Share

Bab 6

Author: Amih Lilis
last update publish date: 2026-08-27 18:33:26

"Pendarahannya harus segera dihentikan. Siapkan ruang tindakan!"

Suara perawat itu menggema di lorong UGD, membuat Cakra yang masih berlumur darah di kemejanya seketika membeku. Di depannya, ranjang dorong dengan tubuh Milla di atasnya menghilang di balik tirai yang ditarik cepat oleh tim medis.

"Dok, tolong. Dia hamil, tolong hati-hati sama kandungannya," pinta Cakra, suaranya nyaris tak terkendali.

"Kami tahu, Pak. Bapak tunggu di luar dulu, ya."

Tirai itu tertutup, menyisakan Cakra sendirian dengan detak jantungnya yang berdebar liar. Ia menoleh ke belakang—Bruno baru saja tiba setelah memarkirkan mobil, wajahnya masih menyimpan amarah yang belum tuntas, ponsel menempel di telinganya.

"Iya, Let. Gue di rumah sakit sekarang," lapor Bruno lewat telepon, suaranya berusaha tenang meski rahangnya mengeras. "Milla lagi ditangani."

Di ujung telepon, suara Arletta terdengar tajam dan penuh kendali, tanpa sedikit pun nada panik meski jarak Jogja-Jakarta membuatnya tak bisa berbuat lebih dari sekadar mendengar laporan. "Bruno, dengerin gue. Gue udah minta pengacara kirim orang buat urus laporan polisi malam ini juga. Lo bantu selidiki, cari bukti sebanyak-banyaknya. Pokoknya Papanya Milla nggak boleh lolos kali ini."

"Beres, gue pastiin dia nggak bisa macem-macem lagi." Bruno mengangguk meski Arletta tak bisa melihatnya. "

"Bagus." Suara Arletta tegas, "Pokoknya urusan di sana gue percayakan sama Lo dan Cakra. Kabarin gue terus perkembangannya. Sekecil apa pun. Di sini gue urusin soal saham yang gue kasih buat Milla. Ingat! Jangan sampai lalai. Kalau Milla kenapa-napa lagi, habis kalian!"

Bruno menelan saliva kelat tanpa sadar. Tau betul bagaimana seorang Arletta kalau sudah bertindak. Dulu Bruno sempat menyepelekan Arletta karena menilai dari wajah. Sekarang? Bruno tak berani lagi.

"Iya, iya, Let. Paham gue."

"Jangan cuma di pahami. Tapi dilakuin!"

"Iya, astaga!" Bruno menggeram kesal diam-diam. Ibu hamil di seberang sana makin galak aja deh.

"Sayang, udah. Jangan stres-stres. Ingat kandungan kamu juga." Suara Arkana, suami Arletta terdengar menenangkan.

"Diem deh, Mas. Aku lagi ngomong sama Bruno. Jangan ganggu dulu." Arletta menyahut tegas.

"Bukan mau ganggu, cuma ... Bruno sama Cakra bukan anak kecil lagi. Gak usah sekeras itu juga peringatinnya. Mereka pasti tau apa yang harus dilakuin."

Di tempatnya, Bruno mencibir diam-diam. Tumben banget seorang Arkana membelanya. Biasanya padahal ikut bully.

"Iya, sih. Tapi--"

"Bukannya tadi kamu bilang mau nyelidikin soal saham Milla?"

"Ah, iya. Kamu benar. Ya udah, No. Gue tutup teleponnya. Kabarin kalau ada perkembangan."

"Oke."

Panggilan terputus. Bruno menghela napas panjang dan lega, menoleh pada Cakra yang masih berdiri kaku menatap tirai UGD. "Letta nggak bisa langsung ke sini. Tapi dia udah gerak dari Jogja dan bagi tugas buat kita. Pengacara juga udah dia sediakan, nanti bakal datang. Kita disuruh bantu penyelidikan dan nyari bukti sebanyak mungkin buat memberatkan papanya Milla nanti di persidangan."

Cakra tak menanggapi berlebih. Percaya saja pada apapun pengaturan Arletta. Sepupu yang baru ditemukannya itu memang tak usah di ragukan lagi kemampuannya.

"Tadinya gue kira, Arletta bakal panik dan langsung nyamperin ke sini mengabaikan semua resiko kayak dulu," celetuk Bruno lagi. "Bagaimana pun, Milla sahabatnya dan masuk list salah satu orang penting dalam hidupnya. Ternyata, gue salah. Kali ini dia lebih tenang."

Cakra diam sejenak. Mencari ingatan tentang perkataan Bruno tadi. Entah yang mana itu. Terlalu banyak aksi heroik Arletta dalam ingatannya. Yang jelas, Arletta memang dulu lumayan nekad dan keras kepala.

"Dulu kenalannya terbatas dan hanya segelintir orang yang bisa dia andalkan. Jadi dulu, Letta hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri untuk urusan apa pun. Sekarang, lo tau sendiri seluas apa koneksinya. Dia tau siapa aja yang lebih bisa di andalkan, dan memilih melakukan hal lain yang sama pentingnya." Cakra menjawab sepemahaman dia.

"Benar juga, " gumam Bruno setuju. "Letta memang sudah banyak berubah sekarang. Kecuali sifat galaknya. Sama ... Sikap gak gampang paniknya."

(Yang kepo soal Arletta, baca novel Harta, tahta, obsesi gila.)

***

Satu jam berikutnya terasa seperti satu tahun bagi mereka berdua. Cakra duduk di kursi tunggu dengan kepala tertunduk, tangannya masih gemetar setiap kali membayangkan wajah Milla yang bersimbah darah tadi.

Pikiran Cakra kacau sekali. Takut kalau hal buruk terjadi, sementara dia belum sempat minta maaf dengan benar tentang kejadian di cafe siang tadi.

Kalau sampai terjadi apa-apa pada Milla, Cakra tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.

"Keluarga pasien Karmilla?"

Keduanya serentak berdiri saat tirai UGD akhirnya dibuka. Dokter melangkah keluar dengan wajah lelah namun tenang.

"Bagaimana, Dok? Milla gimana? Bayinya gimana?" cecar Cakra tak sabar.

"Kondisinya sudah stabil," jawab dokter itu, seketika Cakra serta Bruno menghembuskan napas lega yang sedari tadi tertahan.

"Syukurlah," gumam keduanya.

"Luka robek di kepala sudah kami jahit, beberapa memar di tubuh akibat pukulan juga diobati. Untuk kandungannya ...." Dokter tersebut tiba-tiba menggantung kalimatnya. Membuat jantung Carka dan Bruno kembali berdetak waspada.

"Kandungannya kenapa, dok? Bayi Milla baik-baik saja, kan?" cecar Cakra tak sabaran.

Dokter menghela nafas pelan. "Kami mengindetifikasi ada ketidak seimbangan antara berat bayi dan usia kandungan. Pasien sepertinya mengalami kekurangan gizi beberapa waktu belakangan."

Cakra dan Bruno terdiam dengan alis bertaut bingung. Kekurangan gizi? Kok bisa? Apa orang tua Milla juga tidak memberikan makanan yang layak selama ini?

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 8

    Happy Reading "Biarkan saya masuk! Saya ibu kandungnya! Saya punya hak untuk bertemu anak saya!" Teriakan Mama Niken menggema di lorong rumah sakit. Beberapa pasien dan keluarga pasien lain mulai menoleh dengan pandangan penasaran. Satpam yang menahannya terlihat kesulitan karena wanita itu terus meronta-ronta seperti orang kesetanan. "Ibu, mohon tenang. Pasien sedang istirahat. Ibu tidak bisa--" "Diam kamu! Saya ibunya! Saya mau ketemu anak saya!" Bruno melangkah mendekat dengan wajah masam. Tubuhnya yang besar dan tinggi langsung membuat suasana menjadi tegang. Mama Niken yang melihat kedatangan Bruno, refleks menahan napas. "Ibu mau apa?" tanya Bruno dengan suara rendah namun mengancam. "Saya ... saya mau ketemu Milla. Saya khawatir. Saya mau lihat kondisinya, saya--" "Buat apa?" Sela Bruno dingin. Mama Niken terdiam bingung. “Maksudnya?” Bruno menyeringai miring. “Iya, buat apa? Buat ibu siksa lagi? Atau buat ibu bujuk untuk kepentingan kalian? Terutama kepentingan suam

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 7

    Happy ReadingBau antiseptik yang menusuk hidung menjadi hal pertama yang disadari Milla saat kesadarannya perlahan kembali. Kedua kelopak matanya terasa berat seperti ditimpa beban batu, namun usahanya untuk membukanya terus ia lakukan. Perlahan. Sangat perlahan."Nak ... Milla ..."Suara lirih itu terdengar samar di telinganya. Milla mengernyit, mencoba mengenali suara siapa itu. Bukan Mama Niken. Bukan juga Papa Danu. Suara itu ... lembut. Penuh tangis yang tertahan."Milla?"Kali ini suara itu lebih jelas. Milla berhasil membuka matanya sedikit. Cahaya putih dari langit-langit rumah sakit langsung menyikut bola matanya, membuatnya meregangkan kelopak dengan susah payah."Dia sadar, Dok! Milla sadar!"Milla menoleh perlahan ke arah suara itu. Seorang wanita paruh baya dengan wajah yang sangat ia kenal sedang menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Tangan kurus wanita itu menggenggam tangannya erat-erat."Milla ... nak. Syukurlah kamu sadar juga.""Mama ...?" suara Milla terdengar para

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 6

    "Pendarahannya harus segera dihentikan. Siapkan ruang tindakan!"Suara perawat itu menggema di lorong UGD, membuat Cakra yang masih berlumur darah di kemejanya seketika membeku. Di depannya, ranjang dorong dengan tubuh Milla di atasnya menghilang di balik tirai yang ditarik cepat oleh tim medis."Dok, tolong. Dia hamil, tolong hati-hati sama kandungannya," pinta Cakra, suaranya nyaris tak terkendali."Kami tahu, Pak. Bapak tunggu di luar dulu, ya."Tirai itu tertutup, menyisakan Cakra sendirian dengan detak jantungnya yang berdebar liar. Ia menoleh ke belakang—Bruno baru saja tiba setelah memarkirkan mobil, wajahnya masih menyimpan amarah yang belum tuntas, ponsel menempel di telinganya."Iya, Let. Gue di rumah sakit sekarang," lapor Bruno lewat telepon, suaranya berusaha tenang meski rahangnya mengeras. "Milla lagi ditangani."Di ujung telepon, suara Arletta terdengar tajam dan penuh kendali, tanpa sedikit pun nada panik meski jarak Jogja-Jakarta membuatnya tak bisa berbuat lebih dar

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 5

    Plak!Bruk!Milla terjatuh setelah mendapat tamparan keras dari sang ayah. Beruntung jatuhnya ke atas sofa, bukan lantai. Bisa bahaya kandungannya jika itu terjadi. "Dasar anak kurang ajar!" raung Papa Danu murka lalu memberikan pukulan membabi buta pada tubuh sang anak. Amarah seakan membutakan mata dan hatinya, hingga tak perduli jika sang putri saat ini tengah mengandung. Yang ada dalam pikiran Danu hanya, bagaimana cara membalas kekesalannya pada sang anak? Pria itu terus melampiaskan amarah lewat pukulan-pukulan sekuat yang ia bisa. "Pah! Sudah, pah!" Hanya mulut yang terus meneriakkan kalimat tersebut dari sang ibu. Meski begitu tak berani melerai apalagi menolong.Buk! Buk!Buk!"Rasakan! Rasakan ini! Dasar anak durhaka! Mati saja sekalian kau!" Papa Danu seperti orang kesetanan.Sakit! Sakit sekali. Namun, daripada rasa sakit di tubuh, Milla lebih perduli pada sang jabang bayi. Sebisa mungkin dia memeluk perutnya, agar bayinya tak sampai kena pukul.Sambil memeluk perutny

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 4

    Cakra bergeming menatap kepergian Milla. Hanya ekor mata yang mengantar punggung sang gadis yang terus menjauh, mengecil dan hilang di balik pintu sebuah taksi yang Milla cegat dengan cepat.Kedua tangan Cakra mengepal di sisi tubuh. Menahan kuat hati yang sebenarnya ingin sekali mengejar, merengkuh dan menenangkan gadis pujaannya. Namun, Cakra tahu ia tidak boleh melakukannya saat ini kalau tak ingin makin dijauhi Milla.Sang pujaan butuh waktu sendiri. Itu yang terus diyakininya. Setelah Milla tenang, Cakra berjanji akan menemui gadis itu lagi dan kembali mencari cela agar mau memberi kesempatan dan menjadi miliknya.Setelah memastikan Milla aman dan pergi dengan taksi yang ditumpanginya. Cakra pun gegas kembali ke cafe. Amarah masih nampak terlihat dari rona wajahnya. Meski begitu, Cakra memilih mengabaikan Shabira dan masuk ke ruangannya sendiri. Ia hanya melirik gadis itu dingin saat melintasinya."Lo bener-bener keterlaluan!" desis Kinan. Ikut sebal pada kelakuan Shabira."Gue h

  • Kalian Sebut Aib, Aku Sebut Alasan Tetap Hidup   Bab 3

    Milla melirik sekitar dengan perasaan mulai was-was. Selain tak ingin kembali menjadi buah bibir media yang masih mencarinya. Milla juga malu dan takut semua orang makin menggunjingkan kehamilannya.Mungkin memang beginilah nasib hamil diluar nikah. Tak akan bisa mendapat ketenangan dan kebahagiaan selayaknya wanita hamil pada umumnya. Selalu saja diliputi rasa was-was yang luar biasa."Astaga, Shabira! Lo ngapain?"Belum sempat Milla menjawab. Kinan sudah kembali dan langsung menghampiri. Dia berdiri di tengah-tengah membelakangi Milla. Seperti sedang melindungi wanita hamil itu.Milla yang mendengar nama Shabira pun akhirnya faham tujuan gadis yang menyiramnya barusan. Sedikit banyak Milla teringat beberapa cerita Arletta tentang gadis yang bernama Shabira, Barista yang selalu memusuhi Arletta karena terobsesi jadi pacar Cakra."Lo gak usah ikut campur! Urusan gue cuma sama model kadaluarsa itu!" Shabira menunjuk tegas Milla. Seraya menatap penuh amarah."Urusan apa? Gila lo, ya? Ka

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status