로그인Bau obat dan darah memenuhi Balai Pengobatan Istana.
Ren terbaring di atas ranjang batu putih, tubuhnya dipenuhi lingkaran segel pengobatan yang berpendar redup. Lehernya terbalut perban tebal yang masih menghitam di beberapa bagian—bekas daging yang dibakar untuk menyelamatkan hidupnya.
Napasnya ada. Terputus-putus.
Lian berdiri kaku di sisi ranjang. Tangannya menggenggam kain bajunya sendiri begitu kuat sampai buku jarinya memutih. Matanya tidak lepas dari wajah Ren yang pucat, terlalu tenang untuk orang yang seharusnya masih hidup.
Tabib Agung berdiri di seberang, dikelilingi dua tabib lain dan beberapa perawat yang berlarian, membawa air panas dan kain bersih. Tangan para tabib bergerak cepat, menyesuaikan aliran qi pada segel-segel di udara.
![]()
Langit timur baru saja merekah dengan warna oranye pucat di Desa Sungai Kelabu ketika sinyal itu diberikan.Di gerbang selatan, tumpukan jerami kering disiram minyak dan disulut api. Wush! Asap hitam tebal membubung tinggi ke udara.“KEBAKARAN! SERANGAN DI GERBANG SELATAN!” Teriakan para pemuda desa memecah keheningan pagi. Suara panci dan kentongan dipukul bertalu-talu, menciptakan kegaduhan.Di Rumah Besar, pintu depan terbanting terbuka. Para prajurit Pasukan Kalajengking berhamburan keluar dengan mata setengah mengantuk namun senjata terhunus.“Pertahankan gerbang selatan! Jangan biarkan mereka masuk!” teriak sang Letnan Kalajengking.Dua belas prajurit berlari kencang menuju asap api, meninggalkan pos mereka. Meninggalkan Rumah Besar hampir kosong.Tepat seperti yang direncanakan.Di atap rumah seberang, Ren berdiri dalam bayangan cerobong asap. Ia tidak menghunus pedang. Ia tidak mengeluarkan api. Matanya yang tajam mengawasi pergerakan musuh di bawah.Ren mengangkat tangan kan
Unit Hantu menyelinap masuk ke sebuah rumah kayu terdekat. Mereka membuka pintu perlahan. Gerakan mereka nyaris tanpa suara.Di dalam, seorang wanita tua kurus dengan punggung membungkuk tersentak kaget. Ia mundur ketakutan.“Jangan bunuh aku … aku tidak punya apa-apa lagi …” cicitnya.Ren mengangkat tangan, memberi isyarat agar timnya tidak agresif. Guan melangkah maju perlahan, menurunkan tudung kepalanya.Begitu Guan melangkah, wanita itu tersentak. Tubuhnya membeku.Ia menatap Guan.Bukan wajahnya.Auranya.“Kau …” suara wanita itu bergetar.
Udara di ruang takhta Istana Kesultanan Saharath itu terasa panas dan kering, seperti hati penguasanya.Sultan Saharath duduk di takhtanya, membaca gulungan surat dari Vermilion. Wajahnya mengerut saat matanya menyusuri baris demi baris tuntutan Shangkara.“Herbal tanpa pajak? Menolak putriku?” Sultan mendesis, suaranya bergetar menahan murka. “Bocah ingusan itu menganggapku pedagang pasar yang bisa ditawar?!”Ia melempar gulungan itu ke lantai.“Dia pikir karena pernikahan gagal, dia memegang kendali? Naif.”Penasihat Agung yang berdiri di sampingnya membungkuk dalam. “Apa perintah Anda, Sultan? Apakah kita kirim armada perang?”
Suasana di aula besar itu hening, hanya diisi oleh suara Cailin yang tenang namun tegas. Di hadapan para tetua yang duduk melingkar, Cailin berdiri di samping papan diagram besar. Beberapa sampel herbal kering dan botol obat tertata rapi di meja.“Program ini bukan sekadar penyaluran penawar,” kata Cailin tenang. Suaranya tidak keras, tapi jelas. “Ini adalah Program Pemurnian Nasional.”Ia menunjuk diagram pertama.“Obat didistribusikan ke pusat kesehatan desa yang akan dibentuk ulang dan diawasi langsung oleh tabib terlatih.”Diagram kedua dibuka.“Kedua, kita akan menghentikan siklus ketergantungan. Rakyat harus tahu apa yang mereka konsumsi. Bahaya opium. Cara kerja ketergantungan.
Di hutan terlarang di belakang Istana Vermilion, tempat dahulu Cailin dan Shangkara latihan secara sembunyi-sembunyi. Kini tempat itu digunakan Ren dan Lian untuk latihan.Ren berdiri di tengah lapangan kecil dekat danau, memegang sebilah pedang kayu latihan. Napasnya teratur, matanya terpejam.Di belakangnya, duduk di atas batu besar, Lian mengamatinya dengan tatapan polos namun penuh perhatian.“Siap?” tanya Ren tanpa menoleh.“Siap,” jawab Lian.Gadis itu bangkit, berjalan mendekat, lalu meletakkan satu jari telunjuknya di punggung Ren, tepat di antara tulang belikat.Seketika, mata Ren terbuka.Ia merasakann
Istana Vermilion kembali sunyi.Aula Utama telah dibersihkan. Pecahan kaca disapu. Kain ritual upacara pernikahan sudah diturunkan. Para tamu diantar pulang dengan pengawalan, masing-masing membawa kisah berbeda tentang apa yang mereka saksikan.Di ruang rapat kecil yang terhubung langsung dengan kamar Kaisar, Shangkara duduk bersama Cailin, Ren, Yun dan Lian. Di sudut ruangan, tumpukan peti kayu berlambang Kesultanan Saharath sudah terbuka.“Laporan situasi,” perintah Shangkara, suaranya serak namun tenang.Yun berdiri. “Laporan akhir, Yang Mulia. Tidak ada korban jiwa. Beberapa tetua dan bangsawan luka ringan akibat kepanikan. Aula aman. Utusan Saharath masih berada di paviliun tamu, di bawah pengawasan ketat, menunggu izin resmi untuk kembali.”