LOGIN(Sequel Harta, Tahta, Obsesi Gila) Milla hamil di luar nikah. Tunangannya telah pergi untuk selamanya, meninggalkannya sendirian bersama bayi yang tumbuh di rahimnya. Bagi orang lain, bayi itu adalah aib. Bagi Milla, dia adalah alasan untuk tetap hidup. Akankah Milla mampu mempertahankan anaknya di tengah dunia yang terus menghakiminya?
View More"Pa? Papa yakin mau melakukan ini? Mama ... kok gak tega ya, Pa?"
"Husst! Udahlah, Ma. Nurut aja. Ini juga demi kebaikan Milla." Langkah Milla sontak terhenti kala namanya terdengar di percakapan dua orang dari dalam rumah. Jelas, Milla sangat mengenal dua suara itu. Mereka adalah Papa dan Mamanya. "Tapi ... gimana kalau Milla ikut kenapa-napa? Arletta pasti bakal marah banget, dan semua saham yang diberikan ditarik kembali. Kita--" "Makanya Mama kasihnya dikit-dikit aja. Tapi tiap hari. Biar nanti yang meninggal itu anaknya saja. Milla tetap hidup." Degh! Milla refleks memeluk perutnya sendiri kala obrolan dua orang itu kembali terdengar. Kini mereka membawa-bawa bayi yang masih ada dalam perut Milla. "Tapi--" "Sudahlah, Ma. Jangan banyak komentar lagi. Mama turuti saja apa perintah Papa. Pokoknya Papa gak mau sampai anak itu lahir ke dunia. Papa gak mau makin malu dengan kehadiran anak haram itu, Ma!" Milla terhuyung lunglai. Tubuhnya hampir merosot karena tiba-tiba merasa lemas mendengar pengakuan dari mulut yang diyakini milik papanya. Tega! Bagaimana mungkin mereka setega itu? Bukankah, mereka mengatakan menerima Milla dan anak yang di kandungnya dengan senang hati. Lalu, apa ini? Tangan Milla mengepal kuat menahan emosi. Hatinya sakit sekali mengetahui dusta kedua orang tuanya selama ini. Milla tahu dia juga salah karena mengandung anak tanpa adanya sebuah pernikahan. Namun, bukankah kedua orang tuanya sudah dijelaskan duduk masalahnya. Arletta, sahabatnya bahkan sudah memberikan beberapa saham untuk jaminan anak ini. Agar tidak merepotkan mereka juga sebagai balas jasa ayah anak ini di masa lalu pada Arletta. Ini anak Elkava. Kekasihnya yang sudah tiada. Sahabat Arletta dan Satu-satunya penerus dari laki-laki yang sangat amat Milla cintai. Meski anak ini hadir tanpa adanya pernikahan, tapi Milla mana tega membuangnya. Justru bagi Milla, anak ini adalah semangat hidupnya yang baru, setelah semua kemalangan yang menimpa beberapa bulan lalu. "Milla, kamu sedang apa?" Tiba-tiba suara sang Mama menginterupsi. Entah sejak kapan Mamanya sudah keluar rumah dan menemukannya. Sekuat tenaga Milla menekan amarahnya dalam dada. Menyeka diam-diam air mata yang sempat jatuh tadi. Kemudian .... "Eh, Mama. Milla lagi cari ikat rambut, Mah. Tadi jatuh." Milla membuat kebohongan. Berusaha berakting biasa saja, seolah tak pernah mendengar obrolan Mamanya dan sang papa. "Owalah ... itu toh!" Mama Niken menghela nafas lega. "Mama kira kamu jatuh. Khawatir Mama sama kandungan kamu." 'Bulishit!' Milla memaki dalam hati. Seandainya Milla tak mendengar obrolan mereka tadi. Tentu dia akan sangat bahagia mendengar ucapan penuh perhatian dari sang Mama barusan. "Kandungan Milla gak papa, kok. Mama gak usah khawatir." Milla berusaha memberikan senyuman secerah mungkin pada sang Ibu yang baru saja diketahui ternyata masih keturunan bunglon. Pintar sekali berkamuflase. "Syukurlah. Ya udah kalau gitu. Ayo masuk. Mama udah buatkan susu hangat buat kamu." Mama Niken lalu membimbing Milla untuk masuk ke dalam rumah. Milla hanya patuh. "Eh, anak Papa udah pulang. Gimana? Kata dokter kandungan, kamu baik-baik saja, kan?" Meski dalam hati Milla jengah akan aksi busuk sang Papa. Tetap Milla berikan senyum cerah seperti biasanya. "Baik, kok, Pah." "Bayinya?" "Sehat, dong. Siapa dulu Mamanya!" "Syukurlah." Papa Danu mengusap rambut Milla dengan sayang. "Ya sudah kamu istirahat, gih. Pasti capek banget, kan?" Milla hanya mengangguk. Baru akan beranjak dari duduknya. Tiba-tiba sang Papa menahan lengannya. Membuat langkah Milla urung. "Sampai lupa. Mamamu tadi udah bikinin kamu susu hamil, loh. Iya kan Mah?" "Ah, iya!" Mama Niken menepuk keningnya. Gegas dia mengambil minuman berwarna putih itu dari dapur tanpa di perintah lagi. Sementara Milla mengepalkan tangan diam-diam. "Nih, Mama udah buatin buat kamu." Milla meneguk saliva kelat diam-diam. Setelah mendengar obrolan kedua orang tuanya tadi. Milla jadi parno menerima makanan dan minuman dari orang tuanya. "Kok diliatin aja. Di minum, dong! Mumpung masih hangat," tegur sang Papa. "Iya, sayang. Diminum dulu ini susunya. Mama tahu kamu pasti pas pulang capek dan ingin segera istirahat. Tapi kan, susu hamil itu penting. Makanya, Mama buatin kamu duluan. Biar pas datang kamu bisa langsung minum dan segera istirahat. Ini, ayo minum dulu." Mamanya makin menyodorkan minuman yang biasanya terlihat menggiurkan, namun kini menyeramkan ke hadapan Milla. 'Harus bagaimana menolaknya ya, Tuhan. Aku tak mau sampai bayiku kenapa-napa!' Milla membatin resah dalam hati. "Milla, kok diam aja? Ayo cepat di minum." Sang Papa terdengar sedikit memaksa kini. Perlahan Milla pun menerima gelas tersebut dengan tangan yang diusahakan tidak gemetar. Seraya terus memutar otaknya untuk mencari jalan keluar. "Bagaimana ini?' Batin Milla semakin gusar. Kalau Milla tolak. Takutnya Papa Mamanya akan curiga. Apalagi tadi ia sempat terciduk diluar rumah oleh sang Mama. Jika mereka tahu Milla sudah mengetahui niat jahat mereka pada sang jabang bayi. Milla takut mereka nekad membuat bayi Milla gugur dengan kekerasan. Tetapi jika tidak di tolak .... Milla meneguk saliva kelat lagi sambil melirik perutnya diam-diam. Dia sungguh tak mau kehilangan bayinya. Satu-satunya kenangan dari Elkava. Meski kata orang 'aib'. Bagi Milla dia justru keajaiban. Lagipula, anak ini tidak salah, perbuat Milla dan Elkava yang salah dan dosa. Anak ini tetap suci. "Makasih Mama!" Milla terpaksa mengambil gelas tersebut dari sang Mama. Namun, tidak segera meminumnya. "Ayo cepat di minum!" titah sang Papa lagi. Mulai memaksa. "Iya, Pa. Ini juga mau minum, kok," sahut Milla. Lalu mendekatkan gelas tersebut ke arah bibirnya. Terlihat sekali jika kedua orangnya menunggu dengan sangat berharap. Hal itu membuat kecurigaan pada minuman ini semakin lekat. "Astaga! Milla lupa!" seru Milla tiba-tiba menjauhkan gelas tersebut dari mulutnya. Terlihat sang Papa menghela nafas kecewa karenanya. Milla melirik miris pada sang papa. Seingin itukah ayahnya menghilangkan buah cinta Milla dan Elkava? "Kenapa Milla?" Sang Mama yang bertanya. "Tadi Letta minta Milla mengirimkan nomer WO. Mama tahukan dia mau adain resepsi?" Beruntung akhirnya Milla mendapatkan sebuah alasan masuk akal di detik terakhir. Arletta adalah jaminan keselamatannya di rumah ini. Namanya yang kini sangat populer setelah identitas tersembunyinya terungkap, membuat orang tuanya segan. Meski tak bisa langsung menghilangkan niat jahat seseorang, tetapi harusnya cukup membuat mereka waspada. Arletta adalah pewaris dari salah satu perusahaan raksasa internasional. "Ya, udah. Kalau gitu Milla ke atas dulu, ya? Mau cari kartu nama WO kenalan Milla!" "Loh, tapi susunya?" Sang Papa terlihat tak terima dengan aksi Milla yang tak jadi minum susu. Tersenyum, Milla pun membawa serta gelas tersebut bersamanya. "Milla minum di atas, ya? Tenang. Pasti Milla habiskan, kok! Inikan dibuat oleh Mama dengan campuran cinta kasih, kan?" Cinta kasih busuk berupa racun! batin Milla menambahkan. Mendengar itu sang Papa tak jadi kecewa. Dia mengiyakan saja ucapan Milla. "Jangan lupa. Susunya di habiskan, ya? Demi calon cucu Papa!" Miris hati Milla mendengar seruan itu. Bisa-bisanya Papa Danu berkata begitu manis, namun faktanya berbanding terbalik. "Iya, Papa!" Milla tetap berusaha menjawab seriang mungkin. Dengan senyum cerah seperti biasanya. Sesampainya di dalam kamar. Milla langsung menutup pintu serapat mungkin. Kemudian meluruh jatuh dengan tangis tertahan. Hatinya masih sangat sakit kala kembali teringat ucapan sang Papa yang tak ingin melihat bayinya sampai lahir. Ia menatap nanar gelas susu yang masih berada di tangannya. Tuhan ... bagaimana ini? Bagaimana cara Milla lepas dari semua niat jahat papanya? Kali ini Milla boleh selamat. Tapi nanti? Harus dengan cara apa lagi ia menghindar?"Pendarahannya harus segera dihentikan. Siapkan ruang tindakan!"Suara perawat itu menggema di lorong UGD, membuat Cakra yang masih berlumur darah di kemejanya seketika membeku. Di depannya, ranjang dorong dengan tubuh Milla di atasnya menghilang di balik tirai yang ditarik cepat oleh tim medis."Dok, tolong. Dia hamil, tolong hati-hati sama kandungannya," pinta Cakra, suaranya nyaris tak terkendali."Kami tahu, Pak. Bapak tunggu di luar dulu, ya."Tirai itu tertutup, menyisakan Cakra sendirian dengan detak jantungnya yang berdebar liar. Ia menoleh ke belakang—Bruno baru saja tiba setelah memarkirkan mobil, wajahnya masih menyimpan amarah yang belum tuntas, ponsel menempel di telinganya."Iya, Let. Gue di rumah sakit sekarang," lapor Bruno lewat telepon, suaranya berusaha tenang meski rahangnya mengeras. "Milla lagi ditangani."Di ujung telepon, suara Arletta terdengar tajam dan penuh kendali, tanpa sedikit pun nada panik meski jarak Jogja-Jakarta membuatnya tak bisa berbuat lebih dar
Plak!Bruk!Milla terjatuh setelah mendapat tamparan keras dari sang ayah. Beruntung jatuhnya ke atas sofa, bukan lantai. Bisa bahaya kandungannya jika itu terjadi. "Dasar anak kurang ajar!" raung Papa Danu murka lalu memberikan pukulan membabi buta pada tubuh sang anak. Amarah seakan membutakan mata dan hatinya, hingga tak perduli jika sang putri saat ini tengah mengandung. Yang ada dalam pikiran Danu hanya, bagaimana cara membalas kekesalannya pada sang anak? Pria itu terus melampiaskan amarah lewat pukulan-pukulan sekuat yang ia bisa. "Pah! Sudah, pah!" Hanya mulut yang terus meneriakkan kalimat tersebut dari sang ibu. Meski begitu tak berani melerai apalagi menolong.Buk! Buk!Buk!"Rasakan! Rasakan ini! Dasar anak durhaka! Mati saja sekalian kau!" Papa Danu seperti orang kesetanan.Sakit! Sakit sekali. Namun, daripada rasa sakit di tubuh, Milla lebih perduli pada sang jabang bayi. Sebisa mungkin dia memeluk perutnya, agar bayinya tak sampai kena pukul.Sambil memeluk perutny
Cakra bergeming menatap kepergian Milla. Hanya ekor mata yang mengantar punggung sang gadis yang terus menjauh, mengecil dan hilang di balik pintu sebuah taksi yang Milla cegat dengan cepat.Kedua tangan Cakra mengepal di sisi tubuh. Menahan kuat hati yang sebenarnya ingin sekali mengejar, merengkuh dan menenangkan gadis pujaannya. Namun, Cakra tahu ia tidak boleh melakukannya saat ini kalau tak ingin makin dijauhi Milla.Sang pujaan butuh waktu sendiri. Itu yang terus diyakininya. Setelah Milla tenang, Cakra berjanji akan menemui gadis itu lagi dan kembali mencari cela agar mau memberi kesempatan dan menjadi miliknya.Setelah memastikan Milla aman dan pergi dengan taksi yang ditumpanginya. Cakra pun gegas kembali ke cafe. Amarah masih nampak terlihat dari rona wajahnya. Meski begitu, Cakra memilih mengabaikan Shabira dan masuk ke ruangannya sendiri. Ia hanya melirik gadis itu dingin saat melintasinya."Lo bener-bener keterlaluan!" desis Kinan. Ikut sebal pada kelakuan Shabira."Gue h
Milla melirik sekitar dengan perasaan mulai was-was. Selain tak ingin kembali menjadi buah bibir media yang masih mencarinya. Milla juga malu dan takut semua orang makin menggunjingkan kehamilannya.Mungkin memang beginilah nasib hamil diluar nikah. Tak akan bisa mendapat ketenangan dan kebahagiaan selayaknya wanita hamil pada umumnya. Selalu saja diliputi rasa was-was yang luar biasa."Astaga, Shabira! Lo ngapain?"Belum sempat Milla menjawab. Kinan sudah kembali dan langsung menghampiri. Dia berdiri di tengah-tengah membelakangi Milla. Seperti sedang melindungi wanita hamil itu.Milla yang mendengar nama Shabira pun akhirnya faham tujuan gadis yang menyiramnya barusan. Sedikit banyak Milla teringat beberapa cerita Arletta tentang gadis yang bernama Shabira, Barista yang selalu memusuhi Arletta karena terobsesi jadi pacar Cakra."Lo gak usah ikut campur! Urusan gue cuma sama model kadaluarsa itu!" Shabira menunjuk tegas Milla. Seraya menatap penuh amarah."Urusan apa? Gila lo, ya? Ka






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews