Compartir

Bab 205

Autor: Jw Hasya
last update Última actualización: 2026-01-16 17:37:17

“Sutra! Kau kenapa?” Mariana menggoyang-giyangkan tubuh Sutra yang tergeletak tak berdaya di atas lantai. Wanita itu pingsan.

Beruntung saat Mariana kebingungan apa yang harus ia lakukan, ponsel di dalam tas milik Sutra berdering. Nama Kama bertengger di layar ponsel.

“Halo, ini aku nenek Sutra, kau bisa datang ke sini? Sutra pingsan.”

“Pingsan? Di mana? Kenapa istriku pingsan?” Terdengar suara Kama panuh tekanan di balik seluler.

“K-kau suami dari cucuku?”

“Ya, aku suaminya. Kama Deodola.”

“Sebaiknya kau ke sini segera. Istrimu pingsan.”

“Di mana alamatnya?”

“Jalan kenanga nomor 109 rumah paling ujung.”

***

“Tuan Deodola, istri Anda koma.”

“Koma?!” tanya Kama tak percaya.

Dokter itu kemudian mengangguk. Sejurus kemudian, pria berkaca mata tebal tersebut menunjukkan hasil CT scan Sutra. “Anda lihat ini? Istri Anda mengalami pendarahan intracranial akibat pecahnya pembuluh darah kecil di bagian korteks serebral.”

Kama melihat hasil yang ditunjukkan oleh dokter, netranya ber
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (8)
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
kasihan banget nenek ya
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
duhh,, Zatulini pasti nangis kalo dia tau sutra sangat sayang sama dia
goodnovel comment avatar
Lisa Anggraini
wah,, kalo sutra dengar suara Zatulini seperti nya sutra akan bangun dari koma lebih cepat
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Kama Sutra   Bab 235

    “Selena.” Wanita tua itu menangkup wajah Selena dengan begitu hangat, memandangnya lekat lekat, kemudian mengusap pucuk kepalanya. “Kau sudah dewasa, Sayang,” imbuhnya, sejurus kemudian air matanya membasahi kedua pipi. Selena serta merta memeluk tubuh Mariana yang tergolek lemah di atas pembaringan. “Nenek, maafkan Selena, Nek.” Mariana menggeleng perlahan. “Tidak, Nak. Kau tidak punya salah apa apa. Kau cucu nenek paling baik.” Selena menatap lekat kedua mata yang kelopaknya sudah tampak mengeriput tersebut. “Kenapa Nenek sampai begini? Apa yang terjadi?” “Nenek kecelakaan, penabraknya melarikan diri,” sahut Sutra yang ikut duduk di tepi ranjang. “Beruntung ada yang menolong Nenek, sehingga dia dilarikan ke rumah sakit.” Selena menoleh ke arah Sutra. “Terima kasih, karena kau telah menolong nenek.” Sutr tersenyum hangat. “Kau tidak perlu berkata begitu. Bagaimana pun juga, Nenek juga Nenekku. Nenek kita berdua. Karena aku tidak pernah menganggap Nenek sebagai orang lain

  • Kama Sutra   Bab 234

    Hans masuk dalam kamar Ellies, mendapati wanita itu sedang duduk termenung di kursi rias yang langsung menghadap ke arah kaca cermin. Namun, tampaknya gadis itu tengah memikirkan sesuatu, hingga saat Hans masuk dan melangkah mendekat, ia tidak sadar. Hans menyentuh kedua pundaknya, membuat Ellies terperanjat. “Kau? Kapan kau masuk?” tanya Ellies panik. Hans meraih tubuh wanita itu saat berdiri, lalu memeluk pinggangnya hingga Ellies sedikit berjinjit. Hans mengeratkan pelukannya, mulai menggesek-gesekkan sebuah benda yang telah mengeras di bawah sana ke area intim Ellies. “Hei, lepaskan aku! Kau mau apa?” Ellies berusaha memberontak. “Kau lupa, jika aku akan datang ke kamar setelah sepuluh menit berlalu. Itu untuk memberimu hukumankarena kau telah lancang mengikuti setiap gerak gerikku di rumah ini.” “Kau bicara apa, Hans! Aku bahkan sudah mengatakan padamu jika aku tidak mendengar kau sedang membahas apa dengan Selena. Sekarang, lepaskan aku!” Hans memincuk rahangnya, lal

  • Kama Sutra   233

    Ellies berjalan ke arah kamar dengan rasa yang sulit dijabarkan. Ada kemelut yang tak bisa ia sembunyikandari raut wajahnya, hingga saat berpapasan dengan Sutra, ia pun di sapa dan ditanya oleh istri Kama. “Ada apa? Kenapa sepertinya kau banyak pikiran?” Ellies sedikit tersentak. Lalu menggeleng saat sadar jika seseorang yang bertanya padanya adalah Sutra. “Tidak ada apa apa, Kakak Ipar.” “Kau tidak sedang menyembunyikan sesuatu ‘kan?” Sutra menepuk nepuk pundak Ellies dengan lembut. Gadis itu menggeleng pelan. “Aku merasa pusing, sepertinya butuh istirahat sebentar.” “Oh, yasudah kau istirahatlah dulu.” Tak berbeda jauh dari Ellies, Selena masuk dalam kamarnya dengan perasaan begitu takut. Tubuhnya gemetar. Ingatannya bahkan tak sedetik pun menghilang dari bagaimana ibunya terbunuh kala itu. “Jadi … dia yang membunuh ibuku?” ujarnya lirih, sambil menggigit gigit jari jemarinya dengan gemetar. Satu yang sulit untuk diterima Selena, kata-kata Hans yang mengatakan ji

  • Kama Sutra   Bab 232

    “Siapa di dalam kamar mandi?” Salah seorang pelayan mengetuk pintu, bertanya dengan suara keras siapa yang tengah berada di dalam kamar mandi. “Hei! Jawab aku!” Hans menatap nyalang pada Selena, detik kemudian, pria itu memincuk rahang gadis tersebut sambil berbisik. “Katakan, jika kau sedang di dalam kamar mandi! Cepat!”Air mata Selena luruh, rasa sakit akibat terapit tangan Hans, membuat rahangnya sedikit susah digerakkan. “A-aku sedang buang air besar!” jawab Selena sedikit terbata. Bibirnya gemetar, takut jika pria dihadapannya akan mencekiknya. “Aku siapa?”“Selena!”“Oh, Nona Selena, baiklah. Kukira siapa, aku tadi mendengar teriakan. Kau tidak apa-apa, Nona?”“T-tidak, aku hanya kaget saat melihat kecoa. Ya, itu saja.”“Oh, baiklah. Kuharap kau tidak akan bertemu dengan hewan menjijikan itu lagi.”Setelah itu, suara dari balik pintu kamar mandi tersebut lenyap. Terdengar langkahnya samar menjauhi area tersebut. Namun, Hans tidak lantas melepaskan Selena. Pria itu betul bet

  • Kama Sutra   Bab 231

    “Siapa pemuda yang bersama dengan adik iparmu itu?” tanya Selena pada Sutra. “Itu? Dia Hans. Calon suaminya. Kenapa? Kau mengenalnya?” Selena mengangguk, lalu sedikit memundurkan langkahnya. “Kau dikelilingi orang-orang Kama? Apa … kau tidak takut?” Sutra menggeleng. “Tentu saja tidak. Mereka bisa melindungi.” “Tapi pemuda itu suka menyiksaku saat aku masih disekap. Bahkan dia kerap memperlakukanku layaknya khewan.” Selena menjulurkan kedua tangannya. Menunjukkan kuku kukunya yang terlepas. “Hei, kukumu lepas?” Sutra menatap heran. Selena mengangguk. “Dia yang melakukannya.” “Apa, masudmu yang melakukan hal itu adalah Hans?” Selena mengangguk. “Dia adalah salah satu dari empat orang yang sering mendatangiku untuk memberi makan. Tapi … dia memang yang paling berperan dan paling jahat.” “Kau tidak sedang berbohong ‘kan?” Selena menggeleng. “Apa kau tidak percaya padaku? Jika memang kau tidak percaya, coba kapan kapan kau tanya pada orang Kama yang pernah menjadi p

  • Kama Sutra   Bab 230

    Setelah membersihkan tubuhnya, Selena berganti pakaian, kemudian wanita yang terlihat begitu kurus tersebut menatap pantulan dirinya dalam cermin. Entah sudah berapa lama ia melewatkan hal itu, menatap wajahnya dalam dalam dari sebuah kaca oval yang bertengger di dinding. “Kau sudah mandi?” Sutra kembali datang setelah meninggalkan Selena untuk beberapa menit. Wanita itu kemudian menoleh ke arah Sutra yang berdiri di balik punggungnya. “Ya, baru selesai.” “Sekarang ikutlah denganku, kita makan. Setelah itu kau akan kuajak untuk menjenguk Nenek.” Selena menarik lengan Sutra. “Ada apa?” tanya Sutra sambil menautkan kedua alisnya. “Aku tidak mau makan dengan banyak orang. Aju malu.” Selena tertunduk. “Kenapa?” Selena menggeleng. “Kalau boleh aku meminta, tolong kasih aku makan di sini saja. Aku belum bisa bertemu dengan banyak orang.” Kemudian ia kembali menatap pantulan dirinya dalam cermin. Sutra baru menangkap sinyal, jika sebetulnya Selena mempunyai rasa malu karena ke

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status