INICIAR SESIÓNSiang Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Gunarso Priambudi dan Kak Alberth Abraham Parinusssa atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Gunarso Priambudi, Kak Tri Sisbianto, Kak Dikydwi Laksana, Kak Acing Bnet, dan Kak Zensan atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena Jumlah Gem telah memenuhi target, maka ada bab bonus setelah ini(≧▽≦) Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Ryan mengembuskan napas pelan.Dengan satu kibasan tangan, beberapa serpihan logam mendadak muncul di atas meja. Serpihan itu tampak kusam, tetapi masih memancarkan ketajaman samar yang membuat orang sulit menatapnya terlalu lama.Itulah pecahan Pedang Guntur Gaung milik Solus setelah hancur.Pedang itu masih menyisakan aura tajam. Namun pemiliknya kini...“Itu Pedang Guntur Gaung!”Brama Permana langsung mengenalinya. Begitu melihat serpihan itu, hatinya seperti ditusuk sesuatu yang dingin.“Pedang hancur, orangnya pun binasa. Apakah benar ungkapan pedang hancur, orang tiada?”“Kak Solus...”Tangan Rania Permana bergetar saat mengambil salah satu serpihan. Matanya perlahan memerah. Suaranya terdengar parau, seolah tertahan oleh sesuatu yang nyaris meledak dari dadanya.“Keparat. Dasar keparat besar. Kau bilang akan datang ke Kota Kencanapura menemuiku! Pembohong. Pembohong besar. Seharusnya waktu itu aku tidak membiarkanmu pergi!”Gadis yang biasanya keras kepala dan berani itu akh
Sore itu, di depan gerbang vila Keluarga Permana, salah satu keluarga terpandang di Kota Kencanapura, Brama Permana berdiri tegak mengenakan setelan jas resmi.Di belakangnya, dua barisan orang menunggu dengan sikap hormat. Mereka semua adalah anggota kelas atas Keluarga Permana. Siapa pun di antara mereka, jika dilepas ke luar, cukup untuk mengguncang satu bidang bisnis atau membuat banyak orang menunduk.Namun saat ini, mereka hanya berdiri diam.Jika diperhatikan lebih saksama, wajah mereka jelas menyimpan rasa tidak sabar. Hanya saja, karena wibawa Brama Permana, tidak ada seorang pun yang berani memperlihatkannya secara terang-terangan.“Kepala Keluarga, sebenarnya siapa yang sedang kita tunggu?”Akhirnya, seorang anggota inti Keluarga Permana tidak sanggup menahan diri dan bertanya.Pertanyaan itu langsung menarik perhatian semua orang.Memang benar. Dengan kedudukan Keluarga Permana di Kota Kencanapura, apakah benar perlu membuat penyambutan semegah ini hanya untuk satu tamu
Selvina Cantaro menutup rapat bibirnya. Dadanya bergemuruh oleh perasaan yang bercampur aduk, antara terkejut, malu, kagum, dan tidak percaya.“Ryan sungguh... sungguh luar biasa.”“Ryan, kau benar-benar menyembunyikan jati dirimu terlalu rapat!”Darman merasa geli sekaligus tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Saat pertama kali bertemu Ryan, ia sempat heran bagaimana pria berpenampilan biasa seperti itu bisa memiliki putri secantik dan selucu Aira.Sebagai mandor bangunan yang kekayaannya mencapai ratusan miliar GDP, Darman memang tidak berniat pamer. Namun ketika berhadapan dengan Ryan sebelumnya, ia hanya menganggap mereka kebetulan bertemu dan bisa berkenalan sambil lalu.Dalam hati, ia bahkan merasa dirinya dan Ryan berasal dari dunia yang berbeda.Siapa sangka, perbedaan itu memang ada, tetapi justru terbalik sepenuhnya.Latar belakang Ryan ternyata begitu besar sampai Darman nyaris ingin menggali lubang dan menanam dirinya sendiri. Pria itu sanggup membuat satu negeri menangi
"Meskipun Ashton belum pernah menyaksikan langsung kehebatan Tuan yang tak terkalahkan!"Begitu bertemu tatapan Ryan, hati Ashton Ridwan bergetar hebat. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan sikap semakin hormat."Namun nama Tuan sudah termasyhur di seluruh Garudapolis dan menggetarkan dunia. Bagaimana mungkin Ashton tidak mengenalnya?"Ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan suara yang semakin mantap."Sejak Tuan pertama kali muncul, Tuan telah membunuh ahli-ahli sekelas Wilhelm, Damien Sang Pembantai dari Alexandris Utara, serta banyak grandmaster lainnya." "Tuan menumpas musuh asing di perairan Garudapolis, membelah kapal perang hanya dengan satu tebasan pedang, dan sepanjang perjalanan tidak pernah sekali pun mengenal kekalahan."Tanpa memedulikan tatapan bingung orang-orang di sekeliling, Ashton kembali maju selangkah."Terlebih lagi, tindakan Tuan baru-baru ini." "Tuan menerobos masuk ke negeri ginseng seorang diri dan menekan seluruh negeri itu hanya deng
Sesaat kemudian, Ashton Ridwan mendadak melangkah maju dengan cepat.Begitu tiba di hadapan Ryan, ia membungkukkan tubuh dalam-dalam. Kedua tangannya terkatup di depan dada, dan suaranya terdengar amat hormat.“Ternyata benar tuan yang sudi datang ke Kota Kencanapura kami.” “Ashton sebelumnya tidak mengetahui kedatangan tuan, sehingga lalai menyambut. Semoga tuan berkenan memaafkan kelancangan Ashton.”Punggungnya yang selama ini selalu tegak kini merunduk rendah, nyaris sejajar dengan lantai.Sikapnya begitu hati-hati, bahkan dapat disebut merendah sampai batas terendah.Tidak tersisa sedikit pun keangkuhan seorang tuan muda keluarga elite. Di hadapan Ryan, Ashton Ridwan justru tampak seperti seorang junior yang sedang memberi hormat kepada tetua besar.Dalam perjalanan kemari, ia memang sempat membahas Ryan Sang Kaisar Iblis Gila dari Selatan bersama Rania Permana.Namun ia tidak pernah membayangkan bahwa sosok legendaris Garudapolis itu benar-benar akan berdiri di hadapannya.‘T
"Pembohong! Pembohong besar! Kembalikan Kak Solus-ku!"Di tengah tatapan semua orang yang membeku karena terkejut, gadis berjubah hitam itu menerobos kerumunan dan berhenti tepat di depan Ryan. Ia bertolak pinggang, pipinya menggembung oleh amarah, sementara kedua alisnya bertaut rapat.Hentakan kaki ringannya membuat rambut hitamnya bergoyang. Sikapnya sama sekali tidak tampak seperti nona muda keluarga terpandang yang sedang berhadapan dengan orang asing.Sebaliknya, ia terlihat seperti gadis kecil yang sedang menagih janji kepada orang yang sudah lama membuatnya kesal."Itu Nona Muda Keluarga Permana, Rania Permana!""Kenapa dia juga datang ke sini? Apa sebenarnya hubungan dia dengan Ryan itu? Sepertinya mereka saling mengenal.""Apa yang sedang terjadi?"Perubahan mendadak itu membuat semua orang tercengang.Semula, ketika Ashton Ridwan muncul, mereka mengira riwayat Ryan sudah benar-benar berakhir. Tidak ada yang menyangka bahwa Nona Muda Keluarga Permana justru melompat kelua
"Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke A
Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik m
Wulan mempersilakan Ryan duduk di sofa lusuh yang pegas-pegasnya sudah nyungsep di beberapa bagian. Lalu dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca, dia mulai menceritakan semuanya.Ayahnya, Hendrik Hartono, bekerja sebagai buruh bangunan. Gajinya tidak besar, tiga juta GDP per bulan kalau lagi be
Gunawan merasakan sesuatu yang sangat menakutkan dari tatapan Ryan. Ini bukan tatapan manusia biasa. Ini tatapan seseorang yang pernah melihat kematian, yang pernah membawa kematian, berkali-kali lipat. Tatapan predator puncak yang tidak mengenal belas kasihan."L... lepaskan aku!" Gunawan mencoba







