INICIAR SESIÓNHappy Reading
Bau antiseptik yang menusuk hidung menjadi hal pertama yang disadari Milla saat kesadarannya perlahan kembali. Kedua kelopak matanya terasa berat seperti ditimpa beban batu, namun usahanya untuk membukanya terus ia lakukan. Perlahan. Sangat perlahan. "Nak ... Milla ..." Suara lirih itu terdengar samar di telinganya. Milla mengernyit, mencoba mengenali suara siapa itu. Bukan Mama Niken. Bukan juga Papa Danu. Suara itu ... lembut. Penuh tangis yang tertahan. "Milla?" Kali ini suara itu lebih jelas. Milla berhasil membuka matanya sedikit. Cahaya putih dari langit-langit rumah sakit langsung menyikut bola matanya, membuatnya meregangkan kelopak dengan susah payah. "Dia sadar, Dok! Milla sadar!" Milla menoleh perlahan ke arah suara itu. Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang sangat ia kenal sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Tangan kurus wanita itu menggenggam tangannya erat-erat. "Milla ... nak. Syukurlah kamu sadar juga." "Mama ...?" suara Milla terdengar parau, serak, seperti orang yang baru saja terbangun dari tidur panjang. Bukan Mama Niken. Ini adalah Mama Rina, ibu kandung Elkava. Pria yang pernah menjadi kekasih dan tunangannya. Pria yang kini telah tiada. Milla mengerjapkan mata beberapa kali, memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. Tapi tidak. Di sana, di sebelah ranjangnya, benar-benar ada Mama Rina. Dengan rambut yang lebih beruban dari terakhir kali mereka bertemu, dengan mata yang sembab karena terlalu lama menangis, dengan tubuh yang tampak lebih kurus. "Mama Rina ...?" bisik Milla bingung. "Kenapa Mama bisa di sini?" Mama Rina mengusap wajah Milla dengan lembut. Tangisnya pecah. "Mama baru tahu semuanya, nak. Arletta yang menelepon Mama. Dia bilang kamu ... kamu ..." Mama Rina tidak sanggup melanjutkan kalimatnya. Tangisnya makin menjadi. "Mah, Milla gak papa." Milla mencoba menenangkan. Baru saja Mama Rina mau bicara, ponselnya tiba-tiba berbunyi. Mama Rina pamit keluar sebentar. Milla terdiam. Matanya berkeliling memindai ruangan. Di sebelah Mama Rina, ada Cakra yang sedari tadi berdiri mematung. Wajah pria itu tampak begitu lelah, dengan mata merah dan rambut berantakan. Seperti orang yang tidak tidur semalaman. Kemeja yang dikenakannya tak kalah kusut, juga ada noda darah pekat di beberapa bagian. Apa itu darahnya? Itu berarti, Cakra kah yang menolongnya? Milla sudah langsung pingsan setelah kena hantaman asbak. Jadi Milla tidak ingat. "Cakra ...?" panggil Milla pelan. Cakra langsung melangkah mendekat. Matanya berkaca-kaca saat menatap Milla. "Milla. Kamu butuh sesuatu?" Milla menggeleng pelan, "Kamu yang nolongin aku ya?" tanyanya memastikan dugaan. Cakra diam sejenak, "Lebih tepatnya Arletta. Aku sama Bruno di telepon Arletta dan diminta mengecek keadaan kamu. Katanya, kamu sepertinya sedang dalam masalah." Ah, begitu. Milla ingat sekarang. Sebelum Papa Danu ngamuk, sambungan telepon itu masih nyala. Dan ... ya, sudah bisa dipastikan Arletta bergerak cepat, mengatur semuanya dari jauh. Khas Arletta sekali. "Milla," panggil Cakra lagi. "Maafin aku." Milla mengernyit bingung. "Untuk?" "Untuk kejadian di cafe." Degh! Milla diam. Cakra melanjutkan. "Aku minta maaf. Kalau saja aku nggak ninggalin kamu di cafe kemarin. Shabira pasti gak bakal ganggu kamu. Kalau saja aku lebih cepat--" "Bukan salah kamu," sela Milla dengan suara lemah. "Ini ... ini semua salah aku." "Salah kamu?!" Mama Rina yang baru kembali, langsung membantah dengan emosi, tanpa tahu yang sedang dibahas bukan lagi soal Kekerasan yang menimpa Milla, tapi hal lain. "Milla, kamu itu korban! Korban dari ayah kandungmu sendiri. Bagaimana bisa kamu bilang ini salahmu?!" Milla tak mengoreksi apa pun, hanya menunduk. Air mata mulai menetes dari sudut matanya. "Karena aku yang memilih untuk kembali ke rumah itu, Ma. Aku yang terlalu percaya sama mereka. Aku yang terlalu bodoh berpikir kalau mereka sudah berubah." Mama Rina langsung merengkuh Milla lembut, sementara Cakra mengepalkan tangannya di sisi tubuh. Amarah kembali menggelayuti hatinya saat teringat keadaan Milla ketika dia baru tiba kemarin. Namun ia menahannya. Sekarang bukan waktunya untuk marah. Sekarang adalah waktunya untuk Milla. "Gimana ... bayiku?" tanya Milla setelah tangisnya mereda. Tangannya refleks meraih perutnya. Mama Rina dan Cakra saling bertukar pandang. Pandangan itu membuat jantung Milla berdetak kencang. Ngeri. "Jawab aku ... bayiku masih ada, kan?" suara Milla mulai bergetar. Tangannya memeluk perutnya erat-erat. "Masih, nak," jawab Mama Rina cepat, menggenggam tangan Milla dengan erat. "Bayimu masih ada." Milla menghembuskan napas lega. Namun, kelegaan itu tidak berlangsung lama. "Tapi ..." sela Cakra ragu-ragu. "Dokter bilang, bayimu mengalami kekurangan gizi, Milla. Berat badannya nggak sesuai sama usia kandunganmu." Milla terdiam. Wajahnya yang masih pucat menegang. "Aku ... aku tahu," bisik Milla akhirnya. "Aku tahu ini akan terjadi." "Apa maksudmu?" tanya Cakra bingung. Milla menatap Cakra dengan mata berkaca-kaca. "Sebenarnya ... Aku sudah beberapa minggu ini nggak makan dengan benar, Cakra." "Maksudnya? Mereka gak ngasih kamu makan juga?" "Bukan!" bantah Milla cepat. "Mereka kasih kok. Tapi ... tapi Aku takut." Milla memejam sebentar. Mengingat kekejaman lain yang di lakukan Papanya. "Takut?" ulang Cakra "Takut apa?" kejarnya. Ragu, Milla pun akhirnya menceritakan tentang pemberian racun, fakta yang selama ini dia simpan. "Aku takut semua makanan dan minuman di rumah itu sudah dicampur racun. Jadi aku pilih untuk nggak makan sama sekali kalau di rumah. Atau kalau terpaksa, aku keluarkan lagi." Cakra dan Mama Rina terpaku. Keduanya menatap Milla dengan tatapan penuh simpati dan kesedihan. "Dasar ... dasar manusia tak punya hati!" Mama Rina menggertakkan giginya. "Padahal dia ayah kandungmu, Milla! Bagaimana bisa dia setega itu?! Kalau memang masalahnya karena bayi Elkava yang ada di perutmu, harusnya bilang. Mama bersedia kok ngerawat kamu dan cucu Mama." Milla tidak menjawab. Bukan tidak bisa, hanya tidak mau. Soalnya, ada alasan lain yang membuat Milla menolak usulan itu. Tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Seorang perawat masuk dengan senyum ramah. "Maaf, Bapak-Ibu. Pasien perlu istirahat." "Tapi--" Cakra hendak membantah. "Nggak apa-apa, Cakra," sela Milla lemah. "Aku memang butuh istirahat." Cakra menghela napas panjang. Ia menatap Milla dalam-dalam. Ada banyak hal yang ingin ia katakan. Tapi sekarang bukan waktunya. "Aku di luar, Milla. Kalau butuh apa-apa, panggil aku. Oke?" Milla mengangguk lemah. Setelah Cakra dan Mama Rina keluar, Milla menyandarkan kepalanya ke bantal. Matanya menatap langit-langit putih, kosong. 'El ... maafkan aku,' batinnya pilu. 'Aku janji akan lebih kuat. Untuk bayi kita. Untuk kenangan kamu. Aku nggak akan menyerah.' Di luar ruangan, Cakra berdiri mematung di depan pintu. Kedua tangannya mengepal erat. Bruno yang baru saja datang dengan beberapa kantong makanan, menatap Cakra dengan bingung. Mamanya Elkava tak terlihat, mungkin sedang ke toilet atau ada urusan lain. Entah. "Lo ngapain berdiri kayak patung? Masuklah ke dalam." "Dia butuh istirahat," jawab Cakra singkat. Bruno mendengkus. "Yaudah, makan dulu. Gue bawain nasi goreng dari resto depan. Lo pasti belum makan semenjak kemarin, kan?" Cakra menggeleng. "Aku nggak lapar." "Ck, Lo pikir lo keren kalau mogok makan begitu?" Bruno menatap Cakra gemas. "Kalau lo pingsan karena kelaparan, siapa yang jagain Milla? Bego!" Cakra terdiam. Bruno benar. Ia tidak bisa membiarkan dirinya lemah sekarang. "Oke," gumam Cakra akhirnya, mengambil kantong makanan dari tangan Bruno. Dua pria itu duduk di kursi tunggu, masing-masing menyantap makanan dalam diam. Bruno sesekali melirik Cakra, lalu menghela napas. "Lo suka sama dia, ya?" Cakra terkejut. Nasi di sendoknya hampir jatuh. "Apa?" "Jangan pura-pura bego deh, Cakra. Gue lihat dari cara lo tatap Milla sama cara lo khawatir. Jelas banget kalau itu bukan cuma karena kasian, kan?" Cakra menunduk. Ia tidak menjawab. "Gue nggak menghakimi, kok," lanjut Bruno. "Cuma ... Lo tau kan' Milla itu baru kehilangan Elkava. Traumanya masih besar. Jadi jangan lo paksain." "Aku tahu," jawab Cakra pelan. "Aku juga nggak akan maksa. Aku cuma ... Aku cuma mau jagain dia. Dari jauh pun nggak apa-apa." Bruno tersenyum tipis. "Dasar bucin." Cakra mencibir. Namun, senyuman tipis itu tidak lama. Karena tiba-tiba, sebuah suara teriakan histeris terdengar dari ujung koridor. "MILLA! ANAKKU!" Bruno dan Cakra serentak berdiri. Mata mereka menatap ke arah suara itu. Seorang wanita dengan rambut berantakan dan wajah pucat sedang berlari ke arah mereka. Di belakangnya, dua orang satpam berusaha menahannya. "Itu mamanya Milla," gumam Cakra dingin. Sementara Bruno hanya berdecak kesal. Di dalam ruangan, Milla yang mendengar teriakan itu, tubuhnya langsung menegang. Ketakutan kembali merambati setiap pori-porinya. Namun kali ini, ia sudah memutuskan sesuatu. Sesuatu yang sangat penting. Ia tidak akan sembunyi lagi.Happy Reading "Biarkan saya masuk! Saya ibu kandungnya! Saya punya hak untuk bertemu anak saya!" Teriakan Mama Niken menggema di lorong rumah sakit. Beberapa pasien dan keluarga pasien lain mulai menoleh dengan pandangan penasaran. Satpam yang menahannya terlihat kesulitan karena wanita itu terus meronta-ronta seperti orang kesetanan. "Ibu, mohon tenang. Pasien sedang istirahat. Ibu tidak bisa--" "Diam kamu! Saya ibunya! Saya mau ketemu anak saya!" Bruno melangkah mendekat dengan wajah masam. Tubuhnya yang besar dan tinggi langsung membuat suasana menjadi tegang. Mama Niken yang melihat kedatangan Bruno, refleks menahan napas. "Ibu mau apa?" tanya Bruno dengan suara rendah namun mengancam. "Saya ... saya mau ketemu Milla. Saya khawatir. Saya mau lihat kondisinya, saya--" "Buat apa?" Sela Bruno dingin. Mama Niken terdiam bingung. “Maksudnya?” Bruno menyeringai miring. “Iya, buat apa? Buat ibu siksa lagi? Atau buat ibu bujuk untuk kepentingan kalian? Terutama kepentingan suam
Happy ReadingBau antiseptik yang menusuk hidung menjadi hal pertama yang disadari Milla saat kesadarannya perlahan kembali. Kedua kelopak matanya terasa berat seperti ditimpa beban batu, namun usahanya untuk membukanya terus ia lakukan. Perlahan. Sangat perlahan."Nak ... Milla ..."Suara lirih itu terdengar samar di telinganya. Milla mengernyit, mencoba mengenali suara siapa itu. Bukan Mama Niken. Bukan juga Papa Danu. Suara itu ... lembut. Penuh tangis yang tertahan."Milla?"Kali ini suara itu lebih jelas. Milla berhasil membuka matanya sedikit. Cahaya putih dari langit-langit rumah sakit langsung menyikut bola matanya, membuatnya meregangkan kelopak dengan susah payah."Dia sadar, Dok! Milla sadar!"Milla menoleh perlahan ke arah suara itu. Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang sangat ia kenal sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Tangan kurus wanita itu menggenggam tangannya erat-erat."Milla ... nak. Syukurlah kamu sadar juga.""Mama ...?" suara Milla terdengar para
"Pendarahannya harus segera dihentikan. Siapkan ruang tindakan!"Suara perawat itu menggema di lorong UGD, membuat Cakra yang masih berlumur darah di kemejanya seketika membeku. Di depannya, ranjang dorong dengan tubuh Milla di atasnya menghilang di balik tirai yang ditarik cepat oleh tim medis."Dok, tolong. Dia hamil, tolong hati-hati sama kandungannya," pinta Cakra, suaranya nyaris tak terkendali."Kami tahu, Pak. Bapak tunggu di luar dulu, ya."Tirai itu tertutup, menyisakan Cakra sendirian dengan detak jantungnya yang berdebar liar. Ia menoleh ke belakang—Bruno baru saja tiba setelah memarkirkan mobil, wajahnya masih menyimpan amarah yang belum tuntas, ponsel menempel di telinganya."Iya, Let. Gue di rumah sakit sekarang," lapor Bruno lewat telepon, suaranya berusaha tenang meski rahangnya mengeras. "Milla lagi ditangani."Di ujung telepon, suara Arletta terdengar tajam dan penuh kendali, tanpa sedikit pun nada panik meski jarak Jogja-Jakarta membuatnya tak bisa berbuat lebih dar
Plak!Bruk!Milla terjatuh setelah mendapat tamparan keras dari sang ayah. Beruntung jatuhnya ke atas sofa, bukan lantai. Bisa bahaya kandungannya jika itu terjadi. "Dasar anak kurang ajar!" raung Papa Danu murka lalu memberikan pukulan membabi buta pada tubuh sang anak. Amarah seakan membutakan mata dan hatinya, hingga tak perduli jika sang putri saat ini tengah mengandung. Yang ada dalam pikiran Danu hanya, bagaimana cara membalas kekesalannya pada sang anak? Pria itu terus melampiaskan amarah lewat pukulan-pukulan sekuat yang ia bisa. "Pah! Sudah, pah!" Hanya mulut yang terus meneriakkan kalimat tersebut dari sang ibu. Meski begitu tak berani melerai apalagi menolong.Buk! Buk!Buk!"Rasakan! Rasakan ini! Dasar anak durhaka! Mati saja sekalian kau!" Papa Danu seperti orang kesetanan.Sakit! Sakit sekali. Namun, daripada rasa sakit di tubuh, Milla lebih perduli pada sang jabang bayi. Sebisa mungkin dia memeluk perutnya, agar bayinya tak sampai kena pukul.Sambil memeluk perutny
Cakra bergeming menatap kepergian Milla. Hanya ekor mata yang mengantar punggung sang gadis yang terus menjauh, mengecil dan hilang di balik pintu sebuah taksi yang Milla cegat dengan cepat.Kedua tangan Cakra mengepal di sisi tubuh. Menahan kuat hati yang sebenarnya ingin sekali mengejar, merengkuh dan menenangkan gadis pujaannya. Namun, Cakra tahu ia tidak boleh melakukannya saat ini kalau tak ingin makin dijauhi Milla.Sang pujaan butuh waktu sendiri. Itu yang terus diyakininya. Setelah Milla tenang, Cakra berjanji akan menemui gadis itu lagi dan kembali mencari cela agar mau memberi kesempatan dan menjadi miliknya.Setelah memastikan Milla aman dan pergi dengan taksi yang ditumpanginya. Cakra pun gegas kembali ke cafe. Amarah masih nampak terlihat dari rona wajahnya. Meski begitu, Cakra memilih mengabaikan Shabira dan masuk ke ruangannya sendiri. Ia hanya melirik gadis itu dingin saat melintasinya."Lo bener-bener keterlaluan!" desis Kinan. Ikut sebal pada kelakuan Shabira."Gue h
Milla melirik sekitar dengan perasaan mulai was-was. Selain tak ingin kembali menjadi buah bibir media yang masih mencarinya. Milla juga malu dan takut semua orang makin menggunjingkan kehamilannya.Mungkin memang beginilah nasib hamil diluar nikah. Tak akan bisa mendapat ketenangan dan kebahagiaan selayaknya wanita hamil pada umumnya. Selalu saja diliputi rasa was-was yang luar biasa."Astaga, Shabira! Lo ngapain?"Belum sempat Milla menjawab. Kinan sudah kembali dan langsung menghampiri. Dia berdiri di tengah-tengah membelakangi Milla. Seperti sedang melindungi wanita hamil itu.Milla yang mendengar nama Shabira pun akhirnya faham tujuan gadis yang menyiramnya barusan. Sedikit banyak Milla teringat beberapa cerita Arletta tentang gadis yang bernama Shabira, Barista yang selalu memusuhi Arletta karena terobsesi jadi pacar Cakra."Lo gak usah ikut campur! Urusan gue cuma sama model kadaluarsa itu!" Shabira menunjuk tegas Milla. Seraya menatap penuh amarah."Urusan apa? Gila lo, ya? Ka







