FAZER LOGINSetelah bangun dari tidur singkat dalam pelukan *spooning*, Leni merasakan hasratnya kembali menyala. Ia memutar tubuhnya menghadap Wandra, mata mereka bertemu dalam tatapan yang penuh janji. Dengan senyum menggoda, Leni mendorong Wandra duduk bersandar di kepala ranjang, lalu naik ke pangkuannya. Posisi **lotus** ini sempurna untuk mereka—keduanya duduk berhadapan, kaki Leni melingkar di pinggang Wandra, sementara tangan pria itu memeluk punggungnya erat. Tubuh mereka saling menempel sepenuhnya, dada Leni menekan dada Wandra, payudaranya yang lembut bergesekan dengan otot tegas pria itu. Penyatuan terjadi secara alami saat Leni menurunkan pinggulnya, menerima Wandra sepenuhnya dalam kedalaman yang membuat keduanya menghela napas panjang. Di posisi ini, tidak ada gerakan liar; yang ada hanyalah goyangan pelan pinggul yang sinkron, seperti tarian dua jiwa yang menyatu. Wandra menatap mata Leni, melihat pantulan dirinya sendiri di sana—sebuah cermin keabadian yang kini berbagi denga
Di bawah temaram lampu kamar yang mulai meredup, Wandra menarik tubuh Leni untuk mendekat. Mereka berbaring menyamping, dengan punggung Leni yang bersandar pas di dada bidang Wandra. Posisi *spooning* ini menciptakan ruang yang sangat privat, seolah-olah dunia di luar apartemen itu telah lenyap, menyisakan hanya mereka berdua dalam kepompong selimut sutra. Wandra melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Leni, menarik pinggul wanita itu hingga benar-benar menempel pada pangkal pahanya. Leni menghela napas panjang, sebuah desahan kepuasan yang tulus. Ia merasakan detak jantung Wandra yang stabil dan kuat di punggungnya—detak jantung yang telah berdenyut selama tujuh milenium. Baginya, berada dalam dekapan Wandra seperti ini memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan saat ia masih bersuami. Wandra bukan hanya menyembuhkan fisiknya dari kanker, tetapi juga menyembuhkan jiwanya yang hancur karena pengkhianatan masa lalu. Dalam posisi ini, Wandra mulai memberi
"Apa kau yakin?" tanya Wandra sambil menelan salivanya. Batangnya menegang di bawah sana. Leni mengangguk. "Aku yakin. Ini adalah pemberian yang akan selalu aku kenang. Aku akan selalu bersyukur karena melakukan ini denganmu."Wandra tersenyum. Ini adalah pemberian yang tidak akan pernah dia tolak. Tidak dengan asap yang terus mengepul. Di dalam kamar apartemen yang remang, aroma lavender bercampur dengan ketegangan yang manis. Leni, wanita berusia 31 tahun yang baru saja menerima keajaiban medis dari tangan Wandra, berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu.Kanker serviks yang selama berbulan-bulan menggerogoti harapan hidupnya, menghilang dalam sekejap hanya dengan sentuhan energi dari pria misterius di hadapannya. Baginya, Wandra bukan sekadar penyembuh; dia adalah dewa yang turun ke bumi. Leni menatap Wandra dengan mata yang berkaca-kaca. Sebagai seorang janda yang ditinggalkan suaminya justru di saat ia paling membutuhkan dukungan, penolakan dan kesepian telah menjadi te
Mereka berjalan berdampingan menyusuri jalanan kota yang semakin sepi. Leni sesekali melirik Wandra dari sudut matanya, masih tidak percaya bahwa pemuda ini bersedia menolongnya. Sepanjang perjalanan, tidak banyak yang mereka bicarakan, tapi keheningan itu tidak terasa canggung. Wandra berjalan dengan langkah yang tenang dan mantap, dan kehadirannya yang tenang itu secara ajaib membuat Leni merasa sedikit lebih aman dibandingkan beberapa jam yang lalu."Mas, boleh saya tahu nama Mas?" Leni akhirnya bertanya."Wandra.""Mas Wandra ini... tabib juga?"Wandra tersenyum tipis. "Bisa dibilang begitu."Leni tidak bertanya lebih lanjut. Dia merasa ada sesuatu tentang Wandra yang tidak biasa, sesuatu yang jauh melampaui seorang tabib muda yang kebetulan pintar. Tapi dia tidak ingin bertanya terlalu banyak. Yang penting saat ini adalah harapan kecil yang mulai menyala di dadanya.Apartemen Leni berada di lantai tiga sebuah gedung apartemen sederhana. Bukan apartemen mewah, tapi bersih dan tera
Wandra melangkah keluar ke trotoar dan menghirup udara malam yang sejuk. Suara keributan dari dalam ruko tabib palsu itu masih terdengar samar-samar di belakangnya. Dia memasukkan kedua tangannya ke saku jaket dan mulai berjalan menjauhi tempat itu.Tapi dia tidak menyadari bahwa sepasang mata telah memperhatikannya sejak tadi.Di antara kerumunan orang yang tadi berada di dalam ruang praktik Tabib Awi, ada seorang lelaki tua yang duduk di sudut belakang dengan seorang gadis muda di sampingnya. Lelaki tua itu berumur sekitar tujuh puluh tahun, rambutnya sudah memutih seluruhnya, tapi tubuhnya masih tegap dan matanya masih tajam. Pakaiannya sederhana tapi terbuat dari bahan yang sangat berkualitas, detail yang hanya bisa dikenali oleh mata yang terlatih. Dia adalah seorang hartawan yang kekayaannya termasuk salah satu yang terbesar di kota ini. Namanya Halim.Halim datang ke tempat Tabib Awi malam ini karena keputusasaan. Selama bertahun-tahun dia menderita penyakit yang tidak bisa dis
Semua mata menoleh ke arahnya. Tabib Awi yang sedang memeriksa pasien keempat mendongak dan memandang Wandra. Senyumnya sedikit berkedut saat melihat pemuda ini yang tidak dia kenal dan tidak ada dalam daftar pasien malam ini."Silakan, Nak. Mau bertanya apa?"Wandra berjalan ke tengah ruangan. "Tabib bilang bisa menyembuhkan semua penyakit. Tapi saya melihat obat yang Tabib berikan kepada ibu tadi," dia menunjuk ke arah wanita yang menderita nyeri sendi, "itu hanya campuran herbal biasa. Jahe, kunyit, dan sedikit temulawak. Dijual tiga kali lipat harga aslinya dan dikemas seolah-olah itu obat ajaib. Obat seperti itu hanya memberikan efek hangat dan segar di tubuh selama beberapa jam, tapi tidak akan pernah menyembuhkan nyeri sendi yang sudah menahun."Ruangan itu mendadak hening.Tabib Awi tertawa, tapi tawanya terdengar sedikit terpaksa. "Anak muda ini bicara apa? Kau pikir kau lebih tahu dari seorang tabib yang sudah berpengalaman puluhan tahun?""Saya juga melihat bahwa pil merah







