Share

Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!
Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!
Penulis: Canting Kirana

Kado Istimewa

Penulis: Canting Kirana
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-11 11:22:15

“Gea, minum dulu kopinya! Mumpung masih panas. Biar nggak ngantuk nanti di jalan.” Bibir Kalila bergerak pelan supaya aku bisa membacanya.

Pasti dia berbicara dengan lembut. Aku masih ingat dengan jelas suara dia yang kekanak-kanakan.

Kalila Anindya berdiri di depanku sambil mengulurkan segelas kopi dalam paper cup. Aku memang biasa punya stok gelas berbahan kertas itu. Mas Kavi, suamiku, sering minta dibuatkan untuk diminum selama perjalanan ke kantor.

“Thanks ya, Kal. Kamu memang paling pengertian.” Aku tersenyum lebar, lalu mencubit pelan pipi halus adik angkatku itu. Kami sebetulnya sebaya. Hanya selisih beberapa bulan saja.

Kalila selalu tampak seperti peri di mataku. Dia begitu manis dengan gaun peach, salah satu warna favoritnya.

Kalila adalah malaikat yang dikirim Tuhan untuk melengkapi duniaku yang sunyi. Sejak kecelakaan masa kecil merenggut pendengaranku, dialah yang menjadi sepasang telinga baru bagiku. Dia menerjemahkan dunia untukku. Dia selalu ada di sisiku, melindungi dari cemoohan orang-orang.

“Yakin mau nyetir sendiri ke Tretes? Ini udah mau malam, lho. Kenapa nggak minta dianter aja sama sopir?” Kalila menatapku dengan mata bulatnya yang mulai berkaca-kaca. Raut wajahnya penuh dengan kekhawatiran yang tulus.

“Hei, aku ini cuma tuli, Kal. Bukan buta,” sahutku, lalu tertawa. “Aku mau kasih kejutan buat Mas Kavi. Kamu tahu, kan, hari ini adalah first anniversary kami. Masa iya sih dilewatkan begitu saja.”

“Iya, tapi, kan, bisa dianter sama sopir, Gea. Habis itu, sopir langsung kamu suruh balik ke sini biar nggak ganggu kalian.” Kalila masih saja bersikukuh.

Aku menggeleng mantap. “Aku mau sendirian dan kasih kejutan. Mas Kavi sudah banyak berkorban buatku, Kal. Jadi, aku mau tunjukkan juga. Ini ... salah satu perjuangan dan pengorbananku buat dia. Nyetir sendiri ke Tretes.” 

Kavindra Dirgantara adalah definisi pria dan suami yang sempurna. Dia yang dulu cuma mahasiswa sederhana, rela bekerja keras demi membangun kembali kejayaan perusahaan ayahku di Surabaya.

Dia tidak pernah malu punya istri tuli sepertiku. Sebaliknya, dia selalu memperlakukan aku layaknya ratu. Setiap hari dia rela menempuh perjalanan Surabaya-Malang hanya demi bisa memelukku sebelum tidur. Cinta Mas Kavi adalah satu-satunya alasan aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia.

“Ingat ya, jangan bilang ke Mas Kavi kalau aku nyusul dia ke Tretes. Aku punya kado spesial yang nggak bakal dia lupakan seumur hidup,” ujarku sambil mengusap pelan perutku. Gerakan refleks. Sebuah rahasia yang bahkan Kalila pun belum tahu.

“Kamu selalu kayak gitu, deh. Lebih mentingin aku sama Kavi.” Kalila cemberut manis, lalu memelukku erat.

“Makasih banyak ya. Hati-hati di jalan. Kabari aku kalo udah nyampe. Satu lagi, nggak usah ngebut-ngebut. Pelan-pelan aja, yang penting selamat,” imbuh Kalila setelah melerai pelukan.

Dia begitu lembut dan rapuh. Ayah selalu berpesan agar aku menjaga Kalila karena dia sudah tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini. Ibunya meninggal ketika melahirkan dia dan sang ayah bunuh diri setelah bisnisnya bangkrut. Perusahaan yang kemudian diakuisisi oleh ayahku.

Kalila bukan sebatas adik angkat bagiku. Dia adalah adik kandung yang harus aku pastikan kebahagiaannya.

“Nanti aku habiskan di jalan ya,” kataku sambil mengangkat paper cup di tangan kanan. Rasanya sedikit lebih pahit dari biasanya. Mungkin karena Kalila menambah takaran bubuk kopinya biar aku tidak mengantuk.

“Yang penting harus habis!” tegas Kalila dengan mata membulat.

Aku segera masuk ke mobil SUV putihku dan meninggalkan rumah yang asri di Malang kota. Perjalanan menuju Tretes butuh waktu sekitar satu jam. Tidak terlalu jauh.

Selama menyetir, ponselku terus bergetar di dasbor mobil. Pesan dari Kalila masuk bertubi-tubi.

[Jangan lupa liat spion terus ya. Kan, kamu nggak bisa denger kalo ada yang klakson dari belakang.]

[Fokus ya. Jalannya curam dan banyak jurang.]

Aku tersenyum haru membaca pesan-pesan itu. Betapa dia sangat menyayangiku. Aku sengaja tidak membalas. Kalau membalas, Kalila pasti akan lebih marah lagi.

“Lagi nyetir, nggak boleh pegang HP!” Dia selalu ngomel kalau ada orang pegang ponsel sambil menyetir.

Aku teringat hasil pemeriksaan dokter siang tadi. Secarik kertas yang menyatakan aku positif hamil. Itulah kado spesial yang ingin aku berikan ke Mas Kavi. Kado terbaik yang bisa aku berikan di hari anniversary pernikahan kami.

Aku membayangkan wajah tampannya yang mirip aktor Korea itu akan berseri-seri. Bahkan, mungkin dia akan menangis terharu atau menggendongku berputar-putar.

Mobilku mulai memasuki wilayah Prigen. Udara dingin pegunungan mulai menusuk, mengalahkan hawa dingin yang disemburkan AC di dalam kendaraan. Kabut tipis merayap turun, menyelimuti jalanan yang mulai berkelok-kelok.

Aku terus melirik ke arah spion, memastikan tidak ada kendaraan yang membahayakan di sekitarku.

Tiba-tiba kepala terasa sangat berat. Pandangan yang tadinya tajam mengawasi jalanan mulai berbayang. Aku berkedip berkali-kali, coba mengusir rasa kantuk yang datang secara tidak wajar.

Aneh! Bukannya aku baru saja minum kopi? Mestinya aku segar bugar.

Kenapa ... kenapa mataku berat sekali?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Sosok Pria Misterius

    “Gavin Mahendra, aku harus segera menemuimu,” ucapku dengan penuh tekad.Mumpung Mas Kavi masih di kamar mandi, aku segera meraih ponsel yang dari tadi tergeletak di atas meja rias. Jemariku bergerak lincah menelusuri kolom pencarian. Nama Gavin Mahendra menjadi satu-satunya fokusku malam ini.Di zaman semodern ini, internet merupakan gudang informasi tanpa batasan. Internet menyediakan informasi yang cukup untuk membuatku mencatat beberapa poin penting soal Gavin Mahendra di catatan ponselku.Dia adalah lulusan terbaik dari salah satu universitas ternama di Inggris. Pria yang kemudian mengambil alih kemudi perusahaan Sriyasa Group di usia yang terbilang masih sangat muda. Bukan pria main-main.Dari beberapa berita bisnis, dia terkenal dengan sifat pendiam, dingin, dan seakan tak tersentuh oleh siapa pun. Namun, dia sangat sering memenangkan tender di proyek-proyek pemerintahan, baik yang berskala nasional maupun provinsi.Hmm, sangat kontradiktif. Biasanya, pemenang tender adalah ora

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Tunggu Pembalasanku!

    Tatapan kami saling beradu di pantulan cermin selama beberapa detik. Jantungku berdebar keras seakan hendak meloncat keluar dari rongga dada. Wajah Mas Kavi menyiratkan kecurigaan. Masih memegang ponsel di tangan kanan, mata Mas Kavi menyipit, memindai setiap inchi ekspresi wajahku. “Aku curiga sesuatu, Kal,” ujarnya, sengaja menoleh berlawanan arah agar aku tidak bisa membaca gerak bibirnya. Tapi, aku sudah bisa mendengar, Mas!Pertahananku runtuh sudah. Sesak yang dari awal ‘hidup kembali’ kutahan-tahan, akhirnya meledak juga. Aku menangis tersedu-sedu hingga bahu berguncang hebat.“Kamu kenapa, Sayang?” Mas Kavi mendekat, lalu mengusap kepalaku dengan lembut. Itu bukan lagi kelembutan kain sutra yang dia hamparkan di jalan hidupku, melainkan duri tajam yang melukai setiap langkahku.Aku tidak menjawab, hanya terus terisak. Mas Kavi menarik tanganku yang menutupi wajah, lalu memutar tubuhku agar menghadap ke arahnya. Dia berlutut, menggenggam tanganku, menatap dengan wajah sendu

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Topeng yang Mulai Retak

    “Ah, lega rasanya!” Mas Kavi merentangkan kedua tangan lebar-lebar begitu kami masuk ke kamar presiden suite yang sudah didekorasi sedemikian rupa menjadi kamar pengantin. Dua handuk besar dibentuk menyerupai sepasang angsa dan leher mereka membentuk love.Seharusnya suasana sangat romantis, seperti di kehidupanku sebelumnya. Kamar di hotel bintang lima ini mestinya jadi saksi bisu kebahagiaan kami di malam pertama. Namun, kali ini berbeda.Aku tidak lagi merasakan keromantisan itu. Harum semerbak kelopak mawar merah dan putih yang ditabur di atas ranjang, juga wangi lilin aromaterapi yang menenangkan harusnya bisa membuat hatiku luluh. Nyatanya, malam ini, semua keindahan itu terasa semu. Hanya sebatas dekorasi yang malah memberikan kesan sunyi, dingin, dan penuh dengan kepalsuan.Mas Kavi membantu melepas ronce melati yang berat di bahuku. Tangannya yang hangat menyentuh leherku, membuat bulu kudukku berdiri. Dulu ini juga terjadi. Namun, kali ini bulu kudukku berdiri bukan karena c

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Bisikan dari Masa Lalu

    “Siapa dia, Mas? Apa kamu ada masalah sama dia?” tanyaku sambil menatap sekilas ke arah Mas Kavi.Pria di sampingku itu tampak mengetatkan otot-otot rahang. Kentara sekali kalau dia ada masalah besar dengan Gavin itu.“Dia musuh besar kita. Orang yang sudah beberapa kali menjegal program pemasaran perusahaan kita,” jawab Mas Kavi sambil membuat isyarat dengan gerakan tangan. Padahal, aku bisa mendengar dengan jelas semua ucapannya.Gavin Mahendra. Ya, akhirnya aku ingat nama itu. Ayah pernah memuji atau mungkin lebih tepatnya ... mengeluhkan kecerdasan dan kepiawaian seorang pemuda dalam menyaingi bisnisnya. Mereka selalu bersaing ketat dalam setiap tender pekerjaan, terutama di pemerintahan.Selama bertahun-tahun menjadi pebisnis, baru kali itu Ayah dikalahkan oleh pemuda yang usianya jauh di bawah dia. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Rupanya ... inilah orangnya. Lantas, kenapa dia datang ke pesta ini? Mas Kavi bilang dia tidak pernah mengundang Gavin.Pria yang tengah menjad

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Tamu Tak Diundang

    Aku duduk di kursi pelaminan dengan latar belakang yang megah di tengah ballroom mewah hotel bintang lima. Mestinya aku bangga dan bahagia. Namun, kenyataan pahit terus menderaku.“Selamat ya, Bu Gea. Semoga langgeng dan bahagia selalu.” Pria bertubuh tambun menjabat tanganku dengan hangat. Dia salah satu kolega Ayah ... semasa hidupnya.“Terima kasih.” Aku membalas dengan senyuman yang kupaksakan.Di sampingku, Mas Kavi tampak begitu bahagia. Dia menyalami satu per satu tamu undangan dengan senyuman yang semringah. Tangannya sesekali merangkul pinggangku. Perlakuan yang dulu membuatku merasa diperhatikan dan dilindungi. Namun, kini terasa seperti lilitan ular yang siap memangsa kapan saja.Mataku tak sengaja menangkap sosok Kalila yang berdiri tidak jauh dari pelaminan. Dia sedang tertawa kecil sambil berbincang dengan salah satu kolega perusahaan. Dia memang gadis imut yang sangat lancar berkomunikasi. Makanya, dia bertahan di posisi direktur pemasaran di perusahaan kami.Ya, dia da

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Sosok yang Hilang

    Aku benar-benar tidak habis pikir. Apakah aku atau Ayah pernah menyakiti hati Kalila tanpa sengaja? Siapa tahu, di balik kelembutan dan sifat kekanak-kanakan Kalila, dia punya perasaan yang sensitif. Mungkin ada luka yang menganga akibat kehilangan ayah yang sangat dia cintai.Hatiku terus berbisik pedih, menyampaikan berbagai kemungkinan. Aku harus segera mencari tahu. Kalau memang ada luka yang kami goreskan, aku ingin memperbaikinya. Bagaimanapun, aku sangat menyayangi Kalila.Bagaimana aku bisa percaya kalau malaikat kesayanganku ini adalah seorang pembunuh?“Ge, kenapa wajahmu kayak gitu sih? Tegang banget. Hari bahagia kok kayak orang mau perang,” goda Kalila sembari menggandeng lenganku lembut. Dia menuntunku keluar dari ruang rias menuju hall hotel, tempat resepsi pernikahanku digelar.Aku berusaha menguasai diri. Kalila belum tahu kalau aku sudah bisa mendengar. Biar saja. Biar ini menjadi rahasiaku sementara waktu. Aku menarik napas panjang, memaksakan senyuman tipis agar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status