ANMELDENSiang Semua ( ╹▽╹ ) Terima Kasih Kak Gunarso Priambudi dan Kak Alberth Abraham Parinusssa atas hadiah Koinnya (. ❛ ᴗ ❛.) Terima Kasih Kak Gunarso Priambudi, Kak Tri Sisbianto, Kak Dikydwi Laksana, Kak Acing Bnet, dan Kak Zensan atas dukungan Gem-nya (◍•ᴗ•◍) Karena Jumlah Gem telah memenuhi target, maka ada bab bonus setelah ini(≧▽≦) Selamat Membaca (◠‿・)—☆
"Itu bukan hantu, itu manusia."Ryan menggeleng pelan, antara geli dan tidak tahu harus berkata apa.Sosok yang membuat Rania Permana menjerit itu ternyata seorang lelaki tua berjubah abu-abu. Dilihat dari wajah dan posturnya, usianya mungkin sudah sekitar tujuh puluhan. Namun tubuhnya masih tegak, tidak rapuh seperti orang tua biasa.Karena tampaknya ia tinggal di tempat bawah tanah ini sepanjang tahun dan jarang melihat sinar matahari, kulitnya tampak begitu pucat. Rambut serta janggutnya yang memutih terurai panjang, sementara sepasang matanya yang cekung memancarkan ketajaman seperti bilah pedang yang telah diasah bertahun-tahun."Brama memberi hormat kepada Kakek!"Brama Permana segera maju selangkah, lalu membungkuk dalam-dalam kepada lelaki tua tersebut. Sikapnya amat hormat, persis seperti seorang junior yang sedang memberi salam kepada tetua keluarga.Lelaki tua itu tidak segera menjawab.Tatapannya justru tertuju kepada Ryan. Sorot matanya dipenuhi kewaspadaan yang tajam.
Di distrik lama Kota Kencanapura, sebuah rumah pekarangan tua berdiri sunyi di antara bangunan-bangunan yang lebih moderfDi depan rumah itu, tiga sosok berdiri saling berhadapan.Rumah pekarangan tersebut tampak begitu tua, seolah sudah lama dilupakan zaman. Bahkan daun pintunya diselimuti jaring laba-laba. Cat kayunya mengelupas di banyak tempat, sementara lumut menjalar di sela-sela ubin lantai, membuat tempat itu terasa lembap dan dingin meski hari belum sepenuhnya gelap.Brama Permana, kepala Keluarga Permana, menatap rumah tua itu dengan rasa hormat yang dalam. Tatapannya seperti seseorang yang sedang memandang peninggalan paling berharga dari leluhurnya.“Ryan, inilah kediaman leluhur Keluarga Permana,” katanya pelan. “Tempat ini juga merupakan lokasi Balai Pusaka Tersembunyi milik Keluarga Permana.”Ryan mengedarkan pandangan sebentar.Kesadaran Ilahinya menyelimuti seluruh rumah pekarangan. Jalinan tua yang tersembunyi di balik dinding, lantai, dan balok kayu langsung ter
Ryan mengembuskan napas pelan.Dengan satu kibasan tangan, beberapa serpihan logam mendadak muncul di atas meja. Serpihan itu tampak kusam, tetapi masih memancarkan ketajaman samar yang membuat orang sulit menatapnya terlalu lama.Itulah pecahan Pedang Guntur Gaung milik Solus setelah hancur.Pedang itu masih menyisakan aura tajam. Namun pemiliknya kini...“Itu Pedang Guntur Gaung!”Brama Permana langsung mengenalinya. Begitu melihat serpihan itu, hatinya seperti ditusuk sesuatu yang dingin.“Pedang hancur, orangnya pun binasa. Apakah benar ungkapan pedang hancur, orang tiada?”“Kak Solus...”Tangan Rania Permana bergetar saat mengambil salah satu serpihan. Matanya perlahan memerah. Suaranya terdengar parau, seolah tertahan oleh sesuatu yang nyaris meledak dari dadanya.“Keparat. Dasar keparat besar. Kau bilang akan datang ke Kota Kencanapura menemuiku! Pembohong. Pembohong besar. Seharusnya waktu itu aku tidak membiarkanmu pergi!”Gadis yang biasanya keras kepala dan berani itu akh
Sore itu, di depan gerbang vila Keluarga Permana, salah satu keluarga terpandang di Kota Kencanapura, Brama Permana berdiri tegak mengenakan setelan jas resmi.Di belakangnya, dua barisan orang menunggu dengan sikap hormat. Mereka semua adalah anggota kelas atas Keluarga Permana. Siapa pun di antara mereka, jika dilepas ke luar, cukup untuk mengguncang satu bidang bisnis atau membuat banyak orang menunduk.Namun saat ini, mereka hanya berdiri diam.Jika diperhatikan lebih saksama, wajah mereka jelas menyimpan rasa tidak sabar. Hanya saja, karena wibawa Brama Permana, tidak ada seorang pun yang berani memperlihatkannya secara terang-terangan.“Kepala Keluarga, sebenarnya siapa yang sedang kita tunggu?”Akhirnya, seorang anggota inti Keluarga Permana tidak sanggup menahan diri dan bertanya.Pertanyaan itu langsung menarik perhatian semua orang.Memang benar. Dengan kedudukan Keluarga Permana di Kota Kencanapura, apakah benar perlu membuat penyambutan semegah ini hanya untuk satu tamu
Selvina Cantaro menutup rapat bibirnya. Dadanya bergemuruh oleh perasaan yang bercampur aduk, antara terkejut, malu, kagum, dan tidak percaya.“Ryan sungguh... sungguh luar biasa.”“Ryan, kau benar-benar menyembunyikan jati dirimu terlalu rapat!”Darman merasa geli sekaligus tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Saat pertama kali bertemu Ryan, ia sempat heran bagaimana pria berpenampilan biasa seperti itu bisa memiliki putri secantik dan selucu Aira.Sebagai mandor bangunan yang kekayaannya mencapai ratusan miliar GDP, Darman memang tidak berniat pamer. Namun ketika berhadapan dengan Ryan sebelumnya, ia hanya menganggap mereka kebetulan bertemu dan bisa berkenalan sambil lalu.Dalam hati, ia bahkan merasa dirinya dan Ryan berasal dari dunia yang berbeda.Siapa sangka, perbedaan itu memang ada, tetapi justru terbalik sepenuhnya.Latar belakang Ryan ternyata begitu besar sampai Darman nyaris ingin menggali lubang dan menanam dirinya sendiri. Pria itu sanggup membuat satu negeri menangi
"Meskipun Ashton belum pernah menyaksikan langsung kehebatan Tuan yang tak terkalahkan!"Begitu bertemu tatapan Ryan, hati Ashton Ridwan bergetar hebat. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan sikap semakin hormat."Namun nama Tuan sudah termasyhur di seluruh Garudapolis dan menggetarkan dunia. Bagaimana mungkin Ashton tidak mengenalnya?"Ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan suara yang semakin mantap."Sejak Tuan pertama kali muncul, Tuan telah membunuh ahli-ahli sekelas Wilhelm, Damien Sang Pembantai dari Alexandris Utara, serta banyak grandmaster lainnya." "Tuan menumpas musuh asing di perairan Garudapolis, membelah kapal perang hanya dengan satu tebasan pedang, dan sepanjang perjalanan tidak pernah sekali pun mengenal kekalahan."Tanpa memedulikan tatapan bingung orang-orang di sekeliling, Ashton kembali maju selangkah."Terlebih lagi, tindakan Tuan baru-baru ini." "Tuan menerobos masuk ke negeri ginseng seorang diri dan menekan seluruh negeri itu hanya deng
Ryan berjalan keluar dari Kompleks Graha Sentosa dengan langkah tenang namun penuh tekad. Matahari pagi menyinari jalanan Kota Sentralis yang mulai ramai dengan kendaraan dan pejalan kaki.Dia menghentikan taksi di pinggir jalan dan naik ke kursi belakang."Ke mana, Pak?" tanya sopir taksi, seorang
Ryan berjalan perlahan ke kamar Aira. Mengintip dari celah pintu, dia melihat putrinya tertidur di tempat tidur kecil, masih mengenakan pakaian lengkap, seolah kelelahan setelah menangis.Ryan masuk dengan hati-hati, setiap langkahnya pelan. Dia mendekat ke tempat tidur dan menatap wajah putrinya y
"Elena menangis sambil memeluk Aira," Hendrik melanjutkan, suaranya hampir berbisik. "Dia memeluk putrinya sangat erat. Aira saat itu menangis kencang, tidak mengerti apa yang terjadi. Elena... Elena mencium keningnya berkali-kali, lalu menitipkan kalungnya, kalung berliontin bulan sabit emas, ke A
Setelah Hendrik Hartono pulang, keluarga itu duduk bersama di ruang tamu yang sempit. Cahaya lampu kuning redup menerangi ruangan sederhana dengan sofa lusuh dan meja kayu yang sudah banyak goresan. Suasana hangat meskipun masih ada ketegangan yang menggantung di udara dari kejadian tadi.Hendrik m







