Share

Bab 3

Author: Amih Lilis
last update publish date: 2023-07-30 11:21:24

Milla melirik sekitar dengan perasaan mulai was-was. Selain tak ingin kembali menjadi buah bibir media yang masih mencarinya. Milla juga malu dan takut semua orang makin menggunjingkan kehamilannya.

Mungkin memang beginilah nasib hamil diluar nikah. Tak akan bisa mendapat ketenangan dan kebahagiaan selayaknya wanita hamil pada umumnya. Selalu saja diliputi rasa was-was yang luar biasa.

"Astaga, Shabira! Lo ngapain?"

Belum sempat Milla menjawab. Kinan sudah kembali dan langsung menghampiri. Dia berdiri di tengah-tengah membelakangi Milla. Seperti sedang melindungi wanita hamil itu.

Milla yang mendengar nama Shabira pun akhirnya faham tujuan gadis yang menyiramnya barusan. Sedikit banyak Milla teringat beberapa cerita Arletta tentang gadis yang bernama Shabira, Barista yang selalu memusuhi Arletta karena terobsesi jadi pacar Cakra.

"Lo gak usah ikut campur! Urusan gue cuma sama model kadaluarsa itu!" Shabira menunjuk tegas Milla. Seraya menatap penuh amarah.

"Urusan apa? Gila lo, ya? Kalau memang ada urusan. Lo kan bisa ngomongnya di tempat lebih pribadi. Gak di tempat umum kayak gini. Lo bikin malu aja tahu, gak?" Kinan menegur tak kalah tegas.

"Peduli setan! Justru ini yang pasti dia inginkan. Sensasi agar namanya naik lagi. Huh, dasar model kadaluarsa murahan!"

Hati Milla begitu sakit mendengarnya. Sensasi? Demi Tuhan, seumur-umur menjadi model di masa lalu, Milla justru menghindari yang namanya sensasi. Akan tetapi namanya dunia entertainment. Sekuat apa pun Milla menghindar, ada saja gosip miring yang menyenggolnya. Lalu apa itu salah Milla?

"Aku sudah keluar dari dunia model. Aku gak butuh sensasi lagi!" Milla akhirnya buka suara.

"Halah bacot! Cewek gatel kayak lo mana berani keluar dari dunia glamor itu. Bilang aja kalau lo emang udah gak laku di sana, makanya sok-sokan bilang keluar. Aslinya, lo pasti lagi nyari cara buat naik lagi, kan? Makanya lo ngedeketin Pak Cakra! Iya kan?" tuduhnya tanpa hati. "Kenapa? Apa lobang lo emang segatel itu, ya? Sampai pacar baru aja mati, lo udah nyari penis yang lain buat masukin lo? Kalau gitu, kenapa gak jadi pecun aja di jalan? Itu bisa bikin lo lebih puas nikmatin burungnya cowok!"

Plak!

Milla tidak kuasa menahan emosi. Ucapan Shabira benar-benar melukai hatinya. Karenanya tanpa sadar tangannya sudah terayun begitu saja ke arah pipi Shabira, dan kini meninggalkan cap di sana.

Milla memang hamil diluar pernikahan. Tetapi demi Tuhan. Milla hanya melakukannya dengan satu pria. Tentu saja sebelum kejadian nahas itu terjadi. Milla selama ini hanya melakukan itu dengan Elkava, tunangannya sendiri. Milla tahu begitu pun juga salah. Ia akui, ia terlalu bucin saat itu dan percaya jika Elkava akan menjadi satu-satunya pria dalam hidupnya.

Cinta telah membuat Milla lupa. Masih ada Tuhan sang pemilik takdir. Meski Elkava mungkin memang seorang pria setia dan tak akan menduakannya. Tetapi, pria itu juga tak bisa mengelak dari takdir kematian. Sekarang? Setelah begini, siapa yang harus Milla salahkan?

Tuhan yang seenaknya mengambil pacarnya? Elkava yang tak bisa melawan takdir hingga harus meninggalkannya? Atau mungkin dirinya yang terlalu bodoh dan tak bisa menjaga diri sampai ikrar suci dilaksanakan? Entahlah ... yang jelas sekarang semuanya sudah terlanjur menjadi bubur. Milla tak bisa kembali ke masa lalu. Yang bisa Milla lakukan hanya menjaga titipannya, membayar dosa yang terlanjur terjadi.

"Jaga ucapan kamu! Aku tidak semurah yang kamu katakan!" geram Milla dingin.

Bukannya takut, Shabira malah menyeringai menatap Milla. Tangannya masih memegang sebelah pipinya yang terlihat sangat memerah akibat cap tangan Milla.

"Kalau lo marah, berarti lo mengakui kata-kata gue itu bener, iya kan?" hinanya lagi. "Ah, tentu saja benar. Kalau gak, mana mungkin lo ada di sini buat mepetin Pak Cakra. Kenapa? Kuburan pacar lo belum kering, lobang lo udah kering duluan, ya? Makanya lo mepetin Pak Carka biar ada yang basahin lagi, sekaligus ada yang bisa lo jebak buat jadi bapak anak lo. Anak haram yang pasti cuma jadi sampah masyarakat doang nantinya!"

"Shabira!"

Sedetik setelahnya. Bukan hanya Milla yang terlonjak kaget mendengar suara lantang itu. Tetapi Shabira dan orang-orang yang ada di sana. Wajah Gadis yang baru melontarkan hinaan pada Milla bahkan langsung memucat setelahnya.

Cakra datang dan langsung menghampiri dengan raut wajah kelam. Tatapannya dingin menatap lurus ke arah Shabira. Milla dapat melihat tubuh gadis yang tadi begitu sok jagoan itu mulai bergetar.

"Apa maksud kamu berani membuat kegaduhan seperti ini di cafe? Sudah bosan kerja kamu, hah?" tanya Cakra dingin. Shabira membuang wajah begitu saja.

"Jawab Shabira! Kamu masih punya mulut, kan?" cecar Cakra.

"Saya tidak niat membuat kegaduhan, kok. Saya cuma tidak suka melihat dia!" Shabira akhirnya menjawab, sambil melirik Milla malas dengan ekor matanya.

"Apa hak kamu? Dia datang ke sini bukan buat bertemu kamu, kan, Tapi saya."

"Justru itu saya gak suka!" tukas Shabira cepat. "Saya gak suka lihat Bapak dideketin cewek gatel macam dia!" imbuhnya lagi kejam. Terang-terangan menunjukan ketidaksukaannya pada Milla.

"Berhenti mengatakan hal itu, Shabira! Karmilla tak seperti yang kamu tuduhkan!" Cakra mendesis tak suka.

"Halah! Kalau bukan cewek gatal, terus apa dong namanya? Buktinya, pacarnya baru meninggal saja, dia udah mepetin bapak. Udah gitu gak sadar diri lagi kalau udah hamil diluar nikah. Seenaknya saja minta deketin bapak dan minta dinikahi. Dasar murahan! Hamil sama siapa, minta nikahnya sama siapa? Heh, harusnya kamu nikah sana, sama hantu pacarmu. Jangan deketin Pak Cakra. Berbuat dosa kok ngajak-ngajak!"

"Shabira, cukup!" sergah Cakra lagi semakin marah. "Kamu kalau tidak tahu apa-apa, gak usah banyak omong."

"Memang apa yang harus saya tahu tentang wanita murahan ini?" balas Shabira tak kalah cepat. "Cara dia menjual diri? Cara dia memuaskan lelaki di ranjang? Atau cara dia bikin anak haram itu? Atau apa, hah? Gak ada hal penting yang harus saya tahu."

Cukup sudah! Milla sudah tak tahan lagi. Dia memang salah dengan tak bisa menjaga diri, tapi dia bukan murahan. Milla benar-benar sakit hati sekarang. Wanita itu pun segera mengambil tasnya di atas meja, lalu gegas pergi dari sana.

"Milla!" Cakra berniat mengejar, namun tangannya cepat di tarik Shabira.

"Ngapain sih Pak ngejar wanita murahan itu?"

"Diam kamu!"

"Memang benar kan dia murahan? Kalau gak murahan mana mungkin hamil diluar nikah. Sudahlah, Pak. Gak usah pedulikan dia. Jangan jadi bodoh untuk menikahinya. Wanita murahan hanya akan membawa sial, begitu juga dengan anak haram yang dia kandung. Mereka hanya--"

"Kamu ngomongin Milla atau ibumu? Jangan lupa dengan statusmu sendiri, Shabira!" balas Cakra telak. Sukses membuat Shabira terhenyak di tempatnya.

Setelahnya, Cakra menepis tangan Shabira kasar, lalu berlari cepat mengejar Milla. Beruntung ia memiliki kaki yang panjang, Cakra jadi tidak kesulitan mengejar Milla.

"Milla, tunggu!" Cakra mencekal lengan Milla. Namun langsung dihentak kasar gadis itu.

"Lepaskan!"

"Milla, tolong--"

"Jangan sentuh aku!" teriak Milla lantang ketika Cakra hendak menggapai tangan gadis itu kembali. Membuat langsung terkesiap di tempatnya.

Setelahnya, Cakra terdiam. Sementara Milla langsung menyembunyikan kedua tangannya di belakang tubuh. Air mata sudah menggenang di kedua mata gadis itu. Membuat hati Cakra ikut merepih melihatnya. Lebih dari itu, Cakra melihat sinar mata Milla berbeda.

"Milla--"

"Jangan mendekat!" larang Milla melangkah mundur, mengikuti langkah Cakra yang ingin mendekat.

"Jangan sentuh aku!" ucap Milla lagi. "Aku ... tidak suka ... di sentuh," imbuhnya lagi dengan bibir mulai bergetar.

Tatap mata Milla semakin berbeda, membuat Cakra sadar apa yang tengah terjadi pada Milla. Menghela napas panjang sesaat, Cakra pun mengangkat tangannya layaknya orang menyerah. Kemudian melangkah mundur tiga langkah.

"Baik, baik. Saya tidak akan menyentuhmu," ucap Cakra menenangkan Milla. Gadis itu hanya bergeming di tempatnya.

"Saya juga minta maaf untuk hari ini. Tolong maafkan saya. Saya benar-benar--"

"Kita bicara nanti!" sela Milla cepat. Lalu membalik badan dan melangkah pergi begitu saja. Kali ini Cakra tidak mencegah. Ia tahu Milla butuh waktu untuk sendiri.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 8

    Happy Reading "Biarkan saya masuk! Saya ibu kandungnya! Saya punya hak untuk bertemu anak saya!" Teriakan Mama Niken menggema di lorong rumah sakit. Beberapa pasien dan keluarga pasien lain mulai menoleh dengan pandangan penasaran. Satpam yang menahannya terlihat kesulitan karena wanita itu terus meronta-ronta seperti orang kesetanan. "Ibu, mohon tenang. Pasien sedang istirahat. Ibu tidak bisa--" "Diam kamu! Saya ibunya! Saya mau ketemu anak saya!" Bruno melangkah mendekat dengan wajah masam. Tubuhnya yang besar dan tinggi langsung membuat suasana menjadi tegang. Mama Niken yang melihat kedatangan Bruno, refleks menahan napas. "Ibu mau apa?" tanya Bruno dengan suara rendah namun mengancam. "Saya ... saya mau ketemu Milla. Saya khawatir. Saya mau lihat kondisinya, saya--" "Buat apa?" Sela Bruno dingin. Mama Niken terdiam bingung. “Maksudnya?” Bruno menyeringai miring. “Iya, buat apa? Buat ibu siksa lagi? Atau buat ibu bujuk untuk kepentingan kalian? Terutama kepentingan suam

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 7

    Happy ReadingBau antiseptik yang menusuk hidung menjadi hal pertama yang disadari Milla saat kesadarannya perlahan kembali. Kedua kelopak matanya terasa berat seperti ditimpa beban batu, namun usahanya untuk membukanya terus ia lakukan. Perlahan. Sangat perlahan."Nak ... Milla ..."Suara lirih itu terdengar samar di telinganya. Milla mengernyit, mencoba mengenali suara siapa itu. Bukan Mama Niken. Bukan juga Papa Danu. Suara itu ... lembut. Penuh tangis yang tertahan."Milla?"Kali ini suara itu lebih jelas. Milla berhasil membuka matanya sedikit. Cahaya putih dari langit-langit rumah sakit langsung menyikut bola matanya, membuatnya meregangkan kelopak dengan susah payah."Dia sadar, Dok! Milla sadar!"Milla menoleh perlahan ke arah suara itu. Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang sangat ia kenal sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Tangan kurus wanita itu menggenggam tangannya erat-erat."Milla ... nak. Syukurlah kamu sadar juga.""Mama ...?" suara Milla terdengar para

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 6

    "Pendarahannya harus segera dihentikan. Siapkan ruang tindakan!"Suara perawat itu menggema di lorong UGD, membuat Cakra yang masih berlumur darah di kemejanya seketika membeku. Di depannya, ranjang dorong dengan tubuh Milla di atasnya menghilang di balik tirai yang ditarik cepat oleh tim medis."Dok, tolong. Dia hamil, tolong hati-hati sama kandungannya," pinta Cakra, suaranya nyaris tak terkendali."Kami tahu, Pak. Bapak tunggu di luar dulu, ya."Tirai itu tertutup, menyisakan Cakra sendirian dengan detak jantungnya yang berdebar liar. Ia menoleh ke belakang—Bruno baru saja tiba setelah memarkirkan mobil, wajahnya masih menyimpan amarah yang belum tuntas, ponsel menempel di telinganya."Iya, Let. Gue di rumah sakit sekarang," lapor Bruno lewat telepon, suaranya berusaha tenang meski rahangnya mengeras. "Milla lagi ditangani."Di ujung telepon, suara Arletta terdengar tajam dan penuh kendali, tanpa sedikit pun nada panik meski jarak Jogja-Jakarta membuatnya tak bisa berbuat lebih dar

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 5

    Plak!Bruk!Milla terjatuh setelah mendapat tamparan keras dari sang ayah. Beruntung jatuhnya ke atas sofa, bukan lantai. Bisa bahaya kandungannya jika itu terjadi. "Dasar anak kurang ajar!" raung Papa Danu murka lalu memberikan pukulan membabi buta pada tubuh sang anak. Amarah seakan membutakan mata dan hatinya, hingga tak perduli jika sang putri saat ini tengah mengandung. Yang ada dalam pikiran Danu hanya, bagaimana cara membalas kekesalannya pada sang anak? Pria itu terus melampiaskan amarah lewat pukulan-pukulan sekuat yang ia bisa. "Pah! Sudah, pah!" Hanya mulut yang terus meneriakkan kalimat tersebut dari sang ibu. Meski begitu tak berani melerai apalagi menolong.Buk! Buk!Buk!"Rasakan! Rasakan ini! Dasar anak durhaka! Mati saja sekalian kau!" Papa Danu seperti orang kesetanan.Sakit! Sakit sekali. Namun, daripada rasa sakit di tubuh, Milla lebih perduli pada sang jabang bayi. Sebisa mungkin dia memeluk perutnya, agar bayinya tak sampai kena pukul.Sambil memeluk perutny

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 4

    Cakra bergeming menatap kepergian Milla. Hanya ekor mata yang mengantar punggung sang gadis yang terus menjauh, mengecil dan hilang di balik pintu sebuah taksi yang Milla cegat dengan cepat.Kedua tangan Cakra mengepal di sisi tubuh. Menahan kuat hati yang sebenarnya ingin sekali mengejar, merengkuh dan menenangkan gadis pujaannya. Namun, Cakra tahu ia tidak boleh melakukannya saat ini kalau tak ingin makin dijauhi Milla.Sang pujaan butuh waktu sendiri. Itu yang terus diyakininya. Setelah Milla tenang, Cakra berjanji akan menemui gadis itu lagi dan kembali mencari cela agar mau memberi kesempatan dan menjadi miliknya.Setelah memastikan Milla aman dan pergi dengan taksi yang ditumpanginya. Cakra pun gegas kembali ke cafe. Amarah masih nampak terlihat dari rona wajahnya. Meski begitu, Cakra memilih mengabaikan Shabira dan masuk ke ruangannya sendiri. Ia hanya melirik gadis itu dingin saat melintasinya."Lo bener-bener keterlaluan!" desis Kinan. Ikut sebal pada kelakuan Shabira."Gue h

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 3

    Milla melirik sekitar dengan perasaan mulai was-was. Selain tak ingin kembali menjadi buah bibir media yang masih mencarinya. Milla juga malu dan takut semua orang makin menggunjingkan kehamilannya.Mungkin memang beginilah nasib hamil diluar nikah. Tak akan bisa mendapat ketenangan dan kebahagiaan selayaknya wanita hamil pada umumnya. Selalu saja diliputi rasa was-was yang luar biasa."Astaga, Shabira! Lo ngapain?"Belum sempat Milla menjawab. Kinan sudah kembali dan langsung menghampiri. Dia berdiri di tengah-tengah membelakangi Milla. Seperti sedang melindungi wanita hamil itu.Milla yang mendengar nama Shabira pun akhirnya faham tujuan gadis yang menyiramnya barusan. Sedikit banyak Milla teringat beberapa cerita Arletta tentang gadis yang bernama Shabira, Barista yang selalu memusuhi Arletta karena terobsesi jadi pacar Cakra."Lo gak usah ikut campur! Urusan gue cuma sama model kadaluarsa itu!" Shabira menunjuk tegas Milla. Seraya menatap penuh amarah."Urusan apa? Gila lo, ya? Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status