Share

Kabut Sirna, Fajar Menyingsing
Kabut Sirna, Fajar Menyingsing
Auteur: Lilian

Bab 1

Auteur: Lilian
"Bu .... Aku tidak jadi menikah."

Angin malam berhembus melalui gaun pengantin yang robek saat Naomi Elowen berjalan tanpa alas kaki di jalanan yang lengang. Ujung gaunnya menyeret debu. Ada keheningan sesaat di ujung telepon, lalu suara bergetar yang dipenuhi ketidakpercayaan sekaligus rasa sakit itu terdengar, "Ada apa? Bukankah kamu mencintai Arthur selama lima tahun penuh? Kami semua sudah menasihatimu, tapi kamu tidak pernah mau mendengarkan. Kamu bilang tidak bisa hidup tanpanya, sampai-sampai harus pergi sendirian ke kota yang jaraknya ribuan kilometer dari rumah hanya untuk menikah dengannya.”

"Apakah Arthur membuatmu menderita?"

Tenggorokan Naomi tercekat. Air mata mengalir deras di wajahnya tanpa terkendali.

Dia salah. Salah karena keras kepala dan mengabaikan nasihat orang tuanya.

Salah karena menyia-nyiakan masa mudanya untuk seseorang yang akan meninggalkannya bahkan di hari pernikahan mereka demi cinta pertamanya.

Untungnya, pernikahan itu belum terjadi. Mereka bahkan belum mengesahkan buku nikah mereka.

"Bu," Naomi menarik napas dalam-dalam menghirup udara sejuk, "Aku akan pulang minggu depan setelah membereskan semuanya di sini."

Tengah malam itu, dia pulang ke rumah yang ditempati dirinya bersama Arthur sambil mengemasi barang-barangnya.

Arthur baru pulang keesokan paginya.

Dia meletakkan sarapan dari restoran bintang lima di atas meja, "Pecernaanmu sedang terganggu, kamu tidak boleh selalu melewatkan sarapan."

Naomi menatapnya tenang.

Sebelum hari pernikahan, dirinya dilanda kecemasan hingga mengalami masalah pencernaan.

Dia sudah berkali-kali mengatakan kepada Arthur bahwa dokter baru-baru ini mengganti obatnya yang menyebabkan dirinya tidak bisa sarapan lagi.

Setiap kali dia selalu mengiyakannya, tetapi tidak pernah benar-benar mengingatnya.

Arthur Pradana. Dia selalu seperti ini. Tampak seperti pria yang lembut dan penuh perhatian.

Namun sikap penuh perhatian itu seolah berada di balik kubah kaca. Terlihat, tapi tak tersentuh.

Dia tidak pernah benar-benar memperhatikannya.

Seperti halnya sekarang, dia bahkan tidak menyadari koper dan box-box yang sudah dikemas memenuhi ruang tamu.

"Aku tahu kamu kesal karena aku meninggalkan pesta pernikahan kemarin," Arthur melangkah dua langkah lebih dekat, sikapnya tenang seraya melanjutkan, "Tapi Nadine tiba-tiba sakit, dia baru pulang dari luar negeri dan sendirian. Aku tidak bisa meninggalkannya."

"Kita pilih tanggal lain saja ya, lalu kita gelar pesta pernikahan yang lebih mewah lagi."

Sambil berbicara, Arthur mencoba menghubungi perencana pernikahan, tetapi teralihkan oleh dering teleponnya.

Sebuah isakan lembut terdengar di ujung telepon. Suara Nadine terdengar halus dan lemah, "Arthur, kamu ke mana?"

"Aku sangat takut sendirian di rumah sakit. Lukaku sakit sekali ...."

"Apakah kamu bisa datang dan menemaniku?"

Punggung Arthur langsung menegang, "Apa kata dokter? Apa ada hal lain yang mengganggumu?"

Ada keheningan sesaat di ujung telepon, lalu tawa manis, "Menyebalkan! Aku baik-baik saja. Aku hanya ingin kamu datang dan menemaniku di sini."

"Hatiku terasa hampa tanpamu."

Arthur menatap Naomi sesaat, kemudian mengerutkan kening. Dia tampak ragu sejenak sebelum akhirnya berbicara. Suaranya begitu lembut hingga bisa meluluhkan hati, "Aku akan segera ke sana."

Setelah menutup telepon, dia melangkah pergi dengan kaki panjangnya tanpa belas rasa, "Kamu makan dulu, Nadine membutuhkanku."

Dia mengatakannya dan berbalik pergi.

Naomi berdiri membeku di sana.

Amarah yang seharusnya berkobar karena sikap Arthur pada dirinya telah lama mereda akibat kekecewaan berulang. Kini akhirnya berubah menjadi mati rasa.

Lagipula, Arthur memang selalu mencintai Nadine.

Pada orientasi mahasiswa baru, Arthur menjadi perwakilan mahasiswa untuk menyampaikan pidato. Tanpa catatan sama sekali, dia bisa dengan lancar berganti-ganti bahasa dalam pidatonya.

Pembawaannya yang tenang dan suaranya yang lembut dengan mudah memikat seluruh hadirin.

Naomi, yang duduk di antara kerumunan juga menyaksikan sosok yang mempesona di atas panggung. Jantungnya berdebar kencang.

Namun tak lama kemudian, seluruh sekolah tahu bahwa Arthur mencintai Nadine. Dia mencintainya sampai gila.

Dia menggunakan 3.000 drone untuk menyatakan cintanya kepada Nadine larut malam di lapangan olahraga, langit dipenuhi pola seperti galaksi yang luas.

Dia bahkan meminta Naomi, teman sekamar Nadine, untuk membantu mengantarkan bunga dan kue kepada Nadine.

Ketika Nadine dengan santai menyebutkan ingin merayakan ulang tahunnya di Prancis Selatan, Arthur langsung mengatur jet pribadi untuk menemaninya ke sana.

Forum kampus langsung heboh. Naomi mendapatkan sebuah fakta dari desas-desus yang berdedar: Ternyata Keluarga Pradana dan Keluarga Ravelly adalah kerabat dekat.

Para tetua dari kedua keluarga sudah menjodohkan mereka bahkan ketika usia mereka baru menginjak 100 hari.

Bagi orang luar, mereka berdua adalah pasangan yang ditakdirkan.

Namun, Nadine sama sekali tidak tertarik dengan pernikahan yang diatur seperti ini. Secara pribadi, dia pernah beberapa kali mengeluh kepada Naomi, "Aku masih kuliah, belum mulai menikmati kehidupan. Masa sudah harus terikat dengan pertunangan?"

Dia bahkan setengah bercanda mencoba menjodohkan Naomi dan Arthur. Tentu hanya untuk ditolak mentah-mentah oleh Arthur.

Menjelang kelulusan, kedua keluarga mempersiapkan pesta pertunangan.

Namun pada hari pertunangan, Nadine melarikan diri. Dia terbang ke luar negeri tanpa sepatah kata pun, menghilang tanpa jejak.

Membuat para tamu dan media tercengang.

Itulah pertama kalinya Arthur benar-benar marah karena Nadine. Dia menemui Naomi dan berkata dengan ekspresi tenangnya, "Bukankah Nadine ingin kita bersama?"

"Kalau begitu mari kita bersama."

Dia terdiam sejenak, lalu menambahkan pernyataan yang secara rasional kejam itu,

"Aku tidak punya perasaan padamu, tapi aku akan menghormatimu, bersikap dewasa, bertanggung jawab … aku tidak akan pergi begitu saja sepertinya."

Naomi terdiam lama, tetapi akhirnya mengangguk.

Itulah sebabnya, dia tinggal di kota yang jauh dari kampung halamannya untuk mewujudkan hubungan ini.

Tanggal pernikahan mereka ditetapkan secara tergesa-gesa, orang tua Naomi pun tidak sempat untuk menghadirinya.

Naomi berpikir bahwa selama dia terus berada sisinya, Arthur pada akhirnya akan luluh.

Hingga tiba saatnya Nadine kembali dan sengaja merusak pernikahan yang sudah mereka rencanakan.

Namun, Arthur tidak tega untuk marah dan malah menuruti semua keinginannya.

Baru kemudian Naomi mengerti.

Tidak mencintai memang pada dasarnya tidak mencintai.

Hati yang tidak bisa diluluhkan memang harus dilepaskan.

Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Arthur, [Pernikahan kita tidak perlu dilanjutkan lagi.]
Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 24

    Dua tahun kemudian, pada suatu senja musim kemarau.Naomi berdiri di balkon rumah barunya, kedua tangannya sedang memegang secangkir teh bunga yang masih hangat.Apartemen itu tidak terlalu besar, tetapi pencahayaannya sangat baik. Saat ini, cahaya matahari senja menembus pintu kaca, mewarnai interior dengan rona keemasan yang hangat.Di taman kecil di bawah, pohon-pohon yang baru ditanam mulai bermekaran jarang-jarang. Setiap kali angin berembus, aroma samar yang lembut ikut terangkat ke udara.Rio memeluk pinggangnya dari belakang dengan lembut, dagunya bertumpu di puncak kepalanya.“Sedang melihat apa sampai melamun begitu?”“Tidak apa-apa,” Naomi sedikit menyandarkan tubuhnya ke belakang, menyerap kehangatan yang menenangkan dari tubuhnya. “Hanya merasa ... Musim ini benar-benar sudah tiba.”Suara Naomi terdengar tenang dan lembut.Namun Rio tahu, di balik ketenangan itu, ada proses pemulihan yang berjalan perlahan selama dua tahun penuh.Beberapa bulan pertama adalah masa yang pal

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 23

    Arthur dilarikan ke ruang gawat darurat.Peluru menembus sisi kiri dadanya, dengan presisi merobek organ vital dan pembuluh darah utama. Meski dokter dan perawat bergerak cepat melakukan penyelamatan, angka-angka di monitor tetap merosot tajam.Saat Arthur didorong keluar dari ruang operasi, pada detik terakhir sebelum kesadarannya tenggelam ke dalam kegelapan tak bertepi, penglihatannya yang kabur justru menembus bayangan ganda dan terfokus dengan susah payah.Dia melihat sosok yang tidak jauh darinya, Naomi yang dipeluk erat oleh Rio.Wajah Naomi pucat pasi. Air mata mengalir tak terkendali, meluruhkan debu dan noda darah di pipinya. Tubuhnya gemetar hebat, tetapi pandangannya terpaku ke arahnya. Tak bergeser sedikit pun.Sepasang mata yang begitu dikenalnya, kini penuh cahaya air mata yang membasahi wajahnya. Menjadi secercah cahaya terakhir yang bergetar di dunia Arthur yang kian meredup.Bibirnya yang pecah-pecah bergerak tipis tanpa disadari orang-orang, seolah ingin memeras sisa

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 22

    Gudang nomor 3 di area pertambangan tua tampak gelap dan rusak.Di tengah gudang, Naomi terikat pada sebuah kursi besi. Nadine menggenggam pistol tua, menunggu dengan gelisah kedatangan Arthur dan Rio.Di sudut gudang, dua preman saling bertukar pandang cemas. Telapak tangan mereka sudah basah oleh keringat.Mereka menunduk menatap layar ponsel, berniat menghubungi orang di luar saat situasi kacau. Namun ketika Arthur dan Rio muncul bergantian di pintu masuk gudang bagian bawah, gerakan mereka seketika membeku.Salah satu preman bergumam pelan, “Sial … ini jadi masalah besar.”“Kita cuma mau cari uang, bukan bikin perkara ....”Preman lainnya meraih ponsel di pinggang untuk meminta bantuan, tetapi di detik berikutnya suara jerit Nadine yang tajam membuatnya terpaku di tempat.“Jangan bergerak!”Nadine sepenuhnya kehilangan kendali. Kedua preman mundur beberapa langkah, tak berani bergerak lagi.Udara seperti tong mesiu yang terbakar. Ketegangan meledak seketika.Salah satu preman tanpa

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 21

    “Kenapa pria seperti Arthur yang bahkan tak kuinginkan, justru berputar-putar mengelilingimu?!”“Karena kamu, Arthur sampai membatalkan kerja sama antara Keluarga Pradana dan keluargaku!”Suara Nadine makin melengking, nyaris merobek udara.“Kamulah yang merampas segalanya dariku! Kalau bukan karena kamu, Arthur tidak akan berubah! Aku masih akan menjadi putri Keluarga Ravelly, masih menjadi Nadine yang dikagumi semua orang! Semua ini karena kamu! Kamu pembawa sial!”“Kamu gila!” Naomi menatap wajahnya tajam. Rasa dingin menjalar dari telapak kaki ke sekujur tubuh.“Apa pun yang dilakukan Arthur adalah pilihan mereka sendiri. Apa hubungannya denganku? Itu karena kamu sendiri ....”“Diam!!”Nadine menjerit, lalu tiba-tiba meraih sesuatu di sampingnya.Jantung Naomi seakan berhenti berdetak.Itu sebuah pistol model lama!Meski moncongnya belum tepat mengarah padanya, lubang hitam itu sudah cukup untuk membekukan darah siapa pun.“Berani bicara satu kata lagi,” suara Nadine merendah, namu

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 20

    Di sebuah sore yang tampak biasa.Toko bunga menerima pesanan mendesak untuk rangkaian bunga pernikahan, namun mendadak kekurangan beberapa jenis bunga pendamping khusus.Kebetulan, toko buku Rio sedang melakukan inventaris bulanan sehingga dia tidak bisa membantu.Setelah mengecek peta di ponselnya, Naomi pun pergi sendiri dengan sepeda motor listrik menuju pasar grosir bunga di pinggiran kota.Pasar itu ternyata lebih jauh dari perkiraannya. Saat perjalanan pulang, langit sudah gelap, dan keranjang motornya berisi beberapa kotak bahan bunga.Ketika melewati ruas jalan yang sepi, sebuah van tua berwarna abu-abu tiba-tiba mempercepat laju dari belakang, hampir menempel pada motornya.Hati Naomi menegang. Dia refleks menghindar ke kanan.Namun mobil van itu justru memotong ke arah yang sama dengan kasar.Motor listriknya terjepit dan terdorong ke tepi jalan, oleng hebat beberapa kali. Nyaris menabrak pembatas jalan barulah akhirnya berhenti.Belum sempat Naomi menarik napas, pintu depan

  • Kabut Sirna, Fajar Menyingsing   Bab 19

    Senja tiba, lampu-lampu kota mulai menyala.Naomi dan Rio baru saja keluar dari toko buku. Masing-masing menenteng beberapa buku pilihan baru, bersiap menuju sebuah rumah makan rumahan yang terkenal enak di ujung jalan.Tepat ketika mereka hendak berbelok ke lorong menuju restoran itu, sebuah sosok melangkah keluar dari bayang-bayang pohon di tepi jalan, menghadang langkah mereka.Itu Arthur.Tampaknya dia baru keluar dari rumah sakit. Wajahnya masih pucat di bawah cahaya lampu jalan, tubuhnya pun terlihat lebih kurus dibanding sebelumnya.Tatapan Arthur terpaku lurus pada wajah Naomi, lalu menyapu Rio di sampingnya, sebelum akhirnya berhenti pada jarak dekat yang begitu alami di antara mereka. Seluruh tubuhnya memancarkan ketegangan dan kegigihan yang terasa asing di tengah suasana jalan yang hangat dan membumi.“Naomi.”Dia membuka mulut dengan suaranya yang serak.“Kita perlu bicara.”Langkah Naomi terhenti. Senyum ringan di wajahnya memudar seketika. Alisnya berkerut, dan tanpa sad

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status