Mag-log inSiang Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Gunarso Priambudi dan Kak Alberth Abraham Parinusssa atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Gunarso Priambudi, Kak Tri Sisbianto, Kak Dikydwi Laksana, Kak Acing Bnet, dan Kak Zensan atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena Jumlah Gem telah memenuhi target, maka ada bab bonus setelah ini(≧▽≦) Selamat Membaca (◠‿・)—☆
"Pembohong! Pembohong besar! Kembalikan Kak Solus-ku!"Di tengah tatapan semua orang yang membeku karena terkejut, gadis berjubah hitam itu menerobos kerumunan dan berhenti tepat di depan Ryan. Ia bertolak pinggang, pipinya menggembung oleh amarah, sementara kedua alisnya bertaut rapat.Hentakan kaki ringannya membuat rambut hitamnya bergoyang. Sikapnya sama sekali tidak tampak seperti nona muda keluarga terpandang yang sedang berhadapan dengan orang asing.Sebaliknya, ia terlihat seperti gadis kecil yang sedang menagih janji kepada orang yang sudah lama membuatnya kesal."Itu Nona Muda Keluarga Permana, Rania Permana!""Kenapa dia juga datang ke sini? Apa sebenarnya hubungan dia dengan Ryan itu? Sepertinya mereka saling mengenal.""Apa yang sedang terjadi?"Perubahan mendadak itu membuat semua orang tercengang.Semula, ketika Ashton Ridwan muncul, mereka mengira riwayat Ryan sudah benar-benar berakhir. Tidak ada yang menyangka bahwa Nona Muda Keluarga Permana justru melompat kelua
"Reynard, ini tidak seperti yang kau pikirkan."Wivan Solari mendesah pelan. Ia menatap Reynard Ridwan yang masih tergeletak dengan wajah rumit, lalu berusaha menjelaskan sebaik mungkin."Sebelumnya, coretan sederhana putri Ryan berhasil mengalahkan pelukis jenius muda dari negeri sakura. Kemampuan melukisnya memang cukup untuk dianugerahi juara pertama lomba ini. Karena itu, aku berpikir...""Jadi kau berpikir untuk memberikan sesuatu yang sudah menjadi milik kami kepada bocah ini dan putrinya?"Reynard mendengus dingin, langsung memotong ucapan Wivan."Paman Wivan, jangan-jangan sekarang kau bahkan tidak lagi memandang Keluarga Ridwan sebelah mata pun?"Jika perkara ini menyebar, Keluarga Ridwan pasti akan menjadi bahan tertawaan seluruh Kencanapura. Juara pertama yang semula sudah berada di tangan Yano dicabut begitu saja, lalu diserahkan kepada anak kecil yang sebelumnya hanya mendapat hadiah hiburan.Baginya, itu bukan sekadar perubahan hasil lomba.Itu penghinaan terang-teranga
Ryan Sang Kaisar Iblis Gila dari Selatan.Ashton Ridwan tentu bukan sekadar pernah mendengar nama itu.Baginya, nama tersebut sudah seperti bayangan raksasa yang menekan dada banyak keluarga elite di Garudapolis. Sosok itu berdarah dingin, kuat, dan pernah menekan satu negeri seorang diri.“Oh?”Rania Permana menatap Ashton dengan heran. “Kau juga pernah mendengar tentangnya?”“Bagaimana mungkin aku tidak pernah mendengar nama Ryan Sang Kaisar Iblis Gila dari Selatan?”Ashton menarik napas dalam-dalam. Raut wajahnya yang semula tenang kini sedikit muram.“Menyebutnya menggemparkan saja masih terlalu ringan. Saat pertama kali muncul, ia membunuh banyak grandmaster bela diri sekelas Wilhelm.”“Belum lagi keributan yang baru-baru ini ia timbulkan di negeri ginseng. Hanya mendengarnya saja sudah cukup membuat orang bergidik.”Ryan menerobos seorang diri ke kediaman Keluarga Valmont di negeri ginseng dan memaksa keluarga itu menundukkan kepala.Setelah itu, ia membunuh leluhur Keluarga Kin
"Malam itu, mereka menghajarku sampai separuh malam." Ashton Ridwan mengatakannya dengan nada datar, seolah cerita itu bukan bagian dari hidupnya sendiri. "Mereka tidak berani membunuhku karena tahu aku sudah dianggap orang sang pemimpin." "Karena itu, nyawaku masih tersisa. Pada paruh kedua malam, ketika semua orang tertidur, aku memaksa tubuhku bangkit." "Aku mengambil sebuah sikat gigi, berjalan ke ranjang pemimpin kelompok kecil itu, lalu dengan sisa seluruh tenaga, kutusukkan benda itu ke dadanya." "Ah?" Rania Permana memekik pelan. Wajahnya berubah kaget. Ashton tetap memegang kemudi dengan tenang. "Setelah kejadian itu, aku menjadi pemimpin dua puluh pria di asrama tersebut." "Waktu itu usiaku baru tujuh tahun. Dari sana aku juga sadar, alasan pemimpin besar membiarkanku mengikutinya lalu sengaja mengurungku untuk ditindas adalah untuk memberiku peringatan. Dia ingin aku tunduk padanya." Senyum tipis muncul di bibirnya. "Sayangnya, aku justru tidak sudi tunduk. Keti
"Contohnya tadi, ada orang tua menyeberang jalan tanpa memedulikan bahaya. Kalau itu adikmu, Reynard Ridwan, dia pasti sudah membunyikan klakson berkali-kali, memaki-maki, atau bahkan langsung menabraknya begitu saja." Sampai di sana, secercah rasa muak melintas di mata Rania Permana. Ia masih mengingat jelas betapa santainya Reynard ketika mengendarai mobil di sekitar Galeri Seni Kencanapura tadi. Baginya, nyawa orang biasa seolah bukan nyawa, melainkan debu yang kebetulan menghalangi jalan. "Namun kau berbeda," lanjut Rania. "Kau tidak memaki, tidak menekan klakson, dan tidak memperlihatkan kesal sedikit pun." "Kau menghentikan mobil, menunggu dengan sangat sabar sampai orang tua itu selesai menyeberang, baru menjalankannya lagi." Ia kembali menoleh ke arah pria di sampingnya. Rania mengamati garis rahang Ashton yang tenang, juga kedua tangannya yang santai di atas kemudi. Ia seperti berusaha mencari sedikit kepalsuan dari sikap lelaki itu, tetapi tidak menemukan apa pun.
Wivan Solari hanya bisa menoleh ke arah Ryan dengan tatapan rumit. "Ryan, coba pikirkan lagi..." Dalam pandangannya, pilihan terbaik saat ini adalah Ryan melepaskan Reynard Ridwan, lalu menundukkan kepala untuk meminta maaf. Mungkin saja, dengan begitu, masih ada celah kecil untuk menyelesaikan masalah ini tanpa darah dan dendam. "Ryan, sekarang bukan waktunya keras kepala." Darman ikut membujuk. Keringat memenuhi keningnya, dan suaranya terdengar semakin cemas. "Keluarga Ridwan bukan pihak yang bisa kau ganggu sembarangan. Mengalahlah satu langkah. Itu lebih baik daripada celaka nanti." Namun Ryan seolah tidak mendengar sepatah kata pun. Ia justru menyuapkan sekeping keripik kentang ke mulut Aira. Ketika si kecil tersedak pelan karena terlalu semangat mengunyah, Ryan menepuk punggungnya beberapa kali dengan lembut. Barulah setelah itu ia mengangkat wajah. "Keluarga Ridwan?" Senyum tipis muncul di bibirnya, dingin dan meremehkan. "Bagi kalian, mungkin mereka terdengar ti
Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya y
"Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke A
Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik m
Wulan mempersilakan Ryan duduk di sofa lusuh yang pegas-pegasnya sudah nyungsep di beberapa bagian. Lalu dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, dia mulai menceritakan semuanya.Ayahnya, Hendrik Hartono, bekerja sebagai buruh bangunan. Gajinya tidak besar, tiga juta GDP per bulan kalau lagi be







