Share

Suara yang Tak Seharusnya

Penulis: Canting Kirana
last update Terakhir Diperbarui: 2026-03-11 11:22:45

Kucoba meraih botol air mineral yang ada di pintu, tetapi tangan terasa berat. Sangat sulit untuk digerakkan. Jantung berdegup kencang karena panik, sementara mobil terus melaju di jalanan yang menanjak ekstrem.

Di sisi kananku adalah dinding tebing dan di sisi kiri jurang gelap tanpa dasar. Mau berhenti menginjak pedal gas, aku serasa tak punya tenaga untuk mengangkat kaki. Kakiku mati rasa!

Keringat dingin membasahi kening, juga punggungku. Detik berikutnya, kesadaranku merosot dengan cepat. Dalam sisa-sisa penglihatan yang mengabur, aku melihat sebuah tikungan tajam di depan.

Aku coba memutar kemudi, tetapi lagi-lagi ... tanganku tidak mau patuh. Keduanya tetap bergeming, tidak bergerak sama sekali!

Mas Kavi ...! Kalila ...!

Mobil menghantam pembatas jalan dengan suara yang tidak bisa kudengar, tetapi getarannya terasa begitu keras. Kendaraan melayang sesaat sebelum kemudian terhempas, jatuh berguling-guling ke dalam pekatnya jurang.

Tulang belulang serasa hancur. Tak hanya itu. Rasa sakit yang luar biasa menghunjam perutku. Sedetik kemudian, sesuatu yang panas terasa mengalir deras di sela pahaku. Itu adalah hal terakhir yang aku rasakan sebelum semuanya menjadi benar-benar gelap.

Dingin!

Dingin yang terasa menusuk tulang perlahan berubah menjadi hawa hangat yang cukup familiar di kulitku. Aroma tanah basah serta bau amis darah yang tadinya menyesakkan dada, kini berganti dengan wangi bunga melati yang menyeruak tajam ke indra penciuman.

Aku mengerang pelan. Kepala rasanya seperti dihantam palu godam. Sakit sekali!

Di mana aku? Bukankah aku baru saja jatuh ke jurang? Apakah ini di rumah sakit?

Anakku! Bagaimana dengan anakku?

Spontan, tanganku meraba perut, mencari rasa sakit dan nyeri hebat yang tadi kurasakan. Namun, yang aku raba justru kain sutra halus yang terasa sejuk di telapak tangan seperti batu giok.

Aku memaksa mata untuk terbuka. Cahaya terang dari lampu bohlam yang mengelilingi cermin seketika menyilaukan pandanganku.

Aku tertegun. Aku tidak terkapar di dasar jurang atau terluka di dalam mobil atau berbaring di ranjang rumah sakit.

Aku sedang duduk tegak di kursi rias besar dengan cermin raksasa di depanku. Di cermin itu, aku melihat pantulan diri sendiri. Aku mengenakan kebaya, pakaian pengantin khas Jawa, lengkap dengan paes agung hitam di dahi serta ronce melati yang menjuntai dengan anggun di bahuku.

Tunggu dulu! Bukankah ini ... hari pernikahanku setahun yang lalu?

Tiba-tiba sebuah suara menghantam gendang telingaku. Suara yang begitu jernih seolah-olah menyentuh saraf-sarafku secara langsung.

“Wah, Mbak Gea ayu banget. Dasarnya udah ayu. Begitu dirias, ya tambah ayu,” puji Mbak Win, MUA langgananku.

Aku tersentak hebat. Hampir saja aku jatuh dari kursi. Apa ini? Aku ... bisa mendengar? Bagaimana mungkin?

Jantung berpacu gila-gilaan hingga tubuhku mematung. Bukan karena kecantikan yang terpampang nyata di dalam cermin, melainkan fakta bahwa aku bisa mendengar suara. Aku tidak melihat gerak bibir Mbak Win. Aku benar-benar mendengar suaranya dengan begitu sempurna.

“Udah kelar?” Terdengar suara lembut dari arah kanan.

Kalila!

Dia menghampiriku sambil tersenyum manis. Senyum yang selalu aku anggap tulus. Aku mau kasih dia kejutan.

Kalila membantuku berdiri. “Wah, kamu cantik banget, Gea.” 

Dia mengamati penampilanku, dari ujung kepala hingga ke ujung kaki. Mungkin ingin memastikan bahwa tidak ada yang kurang.

Aku baru saja hendak membuka mulut untuk memberi tahu dia tentang mukjizat pendengaranku. Namun, bibir langsung terkunci ketika Kalila tiba-tiba mendekap erat dan berbisik pelan di dekat telingaku.

“Nikmati kebahagiaanmu selagi bisa. Nggak bakal lama, Gea. Tunggu aja,” bisiknya dengan nada tajam, dingin, dan penuh racun. Suaranya tidak lagi lembut dan kekanak-kanakan seperti yang selama ini aku ingat.

“Aku bakal lenyapin kamu. Segera, setelah semuanya siap,” lanjut Kalila.

Tubuhku membeku seketika. Darah seakan berhenti mengalir di sekujur tubuh.

Gadis yang sudah kuanggap bagian dari hidupku itu melepaskan pelukan. Kalila kembali tersenyum lebar seakan tidak terjadi apa-apa. Seolah ucapan yang barusan kudengar hanyalah angin lalu tanpa arti sama sekali.

Kal, apa aku tidak salah dengar? Melenyapkan aku? Tapi, kenapa, Kal?

Pikiranku langsung melayang ke kejadian di jurang tadi. Rasa nyeri dan ngilu di sekujur tubuh seakan kembali secara mendadak. Tak hanya raga, hatiku juga sakit sekali rasanya.

Apakah kopi yang dia berikan adalah penyebab kantukku? Apa dia ada hubungannya dengan kecelakaan itu?

Air mataku hampir saja jatuh. Di momen yang seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupku, aku justru mendengar vonis mati dari orang yang paling aku cintai setelah Ayah dan Mas Kavi.  

Dadaku benar-benar sesak. Apa alasannya? Selama ini aku selalu melindungi Kalila. Ayah juga selalu memperlakukan dia seperti anak kandung sendiri. Ayah tidak pernah membeda-bedakan kami.

Bahkan, demi menjaga kenangan, Ayah mengakuisisi perusahaan ayah Kalila agar merek kosmetik peninggalannya tidak hilang ditelan zaman. Padahal, Ayah bukan ahli di bidang itu. Dari yang aku dengar, perusahaan itu dulu sudah bangkrut. Ayah berjuang keras untuk menghidupkannya lagi.

Kami sudah memberikan segalanya untuk kamu, Kalila. Kenapa?    

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Sosok Pria Misterius

    “Gavin Mahendra, aku harus segera menemuimu,” ucapku dengan penuh tekad.Mumpung Mas Kavi masih di kamar mandi, aku segera meraih ponsel yang dari tadi tergeletak di atas meja rias. Jemariku bergerak lincah menelusuri kolom pencarian. Nama Gavin Mahendra menjadi satu-satunya fokusku malam ini.Di zaman semodern ini, internet merupakan gudang informasi tanpa batasan. Internet menyediakan informasi yang cukup untuk membuatku mencatat beberapa poin penting soal Gavin Mahendra di catatan ponselku.Dia adalah lulusan terbaik dari salah satu universitas ternama di Inggris. Pria yang kemudian mengambil alih kemudi perusahaan Sriyasa Group di usia yang terbilang masih sangat muda. Bukan pria main-main.Dari beberapa berita bisnis, dia terkenal dengan sifat pendiam, dingin, dan seakan tak tersentuh oleh siapa pun. Namun, dia sangat sering memenangkan tender di proyek-proyek pemerintahan, baik yang berskala nasional maupun provinsi.Hmm, sangat kontradiktif. Biasanya, pemenang tender adalah ora

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Tunggu Pembalasanku!

    Tatapan kami saling beradu di pantulan cermin selama beberapa detik. Jantungku berdebar keras seakan hendak meloncat keluar dari rongga dada. Wajah Mas Kavi menyiratkan kecurigaan. Masih memegang ponsel di tangan kanan, mata Mas Kavi menyipit, memindai setiap inchi ekspresi wajahku. “Aku curiga sesuatu, Kal,” ujarnya, sengaja menoleh berlawanan arah agar aku tidak bisa membaca gerak bibirnya. Tapi, aku sudah bisa mendengar, Mas!Pertahananku runtuh sudah. Sesak yang dari awal ‘hidup kembali’ kutahan-tahan, akhirnya meledak juga. Aku menangis tersedu-sedu hingga bahu berguncang hebat.“Kamu kenapa, Sayang?” Mas Kavi mendekat, lalu mengusap kepalaku dengan lembut. Itu bukan lagi kelembutan kain sutra yang dia hamparkan di jalan hidupku, melainkan duri tajam yang melukai setiap langkahku.Aku tidak menjawab, hanya terus terisak. Mas Kavi menarik tanganku yang menutupi wajah, lalu memutar tubuhku agar menghadap ke arahnya. Dia berlutut, menggenggam tanganku, menatap dengan wajah sendu

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Topeng yang Mulai Retak

    “Ah, lega rasanya!” Mas Kavi merentangkan kedua tangan lebar-lebar begitu kami masuk ke kamar presiden suite yang sudah didekorasi sedemikian rupa menjadi kamar pengantin. Dua handuk besar dibentuk menyerupai sepasang angsa dan leher mereka membentuk love.Seharusnya suasana sangat romantis, seperti di kehidupanku sebelumnya. Kamar di hotel bintang lima ini mestinya jadi saksi bisu kebahagiaan kami di malam pertama. Namun, kali ini berbeda.Aku tidak lagi merasakan keromantisan itu. Harum semerbak kelopak mawar merah dan putih yang ditabur di atas ranjang, juga wangi lilin aromaterapi yang menenangkan harusnya bisa membuat hatiku luluh. Nyatanya, malam ini, semua keindahan itu terasa semu. Hanya sebatas dekorasi yang malah memberikan kesan sunyi, dingin, dan penuh dengan kepalsuan.Mas Kavi membantu melepas ronce melati yang berat di bahuku. Tangannya yang hangat menyentuh leherku, membuat bulu kudukku berdiri. Dulu ini juga terjadi. Namun, kali ini bulu kudukku berdiri bukan karena c

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Bisikan dari Masa Lalu

    “Siapa dia, Mas? Apa kamu ada masalah sama dia?” tanyaku sambil menatap sekilas ke arah Mas Kavi.Pria di sampingku itu tampak mengetatkan otot-otot rahang. Kentara sekali kalau dia ada masalah besar dengan Gavin itu.“Dia musuh besar kita. Orang yang sudah beberapa kali menjegal program pemasaran perusahaan kita,” jawab Mas Kavi sambil membuat isyarat dengan gerakan tangan. Padahal, aku bisa mendengar dengan jelas semua ucapannya.Gavin Mahendra. Ya, akhirnya aku ingat nama itu. Ayah pernah memuji atau mungkin lebih tepatnya ... mengeluhkan kecerdasan dan kepiawaian seorang pemuda dalam menyaingi bisnisnya. Mereka selalu bersaing ketat dalam setiap tender pekerjaan, terutama di pemerintahan.Selama bertahun-tahun menjadi pebisnis, baru kali itu Ayah dikalahkan oleh pemuda yang usianya jauh di bawah dia. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali. Rupanya ... inilah orangnya. Lantas, kenapa dia datang ke pesta ini? Mas Kavi bilang dia tidak pernah mengundang Gavin.Pria yang tengah menjad

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Tamu Tak Diundang

    Aku duduk di kursi pelaminan dengan latar belakang yang megah di tengah ballroom mewah hotel bintang lima. Mestinya aku bangga dan bahagia. Namun, kenyataan pahit terus menderaku.“Selamat ya, Bu Gea. Semoga langgeng dan bahagia selalu.” Pria bertubuh tambun menjabat tanganku dengan hangat. Dia salah satu kolega Ayah ... semasa hidupnya.“Terima kasih.” Aku membalas dengan senyuman yang kupaksakan.Di sampingku, Mas Kavi tampak begitu bahagia. Dia menyalami satu per satu tamu undangan dengan senyuman yang semringah. Tangannya sesekali merangkul pinggangku. Perlakuan yang dulu membuatku merasa diperhatikan dan dilindungi. Namun, kini terasa seperti lilitan ular yang siap memangsa kapan saja.Mataku tak sengaja menangkap sosok Kalila yang berdiri tidak jauh dari pelaminan. Dia sedang tertawa kecil sambil berbincang dengan salah satu kolega perusahaan. Dia memang gadis imut yang sangat lancar berkomunikasi. Makanya, dia bertahan di posisi direktur pemasaran di perusahaan kami.Ya, dia da

  • Kali Ini Aku yang Akan Menghancurkan Kalian!   Sosok yang Hilang

    Aku benar-benar tidak habis pikir. Apakah aku atau Ayah pernah menyakiti hati Kalila tanpa sengaja? Siapa tahu, di balik kelembutan dan sifat kekanak-kanakan Kalila, dia punya perasaan yang sensitif. Mungkin ada luka yang menganga akibat kehilangan ayah yang sangat dia cintai.Hatiku terus berbisik pedih, menyampaikan berbagai kemungkinan. Aku harus segera mencari tahu. Kalau memang ada luka yang kami goreskan, aku ingin memperbaikinya. Bagaimanapun, aku sangat menyayangi Kalila.Bagaimana aku bisa percaya kalau malaikat kesayanganku ini adalah seorang pembunuh?“Ge, kenapa wajahmu kayak gitu sih? Tegang banget. Hari bahagia kok kayak orang mau perang,” goda Kalila sembari menggandeng lenganku lembut. Dia menuntunku keluar dari ruang rias menuju hall hotel, tempat resepsi pernikahanku digelar.Aku berusaha menguasai diri. Kalila belum tahu kalau aku sudah bisa mendengar. Biar saja. Biar ini menjadi rahasiaku sementara waktu. Aku menarik napas panjang, memaksakan senyuman tipis agar

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status