共有

81. Hanya Berdua

作者: Rainina
last update 公開日: 2026-10-17 23:34:29

Keheningan yang melanda koridor tersebut.

Tiga orang di sana terlihat sibuk dengan pusaran pikiran masing-masing.

Di antara mereka semua, hanya Leo yang sama sekali tidak menyadari ketegangan dan situasi itu. Pria itu terlalu panik melihat memar di wajah adiknya.

"Sudahlah! Kita urus soal pria brengsek itu nanti!" seru Leo memecah kebisuan, suaranya dipenuhi kekhawatiran seorang kakak. "Aku akan membawamu ke ruang kesehatan sekarang, Val."

Tanpa membuang waktu, Leo langsung membungkuk dan meng
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   110.

    Abby terus diam, menunggu Justin memberikan jawaban, namun bahkan walau beberapa menit sudah berlalu, Justin tetap tidak menjawab.Pria di belakangnya itu tetap bungkam. Tidak ada penjelasan, bahkan tidak ada satu patah kata pun yang meluncur dari bibirnya untuk menenangkan kegelisahan gadis itu. Detak jantung Abby yang semula berpacu penuh harap, perlahan-lahan berubah. Hawa hangat di dadanya seketika runtuh, berjatuhan menjadi kepingan-kepingan kekecewaan yang sangat dalam dan menyakitkan.Air mata hangat menetes diam-diam dari sudut mata Abby, membasahi kain bantal di bawah pipinya. Keheningan Justin adalah jawaban yang paling lantang baginya.Bagi Justin, ia mungkin memang tidak lebih dari sekadar sebuah barang yang ia miliki.=Justin duduk bersandar di kursi sudut ruang klub basket. Sepasang mata kelam pria itu menatap tajam ke arah layar ponsel di tangannya, membaca berulang kali deretan informasi yang sebelumnya dikirimkan oleh Nathan.Otak Justin berputar keras. Asrama perem

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   109.

    Mendengar suara bariton yang berat itu memecah kegelapan, Abby terperanjat hebat. Jantungnya seakan melompat langsung ke kerongkongan. Dengan gerakan panik dan salah tingkah, gadis itu langsung menarik kembali jemarinya yang sempat menggantung di udara.Ia buru-buru membalikkan tubuhnya membelakangi Justin, menyembunyikan wajahnya yang sudah memerah panas, lalu menarik selimut abu-abu itu hingga menutupi lehernya."A-aku memang mau tidur kok, Kak!" cicit Abby dengan suara bergetar.Belum sempat Abby menetralkan detak jantungnya, sisi kasur di belakangnya terasa sedikit melesak. Kehangatan yang melimpah seketika merayap mendekat. Tiba-tiba, sebuah lengan kekar yang kokoh terulur melingkari pinggang Abby, menarik tubuh mungil itu tanpa ampun hingga punggungnya menempel rapat pada dada bidang Justin."Kau sama sekali tidak terlihat seperti orang yang mau tidur tadi, Abigail," bisik Justin tepat di belakang telinga gadis itu. Hawa panas dari napas pria itu menyapu kulit leher Abby, memi

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   108.

    Abby menahan napasnya. Dengan gerakan panik yang tak bisa disembunyikan, jemari gadis itu buru-buru menekan tombol daya di sisi ponselnya. Layar yang semula terang benderang itu seketika mati, berubah menjadi gelap gulita tepat sebelum Justin sempat menunduk dan membaca nama pengirim pesan di sana."Siapa?" tanya Justin. Alis tebal pria itu tertaut, sepasang mata kelamnya menyipit tajam, mengunci mata Abby yang bergerak gelisah ke sana kemari."Celine... Celine lagi, Kak," kilah Abby dengan suara bergetar. Gadis itu buru-buru membuang muka, menghindari tatapan mengintimidasi dari pria dominan yang masih mengurungnya di tembok tersebut. "Dia ada nanyain soal tugas kelompok besok."Abby menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan yang sangat gugup. Ia tahu kebohongannya terdengar luar biasa berantakan. Jantungnya masih berdegup liar akibat ciuman mereka barusan, dan sekarang ia harus berbohong menutupi pesan dari mantan kekasih pria ini? Abby merasa ia bisa gila jika

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   107.

    "Kak Justin!" pekik Abby tertahan, matanya membelalak lebar. Tangannya secara otomatis terangkat menutupi separuh wajahnya yang kini terasa seperti direbus di atas air mendidih.Dibalik ekspresi tenangnya, Justin begitu menyukai bagaimana gadis ini selalu kehilangan akal sehatnya hanya dengan satu kalimat darinya."Kenapa kau harus malu, hm?" lanjut Justin, terus memojokkan Abby. "Aku hanya menyatakan fakta yang terjadi di antara kita. Atau... jangan-jangan kau menghindari tatapanku karena kau takut? Kau takut jika kau terus melihatku, kau tidak akan bisa menahan tanganmu untuk kembali menyentuhku?""Tidak! Bukan begitu!" bantah Abby kelabakan. Ia menurunkan tangannya, menatap Justin dengan protes dan dada yang naik turun. "Aku cuma... aku cuma belum terbiasa, Kak! Semuanya terjadi terlalu cepat bagiku dan Kakak terus saja menggodaku!"Mendengar kepolosan dan kejujuran yang meluncur dari bibir bergetar itu, kilat di dasar mata kelam Justin seketika berubah. "Belum terbiasa?" ulang Ju

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   106.

    [Abigail, apa kita bisa ketemu?]Abby menatap layar ponselnya yang menyala di tengah kesunyian ruang tengah apartemen. Barisan kalimat singkat yang baru saja masuk itu terasa seperti sebuah beban berat yang tiba-tiba dijatuhkan ke atas pangkuannya.Gadis itu menggigit bibir bawahnya, perasaannya seketika campur aduk. Ia tahu persis bagaimana reaksi Justin terakhir kali ia memaksanya bertemu dengan Valerie. Dan entah kenapa, insting Abby mengatakan dengan sangat kuat bahwa kali ini pun, niat Valerie mengajaknya bertemu pastilah untuk menjadikannya jembatan agar wanita itu bisa bertemu dengan Justin kembali.Rasa bersalah kembali mencubit dada Abby. Valerie sudah mengorbankan dirinya terkena pukulan demi melindunginya, jadi mengabaikan pesan wanita itu terasa sangat jahat. Namun di sisi lain, menuruti permintaan Valerie dan memancing kemarahan Justin lagi juga bukanlah pilihan yang bijak."Ada apa?""Astaga!"Abby mendongak dengan cepat dan mendapati Justin tahu-tahu sudah berdiri tid

  • Kakak Angkatku Terlalu Posesif!   105.

    "Nggak datang dari Riko?" ulang Abby dengan suara bergetar, kedua tangannya saling meremas di atas pangkuan. Hawa dingin seketika merayap naik ke tengkuknya. “Terus… siapa?”Justin menyandarkan punggungnya ke kursi makan. Tatapannya menajam, mengunci raut wajah Abby yang kini memucat pasi."Temanku baru saja mengirimkan hasil pelacakan IP address dari akun anonim yang pertama kali membagikan nomormu ke grup itu," terang Justin. "Alamat IP itu terdaftar dari jaringan router internal asrama putri kampus kita."=Malam itu, suasana di lorong asrama putri terasa jauh lebih sepi dari biasanya. Rintik hujan yang turun sejak sore membuat sebagian besar mahasiswi memilih untuk meringkuk di dalam kamar mereka masing-masing.Di dalam kamarnya yang tertutup rapat, Valerie duduk menyandar santai di atas ranjang. Mata bulatnya menatap lurus ke arah sebuah foto profil di layar, foto Justin.Ibu jari Valerie bergerak pelan, mengusap layar yang menampilkan wajah tampan mantan kekasihnya itu.Lamunan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status