Share

Bab 5

Author: Amih Lilis
last update publish date: 2026-06-07 09:04:31

Plak!

Bruk!

Milla terjatuh setelah mendapat tamparan keras dari sang ayah. Beruntung jatuhnya ke atas sofa, bukan lantai. Bisa bahaya kandungannya jika itu terjadi.

"Dasar anak kurang ajar!" raung Papa Danu murka lalu memberikan pukulan membabi buta pada tubuh sang anak.

Amarah seakan membutakan mata dan hatinya, hingga tak perduli jika sang putri saat ini tengah mengandung. Yang ada dalam pikiran Danu hanya, bagaimana cara membalas kekesalannya pada sang anak? Pria itu terus melampiaskan amarah lewat pukulan-pukulan sekuat yang ia bisa.

"Pah! Sudah, pah!" Hanya mulut yang terus meneriakkan kalimat tersebut dari sang ibu. Meski begitu tak berani melerai apalagi menolong.

Buk!

Buk!

Buk!

"Rasakan! Rasakan ini! Dasar anak durhaka! Mati saja sekalian kau!" Papa Danu seperti orang kesetanan.

Sakit! Sakit sekali. Namun, daripada rasa sakit di tubuh, Milla lebih perduli pada sang jabang bayi. Sebisa mungkin dia memeluk perutnya, agar bayinya tak sampai kena pukul.

Sambil memeluk perutnya dan menahan segala sakit dan nyeri akibat pukulan sang Papa. Milla terus merapalkan doa dalam hati. 'Tuhan ... aku tahu, dosaku sangatlah banyak. Tapi anak ini tidak bersalah, Tuhan. Tolonglah ia. Tolong kirimkan seseorang yang bisa menyelamatkan kami.'

Siapapun, tolong Milla!

'Jika memang hari ini adalah akhir dari hidupnya, mari kira pergi bersama, Nak.'

"Pah! Pah, sudah, Pah!" Sang ibu terus meraung histeris. Mencoba menghentikan aksi suaminya yang bringas.

"Pah, sudah, Pah! Kasian, Milla!"

"Ngapain kasian sama dia? Dia aja nggak pernah kasian sama kita. Bisanya cuma bikin susah aja dari dulu. Lihat saja, sekarang pun dia seenaknya hamil diluar nikah. Bikin malu saja!" racau Danu sambil tangannya terus melayangkan pukulan pada Milla.

"Tapi, Pah. Bagaimana pun Milla anak kamu. Darah daging kamu!"

"Tak sudi aku punya anak seperti dia! Cuih! Menyesal aku menghidupinya selama ini. Bukannya bikin bangga, malah bikin malu terus! Mati saja kau, Milla! Mati!"

Danu yang sudah gelap mata meraih sebuah asbak di atas meja, kemudian bersiap menghantamkan benda tersebut ke kepala sang anak.

Bugh!

Bugh!

"PAPA!!!" teriak sang istri semakin histeris.

Dua kali sang papa menghantam kepalanya. Milla langsung terkapar tak sadarkan diri dengan kepala bersimbah darah.

Namun, Danu yang memang sudah dibutakan oleh amarah, merasa belum puas. Dia mencoba memukul kepala anak gadisnya sekali lagi, tapi---

"Berhenti!"

Gerak tangannya pun seketika terhenti kala dua orang pria tiba-tiba menerobos rumahnya. Salah satunya adalah Bruno. Orang yang Danu kenali sebagai sepupu Arletta dan sering datang ke rumahnya untuk menyampaikan barang-barang titipan Arletta untuk sang anak.

Menyadari hal itu, tubuh Danu seketika menegang kaku. Matanya melotot sempurna dengan ketakutan yang mulai hadir dalam hati.

Mati!

"Milla!" Seorang pria langsung berlari menghampiri Milla yang sudah tak sadarkan diri. Itu adalah cakra.

"Bangsat! Apa yang lo lakukan pada Milla!?" Sementara Bruno meraung marah, dengan wajahnya kelam menakutkan.

Bruno adalah asistennya Arkana, suami Arletta. Terkenal Sangar dan bar-bar. Biasa pasang badan jika Arletta atau Arkana kena masalah. Badannya yang tinggi besar membuat siapapun cukup takut berhadapan dengannya. Kini, pria itu berderap cepat ke arah pria yang menjadi ayah Karmilla, dan langsung meremas kuat baju depan pria itu hingga tertarik tak berdaya.

"Cari mati!"

"Bruno, Sudah! Kita urusi dia nanti. Sekarang ayo bawa Milla ke Rumah sakit!" lerai Cakra yang tak kuasa melihat kondisi Milla yang sudah sangat mengenaskan.

Tubuhnya memar-memar dan kepala berdarah banyak sekali. Jika menuruti ego, jelas Cakra pun sangat ingin menghajar Danu saat ini hingga pria itu lumpuh sekalian. Tapi, saat ini keselamatan Milla lebih penting baginya

Ayah macam apa Danu ini sampai begitu tega menganiaya sang anak sampai begini? Istimewanya Milla juga sedang hamil. Di mana hati nurani Danu sebagai ayah? Ah, tidak. Minimal sebagai manusia? Kenapa begitu tega sekali?

Cakra marah dan ingin sekali membalas Danu. Namun sekali lagi. Ada hal lebih penting yang harus ia lakukan untuk saat ini. Karenanya, biarlah emosinya Cakra tahan untuk sementara.

"Milla ... huhuhu ...." Sang ibu masih merintih pilu di lantai. Tubuhnya langsung lemas tak bertenaga melihat putrinya tak sadarkan diri.

"Lo bawa aja dia duluan. Nanti gua nyusul. Gue kelarin dia dulu." Bruno ternyata keras kepala.

"Tapi, No! Gue nggak bakal bisa fokus dengan keadaan ini." Cakra lebih rasional dari Bruno.

"Lo naik taksi aja kalau gitu."

"Tapi lo juga bakal kena masalah kalau sampai dia juga babak belur."

"Itu biar jadi urusan gue!"

"Letta nggak akan setuju dengan tindakan lo ini."

Bruno malah mendengkus kasar dengan seringai miring. "Lo nggak kenal Letta dengan baik. Dia bahkan akan melakukan lebih kejam nanti jika tahu sahabatnya disakiti. Makanya mumpung dia belum turun tangan, biar gue duluan yang kasih dia pelajaran."

Cakra menyugar rambutnya frustasi. Tidak tahu lagi harus membujuk Bruno dengan cara apalagi. Masalahnya, ia tak ingin Arletta semakin repot dengan masalah lain yang akan ditimbulkan Bruno nanti. Kasian, wanita itu kan sedang hamil juga. Tidak boleh terlalu stress. Tapi ....

"Terserahlah!" Cakra pun akhirnya pasrah. Biarlah urusan Bruno ia aturkan nanti.

Pria itu beralih kembali ke tempat Milla dan gegas menggendong wanita yang menjadi pujaannya itu, ala bridal.

"Permisi!"

Baru saja sampai ambang pintu. Dua orang polisi tiba-tiba datang. Dari yang awalnya menyapa baik-baik, mereka pun langsung siaga setelah melihat kondisi di dalam rumah tersebut.

"Kami dari polsek setempat dan baru saja mendapat laporan dari ibu Arletta. Beliau melaporkan adanya dugaan tindakan kekerasan di rumah ini."

Ah, syukurlah Arletta bergerak cepat. Bahkan sangat cepat dengan berbagai langkah. Sampai kadang langkahnya tak bisa di prediksi orang.

"Betul itu, Pak. Mohon tahan bapak itu. Dia baru saja menganiaya putrinya ini. Kami, maksud saya, saya dan teman saya itu juga dihubungi Arletta tadi. Makanya kami ada di sini untuk menolong Milla, sahabatnya." Cakra gegas menjelaskan duduk perkara.

Bruno di tempatnya terpaksa melepaskan cengkramannya di baju Danu, seraya mendengkus kesal karena gagal melampiaskan amarahnya.

Sialan! Kenapa sih, dia harus punya sepupu secerdik Arletta?

Sementara Danu yang baru terlepas dari Bruno langsung terhuyung lemas hingga jatuh terduduk.

Tamatlah sudah riwayatnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 8

    Happy Reading "Biarkan saya masuk! Saya ibu kandungnya! Saya punya hak untuk bertemu anak saya!" Teriakan Mama Niken menggema di lorong rumah sakit. Beberapa pasien dan keluarga pasien lain mulai menoleh dengan pandangan penasaran. Satpam yang menahannya terlihat kesulitan karena wanita itu terus meronta-ronta seperti orang kesetanan. "Ibu, mohon tenang. Pasien sedang istirahat. Ibu tidak bisa--" "Diam kamu! Saya ibunya! Saya mau ketemu anak saya!" Bruno melangkah mendekat dengan wajah masam. Tubuhnya yang besar dan tinggi langsung membuat suasana menjadi tegang. Mama Niken yang melihat kedatangan Bruno, refleks menahan napas. "Ibu mau apa?" tanya Bruno dengan suara rendah namun mengancam. "Saya ... saya mau ketemu Milla. Saya khawatir. Saya mau lihat kondisinya, saya--" "Buat apa?" Sela Bruno dingin. Mama Niken terdiam bingung. “Maksudnya?” Bruno menyeringai miring. “Iya, buat apa? Buat ibu siksa lagi? Atau buat ibu bujuk untuk kepentingan kalian? Terutama kepentingan suam

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 7

    Happy ReadingBau antiseptik yang menusuk hidung menjadi hal pertama yang disadari Milla saat kesadarannya perlahan kembali. Kedua kelopak matanya terasa berat seperti ditimpa beban batu, namun usahanya untuk membukanya terus ia lakukan. Perlahan. Sangat perlahan."Nak ... Milla ..."Suara lirih itu terdengar samar di telinganya. Milla mengernyit, mencoba mengenali suara siapa itu. Bukan Mama Niken. Bukan juga Papa Danu. Suara itu ... lembut. Penuh tangis yang tertahan."Milla?"Kali ini suara itu lebih jelas. Milla berhasil membuka matanya sedikit. Cahaya putih dari langit-langit rumah sakit langsung menyikut bola matanya, membuatnya meregangkan kelopak dengan susah payah."Dia sadar, Dok! Milla sadar!"Milla menoleh perlahan ke arah suara itu. Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang sangat ia kenal sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Tangan kurus wanita itu menggenggam tangannya erat-erat."Milla ... nak. Syukurlah kamu sadar juga.""Mama ...?" suara Milla terdengar para

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 6

    "Pendarahannya harus segera dihentikan. Siapkan ruang tindakan!"Suara perawat itu menggema di lorong UGD, membuat Cakra yang masih berlumur darah di kemejanya seketika membeku. Di depannya, ranjang dorong dengan tubuh Milla di atasnya menghilang di balik tirai yang ditarik cepat oleh tim medis."Dok, tolong. Dia hamil, tolong hati-hati sama kandungannya," pinta Cakra, suaranya nyaris tak terkendali."Kami tahu, Pak. Bapak tunggu di luar dulu, ya."Tirai itu tertutup, menyisakan Cakra sendirian dengan detak jantungnya yang berdebar liar. Ia menoleh ke belakang—Bruno baru saja tiba setelah memarkirkan mobil, wajahnya masih menyimpan amarah yang belum tuntas, ponsel menempel di telinganya."Iya, Let. Gue di rumah sakit sekarang," lapor Bruno lewat telepon, suaranya berusaha tenang meski rahangnya mengeras. "Milla lagi ditangani."Di ujung telepon, suara Arletta terdengar tajam dan penuh kendali, tanpa sedikit pun nada panik meski jarak Jogja-Jakarta membuatnya tak bisa berbuat lebih dar

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 5

    Plak!Bruk!Milla terjatuh setelah mendapat tamparan keras dari sang ayah. Beruntung jatuhnya ke atas sofa, bukan lantai. Bisa bahaya kandungannya jika itu terjadi. "Dasar anak kurang ajar!" raung Papa Danu murka lalu memberikan pukulan membabi buta pada tubuh sang anak. Amarah seakan membutakan mata dan hatinya, hingga tak perduli jika sang putri saat ini tengah mengandung. Yang ada dalam pikiran Danu hanya, bagaimana cara membalas kekesalannya pada sang anak? Pria itu terus melampiaskan amarah lewat pukulan-pukulan sekuat yang ia bisa. "Pah! Sudah, pah!" Hanya mulut yang terus meneriakkan kalimat tersebut dari sang ibu. Meski begitu tak berani melerai apalagi menolong.Buk! Buk!Buk!"Rasakan! Rasakan ini! Dasar anak durhaka! Mati saja sekalian kau!" Papa Danu seperti orang kesetanan.Sakit! Sakit sekali. Namun, daripada rasa sakit di tubuh, Milla lebih perduli pada sang jabang bayi. Sebisa mungkin dia memeluk perutnya, agar bayinya tak sampai kena pukul.Sambil memeluk perutny

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 4

    Cakra bergeming menatap kepergian Milla. Hanya ekor mata yang mengantar punggung sang gadis yang terus menjauh, mengecil dan hilang di balik pintu sebuah taksi yang Milla cegat dengan cepat.Kedua tangan Cakra mengepal di sisi tubuh. Menahan kuat hati yang sebenarnya ingin sekali mengejar, merengkuh dan menenangkan gadis pujaannya. Namun, Cakra tahu ia tidak boleh melakukannya saat ini kalau tak ingin makin dijauhi Milla.Sang pujaan butuh waktu sendiri. Itu yang terus diyakininya. Setelah Milla tenang, Cakra berjanji akan menemui gadis itu lagi dan kembali mencari cela agar mau memberi kesempatan dan menjadi miliknya.Setelah memastikan Milla aman dan pergi dengan taksi yang ditumpanginya. Cakra pun gegas kembali ke cafe. Amarah masih nampak terlihat dari rona wajahnya. Meski begitu, Cakra memilih mengabaikan Shabira dan masuk ke ruangannya sendiri. Ia hanya melirik gadis itu dingin saat melintasinya."Lo bener-bener keterlaluan!" desis Kinan. Ikut sebal pada kelakuan Shabira."Gue h

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 3

    Milla melirik sekitar dengan perasaan mulai was-was. Selain tak ingin kembali menjadi buah bibir media yang masih mencarinya. Milla juga malu dan takut semua orang makin menggunjingkan kehamilannya.Mungkin memang beginilah nasib hamil diluar nikah. Tak akan bisa mendapat ketenangan dan kebahagiaan selayaknya wanita hamil pada umumnya. Selalu saja diliputi rasa was-was yang luar biasa."Astaga, Shabira! Lo ngapain?"Belum sempat Milla menjawab. Kinan sudah kembali dan langsung menghampiri. Dia berdiri di tengah-tengah membelakangi Milla. Seperti sedang melindungi wanita hamil itu.Milla yang mendengar nama Shabira pun akhirnya faham tujuan gadis yang menyiramnya barusan. Sedikit banyak Milla teringat beberapa cerita Arletta tentang gadis yang bernama Shabira, Barista yang selalu memusuhi Arletta karena terobsesi jadi pacar Cakra."Lo gak usah ikut campur! Urusan gue cuma sama model kadaluarsa itu!" Shabira menunjuk tegas Milla. Seraya menatap penuh amarah."Urusan apa? Gila lo, ya? Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status