Share

Bab 4

Author: Amih Lilis
last update publish date: 2023-07-30 11:22:07

Cakra bergeming menatap kepergian Milla. Hanya ekor mata yang mengantar punggung sang gadis yang terus menjauh, mengecil dan hilang di balik pintu sebuah taksi yang Milla cegat dengan cepat.

Kedua tangan Cakra mengepal di sisi tubuh. Menahan kuat hati yang sebenarnya ingin sekali mengejar, merengkuh dan menenangkan gadis pujaannya. Namun, Cakra tahu ia tidak boleh melakukannya saat ini kalau tak ingin makin dijauhi Milla.

Sang pujaan butuh waktu sendiri. Itu yang terus diyakininya. Setelah Milla tenang, Cakra berjanji akan menemui gadis itu lagi dan kembali mencari cela agar mau memberi kesempatan dan menjadi miliknya.

Setelah memastikan Milla aman dan pergi dengan taksi yang ditumpanginya. Cakra pun gegas kembali ke cafe. Amarah masih nampak terlihat dari rona wajahnya. Meski begitu, Cakra memilih mengabaikan Shabira dan masuk ke ruangannya sendiri. Ia hanya melirik gadis itu dingin saat melintasinya.

"Lo bener-bener keterlaluan!" desis Kinan. Ikut sebal pada kelakuan Shabira.

"Gue hanya mencoba mempertahakan milik gue!" balas Shabira tanpa dosa.

"Milik lo? Apa? Siapa? Pak Cakra bahkan gak pernah nanggepin lo dari dulu."

Shabira membuang muka. Mencoba tuli akan segala fakta yang tengah diungkap Kinan.

"Lo bilang dulu, itu karena ada Arletta yang kegatelan. Tapi nyatanya, setelah Arletta pergi pun, Pak Cakra tetap gak lirik elo, kan?"

Shabira tetap acuh.

"Heh, Bira. Harusnya dari situ lo sadar. Di sini bukan Arletta yang menutup mata Pak Cakra buat gak lirik lo. Tapi memang lo gak pernah ada di mata Pak Cakra!"

"Lo bisa diem, gak? Berisik banget tahu, gak!" balas Shabira geram, kemudian gegas pergi meninggalkan Kinan yang semakin bawel menurutnya. Ada nyeri yang mulai menjalar di sudut hatinya akan ucapan Kinan. Meski begitu Shabira mencoba tetap abai.

Shabira terus meyakini diri jika atasannya itu sebenarnya juga ada hati padanya. Tetapi belum menyadarinya saja. Ditambah dulu ada Arletta yang memang ia akui punya wajah diatas rata-rata. Jadinya ya perasaan itu makin tak tersadari oleh pria itu, akibat fatamorgana yang Arletta tawarkan.

Shabira yakin, suatu saat nanti Cakra akan sadar, jika di hatinya hanya ada Shabira seorang. Bukankah ia yang selalu ada sejak Cakra memulai bisnis cafe-nya hingga sesukses sekarang. Dan katanya, sehebat-hebatnya wanita yang datang pada saat seorang pria sukses. Tentu tak akan pernah bisa mengalahkan seorang wanita yang menemaninya dari nol. Shabira sangat percaya diri, jika wanita itu adalah dirinya dalam kehidupan Cakra.

"Bukan gue yang harusnya diem, Shabira. Tapi lo yang harusnya sadar diri. Lo tuh cuma cinta sepihak!"

"Bacot!" geram Shabira. Namun tetap melanjutkan langkah menjauhi Kinan.

Lihat saja! Saat nanti Pak Cakra menyadari perasaannya pada Shabira. Kinan itu akan ia buat malu semalu-malunya. Apa? Kinan itu kan jomlo ngenes. Mana dia tahu artinya cinta sejati.

Sementara di tempat lain. Milla sudah sampai pada tujuannya. Dia menyerahkan ongkos taksi melebihi argo yang tertera, kemudian pergi begitu saja tanpa mengucapkan terima kasih terlebih dulu. Hal yang biasa ia lakukan jika dalam keadaan normal. Namun, masalahnya saat ini keadaannya sedang tidak normal. Itu semua akibat ucapan Shabira yang terus terngiang di telinganya, membuat kilasan kejadian nahas itu kembali hadir.

Milla ingin segera mandi. Ia merasa kotor sekali mengingat sentuhan-sentuhan jahanam itu yang terasa nyata pada kulitnya saat ini. Milla pun mulai mual mengingat kejadian itu.

"Cukup, cukup kok nak Letta. Makasih banget loh buat semuanya."

Langkah Milla kembali terhenti, kala sebuah suara tertangkap rungunya dari arah ruang tamu. Itu suara sang ayah entah sedang berbicara dengan siapa.

"Ah, om jadi tidak enak kalau begini." Suara sang ayah kembali terdengar. Seperti satu jalur dan tak ada suara lain yang menyahutinya. Mungkinkah ayahnya sedang menelepon?

"Makasih sekali lagi loh nak Letta. Om jadi beneran tidak enak ini. Bingung juga harus balasnya."

Letta? Arletta kah maksudnya? Mungkinkah sang ayah sedang bertelepon dengan sahabatnya? Batin Milla terus bertanya penasaran. Tapi, untuk urusan apa?

"Ya ampun. Kamu memang baik sekali, ya? Om cuma bisa berdoa, semoga Tuhan membalas semua kebaikan nak Letta sama Milla."

Tangan Milla seketika mengepal kuat. Yakin jika sang ayah berulah lagi. Entah apa kali ini? Yang jelas pasti berhubungan dengan uang. Bukan sekali dua kali memang ayahnya kadang menjual nama Milla untuk mengeruk sedikit harta Arletta. Iya, ayah bilang sedikit. Namun tetap saja, jika dilakukan sering akan jadi banyak, kan? Milla mulai muak dengan tingkah ayahnya.

"Iya, iya. Nanti kalau Milla ada butuh lagi. Om pasti hubungi nak Letta. Tapi, seperti biasa. Jangan bilang Milla, ya? Soalnya dia suka marah kalau om kasih tahu kebutuhannya pada nak Letta. Tapi ya mau gimana, om sendiri belum sanggup mencukupi kebutuhan Milla yang semakin menggunung. Apalagi dengan basicnya yang sempat terjun ke dunia entertainment. Semua yang diinginkan Milla harganya kadang gak masuk akal."

Apa Milla bilang. Ayahnya benar-benar kembali menjual namanya untuk mengeruk harta Arletta. Padahal faktanya, sejak keluar dari dunia model, Milla bahkan tak pernah menginginkan apa pun selain ketenangan jiwa. Baju saja ia pake yang bekasan Elkava, yang masih ia simpan.

"Uhm ... kalau bisa uangnya saja nak Letta. Soanya ... Nak Letta sendiri gak tahu ukuran badannya, kan? Susu hamilnya juga Milla suka ganti-ganti merk. Katanya biar gak bosan. Lagipula--"

Brak!

Cukup sudah! Milla sudah tidak tahan. Ayahnya yang punya butuh tapi Milla yang dijual. Keterlaluan! Milla pun akhirnya memutuskan masuk rumah cepat. Membuat sang ayah langsung terkesiap kaget di tempatnya.

"Milla?"

Gadis itu tidak mengabaikan panggilan ayahnya yang ternyata sedang bersama sang ibu. Keduanya sama saja di mata Milla. Mengecewakan. Dari pada meladeni ayahnya, Milla lebih memilih merebut ponsel yang masih dipegang sang ayah.

"Berhenti transfer bokap gue, Let! Dia bohong! Gue gak pernah minta apa pun!" ungkap Milla. Sukses membuat kedua orang tuanya gelagapan.

"Milla, apa yang kamu lakukan?"

"Harusnya Milla yang tanya sama kalian! Maksud kalian apa meminta uang pada Letta atas nama Milla, padahal Milla tak pernah minta apa pun sama kalian!" tukas Milla sengit. Raut wajah sang ayah mulai kelam.

"Milla, kamu kayaknya salah paham, deh. Tenang dulu, ya? Ini gak seperti yang kamu pikirkan." Sementara sang Mama mulai mencoba membujuk dan melancarkan tipu muslihatnya lagi.

"Salah paham apa? Mama kira Milla gak tahu kalau kalian kerap minta uang pada Arletta untuk kebutuhan Milla yang ... Milla sendiri tidak tahu kapan memintanya." Gadis cantik yang tengah mengandung enam bulan itu pun bersikukuh.

"Ya kan sebagai orang tua, kami ingin memberikan yang terbaik untukmu sebelum kamu minta. Bagaimana pun--"

"Oh, ya?" sela Milla cepat. Semakin muak dengan orang tuanya. "Kalau memang begitu, mana? Mana semua barang yang kalian ucapkan itu, yang uangnya sudah kalian minta pada Arletta?" Milla menadahkan tangannya dengan tegas.

"Cukup Milla!" hardik Papa Danu mulai naik pitam. "Kamu kira, semua yang kamu makan gak pake uang beli bahan-bahannya? Susu hamil dan semua vitamin yang kamu konsumsi juga tak pakai uang? Semua butuh uang Milla, dan itu tidak sedikit. Jujur saja, uang Papa tidak cukup memenuhi kebutuhan kamu itu. Karena semua toko kita sedang pailit, Milla. Maka dari itu, apa papa salah jika minta sedikit bantuan Arletta?"

"Salah! Jelas salah!" tukas Milla bersikukuh. "Papa kan tahu Letta sudah memberikan beberapa saham pada perusahaan yang di kelola Kamal. Harusnya jika memang butuh uang, Papa minta Kamal, bukan Letta. Karena memang ada hak Milla di perusahaan Kamal!"

Kamal adalah adiknya Milla. Anak kesayangan sang Papa yang di anak emas kan sejak dulu. Milla bahkan di tuntut selalu mengalah pada Kamal. Termasuk menyerahkan saham yang Arletta berikan untuknya.

"Itu perusahaan Kamal. Jelas Kamal yang lebih berhak memiliki segala keuntungannya. Kamu tidak boleh menutut apa pun yang sudah kamu berikan."

Nah, dengar sendiri, kan? Orang tuanya memang sepilih kasih ini. Meski begitu, alih-alih menangis dan menghiba seperti biasanya. Karmilla memilih tersenyum kecut menatap kedua orang tuanya kali ini. Karena ....

"Lo udah denger sendiri kan, Let?" ucapnya pedih, seraya menempelkan kembali ponsel yang sebenarnya masih menyala sedari tadi.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 8

    Happy Reading "Biarkan saya masuk! Saya ibu kandungnya! Saya punya hak untuk bertemu anak saya!" Teriakan Mama Niken menggema di lorong rumah sakit. Beberapa pasien dan keluarga pasien lain mulai menoleh dengan pandangan penasaran. Satpam yang menahannya terlihat kesulitan karena wanita itu terus meronta-ronta seperti orang kesetanan. "Ibu, mohon tenang. Pasien sedang istirahat. Ibu tidak bisa--" "Diam kamu! Saya ibunya! Saya mau ketemu anak saya!" Bruno melangkah mendekat dengan wajah masam. Tubuhnya yang besar dan tinggi langsung membuat suasana menjadi tegang. Mama Niken yang melihat kedatangan Bruno, refleks menahan napas. "Ibu mau apa?" tanya Bruno dengan suara rendah namun mengancam. "Saya ... saya mau ketemu Milla. Saya khawatir. Saya mau lihat kondisinya, saya--" "Buat apa?" Sela Bruno dingin. Mama Niken terdiam bingung. “Maksudnya?” Bruno menyeringai miring. “Iya, buat apa? Buat ibu siksa lagi? Atau buat ibu bujuk untuk kepentingan kalian? Terutama kepentingan suam

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 7

    Happy ReadingBau antiseptik yang menusuk hidung menjadi hal pertama yang disadari Milla saat kesadarannya perlahan kembali. Kedua kelopak matanya terasa berat seperti ditimpa beban batu, namun usahanya untuk membukanya terus ia lakukan. Perlahan. Sangat perlahan."Nak ... Milla ..."Suara lirih itu terdengar samar di telinganya. Milla mengernyit, mencoba mengenali suara siapa itu. Bukan Mama Niken. Bukan juga Papa Danu. Suara itu ... lembut. Penuh tangis yang tertahan."Milla?"Kali ini suara itu lebih jelas. Milla berhasil membuka matanya sedikit. Cahaya putih dari langit-langit rumah sakit langsung menyikut bola matanya, membuatnya meregangkan kelopak dengan susah payah."Dia sadar, Dok! Milla sadar!"Milla menoleh perlahan ke arah suara itu. Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang sangat ia kenal sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Tangan kurus wanita itu menggenggam tangannya erat-erat."Milla ... nak. Syukurlah kamu sadar juga.""Mama ...?" suara Milla terdengar para

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 6

    "Pendarahannya harus segera dihentikan. Siapkan ruang tindakan!"Suara perawat itu menggema di lorong UGD, membuat Cakra yang masih berlumur darah di kemejanya seketika membeku. Di depannya, ranjang dorong dengan tubuh Milla di atasnya menghilang di balik tirai yang ditarik cepat oleh tim medis."Dok, tolong. Dia hamil, tolong hati-hati sama kandungannya," pinta Cakra, suaranya nyaris tak terkendali."Kami tahu, Pak. Bapak tunggu di luar dulu, ya."Tirai itu tertutup, menyisakan Cakra sendirian dengan detak jantungnya yang berdebar liar. Ia menoleh ke belakang—Bruno baru saja tiba setelah memarkirkan mobil, wajahnya masih menyimpan amarah yang belum tuntas, ponsel menempel di telinganya."Iya, Let. Gue di rumah sakit sekarang," lapor Bruno lewat telepon, suaranya berusaha tenang meski rahangnya mengeras. "Milla lagi ditangani."Di ujung telepon, suara Arletta terdengar tajam dan penuh kendali, tanpa sedikit pun nada panik meski jarak Jogja-Jakarta membuatnya tak bisa berbuat lebih dar

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 5

    Plak!Bruk!Milla terjatuh setelah mendapat tamparan keras dari sang ayah. Beruntung jatuhnya ke atas sofa, bukan lantai. Bisa bahaya kandungannya jika itu terjadi. "Dasar anak kurang ajar!" raung Papa Danu murka lalu memberikan pukulan membabi buta pada tubuh sang anak. Amarah seakan membutakan mata dan hatinya, hingga tak perduli jika sang putri saat ini tengah mengandung. Yang ada dalam pikiran Danu hanya, bagaimana cara membalas kekesalannya pada sang anak? Pria itu terus melampiaskan amarah lewat pukulan-pukulan sekuat yang ia bisa. "Pah! Sudah, pah!" Hanya mulut yang terus meneriakkan kalimat tersebut dari sang ibu. Meski begitu tak berani melerai apalagi menolong.Buk! Buk!Buk!"Rasakan! Rasakan ini! Dasar anak durhaka! Mati saja sekalian kau!" Papa Danu seperti orang kesetanan.Sakit! Sakit sekali. Namun, daripada rasa sakit di tubuh, Milla lebih perduli pada sang jabang bayi. Sebisa mungkin dia memeluk perutnya, agar bayinya tak sampai kena pukul.Sambil memeluk perutny

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 4

    Cakra bergeming menatap kepergian Milla. Hanya ekor mata yang mengantar punggung sang gadis yang terus menjauh, mengecil dan hilang di balik pintu sebuah taksi yang Milla cegat dengan cepat.Kedua tangan Cakra mengepal di sisi tubuh. Menahan kuat hati yang sebenarnya ingin sekali mengejar, merengkuh dan menenangkan gadis pujaannya. Namun, Cakra tahu ia tidak boleh melakukannya saat ini kalau tak ingin makin dijauhi Milla.Sang pujaan butuh waktu sendiri. Itu yang terus diyakininya. Setelah Milla tenang, Cakra berjanji akan menemui gadis itu lagi dan kembali mencari cela agar mau memberi kesempatan dan menjadi miliknya.Setelah memastikan Milla aman dan pergi dengan taksi yang ditumpanginya. Cakra pun gegas kembali ke cafe. Amarah masih nampak terlihat dari rona wajahnya. Meski begitu, Cakra memilih mengabaikan Shabira dan masuk ke ruangannya sendiri. Ia hanya melirik gadis itu dingin saat melintasinya."Lo bener-bener keterlaluan!" desis Kinan. Ikut sebal pada kelakuan Shabira."Gue h

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 3

    Milla melirik sekitar dengan perasaan mulai was-was. Selain tak ingin kembali menjadi buah bibir media yang masih mencarinya. Milla juga malu dan takut semua orang makin menggunjingkan kehamilannya.Mungkin memang beginilah nasib hamil diluar nikah. Tak akan bisa mendapat ketenangan dan kebahagiaan selayaknya wanita hamil pada umumnya. Selalu saja diliputi rasa was-was yang luar biasa."Astaga, Shabira! Lo ngapain?"Belum sempat Milla menjawab. Kinan sudah kembali dan langsung menghampiri. Dia berdiri di tengah-tengah membelakangi Milla. Seperti sedang melindungi wanita hamil itu.Milla yang mendengar nama Shabira pun akhirnya faham tujuan gadis yang menyiramnya barusan. Sedikit banyak Milla teringat beberapa cerita Arletta tentang gadis yang bernama Shabira, Barista yang selalu memusuhi Arletta karena terobsesi jadi pacar Cakra."Lo gak usah ikut campur! Urusan gue cuma sama model kadaluarsa itu!" Shabira menunjuk tegas Milla. Seraya menatap penuh amarah."Urusan apa? Gila lo, ya? Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status