Share

Bab 4

Author: Ungu
“Hm… Juan… jangan….”

Kakak ipar tak menyangka aku bakal senekat ini. Dia berusaha memberontak, tapi aku jelas tak akan membiarkannya begitu saja.

“Kak, kamu pasti sangat tersiksa menahannya selama ini, ‘kan? Malam ini biar aku membantumu meluapkannya, kita saling bantu, ya.”

Dalam pengaruh alkohol yang semakin kuat, aku sudah sepenuhnya lupa pada rasa bersalah terhadap kakakku. Seluruh pikiranku hanya tertuju pada satu hal, yaitu harus berhasil menikmatinya malam ini.

Ditambah lagi sikap kakak ipar yang seolah menolak, tapi sebenarnya menginginkan, aku pun langsung menindihnya di atas meja.

“Sreek!” Kain yang dipakainya pun kurobek, membuat keindahan buah dadanya yang montok terpampang jelas….

“Ah! Juan, kamu mau apain?! Jangan, aku ini kakak iparmu!”

Wajah kakak ipar pucat karena terkejut. Dia buru-buru menyilangkan tangan untuk menutupi bagian atas tubuhnya dengan ekspresi campur aduk antara malu dan marah.

Aku sudah tak peduli begitu banyak lagi. Mengambil kesempatan itu, aku langsung menyingkap roknya dan melepaskan celana dalam thong hitam yang dipakainya.

“Kak, aku sudah nggak tahan lagi. Tolong biarkan aku bermesraan denganmu. Aku tahu kamu juga sangat tersiksa beberapa waktu ini, ‘kan?”

Sambil mengunci tangannya, aku sambil mendesak ke dadanya.

Aroma harum yang begitu menggoda menyerang masuk ke hidungku, membuat diriku semakin mabuk gairah. Aku membenamkan wajah, mengulum satu puncak sensitifnya dan mulai menikmatinya.

“Ju… Juan, cepat berdiri! Ah~ aku benar-benar akan marah kalau kamu terus begini….”

Mulutnya memang marah, tapi nada suaranya sama sekali tak ada daya gertak. Sebaliknya malah terdengar begitu lembut dan terkesan seperti sedang bermanja.

Aku bisa menebaknya. Meskipun memang menginginkannya, dia tak mungkin menunjukkannya secara terang-terangan. Bagaimanapun juga, status hubungan membatasi kami, jadi wajar saja kalau dia harus berpura-pura memberontak.

Jika memang benar-benar tidak mau, seharusnya dia sudah menamparku sejak langkah pertama tadi. Tapi, kenyataannya dia tak melakukannya, malah tampak menikmati.

Wanita seperti ini pada dasarnya punya gairah yang terpendam, hanya berpura-pura saja.

Di bawah permainan lidahku yang lincah, kakak ipar sama sekali tak berdaya. Sikapnya yang seolah menolak, tapi pasrah terlihat dari tangannya yang berniat mendorong kepalaku menjauh, di saat bersamaan malah memelukku semakin erat ke dalam dekapannya.

Tanganku memanfaatkan momen itu untuk merambat turun, melewati perutnya yang rata dan halus, hingga sampai di pangkal pahanya.

Saat jariku menyusup masuk, tubuh indah kakak ipar gemetar halus. Dia mendadak merapatkan kedua pahanya dengan wajah yang merona.

“Jangan….”

Dia menggigit bibir merahnya erat-erat. Seiring dengan pergerakan jariku yang terus membangkitkan gairah, dia tak bisa mengendalikan dirinya sama sekali dan terdengar desahan manja dari mulutnya. Tatapan matanya tampak semakin sayu, bahkan tubuhnya bergerak perlahan mengikuti irama untuk membiarkan jariku masuk lebih dalam.

“Kak, kamu sudah basah kuyup begini, masih bilang nggak mau? Punyaku begitu besar, jauh lebih hebat daripada punya kakak. Biarkan aku mengisi kekosonganmu, ya.”

Aku meraih tangan kakak ipar dan mengarahkannya masuk ke dalam celanaku.

Tangan mungilnya reflek menggenggamnya. Dengan napas yang semakin memburu dan tatapan sayu yang memancarkan hasrat, dia malah mulai berinisiatif menggerakkannya.

“Iya, begitu. Gerakan tanganmu luar biasa sekali! Bisa bantu aku pakai mulut? Aku pasti akan memuaskanmu hingga rasanya ingin melayang.”

Kakak ipar merasa sangat malu, tapi dengan setengah pasrah, dia membiarkan aku mengarahkan kepalanya ke posisi di bawah sana.

Begitu celana dilepaskan, senjataku yang panas membara menepuk pipinya pelan.

Wajah kakak ipar menunjukkan rasa terkejut yang luar biasa, bibirnya bergumam, “Be… besar sekali….”

Meski saat mati listrik dulu pernah merabanya, dia belum pernah melihatnya secara langsung dengan matanya sendiri. Kali ini, dia benar-benar terpana dan sepasang matanya yang menggoda dipenuhi gejolak hasrat.

“Ayo, kak.”

Aku sengaja menggoyangkan senjataku di depannya.

Kakak ipar melirikku dengan malu-malu, menggigit bibir merahnya, lalu menunduk dan mengulumnya….

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 10

    Setelah kejadian itu, setiap ada kesempatan Janet akan terus menempel dan mengajak kakak berhubungan. Waktu bermain denganku malah jadi berkurang jauh, sampai akhirnya kakak ipar kembali.Begitu kakak ipar kembali, kakak memperingatkan Janet untuk menjaga kelakuannya dan tak boleh membuat kakak ipar curiga sedikit pun atau dia akan menghajarnya.Janet juga tak membantahnya. Dia bilang akan memperhatikannya, tapi dengan syarat harus tetap diberi jatah untuk bermesraan agar dirinya bisa patuh.“Janet, betah tinggal di sini? Sangking sibuknya beberapa hari ini, aku jadi belum sempat menanyakan kabarmu. Entah dua pria ini bisa merawatmu dengan baik atau nggak?”Saat makan malam, kakak ipar sengaja memasakkan banyak hidangan lezat untuk Janet. Selama pergi dinas, dia khawatir kami berdua tak bisa menjaga adiknya dengan baik.Dengan nada menyindir, Janet tersenyum centil dan menjawab kalau kakak merawatnya sangat baik, bahkan selalu membuatnya kenyang. Aku yang paham maksudnya langsung melot

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 9

    Seketika, kakak mengamuk. Dia langsung menggunakan tenaga kasarnya untuk membuang Janet ke samping, lalu mengancam kalau dia berani punya niat busuk lagi, dirinya akan langsung mengusirnya pulang ke kampung dan tak mengizinkannya datang lagi.Janet tak takut sama sekali, dia mengira kakak hanya malu saja. Jadi, dia kembali berusaha menggodanya.Namun, kakak langsung mendaratkan satu tamparan keras ke wajahnya.Tamparan itu langsung membuat Janet melongo kebingungan. Dalam hati, aku merasa cukup terpuaskan! Bagus sekali tamparannya! Jika bukan karena tak ada pilihan, aku juga sudah menamparnya sejak dulu.Dengan tatapan penuh dendam, Janet berlari keluar tanpa mengenakan sehelai benang pun. Aku yang berniat sembunyi kembali ke kamar, terlambat satu langkah, malah akhirnya ketahuan oleh Janet.Janet menerobos masuk ke kamarku dan mengancam keras agar kejadian malam ini tak boleh sampai ke telinga kakaknya. Kalau sampai bocor, dia akan membocorkan rahasia kalau aku pernah menidurinya.“Ka

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 8

    “Kak Juan, kamu benar-benar perkasa sekali! Pacar-pacarku yang dulu nggak ada yang sekekar kamu! Kamu bahkan lebih dahsyat daripada mainan yang kubeli.”Tak peduli seberapa kuat aku memperlakukannya, Janet sama sekali tak mengerutkan keningnya. Dia malah tersenyum centil memujiku, bahkan sengaja mendesah keras-keras, seolah takut orang lain tak mendengar.Aku menyumpal mulutnya dengan celana dalamku. Ada tiga pintu ruangan di rumah ini dan tak ada satu pun sudut ruangan yang terlewatkan untuk kami. Aku menyiksanya terus-menerus sampai akhirnya dia kehabisan seluruh tenaganya.“Aku paling suka pria liar sepertimu, rasanya luar biasa sekali! Semakin liar mainnya, aku semakin suka. Kak Juan, pokoknya sebelum pulang nanti, aku bakal tidur di kamarmu setiap malam.”Janet berbaring terkapar terengah-engah di sana seperti genangan lumpur, tapi masih sempat-sempatnya melemparkan tatapan menggoda padaku.Aku sungguh tak habis pikir bagaimana bisa kakak ipar punya adik segila ini? Pikirannya ben

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 7

    “Sayang, kamu kenapa? Kok suaramu aneh sekali?” Nada kakak terdengar agak cemas, dia bahkan menanyakan keberadaanku dan menyuruhku mengangkat telepon.Karena khawatir kakak ipar bakal keceplosan, aku pun buru-buru mengambil ponselnya.“Kak, aku lagi di samping kakak ipar. Dia nggak apa-apa. Hanya minum kebanyakan dan muntah. Ini aku lagi pijat badannya, biar bisa lebih meredakan mabuknya.”Aku berbicara sambil terus bergerak, hingga napasku terengah-engah, tapi sama sekali tak takut ketahuan. Bagaimanapun, aku sudah menyiapkan alasan yang masuk akal dan kakak juga tak akan pernah berpikir kalau aku berhubungan dengan kakak ipar.Kakak ipar tak berani mengadu, dia hanya bisa menutup mulutnya erat-erat agar tidak mengeluarkan suara. Wajahnya yang kasihan itu malah semakin membuatku ingin meluapkan gairah padanya.Aku menyalakan mode pengeras suara pada ponsel dan meletakkannya di samping, lalu kembali menerjang menuju garis akhir.“Hm….” Kakak ipar yang ikut mengimbangi iramaku punya sta

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 6

    Jika bukan karena sedang menyetir, aku pasti akan langsung menindihnya dan menghajarnya langsung.Terus-terusan digoda sampai tak tahan lagi, aku hanya bisa menghiburnya dengan berjanji akan memberikannya setelah tiba di rumah, karena masih harus fokus menyetir sekarang.“Sayang, aku punya sedikit cemilan di sini, kamu mau cicip untuk mengganjal perut…?”Kakak ipar tersenyum menggoda padaku. Dia membungkukkan badannya, menunduk dan mengulum senjataku.Sensasi luar biasa itu membuat seluruh tubuhku tersentak. Sangking semangatnya, aku hampir saja salah menginjak pedal gas, membuat seluruh tubuhku berkeringat dingin karena terkejut.Sekarang aku baru paham kenapa banyak pria yang sangat menyukai wanita dewasa, karena gairah mereka tinggi, tekniknya lihai dan benar-benar menantang.“Sayang… baru beberapa hari nggak bertemu, kamu semakin hebat saja. Lihat, cairannya sebanyak ini. Aku sangat menginginkannya, kita main di mobil saja, ya….”Tak disangka kakak ipar sudah begitu tak bisa menaha

  • Kakak Ipar, Listriknya Mati   Bab 5

    Ketika terbungkus oleh kehangatan dan kelembutan itu, sensasi nikmat yang belum pernah kurasakan sebelumnya langsung menyelimutiku. Rasanya kepalaku sampai kesemutan dan tubuhku gemetar hebat.Aku memegangi kepala kakak ipar, lalu mulai memajukan tubuhku.Kakak ipar tampak agak kesulitan. Dia berusaha membuka mulut mungilnya, sambil bernapas terengah-engah. Wajahnya yang merona terlihat begitu menggoda.Meski begitu, dia tetap berusaha menyesuaikan diri dan menggunakan lidahnya yang lincah untuk terus memancing gairahku.Dari atas sampai ke bawah, dari bawah sampai ke atas, dari bagian belakang sampai ke depan, semuanya mendapat sentuhan manis darinya.Tak hanya itu, dia sesekali mendongakkan kepala, menatapku dengan mata yang sayu penuh godaan. Dari mulutnya terdengar suara basah yang samar, seolah sedang menikmati hidangan paling lezat di dunia.Aku sungguh tak sanggup menahannya lagi. Sambil mendesah pelan, aku berkata penuh gairah, “Mulutmu hebat sekali, sekarang saatnya aku yang m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status