MasukMenyandang nama besar Lukito, ternyata tidak membuat Cita bahagia. Karena ulah sang mami di masa lalulah, yang membuatnya tidak bisa mendapatkan cinta dan kasih sayang dari keluarga sang papa. Lantas, demi sebuah pengakuan, akhirnya Cita menyetujui sebuah perjodohan tanpa dasar cinta. Sebuah pernikahan, yang membuat Cita semakin jatuh dalam sesak, dan terjebak dalam keputusannya sendiri.
Lihat lebih banyakMONALISA
I walked down the rainy and lonely path leading home, not caring about the rain pouring down my body and wetting me up in a way my boyfriend could never.My boyfriend had just broken up with me and I was heartbroken, perhaps not very much so but it did hurt me. His reasons? I never responded to his touches well enough and never melted in his arms like I should.He claimed I never let him touch me enough too. Just once I had let him touch my pussy and his remark? I was dry as fuck and penetration would hurt.That was just a week ago and today he had broken up with me, giving me one advise... To become a virgin nun for the rest of my life as I was too insensitive to a man's touch.I was mad at how much he had shamed my body. It wasn't a lie that I couldn't get wet with him but I knew that was not entirely my fault. It could not be my fault.I had to be sexually attracted to some type of people but I had no idea what type of people I could be attracted to. At a point, I had thought maybe I wasn't straight but that wasn't the case.I was straight but I was hardly aroused by my now ex boyfriend."To hell with him!" I muttered, almost angrily and stopped at the gates that led into my home.The lights were out and that was a little bit weird as I was sure that mum should be inside. Brushing it off with a guess that she went somewhere and was caught up there because of the rain, I proceeded into the house.My father was dead, long dead in fact. I was just 6 when he died and if it wasn't for the pictures I stare at constantly, I would probably not even recall what he still looked like.After my father's death, things had gone south for a few years until we suddenly moved into this huge beautiful estate. Mum said it belonged to Dad's friend who had found out about our state.I had never seen him, never even heard his voice but he was the owner of the estate and also the one sponsoring my education. I pushed the door open after unlocking it with my thumb print and walked into the living room.It was dark inside with only a small lamp turned on but almost immediately, I sensed the presence of someone in the living room. I looked towards the sofa and I was shocked to find a man sitting on the sofa.He was shirtless and the only fabric on him was the towel wrapped around his waist. As much as the first thing I wanted was to scream at this strange man in our house, I could not.I found myself tongue tied. His abs were visibly well built and those biceps and triceps, they made my insides churn with excitement!His tanned skin looked so smooth, so well taken care of and my gaze trailed slowly to his face. He had a stern look on his face but that didn't take one bit or gorgeousness away from him.I could see his blue eyes as he raised his head up and his eyes met with mine making my heart jump.That was one weird feeling. I had never felt my heart react like that to my now ex boyfriend."What are you doing?" He spoke, his lips moving and my wet thighs subconsciously clamped together as I felt it throb! My pussy throbbed! With just this man's voice.It was little wonder though. His voice was deep and in all shades, masculine. It was hot!"Get over here already, I am not so patient" he added in that same voice and my pussy did it again. But this time I tried to reason, who was this man? Why was he in my home? And why was he calling me over?But strangely, I could not reason. His voice was authoritative and I could not help myself from doing just what he said. I walked over to him, my wet thighs brushing each other."A naive slut is what I get tonight? Get down on your knees already. Now." It was more like an order from him and that tone just made it clear that whoever this man was, he was used to giving orders.I wasn't the type to always follow orders but with this strange man I didn't know from Adam, I was doing just that! I slid down to my knees, feeling the heat in my pussy.He reached for his towel and loosened it, letting it fall both sides and revealing his cock to me. It wasn't big, it was hugee! And it was just semi hard. How much bigger would it be when he got fully erect?!"Take my cock in your hands and put that mouth to good use" he said to me and almost instantly, I felt a warm liquid in my pussy. That could not be the cold rain that had drenched me, it wasn't the rain but me getting wet. This strange man who could as well be a pervert who had broken into our home had made me wet without touching my skin even one tiny bit.What the hell was wrong with me?!I didn't know what was wrong with me but I did reach my hands out to touch his huge cock, gulping down hard as I realised that I wanted this cock in my mouth.My nipples had hardened in this weird situation and were pushing the fabric of my wet dress. My both hands wrapped around his cock as that was the only way I could get his cock wrapped up. With both hands."Fuck... Your hands surprisingly feel good." I heard him curse and taking that as a compliment, I moved my hand on his cock and that was when I realized that he was pierced too."Use your saliva, bitch. Get that cock slick and lubed up" he said those dirty words to me but it made me wetter. I swear it did!I moved my face closer to his cock and breathed in the manly scent of his cock before spitting on it. I had watched this in a few porn videos but I had never thought I would do this soon, especially with a stranger!I was definitely going crazy! And out of my mind too! But this also... It also felt good.“Cita … nggak ikut, Mi?” Sandra yang baru saja duduk, segera memberi gelengan untuk menjawab pertanyaan Arya tanpa senyuman. Sandra hanya sempat bersikap ramah pada Lee dan Gemi, yang kini duduk melingkar pada satu meja yang sama dengannya. “Cita harus istirahat.” “Pak Lee, maaf kalau harus merepotkan dan meminta Bapak datang ke Singapur dengan segera.” Tidak ingin berbasa basi, Harry pun segera mengutarakan maksud diadakannya pertemuan keluarga malam ini. “Untuk masalah anak kita, Bapak mungkin sudah tahu kronologinya dari bu Gemi. Dan kenapa saya minta Bapak datang, itu karena saya mau cabut semua investasi saya dari Arka Lukito. Bukan cuma itu, tapi saya mau menarik lisensi nama Lukito dari perusahaan tersebut. Untuk mekanismenya, nanti akan ditangani langsung sama Kasih. Dan setelah semua selesai, Lukito Grup sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan perusahaan yang dipimpin Arya.” “Pa—” Lee segera mengangkat tangan ke arah Arya. Meminta putranya tidak bersuara, agar permasa
“Dia? Dia siapa?” Mendengar suara Sandra yang mendadak terdengar di balkon, membuat Arya dan Cita spontan menoleh dengan mata yang terbelalak. Karena terlalu sibuk berdebat, Arya dan Cita sampai-sampai melupakan hal lain di sekitarnya. “Cita, nama “dia” siapa yang sering kamu lihat nelpon Arya?” buru Sandra segera menghabiskan jarak, dan tetap fokus pada putrinya. “Apa Arya selingkuh? Iya? Jadi karena itu kamu minta pisah? Begitu, kan? Arya punya perempuan lain di luar sana? Begitu?” Jika benar Arya berselingkuh, orang yang paling terpukul dengan kabar tersebut adalah Sandra sendiri. Dulu, Sandra adalah wanita selingkuhan Harry, dan sekarang? Putrinya justru diselingkuhi oleh suaminya sendiri. Karma apa lagi yang menimpa Sandra kali ini? Tidak cukupkah, Tuhan menghukum Sandra dengan membuat Cita terpuruk dengan kondisinya? Sampai-sampai, harus memberi cobaan tambahan seperti sekarang? Bertahun-tahun Sandra hidup seperti di neraka bersama Harry, tetapi, itu pun belum sanggup menebu
“Cita, semua nggak seperti yang kamu bayangkan.” Arya segera beranjak menghampiri Cita, lalu berlutut untuk menyamakan tubuhnya. “Aku … aku memang sibuk, aku capek, aku … ya! Aku jenuh dengan semua ini. Bolak balik Surabaya Singapur, Surabaya Jakarta, Jakarta Singapur, itu semua bikin aku muak.” Satu sudut bibir Cita tertarik tipis. “Semua yang kamu dapat sekarang, semua yang kamu jalani sekarang, itu semua adalah kemauanmu sendiri. Kamu bisa sukses dan berdiri seperti sekarang, itu semua juga hasil dari doa-doa orang yang sayang sama kamu, Mas. Kalau sekarang kamu mengeluh, itu artinya kamu nggak pernah bersyukur, karena di luar sana, banyak orang yang ingin ada di posisimu.” “Aku tahu itu, aku tahu, tap—“ “Sebenarnya, bukan itu inti dari pembicaraan kita malam ini, Mas.” Cita memundurkan kursi rodanya, ketika kedua tangan Arya hendak menyentuhnya. “Jadi nggak perlu melebar ke mana-mana. Aku tahu kamu capek, jenuh, dan … muak dengan semua ini. Aku juga tahu, kalau kamu sudah punya
“Sayang …” Sandra mengusap lembut puncak kepala Cita yang hanya duduk di tempat tidur, dan enggan keluar dari kamar. “Sarapan dulu, kita harus ke rumah sakit hari ini.”“Aku nggak mau terapi.” Cita menunduk, dan melanjutkan membaca bukunya. Kali ini, sudah tidak ada lagi yang bisa memengaruhi keputusannya. Cita ingin berpisah dari Arya, dan ingin melanjutkan hidupnya hanya seorang diri.“Cita, papa sudah telpon Arya tadi malam, dan—““Percuma,” putus Cita datar, lalu menutup bukunya. “Aku sudah nggak mau jadi beban mas Arya, atau siapa pun. Kalau Mami mau aku lanjut terapi, tolong ada di pihakku, dan ngerti dengan keadaanku.”“Mami selalu ada di pihakmu, Cit,” ucap Sandra meyakinkan. Di satu sisi, Sandra sangat mengerti dengan perasaan dan kondisi Cita saat ini. Namun di sisi lain, Sandra tidak ingin pernikahan putrinya berakhir, hanya karena kurangnya komunikasi antara keduanya.Sebenarnya, Cita masih bisa membicarakan masalahnya dengan Arya, dan mencari solusi yang terbaik untuk hub
“Pindah?” Sandra sontak berdiri, lalu menarik kursi besi yang sempat didudukinya ke arah Cita, yang duduk di samping pagar. “Maksudnya?”“Aku mau menyendiri, Mi.” Cita sudah memikirkan semuanya dengan matang. Hubungannya dengan Arya belakangan ini semakin berjarak, dan Cita melihat tidak ada lagi yan
Sibuk. Ketika perusahaan yang dipegang Arya semakin berkembang, ia merasakan waktu yang dimiliki untuk diri sendiri semakin sedikit. Dulu, Arya masih bisa pergi ke Negeri Singa di hari jumat malam, dan akan kembali pada senin paginya. Namun, tidak setelah semuanya berkembang semakin pesat. Arya baru
Semakin hari perkembangan Cita terlihat semakin ada kemajuan. Meskipun Cita tidak pernah menceritakan detailnya pada Arya, tetapi ia selalu mendapat kiriman video dari Sandra. Dari situlah, Arya bisa melihat semua perjuangan Cita yang terkadang disertai dengan air mata.Ada waktunya Cita terlihat san
Cita bersedekap. Duduk di kursi rodanya, di antara Harry dan Arya. Melihat kedua pria itu, tengah sibuk dengan laptopnya masing-masing. Sesekali, Arya akan bertanya beberapa hal, dan Harry akan menjelaskannya dengan perlahan dan mendetail.Sementara Sandra, sedang berada di dapur dan memasak seperti












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Peringkat
Ulasan-ulasanLebih banyak