INICIAR SESIÓNSiang Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Gunarso Priambudi dan Kak Alberth Abraham Parinusssa atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Gunarso Priambudi, Kak Tri Sisbianto, Kak Dikydwi Laksana, Kak Acing Bnet, dan Kak Zensan atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena Jumlah Gem telah memenuhi target, maka ada bab bonus setelah ini(≧▽≦) Selamat Membaca (◠‿・)—☆
"Kapan Kak pernah bilang ingin punya anak kedua?"Ucapan Arielle Surya membuat Elena sedikit tersentak. Ia refleks menoleh ke sekeliling.Setelah memastikan tidak ada orang yang terlalu dekat, pipinya tetap merona karena malu."Lagi pula, kalaupun aku benar-benar ingin punya anak kedua, bukankah aku tinggal pergi ke dokter? Apa hubungannya dengan seorang Master Agung peramal?""Jangan pura-pura di depanku."Arielle terkikik, lalu menatap kakaknya dengan tatapan jahil."Paman Hendrik dan Bibi Wulan sendiri yang memberitahuku. Katanya Ryan sudah pulang lebih dari enam bulan, tetapi perutmu masih belum ada tanda-tanda. Mereka jadi khawatir...""Tidak mungkin, kan? Orang tuaku sampai menceritakan hal seperti itu padamu?"Elena begitu malu sampai nyaris ingin mencari celah di lantai dan bersembunyi di sana."Tetapi mereka tidak sepenuhnya salah." Arielle memutar bola matanya. "Coba lihat, usiamu sudah melewati tiga puluh tahun. Kudengar, setelah wanita lewat usia tiga puluh, peluang memili
Markas Istana Langit.Fabian Ashvale tiba-tiba tertawa terbahak-bahak. Tawanya menggema di ruangan luas itu, membawa nada dingin yang membuat para bawahan di sekelilingnya menunduk tanpa sadar.“Ryan Sang Kaisar Iblis Gila dari Selatan, oh Ryan Sang Kaisar Iblis Gila dari Selatan, akhirnya kau kembali juga.”Ia menyipitkan mata, seolah sedang memandang mangsa yang sudah lama ia tunggu.“Usahaku mencarikan lawan-lawan itu untukmu rupanya tidak sia-sia. Jangan khawatir, bagian terbaiknya baru akan datang.”Seorang bawahan yang berdiri tidak jauh darinya akhirnya tidak mampu menahan rasa penasaran. Ia maju setengah langkah, lalu bertanya dengan hati-hati, “Pemimpin, mengapa tidak turun tangan sendiri terhadapnya?” “Mengapa harus memanfaatkan kekuatan mereka? Kau juga tahu, orang-orang itu selalu angkuh dan meremehkan siapa pun.”“Apa yang kau tahu?” Fabian mendengus dingin. Tatapannya seketika berubah tajam.“Kakak seperguruanku mengawasiku setiap saat, seperti plester yang menempel di
Melihat raut wajah Ryan yang berubah dingin, Darren Vale akhirnya tidak sanggup lagi menyembunyikan perkara itu.Ia menarik napas, lalu berkata terus terang, “Selama kau pergi, banyak praktisi mendadak bermunculan di Kota Sentralis.”“Aku sudah menyadarinya.”Ryan mengangguk pelan.Sejak mobil meninggalkan bandara, Kesadaran Ilahinya telah menangkap banyak aura asing di kota ini. Jumlahnya tidak cukup untuk mengguncang dunia, tetapi bagi Kota Sentralis yang sebelumnya relatif tenang, perubahan itu jelas sangat tidak normal sekali.Budi yang duduk di kursi kemudi mengambil alih pembicaraan.“Orang-orang ini kuat, dan cara berpakaian mereka juga aneh. Awalnya kami tidak terlalu memedulikannya. Namun tepat semalam, salah satu kasino di bawah kendaliku diserbu.”Sorot mata Ryan menajam.“Diserbu?”“Betul.”Wajah Budi tampak muram.“Beberapa orang datang bermain di kasinoku. Mereka menang di setiap ronde, tidak pernah kalah sekali pun. Kurang dari dua jam, mereka membawa pergi lebih dari
Budi adalah orang pertama yang mengikuti Ryan, sekaligus orang paling awal mulai berlatih kultivasi di bawah bimbingannya.Sudah hampir setengah tahun berlalu. Namun sampai sekarang, ia baru mencapai Tahap Menengah Ranah Pengumpulan Qi. Itu pun setelah menghabiskan banyak Pil yang diberikan Ryan. Jika mengandalkan dirinya sendiri, mungkin lajunya akan jauh lebih lambat.Sebaliknya, Darren Vale baru mulai berlatih kurang dari tiga bulan.Namun sekarang, ia juga sudah mencapai Tahap Menengah Ranah Pengumpulan Qi.Seperti kata pepatah, perbandingan bisa melukai hati manusia.Budi benar-benar murung karena hal ini. Yang lebih menyebalkan, Darren kerap sengaja datang menusuk-nusuk hatinya setiap kali sedang tidak ada pekerjaan.“Sepertinya kau berhasil mengeruk cukup banyak keuntungan dari Leluhur Mortis.”Ryan menatap Darren dengan senyum penuh arti.Sebenarnya, bakat Darren sedikit lebih buruk d
Butir Pedang.Benda itu termasuk salah satu jenis Artefak Mistik dalam dunia kultivasi. Ia berbeda dari pedang biasa yang bergantung pada bentuk bilah, gagang, dan panjang jangkauan.Ukurannya hanya sebesar telur merpati. .Dari luar, ia tampak seperti manik besi hitam yang sederhana. Namun, selama pemiliknya mampu mengendalikannya, benda itu bisa berubah bentuk sesuai kehendak. Ia dapat menjadi cahaya pedang, jarum tipis, cincin lentur, atau serangan tajam yang sulit ditebak arah datangnya.Justru karena bentuknya kecil, Butir Pedang menghemat banyak tenaga batin ketika dipakai bertarung. Dalam beberapa keadaan, ia bahkan bisa menghasilkan efek yang jauh lebih mengejutkan daripada sebilah pedang panjang. Saat lawan mengira serangan datang dari depan, Butir Pedang bisa menyusup dari samping, berputar dari belakang, atau meledak tepat di titik buta.Tentu saja, Artefak Mistik semacam ini belum bisa d
Jika diperhatikan lebih saksama, sebuah bayangan pedang samar perlahan muncul dari dalam tubuh Ryan.Bayangan itu tidak berbentuk pedang biasa. Wujudnya menyerupai naga yang meliuk, memancarkan aura agung yang seakan memandang rendah seluruh dunia. Tekanan yang keluar darinya membuat pedang-pedang di sekeliling tunduk tanpa perlawanan, seperti rakyat jelata yang menyambut kedatangan raja.Pemandangan itu membuat Brama Permana dan yang lain di luar Hutan Pedang ternganga.Baskara Permana bahkan tersengal. Matanya membelalak, dan suaranya tergagap karena terlalu terguncang.“Ini... apakah ini Sepuluh Ribu Pedang Bersujud?”Ia masih ingat dengan jelas kejadian ketika Solus menerobos masuk ke Hutan Pedang dahulu. Saat itu, sepuluh ribu pedang meraung panjang bersama-sama, memberi kesan seolah mereka baru saja bertemu seorang sahabat lama.Bagi Baskara, pemandangan itu sudah cukup mengguncang batinnya selama bertahun-tahun.Namun apa yang terjadi di hadapannya sekarang jauh lebih menger
Wulan yang baru keluar dari dapur langsung pucat pasi. Tangannya yang memegang spatula gemetar hebat. Dia menatap Ryan dengan panik, bibirnya bergetar tapi tidak ada kata yang keluar.Ryan bangkit dari sofa, menatap ibunya dengan tatapan tenang. "Ibu, siapa mereka?""Ryan..." Wulan berbisik, suaran
Ryan awalnya terkejut, lalu menatap gadis kecil itu dengan tak percaya.Nenek... Dia... dia adalah...Gadis kecil itu akhirnya menyadari kehadiran Ryan. Tangisannya berhenti seketika, dan secara naluriah dia bersembunyi di belakang Wulan, mengintip Ryan dengan mata penuh curiga.Ryan segera menatap
Malam itu, langit Kota Sentralis mendung tanpa bintang. Bulan purnama bersembunyi di balik awan tebal, menciptakan suasana yang mencekam. Di Taman Melati, sebuah taman kota yang biasanya ramai, kini sepi dan sunyi.Tiba-tiba, langit meledak.JEDER!Sebuah kilat raksasa menyambar tepat di tengah ta
Lima aliran Qi hitam menghantam langit seperti tombak yang dilempar serentak dari bawah. Di tanah, tekanannya menghantam semua orang yang masih berdiri di sana seperti gelombang udara yang tak kasat mata. Beberapa orang terdorong mundur satu atau dua langkah tanpa bermaksud bergerak. Beberapa y







