LOGINSiang Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Gunarso Priambudi dan Kak Alberth Abraham Parinusssa atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Gunarso Priambudi, Kak Tri Sisbianto, Kak Dikydwi Laksana, Kak Acing Bnet, dan Kak Zensan atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena Jumlah Gem telah memenuhi target, maka ada bab bonus setelah ini(≧▽≦) Selamat Membaca (◠‿・)—☆
Melihat raut wajah Ryan yang berubah dingin, Darren Vale akhirnya tidak sanggup lagi menyembunyikan perkara itu.Ia menarik napas, lalu berkata terus terang, “Selama kau pergi, banyak praktisi mendadak bermunculan di Kota Sentralis.”“Aku sudah menyadarinya.”Ryan mengangguk pelan.Sejak mobil meninggalkan bandara, Kesadaran Ilahinya telah menangkap banyak aura asing di kota ini. Jumlahnya tidak cukup untuk mengguncang dunia, tetapi bagi Kota Sentralis yang sebelumnya relatif tenang, perubahan itu jelas sangat tidak normal sekali.Budi yang duduk di kursi kemudi mengambil alih pembicaraan.“Orang-orang ini kuat, dan cara berpakaian mereka juga aneh. Awalnya kami tidak terlalu memedulikannya. Namun tepat semalam, salah satu kasino di bawah kendaliku diserbu.”Sorot mata Ryan menajam.“Diserbu?”“Betul.”Wajah Budi tampak muram.“Beberapa orang datang bermain di kasinoku. Mereka menang di setiap ronde, tidak pernah kalah sekali pun. Kurang dari dua jam, mereka membawa pergi lebih dari
Budi adalah orang pertama yang mengikuti Ryan, sekaligus orang paling awal mulai berlatih kultivasi di bawah bimbingannya.Sudah hampir setengah tahun berlalu. Namun sampai sekarang, ia baru mencapai Tahap Menengah Ranah Pengumpulan Qi. Itu pun setelah menghabiskan banyak Pil yang diberikan Ryan. Jika mengandalkan dirinya sendiri, mungkin lajunya akan jauh lebih lambat.Sebaliknya, Darren Vale baru mulai berlatih kurang dari tiga bulan.Namun sekarang, ia juga sudah mencapai Tahap Menengah Ranah Pengumpulan Qi.Seperti kata pepatah, perbandingan bisa melukai hati manusia.Budi benar-benar murung karena hal ini. Yang lebih menyebalkan, Darren kerap sengaja datang menusuk-nusuk hatinya setiap kali sedang tidak ada pekerjaan.“Sepertinya kau berhasil mengeruk cukup banyak keuntungan dari Leluhur Mortis.”Ryan menatap Darren dengan senyum penuh arti.Sebenarnya, bakat Darren sedikit lebih buruk d
Butir Pedang.Benda itu termasuk salah satu jenis Artefak Mistik dalam dunia kultivasi. Ia berbeda dari pedang biasa yang bergantung pada bentuk bilah, gagang, dan panjang jangkauan.Ukurannya hanya sebesar telur merpati. .Dari luar, ia tampak seperti manik besi hitam yang sederhana. Namun, selama pemiliknya mampu mengendalikannya, benda itu bisa berubah bentuk sesuai kehendak. Ia dapat menjadi cahaya pedang, jarum tipis, cincin lentur, atau serangan tajam yang sulit ditebak arah datangnya.Justru karena bentuknya kecil, Butir Pedang menghemat banyak tenaga batin ketika dipakai bertarung. Dalam beberapa keadaan, ia bahkan bisa menghasilkan efek yang jauh lebih mengejutkan daripada sebilah pedang panjang. Saat lawan mengira serangan datang dari depan, Butir Pedang bisa menyusup dari samping, berputar dari belakang, atau meledak tepat di titik buta.Tentu saja, Artefak Mistik semacam ini belum bisa d
Jika diperhatikan lebih saksama, sebuah bayangan pedang samar perlahan muncul dari dalam tubuh Ryan.Bayangan itu tidak berbentuk pedang biasa. Wujudnya menyerupai naga yang meliuk, memancarkan aura agung yang seakan memandang rendah seluruh dunia. Tekanan yang keluar darinya membuat pedang-pedang di sekeliling tunduk tanpa perlawanan, seperti rakyat jelata yang menyambut kedatangan raja.Pemandangan itu membuat Brama Permana dan yang lain di luar Hutan Pedang ternganga.Baskara Permana bahkan tersengal. Matanya membelalak, dan suaranya tergagap karena terlalu terguncang.“Ini... apakah ini Sepuluh Ribu Pedang Bersujud?”Ia masih ingat dengan jelas kejadian ketika Solus menerobos masuk ke Hutan Pedang dahulu. Saat itu, sepuluh ribu pedang meraung panjang bersama-sama, memberi kesan seolah mereka baru saja bertemu seorang sahabat lama.Bagi Baskara, pemandangan itu sudah cukup mengguncang batinnya selama bertahun-tahun.Namun apa yang terjadi di hadapannya sekarang jauh lebih menger
Baskara Permana tersenyum getir.“Tiga pertanyaan itu terdengar sederhana. Namun justru karena kesederhanaannya, orang tua ini terjebak dalam pergulatan batin selama sebulan penuh sebelum akhirnya tersadar.”Ia menatap telapak tangannya sendiri, seolah masih bisa merasakan getaran pedang pada hari itu.“Berkat pertanyaan itulah aku mampu menggenggam segurat Niat Pedang.””Bagi orang tua ini, pemuda itu bukan hanya pernah mengalahkanku, tetapi juga memberiku ilmu dan pencerahan. Tidak berlebihan bila kusebut ia sebagai Guru.”Berbicara sampai di sana, Baskara seperti baru teringat sesuatu. Ia menatap Ryan dengan penuh harap.“Omong-omong, apakah pemuda itu ikut datang? Aku harus berterima kasih langsung kepadanya.”Mata Rania Permana kembali memerah. Ia hampir membuka mulut, tetapi Ryan lebih dulu menggeleng pelan.“Solus sedang pergi berlatih. Kalau ada kesempatan, kau bisa berterima kasih kepadanya nanti.”“Memang benar. Pemuda sehebat itu mana mungkin terkurung di tempat sekecil Kot
"Itu bukan hantu, itu manusia."Ryan menggeleng pelan, antara geli dan tidak tahu harus berkata apa.Sosok yang membuat Rania Permana menjerit itu ternyata seorang lelaki tua berjubah abu-abu. Dilihat dari wajah dan posturnya, usianya mungkin sudah sekitar tujuh puluhan. Namun tubuhnya masih tegak, tidak rapuh seperti orang tua biasa.Karena tampaknya ia tinggal di tempat bawah tanah ini sepanjang tahun dan jarang melihat sinar matahari, kulitnya tampak begitu pucat. Rambut serta janggutnya yang memutih terurai panjang, sementara sepasang matanya yang cekung memancarkan ketajaman seperti bilah pedang yang telah diasah bertahun-tahun."Brama memberi hormat kepada Kakek!"Brama Permana segera maju selangkah, lalu membungkuk dalam-dalam kepada lelaki tua tersebut. Sikapnya amat hormat, persis seperti seorang junior yang sedang memberi salam kepada tetua keluarga.Lelaki tua itu tidak segera menjawab.Tatapannya justru tertuju kepada Ryan. Sorot matanya dipenuhi kewaspadaan yang tajam.
Lima aliran Qi hitam menghantam langit seperti tombak yang dilempar serentak dari bawah. Di tanah, tekanannya menghantam semua orang yang masih berdiri di sana seperti gelombang udara yang tak kasat mata. Beberapa orang terdorong mundur satu atau dua langkah tanpa bermaksud bergerak. Beberapa y
"Aku menemui kawan lama. Kami makan malam bersama. Maaf, Ayah." Alasan itu sudah Ryan siapkan sebelum sampai di pintu. Hendrik mendengus pelan tapi tidak bertanya lagi. Elena melirik Ryan sekali, dalam, lalu mengalihkan pandangan ke Aira yang tidur di pelukannya. Ia tidak berkomentar apa pun,
Aldies Vann tidak bergerak dari tempatnya berdiri. Tapi tangannya, yang biasanya dijaganya selalu tenang di sisi tubuhnya, sekarang mengepal sangat rapat di balik lengan jasnya. Buku-buku jarinya memutih. Sepuluh pilar petir berdiri kokoh di luar, kilat terus menyambar di antara tiang-tiang cahaya
Pria tua itu mengamati rombongan di depannya sebentar, lalu menggeleng kecil. "Kalian bukan dari dunia Bela Diri Kuno, jadi meski aku jelaskan pun kalian mungkin tidak akan paham." Dia menunjuk ke arah tengah sungai dengan dagunya. "Tapi kalau penasaran dan punya nyali, naik saja. Aku bawa kalian







