Share

BAB 29

Author: Jw Hasya
last update Last Updated: 2025-11-05 15:11:55
Benar saja, sesampainya di tempat praktek seorang dokter, Kama langsung masuk dan meminta agar pria yang bergelar dokter dengan nama Arif tersebut segera memeriksanya.

“Jadi, maksudmu, aku impoten?” cicit Kama, telapak tangannya menggebrak meja konsultasi hingga dokter Arif terkejut. Wajahnya menegang, sorot matanya menusuk, rahangnya menegas.

Dokter Arif menganjur napas, mencoba untuk tetap tenang. “Bukan begitu, Tuan. Organ reproduksimu baik, tidak ada kerusakan. Hanya saja, ada hal yang tidak beres dengan otak Anda.”

“Apa kau bilang? Otakku?” Kama mengulang dengan wajah mengerut. Sebelah tangannya menunjuk sisi bagian kepalanya sendiri.

Dokter Arif mengangguk. “Jika boleh tahu, kapan Anda berhubungan? Kapan dan dengan siapa?” tanyanya dengan nada cukup penuh kehati-hatian.

Kama mendengus kesal, kemudian melirik Hans yang berdiri di sampingnya dengan malas. “Haruskah aku menjelaskan hal itu juga? Bukankah kau seorang dokter, yang seharusnya lebih tahu kondisi pasiennya!
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (7)
goodnovel comment avatar
Lita Ashari
widihh tahu begini, bakal tantrum nggak ya si kama?
goodnovel comment avatar
Vaizaholshop
waduuuhh knpa sarang burung hantunya malah pergi, ntar malah tantrum tuh burung hantu, bisa berabe kama klw burhannya tantrum ......
goodnovel comment avatar
fatmawati
ngapain kamu nyuruh Hans cari Sutra kan kamu sendiri yg udah ngusir dia, makanya kalo cinta gk usah gengsi
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Kama Sutra   Bab 180

    Sutra tampak menatap lukisan seharga dua ratus milyar. Matanya begitu lekat menatap inci demi inci lukisan yang dilukis oleh mendiang Reynard sebelum dirinya meninggal dunia. Sebuah lukisan pemandangan lengkap dengan seorang wanita muda yang tengah menggendong seorang bayi kecil dalam dekapannya. Warja senja yang kontras begitu memukau penglihatan Sutra. Wanita itu seperti tengah merasa de ja vu. Namun, ia tak mengingat sama sekali. Mungkin hanya sekadar mimpi yang terlupakan. Pikirnya. “Nyonya sarapan sudah siap.” Mina mengagetkan Sutra. “Mina, kenapa kau yang masak? Di rumah ini sudah ada koki yang khusus untuk memasak. Tugasmu hanya melayani apa yang aku inginkan, bukan?” Mina tersenyum menanggapinya. “Tuan Deodola menginginkan mulai saat ini aku yang masak untukmu dan dia, Nyonya.” Sutra menganjur napas pelan. “Terserah kau saja. Aku hanya tak ingin kau terlalu lelah bekerja.” “Tidak, Nyonya. Aku bahkan sangat senang karena bisa membuatkanmu makanan.” “Baiklah, ja

  • Kama Sutra   Bab 179

    “Ada apa ini?” Kama datang saat mendengar suara gaduh dari lorong galeri, ada suara Sutra terdengar agak meninggi. Sutra beringsut mendekat. “Dia menyepelekanku, Kama. Dia kira aku tidak bisa membeli lukisan itu.” Ia menunjuk lukisan pemandangan dan seorang ibu muda yang tengah menggendong seorang bayi mungil di tengah senja. “Kau menyukainya?” Sutra mengangguk. “Tuan Deodola, maaf, aku salah—“ “Katakan berapa harganya, istriku akan membelinya.” Kama memotong kata-kata pemandu tersebut, tatapannya dingin tapi pria itu masih mencoba untuk menghalau kemarahannya. “Apa, istri?” Wajah pemandu itu berubah pasi, tampak keringat sebiji jagung mengitari area dahinya. “Kau tidak dengar? Berapa harga lukisan itu?” Kama kembali menyergah. “Du-Dua ratus milyar, Tuan,” jawabnya dengan nada bergetar. “Aku ingin kau membungkusnya dengan rapi, kirim ke alamat istriku. Hari ini harus sudah berada di rumahnya,” ujar Kama tanpa berkedip. Tatapannya masih tampak menghunus kepada pe

  • Kama Sutra   Bab 178

    “Tunggu!” Terdengar seorang wanita menegur mereka berdua, hingga keduanya saling bersitatap, kemudian menoleh ke asal suara. Sutra tampak menautkan kedua alisnya, melihat sosok wanita yang sudah tak muda lagi berdiri dengan dandanan alakadarnya. Wanita dengan tatapan rambut dicepol tersebut berjalan tergesa menuju Sutra, kedua kelopak matanya meremang akibat digenangi air mata yang mengancam luruh. Baru saja wanita itu hendak memegang kedua pipi Sutra, tiba-tiba Kama menepisnya. “Kau siapa?” tanya Kama dengan wajah penuh curiga. Wanita tua itu menoleh ke arah Kama sepintas, lalu pandangannya kembali tertuju pada Sutra. “Nona, kau tidak mengingatku?” tanyanya dengan suara bergetar. Sutra melempar tatapannya ke arah Kama, sejurus kemudian dia kembali melihat ke arah perempuan baya tersebut. “Maaf, aku tidak mengenalmu. Kau siapa?” tanya Sutra lembut. Wanita itu tiba-tiba menutup mulutnya dengan kedua jari tangannya. Air matanya pun benar-benar keluar tanpa perm

  • Kama Sutra   Bab 177

    Lima belas tahun lalu keluarga Hans begitu manis. Ia terlahir di tengah keluarga yang begitu menyayanginya. Namun, tepat di ulang tahun Griselda—ibu dari Hans—tengah berulang tahun, tiba-tiba rumah mereka di jarah oleh sekelompok orang tak dikenal, memakai topeng hitam, lengkap dengan sarung tangan. Griselda tewas saat itu juga, tiga butir peluru mengeruk tepat di bagian dada kakan serta kirinya. Ayah Hans, Bram, sempat dirawat di rumah sakit. Namun, nyawanya tak bertahan lama, Bram hanya bertahan selama satu pekan, sebelum pada akhirnya menghembuskan napas terakhirnya karena tak sengaja mendengar jika Gruselda telah meninggal dunia. Dunia Hans benar-benar runtuh, ia bahkan tak lagi memiliki pegangan untuk sekadar menjadi penopang dalam hidupnya. Hingga akhirnya keluarga Deodola datang, memberi secercah harapan kepadanya. Keluarga itu memberikan sebuah pilihan, agar ia mau menjadi adik dari Kama Deodola. Namun, Hans menolak, rasanya tidak mungkin ia berbaur dengan keluarga y

  • Kama Sutra   Bab 176

    Sebuah mobil hitam panjang memasuki area mansion keluarga Deodola. Semenjak Sutra tinggal di rumah yanh dibeli oleh Kama, pria itu jarang sekali pulang ke mansion atau pun apartemen pribadinya. Ia lebih suka menghabiskan waktu bersama kedua buah hatinya dan juga Sutra. “Maaf, Tuan Ruddy, Tuan Muda sedang tidak di mansion.” Salah satu pelayan mansion tersebut berujar dengan sedikit merundukkan kepalanya. “Nyonya Amira?” Pelayan itu tidak lantas menjawab. Sebab ia pun tak paham ke mana sang majikan itu pergi. “Nyonya juga sudah lumayan lama tidak pulang ke mansion,” jawab pelayan itu pada akhirnya. “Apa kau ada pesan? Biar kusampaikan pada Tuan Muda jika dia pulang nanti.” Tuan Ruddy menganjur napas panjang. Bukan tanpa alasan dia ingin menemui Kama, lelaki paruh baya itu ingin memohon kepadanya agar mau mencabut segala tuntutan yang pernah dilayangkan kepada putrinya—Nerezza. Tuan Ruddy tidak sanggup melihat sang putri jika harus lama mendekam di balik jeruji besi. “Aku

  • Kama Sutra   Bab 175

    “Dia keracunan makanan.” Dokter Sasmita bicara dengan Kama. “Kemungkinan disebabkan dari makanan yang sempat dihinggapi lalat atau pun jenis khewan kotor lainnya. Bisa juga karena makanan yang sudah busuk,” lanjut dokter Sasita menjelaskan. Kama saat ini tengah berada di ruang lain dalam bangunan yang ia peruntukkan menyekap Selena dan juga Zatulini. Sedangkan dokter Sasmita sendiri adalah salah satu dokter kepercayaan keluarga Deodola. Perempuan paruh baya itu tahu, jika wanita yang saat ini terkulai lemas di atas kasur tersebut sedang mendapatkan hukuman. —dan dia tak mau tahu itu semua, wanita yang berprofesi sebagai dokter tersebut labih sayang nyawanya ketimbang harus bersusah payah membujuk Kama agar melepaskan tawanannya. Terlebih dirinya selama ini makan dari keluarga Deodola. “Kau memberi makan apa padanya, Tuan?” Dokter Sasmita membali bersuara. “B-bagaimana jika dia—“ “Aku bahkan tidak peduli seandainya perempuan sampah itu tewas dengan mengenaskan!” Kama segera

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status