INICIAR SESIÓNKeesokan paginya, Wandra melangkah masuk ke gedung fakultas teknik informatika. Ruang kuliahnya berbeda dari ruang kuliahnya sebelumnya Lebih banyak layar komputer, lebih banyak peralatan elektronik, dan suasananya terasa lebih hidup. Wandra memilih tempat duduk di barisan depan seperti biasa dan menunggu dosen masuk dengan penuh antisipasi.Dosen masuk dan mulai menjelaskan tentang dasar-dasar pemrograman. Wandra langsung terhanyut. Konsep-konsep ini begitu baru dan menarik baginya. Logika pemrograman mengingatkannya pada pola-pola formasi sekte bela diri yang pernah dia pelajari ribuan tahun lalu. Ada struktur, ada urutan, ada sebab dan akibat yang jelas. Otaknya bekerja dengan kecepatan penuh menyerap semuanya.Selama sekitar dua puluh menit, semuanya berjalan sempurna.Kemudian aroma parfum yang sudah sangat dia kenali menyebar di udara.Wandra memejamkan matanya sejenak. Dia bahkan tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa yang baru saja duduk di kursi sebelahnya."Hai lagi!"Wa
"Kenapa pindah? Aku ada salah ya?" Cindy bertanya dengan wajah polos.Wandra tidak menjawab. Dia mengangkat tangannya ke udara.Dosen yang sedang menulis di papan tulis menoleh. "Ya, Wandra, kan? Ada pertanyaan?""Maaf, Pak. Saya ingin menyampaikan bahwa mahasiswi di sebelah saya ini terus berbicara dan mengganggu konsentrasi saya. Saya tidak bisa fokus mengikuti pelajaran Bapak."Seluruh ruangan langsung hening. Mahasiswa-mahasiswa di barisan belakang yang tadinya setengah mengantuk sekarang sepenuhnya terjaga. Mereka semua menatap ke arah Wandra dan Cindy dengan mata terbelalak. Beberapa di antara mereka saling berbisik dengan wajah tidak percaya.Dosen itu memandang ke arah Cindy. Dan dalam sekejap, ekspresi tegasnya yang tadi berubah menjadi sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang mirip dengan ketakutan yang berusaha ditutupi.Semua orang di kampus ini tahu siapa Cindy. Cucu kesayangan Halim. Keluarga Halim adalah salah satu donatur terbesar kampus ini. Gedung perpustakaan baru yang me
Pagi harinya, Wandra pun pamitan dari Leni. "Mas Wandra," Leni memanggil sebelum Wandra membuka pintu. "Kalau suatu saat Mas Wandra butuh bantuan apa pun, apa pun itu, saya akan membantu. Ini nomor telepon saya."Wandra menerima kertas kecil yang disodorkan Leni dan menyimpannya di saku. "Terima kasih, Leni. Jaga dirimu."Pintu apartemen tertutup, dan Wandra berjalan menuruni tangga gedung apartemen itu menuju jalanan pagi yang masih sepi. Angin pagi menerpa wajahnya saat dia keluar dari gedung, dan dia menghirup udara dalam-dalam.Tiba-tiba suara liontin terdengar di telinga Wandra. "Kamu sekarang jadi sangat berbeda, Wandra.""Berbeda bagaimana?""Ada beberapa perubahan besar. Contohnya, kultivasimu yang sebelumnya sudah berada di Alam Pembentukan Fondasi, kini sudah turun ke Alam dasar yaitu Alam Pemurnian Tubuh.""Hah? Aku jadi lemah, dong." Wandra kaget. "Justru tidak.""Bagaimana maksudmu?""Kamu memang turun ke alam pemurnian tubuh tetapi aku melihat kalau sistem alam di dala
Setelah bangun dari tidur singkat dalam pelukan *spooning*, Leni merasakan hasratnya kembali menyala. Ia memutar tubuhnya menghadap Wandra, mata mereka bertemu dalam tatapan yang penuh janji. Dengan senyum menggoda, Leni mendorong Wandra duduk bersandar di kepala ranjang, lalu naik ke pangkuannya. Posisi **lotus** ini sempurna untuk mereka—keduanya duduk berhadapan, kaki Leni melingkar di pinggang Wandra, sementara tangan pria itu memeluk punggungnya erat. Tubuh mereka saling menempel sepenuhnya, dada Leni menekan dada Wandra, payudaranya yang lembut bergesekan dengan otot tegas pria itu. Penyatuan terjadi secara alami saat Leni menurunkan pinggulnya, menerima Wandra sepenuhnya dalam kedalaman yang membuat keduanya menghela napas panjang. Di posisi ini, tidak ada gerakan liar; yang ada hanyalah goyangan pelan pinggul yang sinkron, seperti tarian dua jiwa yang menyatu. Wandra menatap mata Leni, melihat pantulan dirinya sendiri di sana—sebuah cermin keabadian yang kini berbagi denga
Di bawah temaram lampu kamar yang mulai meredup, Wandra menarik tubuh Leni untuk mendekat. Mereka berbaring menyamping, dengan punggung Leni yang bersandar pas di dada bidang Wandra. Posisi *spooning* ini menciptakan ruang yang sangat privat, seolah-olah dunia di luar apartemen itu telah lenyap, menyisakan hanya mereka berdua dalam kepompong selimut sutra. Wandra melingkarkan lengan kokohnya di pinggang Leni, menarik pinggul wanita itu hingga benar-benar menempel pada pangkal pahanya. Leni menghela napas panjang, sebuah desahan kepuasan yang tulus. Ia merasakan detak jantung Wandra yang stabil dan kuat di punggungnya—detak jantung yang telah berdenyut selama tujuh milenium. Baginya, berada dalam dekapan Wandra seperti ini memberikan rasa aman yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, bahkan saat ia masih bersuami. Wandra bukan hanya menyembuhkan fisiknya dari kanker, tetapi juga menyembuhkan jiwanya yang hancur karena pengkhianatan masa lalu. Dalam posisi ini, Wandra mulai memberi
"Apa kau yakin?" tanya Wandra sambil menelan salivanya. Batangnya menegang di bawah sana. Leni mengangguk. "Aku yakin. Ini adalah pemberian yang akan selalu aku kenang. Aku akan selalu bersyukur karena melakukan ini denganmu."Wandra tersenyum. Ini adalah pemberian yang tidak akan pernah dia tolak. Tidak dengan asap yang terus mengepul. Di dalam kamar apartemen yang remang, aroma lavender bercampur dengan ketegangan yang manis. Leni, wanita berusia 31 tahun yang baru saja menerima keajaiban medis dari tangan Wandra, berdiri dengan napas yang masih sedikit memburu.Kanker serviks yang selama berbulan-bulan menggerogoti harapan hidupnya, menghilang dalam sekejap hanya dengan sentuhan energi dari pria misterius di hadapannya. Baginya, Wandra bukan sekadar penyembuh; dia adalah dewa yang turun ke bumi. Leni menatap Wandra dengan mata yang berkaca-kaca. Sebagai seorang janda yang ditinggalkan suaminya justru di saat ia paling membutuhkan dukungan, penolakan dan kesepian telah menjadi te







