojol membuat Aira kaget “AAAAA!” Brug! Aira
Hari minggu ini, Aira bingung dengan kehadiran Tiara dan Gino yang datang kerumahnya pagi pagi sekali. Bahkan pasangan itu, sudah rapi dengan pakaiannya masing masing. Mereka terlihat akan melakukan kencan.“Ngapain kesini? Please, gue males liat kebucinan kalian.” tanya
30 menit sudah berlalu. Aira menatap soal yang ada di hadapannya, soal itu sudah selesai ia kerjakan. Aira tidak butuh waktu yang lama, dia hanya butuh mengingat jawaban jawaban tadi dan mengoreksi jawaban yang ragu. Aira yakin pasti jawaban yang tadi dan sekarang sama, mungkin ada beberapa yang
“Kemarin gimana dianterin sama Kak Agarish?” tanya TiaraAira mengerutkan keningnya, diantar oleh Agarish? Kapan? Aira tidak pernah merasa diantara oleh Agarish. Aira mencoba mengingat ngingat dan dia yakin bahwa dia tidak pernah diantara oleh kakak sepupu nya Gino.
“Kak Agarish?!”Ya, pria yang berada di hadapan Aira adalah Agarish Sadajiwa Yaksa. Seorang pengusaha muda, yang nama nya sedang terkenalnya di majalah bisnis. Ditambah, wajahnya sering muncul di layar kaca. Menampilkan kesuksesan yang di raih Agarish diusia muda.


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore